
Shakil turun dari kamarnya sudah lengkap dengan pakaian kantornya. Dilihat sekeliling rumah mencari seseorang tapi tidak dia temukan bahkan Amir dan Mira pun sama tidak terlihat juga. Dia duduk dikursi makan hanya ditemani Haris yang saat itu juga baru datang
"Pak Anton dimana Ayah Bunda" Shakil bertanya pada Anton yang sedang menyajikan makanan dihadapannya
"Tuan dan Nyonya besar tadi pagi pergi saya tidak tau kemananya"
"Nabila? Dimana dia?"
"Nona juga pergi, Dia bilang mau kerumah temannya"
"Apa? Kenapa dia tidak izin dulu padaku?"
"Sudah tuan tapi melalui pesan. Mungkin anda perlu cek ponselnya?" Usul Anton
"Aahh ponselku dikamar"
"Naik apa dia pergi?" Tanya lagi
"Diantar Tuan dan Nyonya"
Shakil tidak bertanya lagi menurutnya Nabila akan aman jika diantar kedua orang tuanya. Dan dia pun makan makanan yang sudah disiapkan Anton untuknya. bersama dengan Haris
***
Dirumah Anna
Anna, Romi, Rey, Sudah berkumpul ingin menyidang Nabila. Sudah beberapa hari ini mereka menghubunginya tapi selalu tidak dijawab. Dan hari ini Nabila benar-benar sudah siap untuk cerita karena walaupun rapat dia merahasiakannya toh pada suatu hari akan terbongkar juga.
"Sekarang apa yang mau lo jelasin sama kita" Anna seperti seorang hakim didalam persidangan
"Kalian ini apa si.. Gue bukan kriminal ya yang di sidang kaya gini?"
"Harus dong. Lo itu pembohong besar.. Semenjak lo tinggal dirumah baru, Sikap lo berubah sama kita" Tambah romi
"Bukan gitu. Gue masih adaptasi sama setatus gue yang sekarang. Gue mau cerita tapi emang tunggu waktu yang tepat aja" Jelas Nabila
"Lo butuh berapa banyak waktu sih buat temen lo sendiri... Kita bukan sekedar temen aja lho tapi kita ini udah kaya saudara. Sesulit itukah cerita sama kita?" Giliran Rey yang mendakwanya
Hufffhh Nabila membuang napas kasar "Sorry,, gue harap kalian bisa ngerti kenapa gue gak cerita" Wajah Nabila tiba-tiba berubah sedih. "Waktu itu papah keritis dan permintaan terakhirnya adalah mau jadi wali nikah gue. Dia mau nikahin anak satu-satunya dan jadi wali untuk sekali seumur hidupnya, Karena gak ada waktu buat papah hidup lebih lama lagi, Jadi ayah Amir nikahin anknya sama gue" Nabila tertunduk malu dan menitikan air matanya
Anna, Romi dan Rey terkejut bukan main. Antara bingung, Sedih, Dan kasian melihat temannya yang ternyata harus kehilangan masa remajanya di bangku SMA.
__ADS_1
"Bila? Lo serius?" Suara Anna melemah dan mendekati Nabila duduk disebelahnya
"Lo gak becanda kan sama kita" Romi juga sama mendekati Nabila dan duduk disisi sebelahnya lagi
"Bil? Kita gak maksud bikin lo sedih gini, Maafin kita ya?" Giliran Rey berlutut dihadapannya
"Jadi? Yang kemarin kita lihat?" Tambah Anna lagi
"Apa lo bahagia sama setatus lo yang sekarang?" Sambut Rey juga
"Gue harusnya cerita ini dari awal sama kalian. Seengaknya beban hidup gue bisa ringan kalau gue gak nyimpennya sendirian" Nabila mengangkat kepalanya dan berusaha tersenyum "Kalian tenang aja gue bahagia kok. Ya walaupun belum semulus rumah tangga kaya umumnya tapi gue juga gak masalah. Karena gue juga kan masih sekolah"
"Jadi bener nih lo udah nikah? Gue masih gak percaya tau ini kaya mimpi!" Anna memeluk Nabila
"Dah ah kenapa kita melow kaya gini si? Kita hangout yuk? Senang-senang gue yang traktir deh" Nabila tersenyum membuyarkan suasana sedihnya
"Ayo... Udah lama juga kita gak jalan" Romi semangat
"Come on" Semuanya berdiri serempak dan pergi jalan-jalan
Hari ini setelah Nabila cerita hatinya sangat plong. Dia benar-benar lega karena memiliki sahabat yang pengertian dan selalu menyuupportnya dalam keadaan apa pun. Karena hari ini dia jalan-jalan dengan temannya. Nabila juga memutuskan sekalian mau beli hadiah ulang tahun untuk Shakil.
