
Nabila mengambil beberapa gambar romantis mereka saat menggunakan gaun pengantinnya, karena bawaan hamil jadi aura wajahnya pun semakin terpancar tambah manis dan bentuk tubuh yang berisi membuatnya semakin sexy
Acara fitting selesai, kini keduanya berganti pakaian kembali. Haris sendiri yang masih belum sadar ditaksir seseorang pun biasa saja, duduk manis di sofa dengan cool sambil mengutak-atik atik isi ponselnya
"Ini minumnya tampan" Joy memberikan secangkir teh pada Haris sambil menggoda manja
Eh aku tidak memintanya, Kenapa orang ini begitu ramah padahal dengan Nona dan nyonya pun tidak, apalagi tuan muda dia tidak memberikan minuman untuk mereka
Joy tiba-tiba duduk "Kenapa melamun? Apakah tidak suka teh?" Dia duduk disampingnya sambil mengangkat sebelah kaki
"Tidak,, Tidak!! Bukan itu, aku hanya sedikit heran, kenapa kau malah memberiku air sedangkan Bos Ku sama sekali tidak kau suguhkan" Masih dengan posisi yang sama Haris tidak curiga sedikit pun
"Mereka akan kita berikan setelah fitting nya selesai" Jawab Joy dengan senyum-senyum
"Oh.. baiklah" Haris kembali lagi Menatap layar ponselnya
"Semua pria sama saja"
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak peka dengan apa yang aku lakukan"
"Apa yang kau lakukan?" Haris baik tanya
"Perhatian lah"
"Perhatian untuk?" Haris dengan polosnya tidak mengerti
"Ih Sebel,, Sebel,, Sebel,," joy memukul pelan lengan Haris
Shakil dan Nabila yang keluar dari ruang ganti mulai melanjutkan lagi gelak tawanya dan kini Haris baru mengerti kalau ini semua sebenarnya adalah ulah Shakil yang menjahilinya
"Namamu siapa?" Haris berakting
"Aku zoya" Dengan memberikan tangan lentiknya agar Haris mencium layaknya berkenalan dengan seorang wanita
"Benarkah? Perkenalkan juga namaku Haris itu nama panggilan oleh si Bos.. Tapi di Club' Asoy biasa memanggilku dengan sebutan Bella" Perkataan harus semakin Membuat seisi butik terpingkal, walaupun tau haris hanya membuat lelucon agar Joy atau Zoya itu menjauh darinya
Sedangkan Club' Asoy memang jarang orang tau itu tempat apa, karena penghuninya hanya orang-orang semacam Joy saja yang ada di sana, tapi begitulah pengetahuan Haris yang Nabila juluki manusia Maps karena serba tau letak seisi kota sampai Club' Asoy itu sendiri
"Apa!!!" Joy terkejut "Kau tau tempat itu? Kau juga anggota di sana?" Dia berbisik pada Haris sambil membusungkan dada sixpacknya
__ADS_1
"Tentu saja, kalau kau tidak percaya tanya pada Mami Mirna" bahkan haris mengenal kepala Club Asoy tersebut
"What?" Joy memutarkan kepalanya dan jatuh pingsan di sofa
Haris yang ada disampingnya hanya menggeleng dan tersenyum, tubuh besar sempurna dan berotot tapi sangat rapuh hanya mendengar kebohongan saja, dia sudah tak sadarkan diri
"Apa anda sudah selesai tuan? saya akan menyiapkan Mobilnya" Haris berdiri tanpa memperdulikan Joy yang tak berdaya di sofa
"Lalu bagaimana dengan orang ini?" Nabila menunjuk ke arah sofa
"Sudah biarkan saja, Dia sedang beristirahat sebentar" Dengan tidak pedulinya Haris meninggalkan butik dan menyiapkan mobil untuk Majikan
"Pria macam Apa dia? Sungguh tidak berperasaan sekali, tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya tadi sampai orang pingsan seperti ini ditinggal begitu saja" Nabila yang masih heran dengan tatapannya yang mengikuti arah langkah kaki Haris
"Dia memang seperti itu, sudah kita pulang saja biar Bunda yang mengurus gaunnya nanti" Shakil pun membawa Nabilla pergi dari tempat itu meninggalkan Mira yang masih memilih gaun untuknya karena dia sedang menunggu Amir yang akan fitting juga
Di mobil
"Kakak kita mau kemana lagi?" Nabila menyandarkan tubuhnya di bahu Shakil
"Kita makan dulu sayang?" Shakil membelai lembut rambut Nabila yang menutupi wajahnya "Tapi kayaknya kamu lagi lemes banget, hari ini melelahkan ya?"
