
Di Hotel
Hati Nabila sangat bahagia tidak pernah dia bayangkan sedikitpun kalau besok adalah hari resepsi pernikahannya, dan yang paling bahagia lagi Kini dunia akan tahu kalau dia resmi menjadi istri Shakil yang sangat dia cintai
Hari begitu sangat lama baginya.. Lewat dingding kaca Hotel dia melihat dari kejauhan di tepi pantai banyak orang seperti sedang melakukan sesuatu yang akan mengadakan pesta.. Dekoran mewah dengan nuansa serba putih dan bunga mawar putih juga, begitu tenang dipandang apalagi dengan bibir pantai yang ombaknya tidak besar.. Benar-benar memilih tempat yang tepat untuk hari bersejarah itu
Dikamar dia hanya sendiri. Sedangkan Shakil dan Haris entah menghilang kemana, dari pertama sampai, dua pria itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali...
Nabila berusaha menutup matanya, mungkin dengan tidur hari akan terasa lebih cepat. tapi sama saja dia tidak bisa memejamkan mata karena dipikirannya Hanaya membayangkan besok akan seperti apa dia.
Dan tiba-tiba dicelah lamunannya dia memeteskan air mata... Semakin dalam lagi dia meratapi, semakin sakit juga hatinya dan tidak bisa dia bendung...
Nabila bangun dan meraih ponselnya, masuk kesatu aplikasi bertuliskan Galery dan menbuka sebuah foto dengan senyuman bahagia didalamnya
"Foto ini diambil waktu aku ulang tahun yang ke-17.. di mana ciuman hangat mereka masih melekat di pipiku.. hiks..hiks... Mamah,, Papah,,, aku kangenn kalian!!!.."
Nabila semakin menjadi dengan tangisannya.. rasa sesak di dadanya sampai mencekik ketenggorokan.. Belum setahun kehilangan kedua orangtuanya tapi kehidupan Nabila bahkan sudah jungkir balik
"Papah,, Mamah,, impian kalian adalah ingin melihat ku menjadi dokter tapi kalian akan lebih menantikan lagi saat-saat seperti ini.. Aku bahagia saat terakhir papa bisa menjadi wali ku tapi aku lebih bahagia lagi jika kalian berdua juga ikut melihat aku di pelaminan besok..."
Ponsel Nabila sudah dibasahi dengan air mata entah berapa tetes yang dia keluarkan dan terjatuh di foto mereka bertiga..
Halaman demi halaman Nabila terus membukanya semakin dia melihat semakin larut juga dalam kesedihannya
"Semua anak yang akan menikah pasti didampingi keluarganya terlebih lagi kedua orang tuanya, dan aku di sini sendiri tanpa siapapun yang mendampingi ku,,, Aku tidak ingin melawan takdir tuhan tapi andaikan waktu bisa diputar lagi... Hanya satu kali saja. Aku ingin berhenti dimana masa-masa bersama kalian"
Nabila tidak kuat lagi menahan tangisannya sampai terbungkuk di tempat tidur.. nafasnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi... oksigen dari paru-paru ke hidung tidak lepas dengan sempurna.. Nafasnya tersedak dikerongkongan sampai kehilangan kesadaran
__ADS_1
Untunglah Shakil yang baru saja tiba langsung menghampiri Nabila karena heran dengan posisi dia tidur.. Dia khawatir perutnya terlipat dan ini pasti akan tidak baik untuk kandungannya nanti
Tetapi baru saja dia melihat, betapa terkejutnya wajah Nabila yang berantakan serta basah yang bersumber dari matanya, serta ponsel yang menyala dengan foto kedua orang tua Nabila
"Sayang.. Ya Tuhan ada apa ini?... Nabila bangunlah" Shakil panik tidak terkendali
"Haris..!!!!! Haris...!!!!!" Teriakan dahsyat menggema seisi ruangan, tapi nihil, karena suara tidak akan terdengar dari luar ruanagan Hotel
"Sial...!!! . Berengsek..!!! Apa yang harus aku lakukan.. Nabila sayang.. Kumohon, buka matamu.." Shakil benar-benar hilang akal sampai tidak sadar kalau didekatnya ada telepon untuk menghubungi resepsionis.
