ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
41. Cari cara penolakan


__ADS_3

Mulai malam ini dan seterusnya Nabila akan tidur dikamar shakil, Walaupun tidak mau tapi menolakpun sudah tidak bisa. Karena sebagian barang-barang pentingnya sudah pindah kekemar itu


Dengan setumpuk buku ditangannya, Nabila perlahan membuka pintu kamar, Dan dia bernafas lega setelah melihat kamar itu kosong, Ternyata Shakil tidak ada disana.


"Fuhh... Untung gak ada penghuninya" Sambil meletakan buku di meja belajar yang sudah pindah juga disudut ruangan, Meja belajar itu merapat kedingding kaca, Agar Nabila bisa semangat belajarnya karena menghadap pemandangan indah didepannya.


"Kamu suka lihat pemandangan itu?" Tiba-tiba Shakil dari belakang memeluknya


"Kakak, Kapan masuk?" Terkejut mencoba melepaskan tangan Shakil yang melingkar di perutnya tapi tidak bisa


"Dari tadi kakak sudah menunggumu sayang" Berbisik ditelinga Nabila dan menggigitnya perlahan


"Lho kenapa nunggu aku? Kalau kakak ngantuk tidur aja duluan, Aku masih mau belajar" Nabila mencoba menghindar dari serangan Shakil


"Kamu kalau mau cari alasan bisa gak pintar sedikit? Besok sabtu tidak ada sekolah, Dan ujian kamu juga sudah selesai. Jangan coba-coba Menipuku ya?" Menghujadi leher dan wajah Nabila dengan ciuman


"Ia,, Walaupun ujian selesai, Aku kan masih harus belajar. Belum nanti ada Praktek-praktek" Nabila mulai tidak tenang karena Shakil kali ini sangat berbeda dari biasanya


"Ada apa dengan dirimu, Mana gayamu dimeja makan tadi? Kenapa sekarang sepengecut ini?" megecup bibir Nabila


"Aku kan tadi hanya bercanda" Berusaha menyingkirkan tangan Shakil yang sudah kemana-mana


"Tapi kakak liatnya itu adalah kode kalau kamu sudah siap malam ini" Mengangkat tubuh Nabila dan membaringkan di ranjang besarnya

__ADS_1


Aahh masa iya? Aku memang menggodanya tapi bukan ini maksudnya, Nabila kenapa ceroboh sekali? Sekarang aku harus apa?


"Kakak aku minta maaf tapi tadi bukan itu maksudku!" Dengan tubuh yang tertahan tubuh Shakil, Nabila tidak bisa bergerak sama sekali


"Benarkah?.. Lalu apa yang kamu ceritakan pada bunda? kamu melebih-lebihkan? mengkhayal? atau memang sangat ingin?" membisilan ditelinga nabila yang terdengar sangat geli


sudah gila ya? mana mungkin aku menginginkannya? nabila mata otakmu, come on berpungsilah.


"Kakak dengarkan aku! Bunda nanya, Katanya pak Anton pernah lihat kakak pagi-pagi keluar dari kamarku.. Trus aku bilang iya kakak memang selalu tidur disini, Tapi bunda salah paham, Bunda pikir kita..." Nabila tidak berani melanjutkannya karena akan jadi bumerang untuknya,


"Bunda yang berpikir? Apa kamu?


"Kakak beneran bunda salah paham" berusaha mendorong Shakil


"Kalau begitu wujudkan kesalah pahaman bunda" Menarik tangan Nabila keatas


"Kakak tunggu, Kenapa gak nanti aja.. Eemm maksudku kita dekor kamar ini dulu gitu?, Biar lebih romantis kaya kamar buat bulanmaduuu?"


Ayo setuju,setuju,setuju aku jadi punya waktu untuk menunda malam ini.. Tuan muda yang baik hati ayolah, Pikirkan lagi ide ku


"Tidak, Tidak penting, Dengan atau tanpa dekoran, Rasa tubuh kamu pun sama saja sayang" Masih menelusuri lika liku leher Nabila


Aaaahh apa lagi nih alasan aku.. Dia benar-benar udah gak peduli lagi dengan apa pun, Apa aku bilang belum mandi ya.. Tapi waktu aku pulang sekolah aja dia tidak peduli dengan keringatku!! Ayo Nabila pikirkanlah lagi

__ADS_1


"Kakak tau apa yang kau pikirkan kancil licik, Kau pasti cari cara untuk lepas malam ini, Tapi tidak akan aku biarkan, Karena kakak tidak bisa menahannya lagi" Memperdalam kecupannya dibibir Nabila


Apa ini sudah saatnya? haruskah aku menyerah malam ini? Otakku juga sudah tidak bisa dikendalikan jika dia terus melakukan ini


"Kakak tidak bisakah memberiku sedikit tempo untuk beberapa hari lagi?"


"Kau pikir aku penagih hutang? Jangan banyak bicara, Diam!! Karena kakak yakin kamu akan mengulur-ngulur waktu lagi, Dan mulutmu ini harus terus kakak bungkam, Kalau tidak dia akan mengeluarkan kata-kata yang akan membuat kakak menundanya lagi"


Sial kenapa saat seperti ini otaknya malah lebih cerdas, Lari kemana ide-ide brilianku untuk lepas darinya


"Kakak.. Ok... Tapi jangan kakak hitung lagi kaya waktu itu ya" Gelak tawa Nabila membuyarkan konsentrasi Shakil yang sudah hampir level 100..


"Nabilaaaa" Dia geram karena Nabila memang selalu banyak cara untuk menghindar "Kakak bilang diam, Mulutmu harus terus dibungkam agar kaku tidak bisa menggagalkannya lagi" Shakil membungkam lagi mulut Nabila dengan bibirnya, dengan tangan yang semakin menyusup kemana-mana membuat Nabila juga tidak bisa lagi menolaknya karena Shakil memainkannya dengan sangat lembut


Shakil mulai melucuti pakaian Nabila, sampai tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh gadis itu


"Kakak? aku malu!" memeluk erat Shakil agar tidak bisa melihat tubuhnya


Shakil tersenyum melihat kelakuan istrinya, dia juga sadar harus merayunya dengan sepenuh hati agar Nabila tidak malu lagi


:


:

__ADS_1


:.


Bersambunga❤❤❤


__ADS_2