Aku Lemes banget karena seisi perut sudah keluar tadi waktu di kampus, tapi sama sekali gak lapar cuma mau istirahat aja
"Aku lemes aja. jadi ngantuk" Nabila yang merasa nyaman dengan belaian tangan Shakil yang memainkan rambutnya
"Kita ke dokter aja ya?" Ajak Shakil
"Gak mau" Merengek manja
"Terus gimana dong? Kamu tadi makan apa? Ada yang salah kali, Sampai kamu kayak gini"
"Sarapanku tadi pagi keluar semua di kampus pas jam pelajaran, Habis itu bunda langsung jemput dan belum makan apa-apa lagi sampai sekarang" Sambil memejamkan matanya merasakan kenyamanan dekat suaminya
"Ya ampun Nabila!!! Kamu ini nakal banget si!! Kenapa gak bilang dari tadi, kamu gak mikirin apa? kalau nanti terjadi sesuatu sama anak kita?" Shakil marah tapi dia tahan, jadi hanya mencubit pipinya saja karena kesal
"Kakak!!! Sakit tau"
"Biarin.. Tega kamu gak bilang perutnya kosong, gimana sama dia" Shakil menyentuh perut Nabila
"Dia yang gak mau makanannya, jadi dikeluarin semuanya" Nabila mengelak
__ADS_1
"Tapi kamu pasti taukan apa yang dia mau sekarang tanpa harus menahannya sampai sore"
"Aku gak mau makan apa-apa, seperti ini aja udah nyaman"
"Kakak kasih kesempatan terakhir, mau makan sekarang atau kita kerumah sakit dan kamu gak bisa bantah lagi"
"Kakak gak ngerti banget si, aku lagi gak mau makan apa-apa"
"Ya udah!! Haris kerumah sakit"
"Baik tuan" Haris langsung menurut
"Kakak!!!"
"Apa?!!"
"Jangan gini dong" Nabila bangun dari posisi tidurnya dan menatap tajam Shakil
"Kamu yang jangan gini, kasian dia" Lagi-lagi menyentuh perut Nabila
"Aduuuhh!!! Susah ya ngejelasin sama kakak. orang hamil itu gimana bayinya yang mau makan. Walau aku paksa juga pasti akan mual nantinya"
"Kamu pikir laki-laki walau tidak mengandung anak lantas tidak tau apa saja yang si bayi butuhkan? Kamu ngaca" Shakil mengambil tas Nabila dan mengeluarkan sebuah cermin dari dalamnya "Lihat!! Wajah kamu pucat gini udah kaya mummy, masih mau ngebantah? Jangan debat lagi ini pilihan yang terbaik untukmu karena kakak gak akan paksa kamu makan tapi tetap ada asupan untuk dia"
Nabila meliriknya tajam
Apa yang mau kakak lakuin sama Aku? Tadi marah-marah suruh makan dan sekarang bilang gak mau paksa aku makan, sangat membingungkan
Perdebatannya berhenti, tepat dengan terhentinya mobil itu didepan gedung rumah sakit yang tidak asing lagi untuk Nabila, dan dengan dokter yang sama juga pastinya yaitu Tito
"Tito!!!!" Seperti biasanya Shakil selalu berteriak mencari Dokter andalannya sebelum haris mendaftar
"Ada apa?" Dokter itu keluar dari ruang prakteknya dan meninggalkan pasien yang sedang dia tangani
"Infus dia" Dengan gampangnya Shakil memerintah
"Kakak!!! Kenapa diinfus?"
"Ini sudah perjanjiannya sayang, Jangan bantah"
Tito yang tidak tau duduk perkaranya seperti apa pun hanya bisa menurut saja, karena walau dia paksa untuk memeriksa Nabila dudu akan percuma. orang yang ada dihadapannya tidak akan mau menurut atas semua usulnya..
__ADS_1
Bersambung❤❤❤