
Ditempat lain
Haris harus menepati janji kepada Rudi untuk menjenguk ibunya yang memang sering sakit-sakitan.
Dan dia juga harus membawa Anna Karena untuk meluruskan masalahnya yang kemarin, kepada Papanya..
Anna dan Haris sudah membuat janji di sambungan telepon, dan keduanya bertemu di tempat yang sudah mereka tentukan lalu membawa Anna ke rumah kedua orang tua Harris,
Sesampainya di sana "Om.. ini rumah kedua orang tuamu?" Anna sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat, rumah Dekan itu sungguh di luar dugaan nya... Dia pikir rumah orang kaya apalagi terpandang seperti Harris tidak bisa ditebak, sesuai apa dengan kehidupan sebagai Dekan dan anaknya. Tapi ini malah benar-benar sangat sederhana.. Bahkan bangunan rumah ini seperti bangunan yang sudah lama dan lapuk
"Kenapa?? Kamu mau bilang rumah kedua orang tuaku ini jelek" mereka masih berbincang di dalam mobil
"Dih.. Pikirannya jahat banget sih,, Aku nggak nyangka aja kalau Dekan Universitas ternama ternyata orang yang sederhana"
"Sudahlah tidak perlu bahas rumah sekarang yang terpenting adalah kamu harus bersikap manis dan jangan brutal seperti yang sering kau lakukan di luar sana"
"Om pikir aku ini anak jalanan? sampai ada kata brutal segala lagi" Anna langsung memalingkan wajahnya ke luar kaca mobil
"Apa coba kalau bukan brutal sikap kamu ini sangat tidak baik.. Dengar... Umurmu sudah tidak anak-anak lagi jadi ubah dari sekarang kalau tidak, tidak akan ada pria yang mau menikahimu"
"Memangnya jodoh aku di tangan kamu apa? Aku juga bersikap seperti itu hanya pada orang-orang tertentu saja, termasuk kamu"
"Kamu bisa gak, di nasehatin yang benar harusnya menurut bukan malah membantah seperti ini"
"Om, Aku ini bukan membantah ya,,!!! Tapi aku tidak suka dinasehati sama orang yang belum tentu dirinya benar" Semakin lama Anna semakin kesal dengan apa yang haris katakan padanya..
"Baiklah" Haris membuka seat belt dan mendekatkan wajahnya pada wajah Anna bermaksud untuk memberinya pelajaran "Sepertinya kamu lebih suka aku memberitahumu dengan cara seperti ini jadi kamu bisa mengerti"
"Jangan macam-macam ya kamu mau ngapain???" Dag Dig Dug perasaan Anna sudah tidak karu-karuan saat Haris hampir saja menyentuhkan hidungnya pada hidung Anna
"Katakan... Apa kau akan menuruti semua perkataanku atau tidak"
Ya Tuhan jantung aku kenapa berdetak sangat berisik sekali dia mendengarnya tidak ya
__ADS_1
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, aku bisa melapor kamu atas tindakan kriminal"
"Aku lebih tahu hukum darimu,, Dan jika kau ingin melaporkan ku ke polisi Bukankah sudah banyak orang yang tahu kalau kita ini suami istri" Haris masih terus menatap mata Anna dengan tajam, Dia melihat bibirnya yang bergetar ketakutan.. Itu membuatnya semakin seru untuk lebih mengerjai Anna
Benar juga... untuk saat ini aku tidak bisa melawannya.. dia terlalu menakutkan dengan posisi seperti ini.. serasa aku ingin ditelannya
"Yasudah iya.. Aku akan menuruti semua perkataan kamu tapi tolong menyingkir lah dari hadapanku"
"Kau gugup? Sstttt" Haris meletakan jari telunjuknya dibibir Anna "Kau dengar? suara jantungmu terdengar sangat jelas dari sini"
"Mana ada!!!" Anna panik karena Haris menyadari itu "Ja..jantung kamu yang bersuara"
"Oh benarkah? coba dengarkan" Haris melebarkan kedua tangannya dan menunjukan betapa sempurnanya tubuh itu
sengaja mengerjai Anna yang sekarang tidak berdaya
"Aku.. Aku.."
