ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
184. kegelisahan para istri


__ADS_3

"Oh maaf! saya tidak tahu, karena baru pertama kali melihat anda di sini." Seperti biasa, dengan kasta yang tinggi mencerminkan kalau dia adalah gadis yang memiliki etika.


"it's oke no problem, kemarin-kemarin saya memang cuti. Wajar ada beberapa hal yang memang tidak terlalu saya tahu" Haris kembali lagi ke sofa lalu mempersilahkan Dahlia duduk bergabung dengannya.


"Baiklah Nona Dahlia, karena ada meeting yang harus saya jalankan saat ini, jadi mohon maaf kalau tidak bisa membahas berkas bersama anda sekarang, dan untuk lebih jelasnya bisa kau tanyakan pada dia saja" Shakil melemparkan pandangannya pada Haris. "dia yang akan menggantikan saya"


"Oh iya tidak apa-apa" walaupun sedikit kecewa tapi tidak apa, siapa tau dari Haris dia bisa mendapatkan sedikit informasi tentang Pria yang di taksirnya saat ini


"baguslah. kalau begitu saya pamit"


tanpa menoleh lagi Shakil pergi begitu saja meninggalkan asistennya dengan Dahlia, perasaanya sekarang sedikit lega, bukan mengharapkan hal ini terjadi pada Haris, namun setidaknya wanita itu tidak terus-menerus mengganggunya meskipun memang dalam pekerjaan namun Shakil sangat risih, apalagi istrinya dalam mood yg tidak baik.. sedikit saja keteledoran yang diperbuat maka bisa berakibat panjang


di kediaman Amir


bekas pertempurannya semalam dengan suaminya membuat Nabila merasa enggan untuk menatap matahari, tubuhnya begitu letih sampai malas terkena air sekalipun. Namun, setelah ia menyadari kalau Shakil kini tidak ada lagi di mana dia tidur semalam, seketika dia langsung terbangun. Dilihatnya layar ponsel yang menunjukkan angka di mana hari sudah terang


"ya ampun!! kenapa nggak ada yang bangunin aku!" Nabila segera turun dari tempat tidur dan berlari ke bawah


"Nona hati-hati" suara Anton menggema sampai mengejutkan Mira yang ada di sana


"sayang kenapa berlari seperti itu?" Mira ikut khawatir


"kakak mana?" sambil menatap ke setiap sudut rumah


"sudah ke kantor" jawab Mira "memangnya ada apa? apa terjadi sesuatu padamu?"


"kenapa aku nggak dibangunin?"


"tadi bunda sudah ketuk pintunya, tapi kamu bilang nanti aja" Mira menjelaskan


Nabila diam sejenak memutar daya ingatnya. setelah semua nyawa terkumpul baru dia sadar kalau tadi memang ada suara samar-samar dalam mimpi yang memanggilnya. Namun siapa sangka kalau itu benar-benar nyata,


"jadi yang tadi manggil beneran bunda?" kemudian dia duduk didekat mertuanya


"kamu tidurnya pules banget, sampai bunda masuk aja gak tau" Mira membelai rambut Nabila yang berantakan


"hehe. maaf bunda" Nabila pun malu-malu

__ADS_1


"it's okay"


"ya udah kalau begitu aku mau mandi dulu" kemudian dia berpamitan pada Mira dan melangkahkan lagi kakinya naik ke atas kembali


***


meskipun sekarang Mira sudah ada di rumah lagi, tapi rasanya begitu sepi pikirannya pun tidak tenang, apalagi dia tahu benar pasti Dahlia akan datang lagi hari ini menemui suaminya


Nabila sengaja menyibukkan diri, mencari kegiatan yang bermanfaat agar tidak terus terbebani dengan pemikiran-pemikiran yang membuat dirinya sangat takut, kalau Shakil akan terbawa suasana jika terus-menerus diberikan perhatian dari orang lain. Meskipun bibirnya terus berkata tidak mungkin, namun Nabila sendiri gelisah,


hormon di dalam tubuhnya yang tidak beraturan membuat dia insecure, ingin marah berlebihan takut Shakil malah semakin jauh dengannya, tapi diam saja pun sangat tidak nyaman,


andai saja ada Anna, pasti dia bisa sedikit berbagi masalah ini pada sahabatnya itu


