
Shakil tidak pulang bersama Nabila, dia masih sibuk mengurus dipersidangan, agar Nabila tidak terlalu lelah dia memerintahkan Haris mengantarnya pulang dan beristirahat dirumah.
Karena Amir dan Mira juga belum pulang setelah makan malam dia memutuskan tidur daripada menunggu Shakil yang tidak tau kapan pulangnya
***
Pagi yang cerah, matahari mulai menampakan dirinya dari timur, warna kuning yang belum menyilaukan telah membangunkan burung-burung yang ada didahan setiap pepohonan.
Hari ini akan jadi hari yang menggemparkan dirumah Amir, karena Nabila akan memberikan kejutan tentang kehamilannya
Sama halnya seperti Anton dia memerintahkan semua pelayan masak makanan yang spesial untuk hari ini beserta kue Tar pelengkap kebahagiaannya nanti
Shakil keluar dari ruang ganti dengan pakaian santai karena hari ini adalah hari libur, pandanganya langsung tertuju pada Nabila yang senyum-senyum menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya,
Dari semalam sudah dibayangkan skenario cara penyampaiannya agar Shakil lebih terkesan, dan sekarang sudah siap dengan tutur katanya
"Eh ada apa nih. Sepagi ini kakak udah dapet sarapan manis" Shakil memberikan kiss morningnya
"Aku punya sesuatu buat kakak, dibilang kejutan udah pasti bakalan terkejut, kalau aku katakan hadiah ini lebih dari hadiah termahal didunia ini" Nabila memberikan teka-teki yang membuat Shakil penasaran
"Wow, berarti satu hal yang sangat berharga dong, eemm penasaran jadinya" Dia berlaga berpikir keras
"Siap-siap jangan pingsan ya? Taraaaaaa!!!!" Nabila menunjukan tespek yang kemarin dia pakai dengan dua garis merah
*Zonk*
Sungguh tidak terduga ekspresi wajah Shakil begitu datar, bahkan dia mengerutkan halisnya karena memang tidak mengerti apa yang Nabila maksud
"Kamu sakit? Demam ya?" Shakil mulai panik mengambil tespek ditangan Nabila dan memeriksa suhu tubuhnya dengan menempelakn belakang punggung tangannya dikening Nabila
"Bukan, maksudku alat itu,,," Perkataannya terpotong karena Shakil sudah membaringkan Nabila dikasur
"Ini karena kamu kelelahan kemarin istirahatlah sepertinya tidak terlalu parah" Shakil mengarahkan tespek kemulut Nabila karena dia pikir alat itu adalah termometer pengukur suhu badan
"Kakak!!!!" Nabila menepis tangan Shakil "itukan bekas air pipis aku" dia balik marah kesal karena Shakil tidak mengerti apa yang dia maksud
__ADS_1
"Lho kamu nih jorok banget si, kenapa dari tadi malah dipegang-pegang bukannya dibuang" Shakil berjalan mengarah tempat sampah dan membuangnya
"Jahat, nyebelin" Nabila mendorong tubuh Shakil dan berlari keluar menuruni tangga
"Nabila!!!" Shakil memanggilnya "Ada apa dengan anak ini" Diapun mengejarnya keluar juga setengah berlari mencari Nabila
***
"Nona hati-hati jangan berlari di tangga" Anton membawa kue Tar yang dia pikir Nabila sudah memberitahu Shakil dan tinggal giliran dia yang berperan
"lho kenapa dengannya?" mira terheran-heran melihat Nabila yang malah belok kearah taman belakang
Shakilpun baru sampai keruang makan dan langsung menanyakan Nabila, karena dipikir Nabila ada diruang makan
"Kamu ini ada apa lagi? Kenapa dia semarah itu sampai tidak mau makan" Amir juga angkat bicara
"Aku tidak tau, hanya karena termometer sampai semarah ini"
"Termometer?" Anton berusaha mencerna dan mengingat dengan jelas jalur kesalah pahaman ini
Segerombolan pelayan datang dengan membawa berbagai jenis makanan spesial yang memang biasa disajikan hanya saat perayaan saja, tidak satu pun dari mereka yang bertanya karena dipikiranya anton menyediakan ini untuk merayakan tertangkapnya Max dan Siska
"Maaf tuan dan nyonya" Mira berhenti dan tertuju pada Anton semua "Mungkin yang tuan muda maksud tadi bukan termometer tapi tespek, Kemarin pagi nona memperlihatkan pada saya kalau dia positif hamil"
"Apa!!!!" Serempak, Amir, Mira dan Shakil terkejut
"Saya mempersiapkan semua ini untuk peryaan kalau akan ada anggota baru dirumah ini, selamat Tuan muda anda jadi seorang ayah, dan untuk Tuan dan nyonya besar, kalian memiliki cucu"
Tidak satu orang pun menjawab perkataan Anton ketiganya masih tidak percaya dengan ucapannya, rasa bahagia masing-masih berkembang didalam hati mereka sampai raut wajahnya tidak bisa ditutupi lagi betapa murahnya tuhan memberikan kebahagiaan yang bertubi-tubi dikeluarganya...
