ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
35. Perhatian Nabila


__ADS_3

Tidak lama kemudian Nabila datang membawa semangkuk bubur dan obat juga. waktu masih ada orangtuanya. Nabila memang tumbuh menjadi anak yang mandiri. bukan hanya masak saja bahkan urusan bersih-bersih rumah, dia juga selalu membantu Ayu. itu lah walaupun Nabila anak tunggal, tapi Harun mendidik putrinya menjadi wanita tangguh dan tidak cengeng. agar dia bisa menjalani kejamnya hidup walaupun tanpa Harun.


"apa kamu yang masak ini?" menunjuk pada mangkuk


"iya dong" dengan pede nya


"kamu yakin ini aman?" mengejek


"semoga saja! tapi jangan kaget ya, kalau tiba-tiba perut kakak sakit?" balas ejekan


"aku akan mati dengan bahagia walau pun kamu yang mercuni aku"


"haha garing, kakak gombal nih ceritanya? udah ayo makan dulu" memberikan mangkuknya


"nabila kamu tega sama kakak yang lagi sakit? tangan kakak mana sanggup angkat sendok" pasang wajah sedih


"diih.. manja, yaudah sini aku suapin, tapi gak gratis ya?" membalas perlakuan Shakil padanya


"dasar kancil, nih dengan senang hati" membuka lebar dadanya


"haha aku gak mau itu"


"lalu"


" nanti aja, sekarang kakak makan dulu" dia pun mulai menyuapi


"aahhh" Shakil merintih sambil memegang perutnya

__ADS_1


"hah kakak! kakak kenapa? buburnya gak enak ya.. ko bisa jadi gini" dengan paniknya mengecek perut Shakil


"buburnyaaaa,,, ENAK BANGET haha" bahagia karena berhasil mengerjai istrinya


"kakak" memukul tangan Shakil "nyebelin ih. kirain bener buburnya bikin sakit perut" cemberut kesal


"gak kok sayang. buburnya enak banget, kakak ngerjain kamu aja tadi. tapi bener ini adalah bubur terenak yang pernah kakak makan" entah Shakil yang terlalu lebay, apa emang pengaruh cinta. makan apa aja jadi enak


"beneran nih? apa cuma ngehibur aja?"


"swear.. enaknya tuh pake banget, tapi kakak gak mau ya kamu masuk dapur lagi, karena ini bukan pekerjaan kamu, ok sayang?" mencubit didung nabila


"ok! yaudah makan lagi trus istirahat" menyuapi lagi sampai mangkuknya kosong


"kamu tidur disini ya, temani kakak?"


"kok diam? gak mau ya temani kakak yang lagi sakit ya?" dengan wajah memelas


"eh bukan gitu! tapi, emangnya gak apa-apa aku tidur disini?"


"siapa yang melarangnya? kamar ini juga milik kamu, kalau perlu suruh pak anton panggil asisten rumah tangga, untuk memindahkan semua barang-barang kamu kesini" meraih ponselnya ingin memanggil anton


"eh, gak usah kak, aku udah nyaman kok tidur disana, dan ok, aku akan temenin kakak tidur, tapi aku ganti baju dulu ya?" membawa mangkuknya kembali kedapur, sudah selesai dengan urusannya, nabila pun balik lagi kekamar suaminya dan melewati malam ini didalam pelukan hangat Shakil


Hari ini setelah bubar sekolah, Nabila langsung pulang kerumah, karena Shakil tidak masuk kantor, bukannya dia masih sakit, tapi lebih senang saja jika Nabila perhatian padanya,


lagipula dia juga harus menjemput kedua orangtuanya di bandara.

__ADS_1


Diperjalanan pulang dari bandara, mereka berhenti disebuah lestoran, karena waktu sudah menunjukan jam makan malam, mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing, tapi tidak dengan Shakil, semua makanan yang akan dia makan diatur Nabila, tidak boleh pedas, asam, santan juga makanan yang keras. dan untuk minuman hanya jus melon tanpa susu. pemandangan ini membuat Amir dan Mira tidak habis pikir. kenapa bisa anaknya diam saja saat ada orang lain mengatur makanannya, sedangan selama ini bahkan Mira. ibu kandungnya sendiri tidak berani melakukan itu


"nak?" panggil Mira yang ingin bertanya itu semua, tapi hanya dengan satu tatapan saja


" bundaa!! maag ku kambuh kemarin" jawab santai seolah tidak mau membahas kedekatannya dengan Nabila


"maaf bunda. ini salah Nabila, kalau aja kemarin aku gak belajar di perpustakaan, pasti kakak gak nunggu aku sampe sore, jadi maagnya kambuh deh" raut wajah Nabila jadi sedih


"lho jangan bicara gitu sayang. dia udah biasa telat makan, dan tidak akan terjadi apa-apa juga padanya, kamu tenang aja dia gak serapuh itu kok" berusaha menenangkan Nabila.


ternyata bunda emang gak pernah tau kalau anaknya memang rapuh. huh tapi tidak bisa menyalahi bunda juga si, kakaknya aja yang terlalu dingin, aku jadi kasihan sama dia, kenapa hidupnya penuh dengan rahasia? hmm aku jadi penasaran?


Nabila berbisik pada Shakil "mau aku suapin gak?" mengangkat kedua halisnya lalu meririk pada Amir dan Mira


"kamu ya. tunggu pembalasan kakak dirumah" menusuk pinggang nabila dengan jarinya


"geli tau" balas dengan cubitan kecil ditangan Shakil


akhirnya, perang tangan dia lakukan dibawah meja dengan senyum cerah diraut wajah Nabila dan Shakil..


:


:


:


:

__ADS_1


Bersambung❤❤❤


__ADS_2