
Selesai makan bersama, Shakil mengajak nabila pergi. Haris juga sama. dia tidak mau kalah saing dengan tuannya dan tentu saja mengajak Anna pergi tapi entah kemana. Tinggallah Amir dan Mira yang saling pandang dan tersenyum melihat kepergian mereka
"Sebenarnya kita mau kemana shi?" Tanya Nabila setelah masuk dan memasang sabuk pengaman
"Kamu nanti akan tau sayang" Shakil mulai melajukan kendaraannya
"Oke kalau gitu aku mau duduk manis. menunggu dimana berhentinya mobil ini" Nabila tersenyum memandang suaminya
"Jadilah istri yang patuh" Shakil lagi-lagi mengacak rambut Nabila sampai gadis itu menepisnya karena berantakan
"Kakak sengaja ya bikin aku jelek?"
"Haha.. Kamu mana pernah jelek"
"Ceritanya lagi gombal nih"
"Untuk apa?.. Kita bukan pacaran lagi kan?"
"Emang aja biar istrinya dikira badut, udah gendut rambut acak-acakan" Nabila memajukan mulutnya manja
"Haha.. mirip sih, tapi.."
"Kakak!! Nyebelin banget"
"Tapi kan mana ada badut se sexy ini"
"Jahat!!" Nabila membulatkan matanya tapi sambil tersenyum... bagi dia hanya sebuah ejekan sesederhana ini saja sudah terlihat sangat romantis.. bahagia rasanya Shakil kembali pada dirinya lagi,, ternyata semua kesulitan kalau dijalani dengan orang yang disayang maka semua akan berakhir lebih menyenangkan..
Selanjutnya walaupun ada badai menghadang sekalipun, selama Nabila bersama Shakil dan Shakil bersama Nabila, tidak akan goyang lagi perasaannya untuk mencintai satu sama lain ..
Berhentilah mobil itu di sebuah toko yang lumayan besar, terdiri dari dua lantai dengan berpapan tuliskan Baby Shop.. Apalagi kalau bukan toko untuk semua keperluan bayi.. Setelah keduanya turun langsung ada yang menyambut kedatangannya, siapa lagi kalau bukan manajer toko itu mempersilahkan mereka masuk
"Kakak!! ini beneran kita ke sini?
"Iya memangnya kenapa? dugaan kakak salah, ini sama sekali tidak surprise ya?"
__ADS_1
"Ini lebih dari kejutan. sepanjang perjalanan aku mikir kalau kakak akan ajak aku ke pantai, makan, atau nonton.. Ketempat seperti ini benar-benar sama sekali gak melintas di otak aku sedikitpun"
"Jadi kesimpulannya bagaimana? kita balik lagi aja nih?" Shakil mengejek Nabila yang matanya dari tadi sudah tertuju pada bayi berkarakter yang lucu
"Jangan!! aku nggak sabar malah mau beli ini semua"
"Ayo masuk" Shakil memberikan tangannya untuk Nabila gandeng
Setelah gadis itu menggandengnya mereka pun masuk dengan iringan manager di sana. baru membuka pintu saja mata Nabila sudah terbelalak dengan pakaian-pakaian bayi yang sangat menggemaskan. bukan hanya gadis itu saja, tapi Shakil malah lebih dari seperti yang dibayangkan kalau dia akan heboh dengan alat-alat, maupun perlengkapan bayi sampai hai box tidur aja rasanya dia ingin membeli macam-macam warna
"Kakak liat deh ini gemes banget" Nabila menunjukkan beberapa kaos kaki yang ada boneka di atasnya
"Lihat, ini lebih lucu" Baju bayi perempuan sekitar umur 2 tahun namun seperti kebaya orang dewasa
"Memangnya kita tahu bayi ini laki atau perempuan?" Nabila seketika diam memikirkan sebenarnya apa jenis kelamin bayi mereka
Shakil juga mulai berpikir. mereka sama sekali belum mengetahui bayinya laki-laki atau perempuan
"Iya juga ya?. kamu sih setiap USG pasti bilang tidak mau melihat jenis kelaminnya"
"Iya, tapi kenapa kamu mau. kalau begini kita jadi bingung mau beli peralatan bayi perempuan atau laki" Shakil akhirnya berhenti memilih-milih banyaknya baju yang dari awal dia sudah sibuk memegang ini dan itu, namun sekarang dia berhenti karena bingung mau beli pakaian yang seperti apa
"Gimana kalau kita beli semua perlengkapan bayi tapi warnanya netral. Maksudku tidak harus warna biru atau pink" usul Nabila
"Istriku memang selalu cermat. baiklah kalau begitu itu kita beli yang berkarakter"
"Setuju"
Kedua orang itu melanjutkan lagi pencariannya, Nabila sibuk mencari pakaian bayi sedangkan Shakil sibuk dengan perlengkapan seperti box tempat tidur bayi, kereta untuk mengajak jalan, tempat mandi, juga segala macam mainan...