"Ini salahku.. Kenapa aku tinggalkan dia sendiri.. Aku tidak akan memaafkan diriku kalau terjadi apa-apa padamu sayang" Dia mengkat Nabila agar lebih nyaman dan memberikan nafas buatan karena saat dia membaringkan Nabila, terlihat jelas tarikan nafas yang begitu sulit
Shakil berlari keluar ingin memanggil Haris.. tapi, kenapa sulit sekali membuka pintu???.. Berkali-kali dia dorong keluar tapi tidak bisa
"Dialan.. Hotel macam apa ini?" Masih dengan teriakan "Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Dia berusaha mendobrak dengan tubuhnya tapi tetap saja tidak bisa, semakin pintu itu didobrak semakain terbuka tapi dengan posisi ditarik kedalam... Akibat panik yang luar biasa sampai tidak ingat kalau pintu pasti dibuka kedalam bukannya keluar...
Kalau saja ada orang yang melihatnya pasti sudah menganggap orang ini tidak waras, tapi sekarang bukan waktunya untuk meratapi kebodihannya.. Dia langsung mencengkram kemeja Haris dan menyeretnya kekamar tanpa memberitahu apa penyebabnya
"Buka matamu" Shakil menghempaskan Haris tepat didepan tempat tidur "Aku berkali-kali teriak memanggilmu tapi kau tidak menjawabnya... Apa kau tuli?" Shakil masih trus berteriak
Haris masih belum mengerti apa masalahnya.. apa yang harus dia lihat dengan membuka mata... dihadapannya hanya ada Nona mudanya yang sedang tidur lelap
"Baiklah tenang dulu.." Haris mencoba meredamkan emosi Shakil agar dia bisa menceritakan duduk perkaranya "Pertama, setiap kamar diHotel ini kedap suara, anda tidak akan bisa memanggilku walau leledakan bom sekalipun.. dan yang kedua, kau memegang ponsel kenapa tidak meneleponku atau jika benar-benar darurat, juga Lihat!! dimeja ada telepon Hotel ini.. kau bisa meminta bantuan dari sana" Haris yang masih tenang menerangkan pada Shakil
"Bagaimana aku bisa tenang.. dikepalaku sudah tidak terpikir apa pun, kalau saat aku masuk tadi Nabila sudah tersungkur tak berdaya dengan ponsel yang basah dari air matanya karena meliahat foto kedua orangtuanya"
"Ya Tuhan .. Lalu apa yang harus kita lakukan?" Sekarang malah Haris yang panik
__ADS_1
"Apalagi??. Kau pesan makanan untuk kita pesta" Shakil kesal "Bodoh!!! Tentu saja panggil dokter.. Kau mau terjadi hal buruk pada Nabila dan calon majikanmu yang baru??"
"Benar.. Aku akan panggil dokter" Haris mengambil telepon Hotel yang ada dimeja
"Kau!!!! Mau apa?"
"Telepon dokter!!!" Haris menjawab dengan polos
"Kenapa bodoh kau pelihara.. Pakai ponselmu, bukan telepon Hotel" Shakil semakin kesal
"Maaf.. Aku panik jadi tidak sadar"
Haris segera telepon dokter.. Dan dia bilang akan memakan banyak waktu untuk sampai Hotel.. Jadi Haris berlari keluar sampai menubruk siapapun yang menghalanginya, dia mencari dokter terdekat untuk segera menangani Nabila..
Tanpa menjelaskan apa-apa lagi Haris melakukan apa yang tadi Shakil lakukan padanya... Menyeret seorang dokter yang sedang praktek memasuki Hotel,
Dengan ribuan pertanyaan sepanjang perjalanannya "Ada apa ini?" Dokter itu terus menerus mengulang..
"Cerewet sekali kau" Haris masih dengan kepanikannya "Apa kau seorang petani?" dia malah menanyakan pekerjaan yang tidak masuk akal
"Hey.. Mata mu buta ya?.. Tidak melihat seragam apa yang aku pakai?"
"Kalau kau tau apa pekerjaanmu maka tidak perlu bertanya untuk apa aku membawa mu kesini"
"Apa ada yang sakit?"
"Sekali lagi kau bertanya, aku akan melepaskan seragam ini untuk seumur hidupmu" Haris sangat jutek karena ketularan khawatir seperti Shakil
__ADS_1
Tinggal jawab saja apa susahnya.. kenapa dia begitu galak... kalau begini bukan untuk mengobati pasien tapi untuk mengobati diriku sendiri karena serangan jantung..
bersambung ❤️❤️❤️