ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
68. Harapan nabila


__ADS_3

Nabila pergi bersama Alex meninggalkan Shakil yang masih menatap lekat padanya. Tanpa menoleh kebelakang sedikitpun Nabila terus berjalan sampai dia menghilang dari pandangannya


Nabila tidak jadi nonton bersama Alex karena Moodnya sudah hilang setelah melihat Siska terus menggoda suaminya, Kemudian Alex mengajaknya keliling taman kota. Ini merupakan hal yang paling menyenangkan untuknya karena inilah kehidupan yang dia suka yaitu alam terbuka, Alami, Sejuk, Damai, Dan ramai, Semua membuatnya tersenyum seakan-akan semua beban dihidupnya hilang. Bahkan lupa dengan Shakil yang selalu perputar dipikirannya


"Sebahagia ini kah kamu aku ajak kesini?" Tanya Alex dari tadi melihat nabila senyum-senyum sendiri


"Tentu saja? Memangnya kak Dokter tidak bisa merasakan keindahan taman ini. Dan lihat anak-anak itu dia bertengkar hanya karena memperebutkan sebuah Jeruk.. Padahal Jeruk itu masih banyak ditangan Ibunya.. Bukankah mereka begitu menggemaskan?"


"Aneh seusiamu kenapa tertarik pada anak-anak.. Aku pikir kamu akan tertarik dengan pria-pria yang ada didepan sana dari tadi mereka hanya melihat mu terus.."


"Apa pria-pria itu akan menggemaskan jika mereka saling bertengkar seperti anak-anak yang tadi?" Nabila tersenyum


"Haha tidak? Tapi untukku kamu lebih menggemaskan saat tersenyum seperti ini?"


"Kakak aku tidak pernah tertarik dengan hal itu" Nabila seolah tidak mau Alex menggodanya.


"Kamu memang beda dari gadis lain. Kamu sangat menarik. Pribadimu, Pemikiranmu bahkan kedewasaanmu melebihi orang dewasa sekalipun"


Kau benar aku memang sudah dewasa sebelum Waktunya karena terpaksa hiks


"Kakak terlalu berlebihan"


"Itu memang kenyataanya. Oh ya? Kamu sudah punya pacar?"


"Punya?"


"Iya si. Kamu cantik pasti banyak yang antri. Tapi nanti dia marah gak kita jalan gini?"


Nabila hanya tersenyum dan menggelengkan kapalanya, Dia tidak mau banyak bicara yang nantinya malah keceplosan dan akan membuatnya sulit


Matahari sudah mulai turun. Langit pun berganti senja, mereka memutuskan pulang karena Nabila sudah merasa puas walau hanya duduk di taman tapi ini memang menyenangkan


****


Setelah Alex mengantar Nabila pulang dia langsung pergi lagi karena jadwal praktek dirumah sakit kali ini malam.


"Darimana saja kamu" Tiba-tiba ada suara dari arah balkon kamar. Karena Shakil sudah berjam-jam Menunggunya disana


"Ketaman kota"

__ADS_1


"Wah hebat sekali. Pergi dengan pria lain dihadapanku"


"Aku lelah. Mau mandi dan gak mau berdebat"


"Aku suami kamu. Aku pelaturan yang harus kamu patuhi kamu tidak bisa seenaknya bertingkah seperti ini" Shakil menarik lengan nabila dengan kasar dan menyandarkannya didingding


"Kakak sakit tau" Nabila meringis tapi tak berani menatapnya


"Kakak tidak suka kamu jalan bersama dia. Tolong mengertilah. Di memang baik. Tapi jangan memberi harapan padanya"


"Kita hanya duduk di taman saja" Berusaha lepas dari Shakil


"Kenap kamu harus menerima ajakannya. Kamu menyukainya?" Suara Shakil agak tinggi


"Kalau aku tidak pergi aku harus apa? Lihat Sibakteri itu yang tidak bisa diam seperti cacing kepanasan? Cih bahkan kakak sangat suka disentuh olehnya" Nabila memberontak


"Mengertilah berapa kali kakak katakan ini hanya sementara sampai waktunya tiba kakak akan mengakhiri semuanya"


"Kalau begitu untuk sementara sampai hari itu tiba jangan perdulika aku" Nabila berjongkok dan lolos berlari ke ruang ganti menaruh semua barang-barang nya


"Nabillaaa!!" Shakil mengejar dan mengangkat tubuhnya duduk dimeja rias


"Kakak jangan kaya gini. Aku mau mandi" Nabila berusaha kabur tapi tangan Shakil sudah menmengag erat tangannya


Kata-kata Shakil memang benar. Tapi Kenapa itu malah menyakitkan. Dia benar-benar kehilangan masa remajaanya. Shakil menunjukan statusnya yang selama ini dia tidak pernah pikirkan. Air matanya menetes walaupun ini kenyataan tapi baru kali ini dia merasa kebebasnya memang berhenti sampai disini


"Kakak benar, Aku tidak punya pilihan hidup lagi. Masa remajaku hilang. Kebebasanku terbatas. Cita-citaku terhalang. Apa yang bisa aku lakukan sekarang. Apa tujuan Hidupku sekarang. Aku sekolah mengejar cita-citaku agar kedua orang tuaku bangga. Tapi semua percuma. mereka tidak akan melihatnya. Lalu untuk apa aku lakukan semuanya. Ini akan sia-sia dan membuang uang orang yang merawat ku saja. Bukankah semua yang kakak lakukan harus anda imbalan? Hiks. Itulah tujuanku sekarang membayar setiap sesuap nasi yang masuk kemulutku. Mari keranjang aku akan lakukan. Aku akan bayar setiap harinya agar kakak tidak rugi" Nabila mendorong tubuh Shakil yang melemah mendengar perkataan Nabila.


