
Kendaraan yang dipakai Haris sudah terparkir dengan gagahnya di Basement rumah sakit... tanpa ragu dengan sejuta kepanikan dia langsung menaiki eskalator yang terhubung dari Basement sampai ke titik dimana Anna dirawat..
Di depan pintu kamar Anna, Haris menghentikan langkahnya, dia berpikir sejenak karena melihat kedua telapak tangan yang kosong tanpa membawa apapun,
lagipula di dalam masih terdengar suara tertawa Nabila tentunya bersama dua pria tadi yang menjemputnya, jadi dia mengurungkan niat masuk apalagi ketika melihat tangan Rey yang menyuapi buah ke dalam mulut gadis pujaannya...
***
Tak lama kemudian Nabila Roni dan Rey berpamitan, inilah saatnya dia masuk apalagi waktu yang diberikan Shakil padanya sangat singkat...
"Bagaimana bisa kau seperti ini???" Suara seorang pria di sebelah tempat tidurnya mengagetkan Anna untuk membuka mata
"Om??" Detak jantungnya tak menentu saat melihat sosok tegak berdiri dengan sempurna di hadapannya
"Setelah apa yang pernah kita lakukan, setelah aku menyatakan perasaanku padamu, tapi inilah yang terjadi, bahkan kamu tidak menganggap aku penting sampai aku harus tahu ini semua dari orang lain?.!!!" tatapan Haris begitu serius dengan sedikit menahan emosinya
"Aku.. Aku tidak mau merepotkan orang lain" Anna menekuk pandangannya ke bawah
"Orang lain??? Jadi selama ini kau anggap aku hanya orang lain?"
Aku yang sakit, aku yang dia acuhkan, aku juga yang dia tinggalkan, kenapa sekarang aku yang salah?
"Kenapa diam?"
"Aku harus apa?" Masih dengan pandangan yang sama
"Ponselmu digunakan untuk apa?" Haris meninggikan satu tingkat nada suaranya
Setelah kejadian malam itu mana mungkin aku menghubungimu lebih dulu.. Aku lagi sakit, datang bukannya dihibur dia malah marah-marah gak jelas
"Maaf"
"Haahhhq" tarikan nafas yang begitu dalam terdengar jelas oleh Anna kalau Harris menahan emosinya ketika dia mengeluarkan kata maaf
Haris duduk di samping gadis itu yang dengan refleks bergeser sejengkal ke sisi di sebelah sana
"Kau ingin jatuh? Diam di tempat" Tegas Haris. sehingga menahan anak untuk menggerakkan lagi tubuhnya
"Kenapa bisa begini?" Tatapan matanya begitu tajam ditambah detak jantung anak yang sekarang semakin tidak karu-karuan membuatnya berkeringat walaupun di ruangan ber-AC
"Aku hanya kelelahan aja membuat skripsi"
"Bohong" Sambar Harris "Sebelum aku masuk ke sini dokter mu sudah memberitahukan semuanya kalau kamu tidak makan dengan teratur bahkan beberapa hari ini kamu melewatkan makan"
"I.. iya karena aku sibuk"
Aku sibuk Om.. Sibuk memikirkan kamu.. aaahhh dari tadi matanya sama sekali tidak di palingkan dariku... please jangan terus-menerus seperti ini dadaku sudah sesak ingin meledak
"Kalau kau seperti ini lagi maka aku yang akan menyuapimu dengan caraku" Haris mendekat kan wajahnya pada Anna sampai hembusan nafas hangatnya terasa dengan jelas di bibirnya
__ADS_1
"Aku tidak akan mengulanginya la... " Satu kecupan Haris sematkan di bibir Anna
"Itu harus" Kini sorot matanya penuh kelembutan, Harris juga merapikan rambut Anna yang berantakan seperti tidak tersisir dalam waktu beberapa hari ini... mungkin dari awal masuk rumah sakit..dan dengan perlahan dia menjadikan jari-jarinya sebagai sisir rambut gadis itu
"Maaf"
Keluarlah kata itu dari mulut Harris yang membuat Anna mendongak menatapnya "Tuan Shakil sedang mengurus perusahaan yang di luar negeri, jadi aku harus mengurus yang di dalam negeri.. Kita sudah sepakat untuk menjalaninya lebih dulu tapi aku melanggar itu"
"It's ok.. i know"
"Baiklah aku ke toilet sebentar kamu makan ini" Haris memberikan sekotak makanan yang tidak asing untuk dilihat hanya dari merk depannya saja.. apalagi kalau bukan sosis bakar kesukaan Anna plus kenangan awal bertemunya mereka yang berkesan
Ini kan sosis bakar yang waktu itu!! aaahhh Dia sweet banget
Senyum merekah terukir di wajahnya sampai tak rela untuk memakan sosis bakar pemberian dari Harris
Tok tok
"Masuk"
Kedua orang tua Anna datang menghampirinya, baru saja dia merasakan sedikit berbunga atas perlakuan Haris hari ini, sekarang malah ada keganjalan yang menyulitkannya.. selama ini dia belum bisa cerita karena memang hubungannya belum sampai ke tahap lebih serius, jadi bagaimana dia harus bersikap saat mereka saling bertemu Nantinya
"Kamu kenapa terlihat gugup?" Tanya Ibu Anna
"Gak... gak kok.. cuma kaget aja ayah dan ibu datang gak ngabarin Anna"
"Anna!!?.. Aku akan kembali.. dan kamu harus makan yang benar, kalau tidak aku yang akan memankanmu" suara lantang Haris baru keluar dari kamar mandi membuat ketiga orang yang ada di ruangan itu ternganga.. entah apa yang ada didalam pikiran ayah ibu Anna dengan perkataan pria itu
Bodohnya Haris tidak menyadari kalau ada kedua orang tua Anna disana karena dia sedang menggulung kemeja tangannya sampai kesiku
Apa yang dia katakan... Mati aku.. Ayah_ ibu belum tau tentang dia!!!