"Hah.. rasanya aku mau beli semua" Nabila tidak kuat dengan baju mungil mungil yang sangat lucu ketika dia membayangkan kalau anaknya memakai pakaian yang dia pegang
"Benar juga kenapa kita tidak beli semua" jawab Shakil yang menganggap serius perkataan Nabila
"Hahaha untuk apa kita beli semua, kenapa enggak beli sama tokonya aja sekalian" Nabila menggeleng dengan tanggapan Shakil tentang ucapannya
__ADS_1
"Istriku memang cerdas.. Kenapa tidak terpikir sejak awal kalau kita pasti membutuhkan ini semua. dan untuk mempermudah itu, ucapan yang kamu katakan benar, kita harus punya toko baby shop seperti ini"
Apa? dia benar-benar menganggap serius semua. padahal kan tadi hanya ejekan aja
"Jangan terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh. sekarang lakukan tugas kakak membeli apa yang kita perlukan" Nabila menekan kedua giginya menahan kesal dengan kelakuan suaminya
"Kamu tidak mengerti. bukankah dengan memiliki Baby Shop seperti ini. Itu akan mempermudah kita sewaktu-waktu ada keperluan untuk dia juga adik-adiknya" Shakil tersenyum dengan kedipan sebelah matanya
"Tuh kan, ngomongnya mulai ngaco, satu aja repotnya udah kayak gini gimana kalau banyak rumah kita bisa berubah jadi taman kanak-kanak karena ulah kakak"
"Hahaha bukankah itu lebih menyenangkan"
Sampailah mereka dengan waktu yang tidak bisa ditentukan berapa lamanya memilih barang dengan hampir semua jenis yang ada di toko itu Shakil beli
***
Sedangkan di tempat lain Haris dan Anna menjemput kedua orang tuanya dan pergi ke kediaman Anna, gadis itu sendiri bingung karena tiba-tiba membawa dosen dan istrinya kerumahnya. dengan dadakan dan tidak ada persiapan sama sekali, kunjungan ini sungguh membuat mereka bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. namun ini sengaja, karena Haris tidak mau merepotkan dengan sambutan-sambutan yang terbilang formal. bukankah seperti ini terlihat semakin akrab layaknya sebuah keluarga, namun Anna tetap membantah dengan tindakan Harris yang tidak ada kapan sebelumnya
"Om mau bikin keluarga aku malu ya sama kedua orangtuanya Om?" Anna berbicara setelah menyeret Haris menjauh dari perjumpaan kedua orang tua mereka
"Kenapa harus malu? mereka juga berpakaian lengkap kan?"
"Om gak nyambung, bukan itu maksudku"
"Iya terus apa masalahnya?"
"Harusnya ada komunikasi kalau Om akan mengajak pak dosen kesini menemui orang tuaku. Bukankah kalian harus dijamu dengan persiapan terlebih dahulu?" Anna mulai kesal
"Kenapa kamu sangat ribet, hanya pertemuan saja, untuk apa merepotkan"
"Itu tata Krama bukan merepotkan. kalian tamu tentu saja harus kami jamu dengan benar" Anna tambah kesal
"Oke jadi sekarang kamu maunya apa? apa kamu pulang kembali"
"Tau ah. aku bingung" Anna meninggalkan pria itu, wajah yang tadinya sudah kesal marah-marah pada Haris, kini berubah setelah menemui calon mertuanya kembali. dia tersenyum sejuta watt memperlihatkan kalau dirinya sangat menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. sedangkan Haris hanya tersenyum melihat kelakuan Anna yang cepat berubah ekspresi dalam hitungan detik..
__ADS_1
Bersambung💓💓💓