"aduh bosannya" dia membaringkan kembali tubuhnya sambil terus berpikir harus bagaimana, tapi tak lama kemudian ponselnya bergetar. Siapa sangka orang yang ada di pikirannya kini benar-benar menelponnya


"Anna?" Nabila segera menggeser layar ponselnya ke tombol berwarna hijau "hei.!! gimana kabarnya?" senyum rekah begitu ceria terpancar dari wajah Nabila yang terlihat nyata betapa bahagianya dia


"Baik" suara jawaban dari seberang telepon sama bahagianya dengan Nabila "kangen tau"


"Samalah gue juga, tau gak!! tadi tuh emang lagi suntuk banget eh tiba-tiba Lo telepon. pengantin baru gimana nih bulan madunya lancar? apa jangan-jangan sekarang lo nggak bisa jalan lagi hahaha" Nabila mengejeknya dengan bahagia


"lah kenapa? lo berantem ya sama dia?"


"bukan itu,! gue nggak jadi bulan madu karena lagi datang bulan" Anna begitu terus terang kepada sahabatnya yang memang sejak awal tidak pernah ada yang ditutup-tutupi


"ya ampun kasihan banget sih nasib asisten Haris hahaha..!!" bukannya iba Nabila malah bahagia mendengar pernyataan Anna "terus sekarang kalian gimana?"


"ya kita pulang lah, dan si Om juga udah ke kantor"


"what? serius!. Oh ya gue mau cerita tentang kantor"


"kenapa?"


"di sana ada cewek seksinya bukan main, dan lo tahu apa yang dia lakuin? setiap hari itu orang datang terus, genit-genitan, tebar-tebar pesona. Ya.. memang sih gue akuin bodynya tuh bagus, dia cantik juga, dan kulitnya pun mulus. tapi ini sebuah ancaman buat kita" Nabila antusias


"serius?" Anna begitu terkejut mendengar informasi dari Nabila

__ADS_1


"ngapain juga gue bohong, dan lebih parahnya secara terang-terangan si kaktus kering itu deketin kakak depan mata gue"


"wah gila, itu makhluk datang dari mana sih.?"


"makanya gue bingung banget, apa yang harus gue lakuin sekarang!. Lo tau sendiri kan, tubuh gue aja udah nggak kayak dulu lagi dan pemikiran ini sangat mengganggu banget dari kemarin"


"ini bahaya dong bil, mana si Om juga sekarang di kantor"


"gawat dia udah pasti bakal ketemu sama suami Lo"


"terus sekarang kita harus gimana?"


"mana gua tahu, dari kemarin aja ini otak sama sekali nggak bisa berpikir"


"gini aja deh, besok lo ada acara nggak?"


"gak kok"


"bagus, berarti besok kita bisa ketemuan di cafe depan kantor"


"oke"


"sip, kita susun rencana selanjutnya di TKP aja'


"baiklah kalau gitu sampai ketemu besok"


"see you "


kemudian panggilan telepon itu terputus dengan perasaan Nabila yang sedikit lega karena akhirnya ada seseorang yang bisa menerima kegalauan hatinya,


tapi tetap saja, untuk melewati hari ini hanya berdiam diri di rumah rasanya sangat membosankan maka dari itu dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitaran rumah,


setelah berpamitan dengan Mira Nabila menelusuri jalan meskipun terik matahari menghantam kulitnya tapi ini lebih baik daripada harus diam tanpa melakukan apa-apa. samapi langkah kakinya terhenti pada sebuah cafe yang ternyata didalamnya ada sosok familiar di Indra penglihatannya


"lho, kok dia ada disini?"


perlahan Nabila mengendap-endap memastikan kalau dia tidak salah orang, dan benar saja itu memang suaminya yang sedang bersama beberapa orang setengah baya berbincang dengan serius

__ADS_1


"aku pura-pura gak liat ah" Nabila sengaja mengambil tempat duduk yang Shakil dengan mudah melihatnya yaitu tepat di sebrang matanya...


bersambung


__ADS_2