
Shakil masih jual mahal pada Nabila. Dia hanya diam memperhatikan tingkah istri kecil dan menggemaskannya itu. Memastikan sejauh mana Nabila akan membujuknya agar tidak marah lagi
"Aku suapin ya?" Nabila memberikan sesendok nasi dengan sayuran tepet didepan mulut pria itu. "Gak suka ya, makan disendok yang sama sama aku? Yaudah biar aku ganti yang baru" Nabila ingin menaruh sendoknya kembali tapi tangannya sudah tertahan oleh Shakil dan memasukan makanan itu kemulutnya
Bagaimana tidak. Ini adalah momen langka untuknya. Karena Nabila berubah jadi perhatian.. "Nah gitu dong, Aku ambilkan nasinya ya, di piring kakak?" Bujuk Nabila
"Gak mau, Kakak mau makan makanan yang ada di piring kamu!" Masih dengan tampang dinginnya
"Tapi kan makananku hanya sayur sama ikan aja.. Emangnya gak apa-apa?" Nabila sedikit tidak enak hati karena makanan yang dia makan sama sekali bukan selera Shakil
"Memangnya kau menaruh racun pada makanan itu?" Masih dengan tampang jutek
C**ih gak usah jutek gitu juga kali
"Bukan gitu maksudku. Selera kita kan beda"
"Tapi kamu adalah seleraku?" Membisiukan ditelinga Nabila agar tidak terdengar Mira...
"Kakak apa si, Ada bunda tau" Nabila mencubit paha Shakil
"Aahh" Shakil mendesah, yang seketika Mira langsung melihat kearah anak dan menantunya itu. Dengan sengaja Shakil melihat tangan Nabila yang masih ada dipahanya, Seolah-olah Nabila memeng melakukan apa yang ada dipikiran Mira
Nabila panik setengah mati, Karena posisi tangannya yang masih ada dibawah meja.. Dengan cepat dia mengangkat kembali tangannya keatas meja dan tertunduk malu karena wajahnya memerah
"Kalian lanjutkan saja ya makannya.. Bunda ada urusan" Dengan senyum malu Mira akhirnya pergi meninggalkan meja makan
Anak-anak ini.. Tidak bisa lihat tempat apa? Tadi bertengkar seperti akan datang badai.. Dan sekarang malah mesra-mesraan seakan akan-akan tadi tidak terjadi apa-apa..
"Kakak apa si.. Bikin malu aja tau" Nabila kesal
__ADS_1
"Apa salahnya? Kamu kan cubit kakak, Sudah tentu kakak teriak lah" Shakil membela diri padahal hatinya tertawa karena bisa mengerjai istrinya
"Teriak tuh Aaaaa!!! bukannya Aahh" Nabila memperktekan suara desahan Shakil tadi
"Coba, Coba, Gimana tadi kakak teriak?" Mendekatkan wajahnya pada wajah Nabila dengan senyuman mencurigakan
Nabila baru sadar desahan yang dia keluarkan malah lebih menggoda lagi dari pada yang Shakil lakukan tadi
"Eh.. Udah ah, Aku lupa lagi" Nabila merasa sangat malu lalu, Dia mendorong tubuh Shakil agar dia tidak melakukan hal-hak yang akan ditonton beberapa pasang mata pelayan yang masih berdiri disana
Lagi-lagi shakil mengembangkan senyumannya setiap kali melihat Nabila gugup dan malu-malu.
