ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
117. Ngidam bakso


__ADS_3

Ada apa dengan dokter ini? kenapa dia seperti kerbau yang ditusuk hidungnya sampai harus menuruti semua apa yang kuman ini katakan, aku juga calon dokter, dan aku tau apa yang anakku Dan akun butuhkan. berdebat pun tidak akan ada gunanya.


"Sudah selesai" Tito melihat wajah Shakil yang puas dengan hasil kerjanya


"Baiklah kau boleh pergi!!" Dengan wajah datarnya dia memerintah pada dokter paruh baya itu


Kenapa didunia ini ada orang yang memiliki jalan pikiran seperti dia. Bahkan aku sendiri jadi satu-satunya dokter yang melanggar peraturan, memberikan infusan pada pasien tanpa memeriksa keadaannya ataupun detak jantungnya


Tito menarik nafas karena tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau sudah menyangkut urusan Nabila. Dia memilih keluar dari ruangan itu daripada Shakil nantinya meminta hal-hal yang lebih aneh lagi


"Inilah yang harus kamu jalani kalau lain kali tidak mau makan lagi" Shakil duduk disampingnya dengan kepuasan hati karena tidak khawatir lagi dengan Nabila yang tidak makan apapun


Tapi Nabila hanya cemberut memalingkan wajahnya dari Shakil karena kesal dengan sikapnya yang tidak bisa bernegosiasi lagi.


"Udah dong cemberutnya, ini jugakan untuk calon anak kita sayang" Shakil mencoba membujuknya


"Sampai kapan aku begini?" Nabila mengangkat tangan yang ada infusannya


"Gak lama kok. Sampai wajah kamu lebih segar dan gak pucat lagi"


"Bosan!!" Dia merengek


"Kamu mau apa?" Tanya Shakil dengan lembut


"Sekarang aku lapar"


Bagus Nabila ini kesempatan baik untuk pergi meninggalkan ruangan yang bau steril sangatlah menyengat ini


"Gitu dong!! Mau makan apa?"


"Mau makan bakso. Aku belum pernah makan itu dan sekarang aku mau makan" Lagi-lagi dengan manjanya dia merengek agar Shakil luluh


"Mana bisa!! Itu daging sayang.. Tanti tidak akan baik dengan alergi kamu"

__ADS_1


"Tapi cuma itu yang anak kakak mau sekarang" Dia berlaga cemberut agar dituruti kemauannya. dan memang benar ini yang dia inginkan saat ini bukan mengada-ngada, karena alerginya itulah dia sendiri jadi tidak tertarik sama sekali dengan bakso kalau bukan rasa ngidamnya


"Sayangku!! Bisa gak makan yang lain.. Kakak malah lebih khawatir Dengan alergi kamu dalam keadaan hamil"


"Yaudah aku mau tidur aja. Kakak boleh keluar sekarang" Nabila menutupi tubuhnya dengan selimut yang dia tarik sampai kekepala


"Istriku yang imut!! Jangan seperti ini dong" Shakil menarik selimutnya tapi tetep masih ditahan oleh Nabila "Ok!! Kita konsultasi dulu ya sama Tito" Akhirnya dia mengalah


"Beneran???" Nabila membuka selimut dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan


Shakil hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Nabila dan keluar mencari dokter Tito dan menjelaskan apa yang diinginkan Nabila.


Tidak lama kemudian keduanya menghampiri Nabila yang masih berbaring ditempat tidur pasien menunggu jawaban dari Shakil


"Gimana?" Dengan tidak sabarnya dia bangun dari tempat tidur sampai tidak sadar kalau tangannya masih terpasang infusan "Aaauuuu!!!""


"Nabila!!!!" Shakil ikut berteriak "Kamu ceroboh sekali, tanganmu akan terluka nanti" Keperti biasa kepanikan Shakil selalu Over dosis kalau menyangkut dengan Nabila


"Aku lupa!!" Dia setengah meringis "Kakak sakit" Kemudian merengek lagi.. Semenjak hamil Nabila sedikit lebih manja karena dia suka Shakil perhatian, Tapi tidak suka kalau terlalu berlebihan seperti saat ini


Aku berharap pasien ini segera pergi dari sini.. kalau tidak aku yang akan berbaring ditempat tidur karena kena serangan jantung


Dengan sabarnya sambil membuang nafas kasar Tito segera melepas infusannya, lalu mengobati luka Nabila yang sebenarnya tidak apa-apa dan darah itu sendiri hanya beberapa tetes saja yang keluar


"Bagaimana sayang? Apa terasa sangat sakit?" Dengan perlahan Shakil meniupi lukanya yang sudah terbalut perban


Ya ampun kakak!! yang dia tiupi perbannya mana terasa haha...


