UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 133


__ADS_3

"Apakah ada seorang pasien bernama Dinda, yang baru saja masuk ke rumah sakit ini?" Kala tiba di meja perawat yang menjaga ruang administrasi, Steve langsung bertanya pada intinya saja.


"Tunggu sebentar. Kami cari dahulu pasien atas nama Dinda," balas para petugas rumah sakit itu.


Para medis yang menginput data, mencari pasien yang di maksud Steve. Saat mencari nama itu, tak lama mulut perawat kembali berkata. "Bisa kami tahu nama lengkap pasien?" tanya pegawai bagian administrasi. "Karena di sini nama Dinda ada banyak. Jumlahnya ada tiga belas orang."


"Dinda Nurshabrina," sambar Steve cepat. "Itu namanya."


"Dinda Nurshabrina. Dinda Nurshabrina," perawat itu mengulangi nama Dinda hingga beberapa kali. Sambil matanya fokus mencari nama Dinda di layar monitor. "Maaf. Untuk pasien dengan nama Dinda Nurshabrina tidak ada Pak. Namun pasien dengan nama Dinda Nurasiah ada di data kami. Dan usianya........ Delapan belas tahun," katanya menelisik dengan cermat.


"Mbak yakin tidak ada pasien bernama Dinda Nurshabrina di sini?" sahut Zico. Dia juga ingin tahu keadaan Dinda yang di rampas dan di bawa pergi oleh Johan itu.


"Tidak ada Pak. Memang tidak ada yang namanya Dinda Nurshabrina yang tercantum di data kami," kata petugas bagian administrasi. Walau Zico memaksa meminta di Carikan dengan benar nama gadis yang baru saja mereka katakan. Tetap saja, dari tiga belas nama Dinda, tak ada satupun nama yang berakhir Nurshabrina.


"Coba di cek lagi. Mungkin nama Dinda Nurshabrina belum sempat masuk kedalam data rumah sakit," kembali Steve meminta agak ramah.


"Tidak ada Pak. Jika tidak percaya, silahkan Bapak cek sendiri di sini." Karena Steve tidak percaya pada perkataan pegawai rumah sakit, wanita yang menjaga bagian data pasien itu memutar balikkan layar komputer menghadap Steve. "Bapak lihat saja sendiri. Siapa tahu saya yang salah melihat," katanya memerintah balik.


Steve memicingkan matanya, melihat dengan baik-baik nama-nama yang bergelar Dinda. Dan hasilnya— nihil.


"Aku rasa memang Dinda tidak di bawa oleh cecunguk itu kesini, Steve," sikut Zico yang menahan malu. Lantaran Steve memaksa melihat data pasien.


Steve tahu kalau dia sudah membuat kesalahan dengan tidak mempercayai kata-kata dari petugas itu. Harus bagaimana lagi, inilah Steve si pemaksa. "Jika tidak ada di rumah sakit ini. Lalu kemana dia membawa Dinda pergi," balas Steve membisik.


"Entahlah," balas Zico. "kita cari di tempat lain saja. Mungkin bukan di rumah sakit ini dia membawa Dinda," kata Zico menyarankan. Jauh lebih baik tidak mengganggu para perawat itu dari pada merengek. Atau mereka akan di usir satpam karena mengganggu ketertiban umum.


"Bagaimana Pak. Sudah ketemu dengan nama pasien yang di cari?" tanya sang perawat. Di perhatikan dengan jelas wajah kedua pria yang glowing cerah itu. Untung tampan, jadi bisa membuat para perawat tidak terlalu kesal pada mereka.


Coba kalau wajah pas-pasan, ah pasti para perawat itu suda malas melayani mereka.


Steve menggeleng. "Maaf sudah mengganggu. Terima kasih atas bantuannya," ujar Steve seraya meninggalkan meja bagian administrasi itu.


Usahanya bertanya di rumah sakit ini tidak membuahkan hasil apapun.


"Untung tampan. Coba kalau jelek. Malas aku mau melayani mereka," kata pegawai bagian administrasi rumah sakit. Dia mengadu pada teman sejawatnya yang duduk santai memainkan gawai di sebelahnya.


Di lorong dekat ruang isolasi rumah sakit, kembali Zico berkata pada Steve.


"Kita cari di tempat lain saja Steve. Dua kilo meter dari sini ada rumah sakit Siloam. Kita coba cari kesana." Saat melihat Steve hampir menyerah, Zico sebagai sahabatnya menyarankan idenya.