Akhirnya mereka menyelesaikan makan siangnya dan pergi kekamar untuk berganti pakaian
Kesibukan Shakil yang masih padat membuatnya tidak bisa selalu didekat Nabila.. Terlebih lagi dia akan pergi meninggalkan istrinya dalam waktu beberapa hari tapi baginya ini sangat lah lama
"Nak bagaimana rencana kita kejerman" Amir tiba-tiba masuk keruang kerja Shakil
"Semuanya sudah selesai.. Tapi bagaimana dengan Nabila?" Shakil sangat menghawatirkan istrinya apalagi dia harus meninggalkannya dalam beberapa hari
"Kan ada bunda.. Lagipula kita disana bukan untuk liburan. Ayah akan lebih khawatir lagi kalau dia disana dan jika mereka tau Nabila anak Harun. ini akan membahayakan dirinya" Amir mengerti perasaan Shakil yang tidak ingin jauh dari menantunya.. Tapi Amir juga tidak mau mengambil resiko yang lebih besar lagi
"Iya ayah aku mengerti"
Nabila sayang.. Maafkan kakak kita benar-benar harus berpisah untuk beberapa hari.. Ini semua kakak lakukan untuk kebaikan hubungan kita.. Setelah kakak lepas dari Siska dan keluarganya kakak akan segera mersmikan hubungan kita..
Setelah selesai makan malam, Seperti biasa Nabila masuk ruang kerja Shakil. Melaporkan kegiatan hari ini disekolah karena tadi dijalan tidak sempat bercerita
"Kakak mau teh?" Nabila menghampiri Shakil yang sedang sibuk dengan laptopnya
__ADS_1
"Tidak perlu sayang, Kemari lah" Shakil mengangkat tubuh kecil istrinya dan mendudukan dipangkuannya, Dengan tangan keker yang melingkar di pinggangnya Nabila. Shakil pun mulai bicara "Ada yang mau kakak kasih tau kekamu?" Pandangan sedih Shakil yang takut Nabila akan kecewa
"Apa? Tiba-tiba jadi serius?" Nabila juga ikut serius
"Kakak mau pergi sama Ayah, Mungkin tidak lama hanya beberapa hari saja. Kamu tidak apa-apa kan kakak tinggal" Mendaratkan satu Ciuman dibibir Nabila
H**ati aku kok mendadak jadi sesak gini si?
"Kakak mau kemana?" Mengalungkan tangannya di pundak Shakil
Setelah menarik napas Shakil memberanikan diri tentang tujuannya "Kakak mau kejerman bertemu keluarga Siska" Dengan ragu Shakil menyebutkan nama Siska
Seketika Nabila menurunkan tangannya dan hanya satu kata yang keluar dari mulutnya yaitu "Ok" Dengan air mata yang menggenang di ujung matanya
"Sayang.. Parcayalah kakak kesana untuk menyelesaikan maslah ini.. agar kakak bisa terlepas darinya dan orang tua nya!!" Shakil mengusap airmata yang jatuh di pipi lembut Nabila "Nabila ku sayang.. Tolong jangan seperti ini. semua yang kakak lakukan untuk kebaikan hubungan kita kedepannya" Shakil yang ikut sedih karena dia juga tidak sanggup meninggalkan nabila
Lagi-lagi Nabila hanya diam. dan hanya sebuah anggukan yang Shakil dapatkan darinya. "Pleace katakan sesuatu jangan diam saja" Memegang kedua pipi Nabila, agar Nabila juga melihatnya betapa ketidak relaannya saat ini
"Aku ngantuk mau tidur" Nabila menurunkan sebelah kakinya tapi tertahan oleh tangan Shakil yang sigap memeluknya lagi
"Bukan itu jawaban yang kakak mau" Suara Shakil berbah lemah
"Pergilah" Nabila menjawab singkat dan melepaskan pelukan Shakil, Lali pergi begitu saja
"Nabila dengarkan kakak" Shakil mencari remot untuk menutup pintu tapi terlambat karena Nabila sudah berlari meninggalkannya
*S**ayang andai saja kamu tau perasaan kakak saat ini.. Dan andai juga kamu lihat betapa terlukanya hati kakak saat mengatakan ini padamu.. Jangankan beberapa hari.. sedetik pun kakak tidak pernah sanggup sayang..
Bersambung❤❤❤*
__ADS_1