"Gimana? Lebih baik sekarang?"


Aku ingin tertawa tapi dosa gak ya? hahaha apanya yang lebih baik?.. lebih baik itu gak usah ditiupi jadi gak bikin dia lelah


"Iya!! Udah gak sakit" Dengan senyum terpaksa "Tapi gimana sama makan baksonya?"

__ADS_1


"Nabila!!! Kamu ini,, Kakak khawatir sama kejadian tadi. Hati kakak aja belum tenang tapi kamu malah masih mikirin bakso yang akan buat kamu dirawat lebih lama lagi disini"


"Jadi gak boleh ya?" Terlihat wajahnya sedih


"Duh bukan gitu!! Aaahhhh kamu salah paham sayang! Boleh kok, tapi harus LAB dulu"


Shakil menyarankan itu agar dia tau tentang alergi Nabila dengan daging, jadi bisa Tito tangani dan memberikan penawarnya sesuai dosis ibu hamil


Nunggu hasil LAB aja setengah jam terus kapan aku makannya!!


"Permisi tuan" Haris yang baru datang ikut ingin memberikan solusi untuk Nabila "Kenapa kita mempersulitnya kalau ini adalah kesempatan baik setelah seharian tidak makan. Dan sekarang saat dia menginginkannya tapi banyak sekali kesulitan"


Haris memang selalu bijak dari kedua pria yang ada dihadapannya sekarang. Karena statusnya sebagai asisten yang memang dari dulu adalah sahabat baik, jadi dia lebih berani untuk menanggapi bosnya,


Tito sendiri bukannya tidak punya solusi tapi apapun yang dia katakan pasti dibantah Shakil. Sebenarnya aku atau dia yang dokter? selalunya orang ini membantah setiap solusi yang aku beri, begitulah batin Tito saat percakapan yang tadi dia bahas tentang makan bakso, karena dokter itu sudah mengijinkan Nabila memaknnya dengan penawar yang akan dia berikan, tapi Shakil tidak begitu saja percaya pada obat tersebut tanpa memeriksa Nabila dulu secara detail..


"Katakan?" Dengan sedikit ragu tapi dia yakin Haris selalu punya solusi untuk segala hal


"Didaerah Utara kota ada kedai bakso tidak menggunakan daging sapi yang biasa kita temui selama ini, disana khusus seafood, bukan hanya bakso saja tapi juga sosis, kornet, dan sejenisnya menggunakan daging ikan tuna bahkan itu lebih baik dengan omega-3 yang terkandung dalam makannya"


Asisten ini adalah dewa untukku, dan kalau aku bisa ingin sekali memeluknya, karena ide briliannya akan membuka ikatan kuat yang membuat dadaku sesak


Shakil berpikir sejenak dan melirik pada Nabila minta persetujuan mau atau tidak dia makan bakso yang dari ikan, dan jawaban Nabila adalah senyuman manis tanda setuju. Lagipula dia juga tau benar banyak manfaat baik dari ikan tuna untuk janinnya nanti


"Yasudah kita pergi ke lokasi yang kamu katakan tadi" Shakil berdiri merangkul Nabila agar berjalan dengan perlahan seperti yang sedang sakit keras


"Jangan kayak gini malu dilihat orang, aku bisa kok jalan sendiri"


"Diam!! Kakak gak peduli sama kecebong yang liatin kita" Shakil dengan cueknya berjalan memapah Nabila


Haha kecebong? sembarangan saja kalau ada yang denger gimana!!! Nabila


Pergi,,, pergilah. reputasiku akan hancur jika dia lebih lama lagi disini. aku dokter prepisional diberbagai rumah sakit tapi dia malah membuatku turun derajat didepan juniorku, dokter Tito

__ADS_1


Bersambung ❤️❤️❤️


__ADS_2