Steve hening, namun dia setuju pada Zico. Mencari Dinda ke rumah sakit lainnya. Bukan hanya rumah sakit ini saja yang ada di kota Jakarta, tapi masih ada rumah sakit lainnya.


Ketika sampai di rumah sakit Siloam. Hal yang sama terjadi seperti di tempat sebelumnya, hasilnya nihil. Tak ada Dinda di rumah sakit ini. Ketika para petugas yang di tanyai Steve tadi menjawab hampa, Steve merasa tidak berdaya. Steve memilih duduk di bangku tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Meja administrasi rumah sakit.


Dia istirahat sejenak, karena dari tadi dia berlarian seperti orang yang di kejar-kejar bandit.


Kenapa harus seperti ini sih. Dinda, kamu harusnya tahu kalau aku sudah kembali. Kenapa justru sekarang kamu malah terlibat sandiwara si cecunguk itu.


Steve mengepal tangannya, geram rasanya kala mengingat nama pria yang selalu mengganggu Dinda itu. Tangan-tangan kekar itu sudah memerah lantaran darah memuncak menahan amarah.


Wajah Steve tidak pasrah kala tahu Dinda di bawa kabur oleh Johan. Hanya saja, Steve tidak tahan kalau Johan melakukan sesuatu pada Dinda.


Dinda, kamu harus baik-baik saja. Aku janji. Aku pasti akan membawa kamu kembali. Aku tidak akan membiarkan kamu menghilang dari perasaan ini.

__ADS_1


Seberapa jauh dia membawa kamu pergi. Aku akan terus mencari kamu bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun. Tunggu aku sampai bisa menemukan kamu Dinda.


Sesekali Steve menopang kedua sikunya di paha. Merunduk rendah, memijit dahinya yang terasa suntuk harus mencari Dinda kemana. Pikiran itu tidak bisa lepas dari bayang-bayang wajah wanita yang selama ini dia rindukan.


"Harus kemana aku mencari Dinda. Kemana si cecunguk itu membawa Dinda pergi?" sambil bergumam pelan, Steve terlihat gusar. Wajah yang penuh keresahan itu tak bisa di pungkiri.


Kekhawatirannya pada Dinda, membawanya terus terpikirkan oleh wanitanya itu.


Tadi Zico tak sempat masuk menemani Steve ke dalam rumah sakit. Dia mencoba berinisiatif mencari informasi tentang Dinda, kemana Johan membawanya pergi.


Tapi saat di lorong rumah sakit, Zico berjalan setengah berlari. Langkahnya agak tergesa-gesa, ingin menemui Steve.


"Aku dapat kabar tentang dia," kata Zico yang langsung memberitahu.


Steve berdiri memuncak, mendengar kabar ini dia sedikit mendapatkan angin segar. "Dimana?" tanya Steve tak sabaran. "Dimana Dinda sekarang?" sentaknya pada Zico.


"Johan tidak membawanya kerumah sakit manapun, tapi....."


"Maksud kamu?" Steve menyambar kata-kata Zico lebih dahulu. Sebelum Zico berkata hingga selesai, Steve memotong perkataannya.


"Johan tidak membawa Dinda ke rumah sakit. Tapi dia membawanya ke bandara," katanya mengakui.


"Cih." Dengan kasar, Steve mendesis geram. Dia tak lagi bertanya apa-apa tentang kelanjutan cerita Zico. Justru Steve langsung mengambil langkah cepat, dia ingin segera sampai di bandara.


"Tunggu," Zico menghentikan. Belum dua langkah Steve pergi, Zico menarik lengan ber-jas hitam itu. "Percuma kalau kamu ingin mengejar mereka. Johan dan Dinda saat ini sudah di pesawat."


"Apa maksud mu?" Steve meninggikan suaranya, dia melototi Zico dengan nafsu amarah. "Katakan, apa yang kau maksud?"


Steve tadi mengerat di kerah baju Zico. Kerah baju itu di tarik keras, tapi dia lepaskan perlahan, seiring menurunnya tensi amarah yang agak mereda. "Katakan, apa maksud dari ucapan mu itu?" tanya Steve menuntut penjelasan.


"Mereka terbang ke Ethiopia hari ini. Itulah kenapa percuma saja kalau kamu pergi ke bandara sekarang," kata Zico menjelaskan.


Mereka ke Ethiopia. Bagaimana bisa mereka kesana. Apa yang di cari Johan di sana.