Tok tok tok
Bagus ini dewa penolongku....
Anna langsung membuka kaca mobil yang tepat disampingnya dan bodohnya lagi dia tidak menyadari kalau yang mengetuk tadi adalah Rudi. Memang akan tertolong tapi bukankah itu malah terlalu sulit baginya menjelaskan sedekat apa hubungannya dengan Haris
"Anak nakal.. Berjam-jam ibumu menunggu di dalam dan kamu malah mesra-mesraan di sini!!" Rudi menempatkan tangannya di pinggang
"Papa ini bukan seperti yang kau lihat" Haris langsung merapikan posisinya dan keluar dari mobil
"Tidak seperti yang dilihat bagaimana ini sudah terlihat sangat jelas"
"Iya,,, tadi itu aku membantunya untuk membuka seat belt" Haris terus mencoba menjelaskan
"Kamu pikir Papa ini anak TK yang bisa kau bohong,, Kalau benar hanya ingin membuka seat belt, bisa saja dari sini dan tidak perlu merangkak untuk melewatinya dulu"
__ADS_1
Haris langsung disekak oleh papanya dia tidak bisa membela diri lagi karena kenyataannya memang Haris lah yang sedang menggoda Anna
sedangkan Anna tidak berhenti membaca mantra apa bya yang dia baca kan karena kejadian tadi takut berpengaruh pada kuliahnya
"Oh ya Papa di mana ibu?.. aku sagat merindukannya" Haris mengalihkan pembicaraan karena tidak mau memperpanjang lagi apa yang dia lakukan tadi
"Oh ya...ibu mu dari tadi sudah gelisah karena tidak sabar menunggu kalian" Rudi langsung teringat pada istrinya yang dari tadi sudah menunggu anak tercintanya
Padahal tadi waktu diperjalanan aku biasa aja.. Tapi kenapa sekarang jantung aku mau copot seperti benar-benar mau ketemu mertua
Akhirnya mereka memasuki rumah yang sangat sederhana itu tapi, setelah Anna menginjakkan kakinya ke lantai marmer, sungguh sangat terkejut!!! Dari luar terlihat biasa saja tapi bagian dalam sangat mewah dan elegan.. Rumah itu tampak hening dan sunyi tidak ada suara apapun selain percikkan air di kolam ikan yang ada di ruang keluarga..
dan juga seorang ibu paruh baya yang terlihat sangat lemah duduk sambil tersenyum di kursi roda
"Ibu" Haris bergegas menghampirinya dan berlutut dengan pelukan yang sangat erat
"Ibu pikir kau akan menemuiku setelah tubuh ini ada di dalam peti"
"Kenapa kau berbicara seperti itu.. Aku sangat mencintaimu tidak akan aku biarkan siapapun mengambil ibu dari hidupku termasuk Tuhan"
"Pembohong... Apa yang kamu katakan tidak sesuai dengan kenyataan, Bertahun-tahun kau meninggalkanku aku tampa kabar"
"ibu!!! kau kan tahu Apa tujuan ku pergi"
"Tapi mau seberapa lama lagi kamu akan pergi dan ibu"
"Aku tidak akan pergi kemana-mana lagi, mulai hari ini setiap hari aku akan pulang ke sini" Haris menatap kedua mata ibunya untuk meyakinkan apa yang dikatakannya benar...
"Kau serius"Air mata ibu nya Harris mulai jatuh.. Dia sangat bahagia dengan apa yang baru saja terucap dari mulut anaknya
"Apa pernah ibu melihatku bermain-main dengan ucapanku" Sekali lagi Dia meyakinkan
"Terima kasih anakku, ini adalah hari yang aku nantikan selama ini" Wanita paruh baya itu pun memeluk erat tubuh anaknya
__ADS_1
Keduanya benar-benar sangat melepas rindu.... Setelah sekian lama akhirnya pelukan hangat itu kini dirasakan Haris kembali, ingin rasanya Dia menitikan air mata Karena sangat sedih melihat betapa rapuh ibunya saat ini, tapi dengan karakter serigala ini dia sama sekali tidak bisa meluapkan isi hatinya...
Bersambung ❤️❤️❤️