"Siapa dia Na?" Tanya Ayah nya yang langsung disadari Haris kalau ada orang lain lagi selain dia...
Anna menatap Haris.. dan Haris pun menatapnya ingin tau siapa dua orang disana
"Ayah. ibu.. Kenalin..."
"Ayah_Ibu.. Perkenalkan saya Haris" Dia memotong perkataan Anna dan mengambil alih perhatian untuk calon mertuanya
Apa.. kenapa malah dia panggil ayah ibu juga
"Oh.. oke.." Ibu Anna sedikit gugup dengan sebutan yang dia panggil untuknya
"Ini Dosenmu?" Pria paruh baya bertanya pada putrinya
"Om ini...!!" Lagi-lagi perkataannya selau diteruskan oleh Haris
"Bukan, tapi anak dosennya Anna" Tunduk sopan haris berusaha mengambil hati kedua orang tua Anna
__ADS_1
"Wah bagus sekali" Ayahnya Anna langsung merangkul Harris sok akrab...Di hatinya sempat melintas dengan kata-kata Haris yang awal keluar dari kamar mandi, kalau dilihat-lihat sepertinya Anna dan pria ini ada hubungan spesial, apalagi yang memang Haris terlihat tampan sempurna dan dengan kualitas tubuh yang dimiliki juga terlihat nyata kalau dia mampu menjaga anaknya dengan baik. tapi putrinya baru saja mencari jatidirinya dan mereka juga tidak mau kuliah Anna berantakan hanya karena seorang pria apalagi yang sudah dewasa
"Sudah lama kau mengenal Putri ku?" Tanya ayah Anna
"Lumayan Om.. Sekitar tiga sampai empat bulan yang lalu"
"Bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum teh"
Kesempatan bagus ini seharusnya Haris pergunakan untuk menarik perhatian orang tua Anna, tapi jam sudah menunjukkan waktunya Shakil dijemput, kalau saja dia tidak memakai mobilnya tadi mungkin sekarang adalah awal yang baik untuk hubungannya bersama Anna, tapi semua kandas..kesalahan ini tentunya akan dia limpahkan pada Shakil nanti
"Suatu kehormatan bagi saya mendapat undangan seperti ini, tapi mohon maaf untuk kali ini benar-benar tidak bisa!!" penolakan Haris begitu sopan sampai selangkah dapat menarik perhatian pria paruh baya itu
"Ayolah nak, ini hari Sabtu.. apa yang membuatmu tidak bisa hanya sekedar minum teh"
Haris dibuat bingung entah apa yang harus dia lakukan sekarang, satu sisi dia seperti mendapatkan lotre di siang bolong, dan di sisi lain mobil Shakil kini berada di tangannya.. Dia melirik pada Anna untuk minta bantuan agar ayahnya mengerti kalau dirinya sangat sibuk
"Ayah tidak semua orang berlibur di hari Sabtu.." Bela Anna
"Oke.. baiklah tapi lain kali kau harus menerima tawaranku"
"Dengan senang hati, terima kasih juga atas perhatian anda" Haris menjabat tangannya dan pergi karena ada dua belas panggilan tak terjawab dengan kontak Shakil di layar ponselnya
***
"Kenapa sepertinya ayah tidak asing dengan pria itu??" bertanya pada Anna
"Tentu saja! dia adalah asisten pribadi plus tangan kanan bos ayah" Jawab Anna santai
Ayah Anna memang bekerja di perusahaan Shakil tapi cabang yang lain sementara Harris dan Shakil hanya bergulat di kantor pusat saja maka dari itu mereka tidak pernah bertemu sama sekali dan hanya mendengar nama saja
"Apa!!! Asisten pribadi Tuan Shakil mengunjungimu ke sini?" Keterkejutan ayahnya hanya dibalas dengan satu anggukan oleh Anna
"Ya Tuhan kebaikan apa yang pernah aku lakukan sampai anakku seberuntung ini?"
Anak mengangkat kedua jalisnya terkejut kalau ayahnya bukan hanya merestui tapi sangat mendukungnya
"Maksud ayah" Tanya sang ibu
"Bukankah jika Anna menikah dengannya, ayah akan naik pangkat??"
"Ayah kenapa berpikir seperti itu?.. Lihatlah pria itu sudah dewasa, bagaimana bisa dia mengimbangi Putri kita" Tolak ibu
"Tuan Shakil saja menikahi sahabat Putri kita.. lihat bahkan dunia ini akan runtuh jika ada yang menatap istrinya. Ayolah Bu ini tren Asisten dan Bos untuk menikahi gadis-gadis muda seperti mereka bukankah ini adalah keberuntungan untuk kita?"
Ayah Anna yang sangat tergila-gila dengan pekerjaan dan jabatan kini seperti melihat pelangi setelah hujan.. kesempatan baik sudah di depan mata kenapa tidak dia raih dengan penuh ambisi..
maka dari itu dia ingin menjodohkan Anna dengan Haris walaupun istrinya sendiri menentang
Bersambung❤❤❤
__ADS_1