Steve yang mendengar kabar kepergian Dinda ini, tersuntuk duduk kembali di bangku lorong rumah sakit. Pergi ke Ethiopia, Steve merasa bahwa Johan sudah merencanakan sesuatu pada Dinda.


Seharusnya tidak begini. Tapi kenapa semua menjadi kacau. Dan...... Apa yang di cari cecunguk itu di Ethiopia. Apakah dia sedang merencanakan sesuatu melalui pelarian ini.


Steve memang tidak tahu apa tujuan Johan membawa Dinda kesana, tapi dia mengerti. Di sana ada bisnis keluarganya yang sedang di rintis. Steve yakin, Johan berencana ke sana karena tidak mau kalau dia di halangi oleh Steve.


"Keluarga Tama memiliki bisnis di sana. Itulah kenapa Johan membawa Dinda ke Ethiopia. Karena dia sudah merencanakan hal ini sebelumnya." Zico berkata, walau tidak yakin. Akan tetapi sudah cukup jelas maksud dan tujuannya membawa Dinda ke sana.


Tidak perlu kau beritahu aku. Aku sudah lebih dahulu tahu.


Meskipun Zico memberitahu, bukan berarti Steve tidak mengetahui maksud Johan ini. Jauh sebelum Zico mengatakannya, Steve sudah mendengar tentang bisnis keluarga Johan di Ethiopia.


Steve menahan emosi di dalam dirinya. Sungguh, jika dia bisa mencekik Johan, rasanya Steve ingin melakukannya saat itu juga. Atau Steve akan langsung menjatuhkannya dari gedung tinggi sekalian, agar si bedebah itu lenyap dari muka bumi. Tapi sayang, itu hanya angan-angan semata. Kini gadis miliknya ada di tangan Johan. Pria itu membawanya pergi.


"Kapan penerbangan terakhir menuju ke Ethiopia?" tanya Steve. Dia tidak mau membuang-buang waktu untuk menyusul pesawat yang di tumpangi Dinda dan Johan. Atau dia akan makin khawatir jika gadis itu tidak segera di bawa pulang.


Zico melihat jam di balik jas hitamnya. Saat itu pukul setengah enam sore. Suara azan juga mulai menggema di seisi Jakarta. Zico memeriksa jam di tangan bukan karena ingin melihat waktu sekarang, tapi dia ingin melihat kapan jam terakhir penerbangan Jakarta ke Ethiopia.


"Seharusnya, penerbangan dari Jakarta menuju ke Addis Ababa pukul dua belas malam nanti. Dan tiba di Ethiopia pukul setengah satu siang waktu Ethiopia. Dan saat ini, Johan menggunakan rute pesawat transit, oleh karena itu dia bisa terbang sore ini." Zico menjelaskan, dia sedikit ahli mengenai rute penerbangan.

__ADS_1


Bukan suatu yang susah menuju ke Ethiopia. Hanya saja, kemana Johan membawanya, itu yang membuat Steve sulit bagaimana harus mengambil tindakan.


"Ayo kita siap-siap, kita akan terbang ke Ethiopia sekarang," ajak Steve tanpa pikir panjang. Ah, drama Johan kali ini membuat Steve ketar ketir tak karuan. Bocah cecunguk itu telah memancing singa marah nampaknya.


"Kamu mau ke Ethiopia sekarang?" kata Zico mengulangi. "Naik apa? Mau transit juga seperti yang di lakukan Johan?" ucapnya menebak.


"Kamu lupa kalau ada jet pribadi milik Papa. Kenapa harus naik pesawat komersial kalau ada milik sendiri."


Sial. Zico kadang lupa kalau temannya itu anak konglomerat tajir. Naik jet pribadi, bukan lelucon. Zico ingat saat pergi dinas bersama Steve, dia pernah menumpangi jet pribadi milik pria ini.


Tapi waktu itu dia bersama sekretaris Steve yang lama, bukan Dinda. Rasa-rasanya canggung saja bagi Zico kalau harus naik kendaraan pribadi milik Steve ini. Bukan karena tidak biasa, tapi dia hampir lupa bagaimana rupa jet itu. Apalagi sudah lama tidak naik pesawat, Zico makin merasa aneh jika berhadapan dengan si burung besi.


"Untuk saat ini, di berlakukan zona tanpa kendaraan pribadi di bandara Addis Ababa. Kalau kamu berniat ingin mendaratkan jet pribadi kamu semacam incess Syahrini di sana, aku takut pesawat pribadi kamu akan di depak otoritas bandara Ethiopia. Coba di pikir ulang kalau mau terbang kesana. Jangan sampai jet pribadi mu itu membawa bencana untuk kita."


