
Hari ini Nabila melanggar janjinya kalau akan pulang cepat.. Siapa yang menduga kalau perjalanan yang ditempuh memang agak jauh dan terjebak macet. Beberapa kali Shakil melakukan panggilan telepon namun selalu di luar jangkauan. Perasaannya kali ini sungguh sangat tidak tenang, untung saja Haris bisa mengabarkan kalau keduanya masih berada di perjalanan dengan telpon kekasihnya.. Jam sembilan malam, akhirnya mereka sampai rumah. Ingin sekali menjelaskan pada Shakil apa yang terjadi, namun dia tidak sanggup karena takut suaminya akan marah dengan apa kesalahannya kali ini.
"Aku pikir kau lupa jalan pulang" Shakil yang berdiri di depan pintu dengan menyilang kan kedua tangannya di perut memasang wajah yang terlihat ekstrem
"Maaf, ini sungguh di luar dugaan ku, kalau ternyata jalannya akan macet" Sekuat tenaga Nabila mengeluarkan senyumnya agar pria itu tidak marah
"Kamu kan bisa telepon kakak!" Pandangan Shakil masih menunjukkan kemarahannya
"Ponselku mati lupa charger.. Lagi pula kan udah dikasih tahu sama asisten Harris. emang dia nggak kasih tahu kakak ya???" Nabila pura-pura bodoh
"Masuk!!!" Tegas Shakil
Aduh gimana nih.. Kakak serem banget
Nabila mulai memasuki kamarnya dia meletakkan tas dan berjalan ke kamar mandi. Selesai mandi dia berniat ingin menjelaskan apa yang seharian ini dilakukan bersama anna juga hari-hari sebelumnya, namun setelah dilihat Shakil sudah berbaring di tempat tidur
dengan memunggunginya..
Dia sadar benar kalau pria itu memang pantas marah tapi semua yang Nabila lakukan tentu saja untuk kebaikan dirinya. Bukan tidak mau jujur tapi kalau suaminya tahu, dia pasti tidak akan mengijinkan Nabila untuk melakukan apapun.
"Kakak" Nabila menaiki sebelah kakinya kasur dan merangkak menyentuhnya namun pria itu tetap diam "Kakak marah ya?"
"Tidur" Jawabnya singkat
"Kakak dengerin aku dulu" Nabila masih berusaha ingin menjelaskan
"Tidur Nabila" Tegasnya
Padahal aku mau jelasin semuanya tapi, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.
Nabila kembali ke tempat dimana seharusnya dia berbaring.. matanya sulit terpejam meskipun semua tubuhnya terasa sangat lelah..
Berkali-kali dia mencoba memeluk Shakil namun yang didapat hanya tepisan saja dan ini membuat Nabila sedikit sedih namun tidak kecewa karena memang dia yang bersalah.
Kancil itu terus memutar otak bagaimana caranya agar Shakil mau berbicara. Berkali-kali dia pura-pura meringis kesakitan namun sama sekali tidak ada respon dari tubuh yang ada di sampingnya. 'baiklah mungkin malam ini bukan waktu yang tepat'. jadi Nabila akan bicarakan besok setelah keduanya menang
Pagi hari tidak seperti biasanya Shakil bangun lebih awal, dia disibukkan dengan panggilan telepon yang tidak ada hentinya, sementara Nabila masih terus berusaha mencari waktu yang tepat untuk menceritakan namun ingin dengan lebih santai lagi
"Kakak aku mau ngomong" Nabila berdiri di depan Shakil yang sedang memakai jasnya
__ADS_1
"Ngomong aja" Tanpa menoleh pada gadis itu dia pura-pura menyibukkan dirinya dengan memakai dasi yang biasanya selalu Nabila bantu
"Aku bantu" Baru saja Nabila menggerakkan tangannya namun Shakil sudah menghindar
"Aku bisa sendiri"
"Oke kalau gitu nanti aku ke kantor untuk makan siang"
"Aku sibuk"
"Sesibuk kakak pasti ada waktu kan untuk makan siang, memangnya hari ini kakak nggak mau makan?"
"Kakak makan di luar dengan klien"
Ih dingin banget.. Aku jadi beku nih bingung harus apa
"Ya udah kalau gitu aku mau..."
"Mau apapun itu terserah kamu, kakak tidak peduli kamu mau pergi ke mana dengan siapa mau pulang jam berapa menurut kakak kamu sudah dewasa" Shakil terus menyibukkan dirinya dengan mengambil barang ini dan itu agar tidak ada waktu untuk melihat Nabila.. kalau tidak dia tidak bisa menghindari untuk ciumnya
"Bukan gitu maksudku"
"Tapi kakak belum sarapan.."
