
Shakil masuk kekamarnya lalu mandi. Dilihat Nabila yang sudah bermimpi pun tidak mau dia ganggu.. Rasa kesal masih ada tapi melihatnya terlelap seperti ini dia malah balik kasihan.
"Kenapa kamu yang marah. Padahal kamu yang melakukan kesalahan dan kenapa juga aku tidak bisa marah lagi padamu?" Shakil mengelus-elus pipi Nabila dan mengecupnya "Dari mana saja kamu seharian tidak mengabariku" Dia mencium lagi pipinya "Kau tau sesuatu tentangku tadi dikantor. Apa kau kesana?" Sekarang megusap lembut bibir mungil Nabila
Shakil diam senjenak memandang wajah polos Nabila yang begitu tenang. Rasanya ingin mengganggunya tidur tapi dia tidak sampai hati. Shakil meraba perut Nabila yang rata dia membayangkan kalau Nabila hamil bagaimana nanti. Dia sendiri tidak tau orang hamil bagaimana? Dan dia harus apa? Dia mengambil ponsel browsing seputar tentang kehamilan.
"Benarkah seperti ini?" Dia menatap ponsel dan melihat lagi wajah Nabila "Aahh kenapa hamil merepotkan. Bagaimana dia bisa menjalannya dengan begitu lama. Sembilan bulan sepuluh hari adalah masa yang sulit untuknya nanti. Dan dia juga harus kuliah bukan? Setiap hari aku menidurinya tanpa berpikir kehamilan seberat ini, Aku akan menanyakan pada Tito tentang ini besok" Shakil menaruh ponselnya dan mengelus kembali perut Nabila. "Apa kau bisa menjalaninya nanti sayang? Jika kehamilan sangat sulit untukmu kita akan pikirkan dan bicarakan kembali. Aku tidak mau orang yang aku cintai menderita karena keegoisanku.
Aku mencintaimu sayang" bisikan di telinga Nabila. Kemudian Shakil tidur dengan tangan yang seperti biasa dia tempatkan..
Pagi matahari sudah menampakan sinarnya lebih awal dari Nabila membuka mata.. Untuk hari ini Nabila tidak seperti biasanya dia bermalas-malasan tidak mau membuka selimutnya sama sekali. Sedangkan Shakil yang sudah rapih dengan jasnya masih memperhatikan Nabila. kenapa sudah siang dia masih tidur.. Padahal semalam dia juga yang tidur lebih awal, karena masih tidak mau mengganggunya Shakilpun turun untuk sarapan bersama Amir dan Mira
"Nabila mana?" Tanya Mira yang tidak biasanya Shakil turun lebih awal
"Masih tidur bunda" Shakil menjawabnya santai
"Lho gak biasanya dia masih tidur... Selalaunya bangun lebih awal dari bunda. Kamu apakan dia semalam?"
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa, Dia sendiri yang tiba-tiba marah dan pergi tidur"
"Apa dia sakit?"
"Iya kenapa aku tidak terpikir dari tadi ya?" Shakil yang baru duduk sudah berlari lagi kekamarnya melihat keadaan Nabila
"Anak ini semakin hari kenapa jadi aneh" Amir yang dari tadi menyimak pembicaraan ibu dan anak itu pun akhirnya angkat bicara juga
"Bunda juga khawatir" Dan Mira juga menyusulnya
Dikamar
"Nabila sayang kamu sakit?" Shakil duduk ditepi ranjang dan membuka selimut yang menutupi wajahnya
"Tidak" Nabila hanya menggeleng dan tidak membuka matanya
"Lalu kenapa tidak bangun dan sarapan?" Shakil bicara dengan lembut
"Ngantuk" Lagi-lagi dia menjawabnya singkat
__ADS_1
Tok..Tok
"Bunda masuk ya" Mira masuk karena pintu kamarnya yang memang sudah terbuka "Nabila kamu sakit sayang" Segera dia memeriksa suhu tubuhnya
"Gak kok bunda aku baik-baik aja. Hari ini aku males ngapa-ngapain maunya tiduran kaya gini.. eeemmm nyamanya" Nabila menarik selimutnya lagi
"Oh gitu!! Yaudah tidur lagi aja. Dan kalau ada apa-apa langsung bilang Bunda ya?"