Seingat Steve, si pria ini gila sangat terobsesi dengan artis kaya raya si Syahreno. Jadi wajar kalau dia berkata menyinggung nama wanita paling aduhai abad ini.


"Lalu kita harus bagaimana agar tiba kesana?" tanya Steve meminta ide.


"Mudah saja," balas zico. Seakan ide bagi Zico bukan sesuatu yang sulit di dapatkan, dia dengan santainya menyepelekan kegundahan Steve ini. "Saat ini aku memperkirakan kalau pesawat yang di tumpangi Dinda dan si beleguk itu sedang transit di Singapura. Jadi....."


Ketika mulut Zico berkata penuh dengan kata-kata baru, jujur, Steve bingung. "Apa itu beleguk?" tanya Steve meminta di jelaskan. Bahasa planet pria di hadapannya itu sulit di terjemahkan.


"Beleguk itu sejenis kata umpatan. Ya, aku sedang mengumpat si pria cecunguk itu," balas Zico. Jika boleh jujur, Zico juga tidak tahu apa itu beleguk, dia hanya sekilas pernah mendengarnya saat tinggal di Bandung. Tapi tidak tahu dimana dan kapan. Tiba-tiba saja kata "Beleguk" ini muncul dalam pikirannya.


"Maksud kamu Johan?" tanya Steve memastikan. Suwer, Steve yang sedang gundah gulana karena memikirkan Dinda, kini berubah seperti orang idiot kala membahas bahasa tak jelas milik Zico ini.


"Iya si Bagong," balas Zico dengan nada mengayun. "Kamu pikir aku sedang mengatakan siapa? Pak Jajang? Atau Paman Lu?"


"Siapa lagi Bagong itu?" tanya Steve lagi. "Kenapa bahasa kamu saat ini aneh-aneh saja."


Zico memelet-kan matanya, sumpah. Temannya itu — Steve memang kuno. Di tambah dia juga bingung apa itu kata Bagong. Sama seperti sebelumnya, kata-kata ini muncul sekilas dari pikirannya. Tidak tahu dari mana dia muncul, hanya saja mulutnya selalu keceplosan untuk berkata mengundang banyak pertanyaan. Bisa-bisa berdebat kalau membahas sesuatu tidak penting seperti ini.


"Ah, intinya dia itu anak Bagong. Jadi beleguk itu sama dengan Bagong. Dan nggak usah bertanya apa itu beleguk, pria seperti kamu sulit menerimanya masuk kedalam otak. Pokoknya jangan tanya lagi apa itu Bagong dan beleguk. Karena keduanya ekslusif milik si cecunguk Johan."


Kesal rasanya bagi Zico kalau harus berkata panjang lebar dengan pria yang kalau di bilang tidak terlalu bodoh. Tapi dia merengek minta di jelaskan padanan katanya tadi. Saat di jelaskan pun, Steve masih tak paham. Mengurut dada, hanya itu yang bisa di lakukan oleh Zico.


"Oke, kita lupakan masalah beleguk dan apa tadi si Bagong. Yang harus kamu lakukan, cari penerbangan menuju ke Ethiopia sekarang juga. Jika kamu gagal, kamu akan aku pindahkan ke bagian gudang. Atau, kalau perlu akan aku turunkan pangkat mu menjadi pegawai kantoran biasa." Steve tidak menggertak, hanya sedikit...... Bisa di bilang mengancam.


"Setidaknya dia selalu melecehkan aku," gerutu Zico.


Setelah Steve menceramahi Zico dengan ancaman. Dia pun pergi tanpa mengajak Zico.


Ckckck, dia tidak pernah berubah. Sudut di bibirnya itu menyungging. Punggung yang lebar dan lurus itu tidak berubah setelah tiga bulan tidak bertemu.


Sedangkan di rumah sakit lainnya, Miko, Dendy, dan adiknya duduk di bangku lorong rumah sakit. Tepat di depan ruangan di mana Vanya di rawat, sejak sore mereka menunggu di sana.


"Kak Miko." Niko merengek. Kakaknya itu sedang duduk sambil fokus memainkan gawai-nya. "Sudah dapat kabar tentang kak Dinda belum?" tanyanya kepikiran.


"Belum," balas Miko. "Kakak masih menunggu kabarnya dari Kak Zico."


BERSAMBUNG


^^ Cuma mengingatkan saja. Jangan lupa jaga kesehatan :)

__ADS_1


__ADS_2