Pria itu terus mempercepat langkah kakinya bahkan dia tidak menjawab perkataan terakhir Nabila.. Namun gadis itu terus bersikeras untuk mengajaknya bicara sampai tersandung oleh sendalnya sendiri karena langkah kaki yang tidak beraturan..
"Nona hati-hat!!i" Anton teriak saat melihat Nabila yang mau jatuh di Eskalator..
"Kakak!!!" Nabila teriak dari belakangnya
Karena jarak Shakil dan Nabila tidak terlalu jauh akhirnya pria itu menoleh juga dan langsung menangkap Nabila tepat ke dalam pelukannya, tapi gadis itu malah tersenyum senang kalau dirinya sudah berhasil membuat Shakil menatapnya walaupun tempat dan adegan yang sangat menegangkan
"Apa isi kepalamu? Setelah melakukan hal yang berbahaya ini kau malah tersenyum seperti orang tidak waras"
"Apa yang aku takutkan kalau di hadapanku ada iron man" Nabila masih terus tersenyum bahkan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya
"Berhenti seperti anak-anak, kakak buru-buru" Shakil melepaskan pelukannya setelah di posisi yang aman yaitu turun dari tangga
"Pak Anton!!!" Nabila teriak memanggil Anton padahal yang punya nama ada di dekatnya "Hari ini aku meringankan pekerjaan kalian dengan tidak perlu memasak.. Aku akan menunggu suamiku pulang sampai makan bersama"
__ADS_1
"Jangan keras kepala Nabila"
"Baiklah karena sudah tidak ada urusan lagi aku mau kembali ke kamar" Nabila membalikkan tubuhnya ingin pergi dari tempat itu
"Anton siapkan sarapan untuk kita" Shakil berjalan mendekati Nabila dan berbisik "Kau puas?" Lalu duduk di mana biasa dia makan
Hahaha.. Puas banget
Nabila pun duduk di samping suaminya dengan wajah penuh keceriaan karena bisa membuat Shakil sarapan dengannya
***
Hari ini Nabila dan Anna membahas permasalahannya di rumah saja, gadis itu juga tidak mau kalau terus-menerus keluar rumah dengan keadaannya yang sedang hamil apa lagi kemarin per jalanannya cukup jauh dan sangat melelahkan namun itu semua juga mendapat hasil yang memuaskan..
Sedangkan Shakil di kantor setelah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agar segera membayar pajak serta permasalahan tanah dengan pihak bank... Mungkin satu persatu akan dia selesaikan namun keadaannya yang sekarang memang sangat memprihatinkan. Shakil yang biasanya bisa menyelesaikan masalah hanya dalam hitungan jam Tapi kini satu minggu pun tak kunjung selesai.. ditambah lagi dia selalu memikirkan kalau persalinan Nabila tinggal beberapa bulan saja, bagaimana kalau tiba-tiba dia bangkrut tidak punya apa-apa, bukankah dia akan merasa sangat menyesal dan selalu menganggap dirinya tidak berguna kalau membayangkan anaknya lahir ke dunia ini dengan tidak ada yang bisa dia banggakan dari dirinya
"Haris! apa kau sudah mendapatkan informasi tentang kemana saja perginya dua gadis itu?"
"Sudah.!! Tapi alangkah baiknya tidak perlu kita bahas sekarang dalam keadaan seperti ini"
"Aku lebih memilih bangkrut daripada dikhianati"
"Aku mengerti tapi kita juga tidak bisa gabah"
"Katakan"
"Huh!! baiklah dua hari yang lalu seseorang melihat mereka di cafe bersama seorang pria dan aku sudah melacak kalau pria itu seorang pengacara.. Tapi yang aku belum habis pikir untuk apa dia menemui pengacara yang tidak terlalu handal.. kalau seandainya mereka ingin membantumu.... tidak mungkin menggunakan pengacara yang bahkan sangat minim pengetahuannya"
"Kalau begitu kemungkinannya hanya satu"
"Apa?"
"Mereka selingkuh"
"Kenapa otakmu sempit sekali"
"Otakmu yang bermasalah..kalau saja Anna benar-benar sudah meninggalkanmu jangan harap aku akan meminjamkan bahuku untuk kau menangis"
Haris tidak mau menjawab lagi selain menggeleng.. berdebat dengan pria itu apalagi kalau sudah membahas masalah cinta sama sekali bukan penyelesaian yang tepat.. dia memilih bertanya yang lain daripada harus meladeni kecurigaan yang belum pasti..
__ADS_1
Bersambung❤❤❤