Shakil bukannya menghampiri Nabila dia malah berlari balik lagi kekamarnya mengambil tespek yang tadi dibuang ketempat sampah. Kemudian Amir dan Mira menghampiri Nabila yang duduk di taman belakang merenung sendiri dibawah hangatnya matahari pagi..
"Sayang!!" Mira dan Amir duduk disamping kanan dan kirinya "Maaf bunda harusnya tau lebih awal tentang kehadiran cucu bunda"
"Ayah juga minta maaf karena kita taunya dari Anton, tapi dari manapun kabar bahagia ini berasal tetap ayah sangat senang" Amir mengelus-elus rambut Nabila
__ADS_1
"Sayang!!!" Shakil yang berlari dari kamarnya dan terparkir tepat dihadapan Nabila lalu berlutut "Maaf sayang, kakak beneran gak tau kalau ini alat kehamilan, tadi dipikir termometer" Shakil menunjukan tespeknya
Nabila mengambil dan membuangnya kembali alat itu kerumput "Udah gak guna lagi, gak penting juga, lagian ngapain sih kakak sentuh itu bukannya jorok, mending buang aja"
"Gak kok" Shakil mengambilnya lagi ditiup dan dielus-elus seperti berlian yang sekarang ada digenggamannya "Maafin kakak udah gak peka sama perubahan sikap kamu akhir-akhir ini"
"Kamu ini bagimana si, kenapa gak bisa bedain tespek sama termometer" Mira yang geram lalu memukul bahu shakil karena kebodohan anaknya
"Aku emang gak tau. Dari mana aku liat benda kaya gini, ini pertama kalinya karena setau aku waktu Nabila demam dokter menggunakan ini pada mulutnya untuk mengukur suhu" Shakil dengan polosnya benar-benar tidak pernah tau tentang bentuk tespek. dia tau tespek alat kehamilan tapi tidak tau bentuknya seperti apa dan bodohnya dia tidak sadar perbedaan tentang dua garis merah, karena tadi sudah panik dengan menebak Nabila demam
"Yasudah lebih baik kita sarapan dan ayah akan hubungi dokter SpOG untuk memeriksa kamu" Amir memecahkan suasana agar Nabila lebih tenang, Amir tau benar seorang ibu hamil moodnya selalu berubah-ubah, apalagi Nabila masih kecil pasti emosinya labil tidak terkontrol
"Iya sayang, kasihan babynya kalau kamu gak makan nanti dia laper juga lho" Mira membujuknya degan menggunakan alasan itu agar nabila merasa kasihan pada calon anaknya
Amir memberi isyarat pada mira untuk membiarkan waktu berdua saja dengan Shakil. Dan untung Mira memahami lalu diapun pamit meninggalkan mereka berdua bicara
"Hai calon anak papah" Shakil mengelus-elus perut Nabila "Kamu ada disini tapi papah gak sadar kamu ada, maaf ya sayang, jangan ikutan marah juga, papah gak akan sanggup kalau ada dua orang yang marah, satu aja udah hilang akal apalagi dua" Shakil meririk pada Nabila mau tau ekspresi wajahnya "Nabila sayang? kakak minta maaf, hukum kakak gak apa-apa deh yang penting jangan diam kaya gini" Dia mengambil kedua tangan Nabila dan menciumnya kanan dan kiri
"Ok. Aku maafin kakak tapi ada syaratnya" Nabila mulai luluh karena hamilnya memang ingin selalu didekat Shakil
"Apapun akan kakak lakukan yang peting kamu gak marah lagi" Shakil bahagia akhirnya Nabila mau bicara walaupun pakai syarat
"Selama seminggu gak boleh tidur sama aku" Nabila menahan tawanya ingin mengerjai Shakil, padahal dia sendiri tidak sanggup jauh dari aroma tubuh suaminya walaupun hanya lima menit saja
"Gak mau, syarat apaan itu, kakak mau naik banding, enak aja kenapa gak sekalian bunuh kakak, daripada tidur gak peluk anak dan istriku"
"Hahahaha, udah ah,,, Babyku kelaperan" Nabila bangun dan meninggalkan Shakil yang masih berlutut
"Sayang bangunnya hati-hati nanti dia kaget"
Yaampun diperutku aja baru gumpalan darah kecil dia udah serepot ini
"Terus gimana sama kakak, dimaafin gak?"....
Bersambung❤❤❤
__ADS_1