Nabila memanfaatkan momen ini karena untuk kembali kemasa remaja dan melupakan statusnya sejenak dia memang membutuhkan mereka. Dia belanja, Makan, Nonton, Bermain permainan, Dan berkeliling kota diwarnai dengan nyanyi-nyanyi dan gelak tawa sampai mereka tidak sadar sudah menunjukan pukul sembilan malam..
"Bil lo gak apa-apa nih pulang jam segini" Anna khawatir
"Gak lah lo tenang aja" Nabila berusaha santai walaupun sebenarnya dia sangat khawatir tapi tidak baik menunjukan pada teman-temannya
Nabila diantarkan kerumahnya dan dengan hati yang dag dig dug tidak karuan. Dia berusaha menarik napas agar tetap tenang menghadapi Shakil yang pasti akan marah besar.. Tapi aneh kenapa saat dia pergi selama ini Shakil sama sekali tidak menghubunginya? Apa dia benar-benar sangat marah sampai tidak mau menanyakan keberadaannya
Rumah terlihat sepi tapi mobil Shakil sudah terparkir ditempatnya. Dia berjalan berjingjit seperti pencuri, Sangat pelan dan hati-hati jangan sampai mengeluarkan suara apa pun. tapi tiba-tiba dia dikagetkan oleh seseorang yang menyapanya
"Anda sudah kembali Nona?" Anton tiba-tiba muncul
"Ahh pak Anton kau mengejutkanku. Apa kakak ada dikamar?" Nabila berbisik
"Tidak nona Tuan ada diruang kerjanya bersama Haris" Anton juga ikut berbisik
"Ayah Bunda mana?"
"Tuan dan Nyonya besar belum kembali"
__ADS_1
Mati aku. kalau dia marah bagaimana ini? ayah dan bunda juga* tidak ada. tidak ada yang membelaku nanti*
"Nona? Apa anda baik-baik saja?" Anton membuyarkan lamunanya
"Eh. Iya pak.. Terimakasih aku keatas dulu ya?" Nabila pamit pada Anton
"Maaf Nona tapi tadi tuan berpesan kalau Nona sudah kembali anda diminta menemuinya diruangan kerjanya"
Aahhhh tuh kan. Pasti dia akan menghukum ku.. Aku harus cari alasan yang tepat nih.. Tapi kalau dia memukulku bagaimana?
"Iya pak Anton aku akan kesana nanti setelah mandi" Nabila pergi kekamarnya mandi dan berdandan dia berusaha secantik mungkin agar Shakil tidak tega untuk memarahinya. Tidak ada cara lain lagi. Hanya itu senjata yang dia punya untuk menghadapi suaminya dan satu lagi senyum manis itulah yang akan dia andalkan selanjutnya
tok tok
Nabila mengetuk pintu ruang kerja shakil dan tak butuh waktu lama sudah terbuka dengan diiringi Haris yang keluar mempersilahkan Nabila masuk
"Silahkan nona. Tuan sudah menunggu anda" Dengan sopan seperti bisanya dia membungkukan tubuhnya
"Asisten Haris? Apakah kakak marah aku pulang malam?" Nabila menahan Haris
Haris hanya tersenyum melihat Nabila yang ketakutan "Tidak nona?"
"Bohong. Kau tersenyum mengejekku ya? Katakan apa dia akan menghukumku?"
"Bukankah hukumannya sangat menyenangkan?"
"Tapi aku belum pernah melakukan kesalahan yang seperti ini sampai dia tidak menghubungiku seharian"
"Berarti hukuman yang akan dia berikan juga yang belum pernah dia lakukan sebelumnya" Haris tersenyum
glek Nabila menelan ludahnya dan memasuki ruangan Shakil dengan kumat-kamit berharap dia tidak akan marah...
Barsambungโคโคโค
Untuk para pembaca setiaku. Maaf ๐๐ kalau akhir-akhir ini upnya agak lama soalnya menjelang idul fitri autornya sibuk.
Autor usahain biar bisa up setiap hari walaupun hari raya. Dan kalau gak up mohon dimaklumi ya๐๐๐
Thank you all
Syeha๐๐
__ADS_1