Inikah isi hatinya selama ini?. dia benar-benar tertekan menikah denganku? kenapa dia bisa berpikir sependek ini


Nabila terus menarik tangan Shakil yang tidak bergerak selangkahpun tapi malah Nabila yang tertarik kedalam pelukannya.


"Apa? Kakak ingin aku melaukanya disini?" Nabila membuka kancing baju Shakil. Dan mencium tubuhnya sama seperti yang Shakil sering lakukan padanya. Tapi sikap Nabila yang seperti ini malah membuat hatinya sakit


"Hi bodoh hentikan. Apa yang ada diotakmu?" Shakil melepaskan tangan Nabila yang merabanya kemana-mana dan Shakil mundur menghindar


"Kenapa? Kakak tidak puas dengan bayaranku? Kakak mau lebih?" Nabila membuka bajunya juga mendorong Shakil kekursi dan Nabila duduk di pangkuannya. Melanjutkan aksinya dengan agresif


"Nabila kakak bilang hentikan!" Shakil teriak karena tidak tahan melihat Nabila dengan terus mengeluarkan air matanya

__ADS_1


"Kenapa? kakak tidak suka aku sentuh.. Apa kakak hanya ingin Sibakteri saja yang melakukan ini?" Hiks hiks


"Nabila sayang. Tenangkan dirimu" Tolong buang pemikiran gila ini. Pleace. Jangan seperti ini sayang" Shakil memeluk Nabila yang terus menangis


"Maafkan kakak. Kakak tidak bermaksud mengekangmu. Mengertilah aku tidak mau istriku dekat dengan pria lain. Kamu adalah tujuan hidupku. Kamu nafas terakhir untukku. Andai saja kamu bisa lihat isi hati kakak saat ini kamu akan tau seperpa sayangnya kakak sama kamu. Walupun nyawa kakak hanya satu tapi kakak tidak pernah mundur untuk melindungimu. Tolong sayang jangan berpikir seburuk itu tentangku"


"Semua yang ada didalam pikiranku itulah paktanya. Jangan bicara tentang hati. walau aku lihat pun jawabannya tetap sama.


Sama hanya ada nama Lexa didalamnya


"Ok apa yang kamu inginkan. Agar kakak bukitikan hanya kamu yang ada dihati kakak"


"Lepaskan aku. Dan biarkan aku pergi"


"Omong kosong apa ini? Walaupun didunia ini hanya ada dua pilihan kamu atau jantungku.. Aku tetap pilih kamu. Meskipun kakak harus mati. Jangan bicara itu lagi atu kamu benar-benar ingin kakak mati"


"Kenapa? Aku tidak ada alasan lagi untuk terus menumpang disini, Apa tujuanku?"


"Apa itu yang kamu inginkan? Apa kamu tidak mencintaiku sampai kamu mau pergi tinggalkan kakak?"


Nabila hanya diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang membuatnya terluka.


"Jawab? Kamu tidak mencintai kakak?"


"Tidak" Nabila memalingkan pandangannya


"Lihat sini" Shakil menarik wajah Nabila agar di menatapnya "Jawab jujur?"


"Apa untungnya dengan perasaanku? Cintaku tidak akan mengubah segalanya jadi seperti yang aku inginkan"


"Kenapa tidak bisa? Apa yang kamu inginkan kakak akan selalu memberikannya?"


"Apa kakak akan mencintaiku seperti kakak mencintai Lexa. bahkan setelah dia tiada bertahun-tahun kakak tidak bisa melupakannya, Bisakah kakak berikan hak itu juga padaku juga?" Tantang Nabila


"Dasar gadis bodoh. Kamu mau tau jawabannya? Kakak akan berikannya nanti setelah peresmian Hotel yang Papah kamu kelola sebelum dia meninggal. Dan disana kamu bisa putuskan akan bertahan denganku atau tidak. Sebelum itu jangan coba-coba lari dariku. Karena akan sia-sia emuah" satu ciuman dibibirnya dan Shkail menagkat tubuh Nabila dari pangkuannya


"Mandi sana" Shakil melemparkan handuk kearahnya


"Dan satu lagi kamu tidak cocok agresif seperti itu. Karena permainanmu sangat buruk" Shakil tersenyum dan meninggalkan Nabila yang menutupi wajahnya karena malu

__ADS_1


*kumaaaaaannn!!!! kamu nyembelin.


Bersambung❤❤❤*


__ADS_2