ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
162. Dimaafkan


__ADS_3

Kini tinggal mereka berdua yang ada di ruangan itu.. Tapi kenapa suasana malah jadi canggung dan Nabila sendiri mencari kesibukan dengan ngutak-ngatik ponselnya tapi sama sekali tidak menemukan hal yang menyenangkan di sana


"Sayang.. kamu masih marah sama kakak?"


Ya Tuhan kakak to the point' banget, pertanyaan apa ini? terus aku jawabnya apa?


"Wajar kamu marah, memang kakak kok yang kelewatan. maaf ya sayang!! kakak benar-benar tidak sadar mengatakan itu sama kamu" Shakil memeluk boneka besar dan hanya menyisakan kepalanya saja yang terlihat di bahu teddy bear berwarna ungu itu


"Aku mau istirahat. Bukannya kakak suruh aku agar banyak istirahat ya?" Nabila sengaja mengulang lagi perkataan Shakil agar pria itu cemas, tapi jauh dilubuk hatinya dia sudah memaafkan dan bahkan ketika Teddy bear itu berada di hadapannya tadi


"Nabila please"


Lalu dokter datang karena jadwal Nabila harus diperiksa.. "Bagaimana keadaanmu hari ini nona?" Tanya Dokter kandungan


"Tadi sempat sakit tapi tidak terlalu" Tentu saja, rasa sakit itu karena dia tertawa melihat kelakuan suami bersama ibu mertuanya


"Kalau gitu banyak-banyak istirahat dan ingat kalau terjadi kram lagi sebaiknya mencari posisi yang nyaman jangan dulu dipaksakan untuk berjalan" Jelas Dokter


"Iya enggak akan aku ulangi lagi dok!! semalam keadaannya memang mengharuskan aku lari karena ada Monster Kuman dihadapanku" Nabila sengaja melirik pada Shakil dengan sinis padahal hatinya terus tertawa melihat suaminya terpuruk dan mendelikkan matanya ketika Nabila mengatakan panggilan sayang untuknya


Sang Dokter hanya tersenyum. Dia sangat mengerti kalau kedua suami istri itu sedang ada masalah. Jadi agar memberikan waktu untuk keduanya dokter itu pamit setelah selesai memeriksa


"Jadi kamu nggak mau maafin kakak" Shakil meletakkan Teddy bear di sofa dan dia duduk di samping Nabila


"Gak" jawabnya ketus


"Ya udah kalau belum mau maafkan tidak apa-apa" Shakil menyentuh perut Nabila lalu mengelus-elusnya


"Kita kan lagi marahan. ngapain kakak duduk di sini" Nabila menatapnya cemberut


"Apa salahnya.. Kakak ingin dekat dengan anak kakak" Jawab Shakil sambil merebahkan kepalanya di pundak Nabila dengan tangan yang masih berputar di perutnya


"Dede bayinya lagi nggak mau dekat kakak" Nabila menjawab tanpa menolak sentuhan dari Shakil


"Siapa bilang? buktinya dia merespon" Memang saat Shakil menyentuhnya gerakan bayi itu semakin nyata dan ini membuat dia betah dalam posisi seperti itu


"Sok tahu.. Dia itu berusaha menyingkirkan tangan kakak"


"Kakak enggak percaya.. Buktinya ibunya aja nggak keberatan kakak seperti ini" Shakil tersenyum menatapnya membuat Nabila tak tahan ingin sekali mencubit pipi pria yang ada dibahunya dan menurut Nabila, shakil sangat menggemaskan

__ADS_1


"Udah sana" Nabila menahan senyumannya lalu mendorong Shakil tapi tidak dengan serius mendorongnya "Aku mau istirahat"


"Yaudah kamu istirahat aja.. Kakak mau seperti ini"


"Nggak boleh"


"Kalau begitu seperti ini.(muah)." Satu kecupan mendarat di pipinya "Sayang kakak benar-benar minta maaf atas kejadian semalam. Kakak hanya tidak mau kamu berpikir yang macam-macam tentang masalah perusahaan saat ini" Shakil membenamkan wajahnya di dada Nabila dengan tangan yang melingkar di perut gadis itu "Kakak sangat mencintai kalian"


"Tapi aku istri kakak.. Lalu apa gunanya aku kalau tidak bisa membagi semua keluh kesah suamiku sendiri"


"Tugas kamu sebagai istri hanya untuk bahagia sayang" Shakil mencubit hidung Nabila


"Tapi tugas aku sebagai istri, juga untuk membahagiakan suami ku kakak"


"Aku sudah sangat bahagia dengan adanya kamu dan anak kita di si kakak"


"Gombal" Nabila tersenyum


"Kalau nggak percaya kakak buka nih dada kakak" Shakil mulai mengangkat bajunya


"Apa sih.. itu bukan pembuktian tapi mesum" Nabila langsung menahannya dan kemudian mereka tertawa


"Jadi kamu udah memaafkan kakak?