"Iya Bunda"
Mira tersenyum dan berbisik pada Shakil.. "Biarkan saja dia istirahat ayo kita makan.. Nanti Bunda akan menjaganya"
Shakil pun menuruti apa yang mira katakan. walaupun sedikit aneh tapi ini lebih aman daripada dia harus keluar rumah lagi
***
Diperjalanan kekantor Shakil masih memikirkan kenapa Nabila marah tapi sampai segitunya. Biasanya walaupun salah dia tetep cari pembelaan. Dan sekarang hanya diam ini membuatnya tidak nyaman sama sekali. sampai Haris juga sedikit cemas melihat tuanya dan memberanikan diri bertanya
"Tuan. Ada apa?" Dengan melirik ke kaca sepion dan shakilpun melihatnya
"Ada apa dengannya. Harusnya aku yang marah dia pulang malam tidak mengabariku. Ini kenapa jadi dia yang tidak mau bicara. Kau tau lebih baik dia marah-marah dan memukulku daripada dia diam seperti ini.. Apa yang dia pikirkan?"
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Shakil memukul kursi kemudi Haris
"Sudah tuan. Yang kemarin saat rapat"
Shakil mengingat sejenak saat Haris datang membawa ponsel dan dia langsung marah-marah. Dia juga ingat perkataan Nabila yang bilang apakah Shakil tidak lelah seharian teriak-teriak, kini dipahaminya
"Aahh sial!!!" Sekarang dia baru mengerti dimana letak kesalahannya "Jadi ini alasan dia seperti sangat membenciku.. Kenapa kau tidak bicara saja kalau itu telepon darinya?" Shakil berbalik marah pada Haris
"Bukankah namanya tidak boleh sering disebutkan agar tidak terlaku familiar"
"Benar juga" Shakil berpikir lagi dan "Kita balik kerumah. Urus semua pekerjaanku melalui online. Dan untuk berkas biarkan sekertaris yang membawanya kerumah"
Haris pun menganggukkan kepalanya dan putar arah. Balik lagi kerumah tuannya.
***
__ADS_1
"Lho kok balik lagi" Mira bertanya yang melihat shakil sudah menaiki tangga
"Iya bun aku kerja dirumah aja" Shakil meneruskan langkahnya lagi menemui Nabila
Setelah masuk kamar ternyata Nabila masih berguling-guling ditempat tidur entah kenama dia merasa sangat nyaman sampai tidak mau beranjak dari sana. Bahkan untuk mandipun dia tidak mau
"Kamu kenapa berguling-guling seperti ini? Ada apa denganmu?"
"eh aku gak apa-apa" Nabila bangun dan bersandar pada sandaran tempat tidur
"Kalau tidak apa-apa kenapa tidak bangun mandi dan sarapan?" Shakil menghampirinya dan duduk ditepi ranjang
"Aku malas. Hari ini ingin tiduran saja"
"Maaf?"
"Untuk?"
"Kemarin yang kamu telepon. Kakak benar-benar tidak tau itu dari kamu sayang, Aku pikir dari rekan bisnis lain karena memang baru kali ini kan kamu meneleponku?
Sebenarnya Nabila juga sudah tidak terlalu marah hanya saja dia sedang bermalas-malasan jadi beginilah sikapnya yang tidak mau diganggu "Tidak maslah. Aku sudah tau sifat kakak dikantor bagaima"
"Tapi sayang dikantor keadaanya sedang tidak baik. Itulah yang membuat kakak emosi"
"Aku ngerti kak. Sudah lupakan saja. Aku bukan anak TK yang marah tanpa perhitungan.. Aku tau jadi pemimpin itu sulit" Pandangan Nabila yang biasa saja membuat Shakil sedikit lega
"Beneran gak marah?" Shakil memegang tangan Nabila dan dia pun tersenyum "Kalau gitu kamu sarapan ya?"
"Boleh gak aku tiduran lagi... Sepertinya seprei ini sangat lembut. Aku suka" Nabila yang sudah merosot dari duduknya dan kembali berbaring
"Baiklah. Tapi janji nanti makan?"
"Iya. Udah aku gak apa-apa. Kakak pergi aja kekantor"
"Hari ini kakak temani kamu kerja dirumah saja"
Entah kenapa perasaan Nabila begitu bahagia mendengar perkataan Shakil wlaupun dia akan seharian diruang kerjanya tapi ini membuatnya nyaman. sampai Nabila senyum-senyum sendiri
__ADS_1
Shakil pun ikut senyum dan mengecup keningnya "Kakak kerja dulu ya. Ingat sarapan. Dan kalau ada apa-apa telepon aja" Untuk Shakil kurang sah kalau belum dapat kiss morning. jadi sebelum pergi dia mengecup bibir Nabila dan melembaikan tangannya seperti biasa dia pergi kekantor...
Bersambung❤❤❤