"Lalu kakak harus apa?"


"Cerita semuanya"


"Baiklah nyonya kuman!! kakak akan cerita"


"Kakak yang kuman" Nabila mencubit pinggang suaminya


"Aw...Oh.. Ah.." Shakil malah mengejeknya dengan desahan


"Kakak!!!" Nabila membentaknya kemudian keduanya tertawa lepas sampai Shakil pun menceritakan semua permasalahan perusahaan


***


Tiga hari berlalu. Nabila sudah mulai beraktivitas seperti biasa yaitu berangkat ke kampus.. Kemudian Shakil sibuk kembali mengurus perusahaan dan kasus tanah sengketa tersebut. Tapi kini hatinya lega walaupun seberat itu masalah yang dia hadapi namun saat pulang kerja istri tercintanya selalu punya cara untuk menghiburnya

__ADS_1


Hari ini gadis itu berdandan tidak seperti biasa. Dia memakai make up agak tebal sampai pesonanya tidak terhalang oleh perut yang membesar


Bukan hanya dirinya tapi Anna pun sama.. entah apa yang akan gadis itu lakukan di luar sana.. ingin rasanya Shakil dan Haris mengikuti kedua gadis itu tapi sialnya lagi harus menemui pengacara perihal kasusnya


Isi otak kedua pria itu sudah diliputi dengan pikiran yang macam-macam.. mereka berpikir keduanya ingin mencari pria yang lebih kaya dari Shakil dan Harris mungkin karena keadaan yang sedang menurun jadi sedikit sensitif


"Mau ke mana kalian?" Tanya Shakil pada Nabila


"Ada party.. teman kuliahku ulang tahun"


"Kenapa nggak bilang sama kakak"


"Ih udah bilang"


"Bukan itu maksudnya sayang.. bilang dari kemarin kemarin"


"Kakak kan sibuk"


Shakil hanya bisa membuang nafas kasar.. dia sadar kalau setelah pulang dari rumah sakit waktu bersama Nabila memang sangat sempit "Tapi ingat jangan macam-macam"


"Tenang aja kak.. paling dua atau tiga macam hahaha"


"Nabila kau" Shakil merapatkan kedua giginya ingin sekali mencubit pipi gadis itu namun pasti dia akan marah karena make up nya akan terhapus


"Lagian siapa juga yang mau naksir sama gadis perut buncit kayak aku" Nabila berusaha membuat suaminya tidak berpikiran buruk


"Baiklah, awas saja kalau kamu berbohong kakak akan menghukummu"


"Kenapa aku jadi tertarik untuk berbohong ya?!!"


"Dasar gadis nakal" Shakil tersenyum dan mengijinkan Nabila pergi bersama Anna walaupun hatinya tidak tegang


Haris juga sama. Dia sangat marah, kenapa ketika jalan dengannya Anna tidak pernah berpenampilan secantik itu.. ingin sekali membuntuti keduanya tapi sungguh disayangkan karena ada hal yang lebih penting dari itu.


Dan kemudian mereka pergi mengurus urusannya masing-masing


Nabila dan Anna pergi ke sebuah cafe dan sepertinya mereka menunggu seseorang datang entah siapa yang janjian dengan kedua gadis itu.. Sampai tak lama kemudian yang ditunggu datang juga, seorang pria tidak terlalu tua namun dilihat dari pakaiannya yang sangat rapih, pria itu juga bukan orang yang biasa


Ketiganya berbincang dengan penuh canda.. sesekali Nabila juga menunjukan perutnya yang buncit.. dan pria itu mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti kalau gadis itu sedang hamil...

__ADS_1


Satu jam mereka menghabiskan waktu, lalu diakhiri dengan jabatan tangan tak lupa pria itu meminta nomer ponsel Nabila dan gadis itu pun sebaliknya.. lalu percakapannya pun selesai kemudian kembali ke kediamannya masing-masing


Bersambung❤❤❤


__ADS_2