ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
175. Anton serba salah


__ADS_3

Sesuai pesan yang telah Shakil sampaikan pada Mira, yaitu dia tidak mengijinkan Nabila bangun dari tempat istirahatnya terlebih lagi keluar rumah, karena keadaannya memang sangat mengkhawatirkan, maka Mira pun mengikuti apa yang sudah ditetapkan anaknya


Bosan?


Jangan ditanya lagi. Lebih dari kata itu bahkan dia benar-benar jenuh kalau hanya berdiam diri di depan televisi yang entah tidak tahu harus menonton apa.


Biasanya saat masa-masa seperti ini Nabila selalu menelpon Anna, tapi untuk keadaan yang sekarang rasanya sangat tidak mungkin mengganggu bulan madunya pengantin baru,


Nabila juga mencoba beberapa kali menelepon suaminya, untuk menghilangkan rasa bosan karena tidak tahu harus melakukan apa. Tapi panggilan telepon itu tidak kunjung dapat sautan dari yang diharapkan.


Nabila tahu Shakil dalam keadaan super sibuk, tapi sesibuk apapun itu tidak pernah mengabaikannya seperti ini.


"Pak Anton, bunda mana?" Tanyanya saat melihat kepala pelayan itu melintas


"Nyonya tadi titip pesan, kalau keluar sebentar bersama tuan besar, dan jika ada sesuatu yang Nona butuhkan, bicara saja pada saya" jawabnya


"Pak Anton!! aku mau es krim" kata-kata Nabila terlihat memang sangat menginginkannya


"Tapi kita tidak punya es krim, dan kalau membuat pun tidak ada persediaan bahan-bahannya"


"Ya udah kalau gitu nggak jadi deh, biar aku beli aja di supermarket depan" Nabila tidak mau merepotkan Anton yang setiap harinya sibuk dengan mengatur urusan rumah tangga


"Jangan Nona, Nyonya melarang untuk anda pergi kemana-mana"


"Nggak akan ada yang tahu kalau Pak Anton nggak cerita" Nabila meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja


"Ini bukan masalah ceritanya, tapi kami semua mengkhawatirkan kesehatan anda"


"Apa yang harus di hawatir kan? Pak Anton lihat sendiri kalau aku sangat amat baik bukan?," Nabila berdiri dan berputar memastikan kalau fisiknya setangguh itu


"Tapi kaki anda_" Anton melirik pada kedua kaki Nabila yang sekarang sudah mulai mengempis


"Pak Anton tahu gak, dokter tadi bilang apa?"


Anton hanya menggeleng


"Nah kan!. Dokter tadi bilang, kondisi ini terjadi akibat meningkatnya produksi cairan di tubuh, agar perkembangan janin dapat optimal dan sebagai persiapan menuju persalinan, dan pak Anton tahu?"


Lagi-lagi kepala pelayan itu hanya menggeleng


"Makanya, ini sangat wajar dan memang tidak menghawatirkan. jadi aku mau beli es krim tapi pak Anton nggak usah bilang sama siapapun oke!"


"Tapi Nona_"


"Ayolah pak. Aku bukan orang lumpuh yang harus duduk menatap kaki bengkak ini terus-menerus, aku pengen banget es krim, dan kalau anak aku sampai netes gara-gara ini, pak Anton yang akan aku salahkan" Ancam Nabila tapi di dalam hatinya terkekeh karena baru kali ini dia memperlakukan kepala pelayan itu dengan kurang sopan


Maafkan aku ya pak, kalau nggak gini lama-lama aku bisa lumpuh beneran


"Baik, tapi saya akan mengantar anda"

__ADS_1


"Ach bapak, nggak asik nih, udahlah aku nggak jadi beli es krim nya" Nabila pura-pura merajuk agar kepala pelayan itu merasa iba dan mengijinkannya keluar.


Karena Shakil tidak ada waktu untuk Nabila rong-rong, mau tidak mau Anton yang kena kejahilannya


Pria setengah baya itu hanya bisa menghela nafas, jika melarangnya berlebihan pun Nabila pasti selalu memiliki jawaban untuk membantahnya. tapi kalau dia pergi dan terjadi apa-apa, maka tidak bisa dibayangkan mungkin nafasnya juga akan ikut berhenti di sini


Aaat Anton benar-benar belum mengijinkannya keluar tapi tiba-tiba dengan setengah berlari Nabila melambaikan tangan dan_


"Terima kasih ya pak" Dia sudah meninggalkannya


"Nona!! tunggu Nona!!"


Sekeras apapun dia teriak tapi percuma, Nabila sudah terlepas dan tidak peduli, yang terpenting sekarang dirinya bebas tanpa larangan Shakil dan mertuanya yang akan menghalangi dia untuk pergi ke mana-mana,


***


Di Hotel


Anna bangun lebih pagi dari Harris. Dia sengaja menggunakan kesempatan itu agar suaminya tidak tahu, kalau sejak semalam keadaannya masih tetap sama tanpa apa-apa selain selimut yang membungkusnya, ponsel anak pun entah kemana. Saat keadaan sepenting ini, dia tidak bisa menghubungi atau memesan pakaian yang bisa digunakannya sekarang, ini mungkin akan membuatnya canggung nanti saat pria dewasa itu terbangun dan menatapnya masih tanpa apa-apa.


Semalam memang keberuntungan bagi Anna karena bisa melewati tanpa harus mengiba. Dan sejujurnya dia masih belum siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, apalagi yang sering dia baca tentang cerita malam pertama seakan sangat mengerikan, terlebih lagi dengan watak Harris yang seolah tidak bisa menahan seandainya dia teriak kesakitan


Lamunannya seketika buyar setelah sebuah tangan kekar menimpa tubuhnya, baru saja kehawatiran itu dia bayangkan, sekarang malah harus melewatinya.


Deg!


Jantung Anna memompa dengan cepat. Pikirannya sudah kemana-mana kalau sampai pria itu membuka mata, maka alasan apa yang harus dia gunakan untuk menolaknya.


Anna mencoba menahan napas agar Haris tidak merasa kalau ada dirinya, dan berharap dia bisa bergeser perlahan turun dari ranjang itu.


Tapi siapa sangka harapannya sirna karena ketika Haris membuka matanya, sungguh tak terduga pria itu malah teriak mundur ke belakang sampai tubuhnya terguling jatuh ke lantai


"Aaa_" Haris teriak


Dan begitupun Anna juga ikut teriak karena terkejut melihat ekspresi suaminya


"Aaa_"


"Ya Tuhan" Haris mengusap dadanya


"Om kenapa teriak?"


"Kamu juga kenapa teriak?"


"Ya aku kaget lah tiba-tiba Om teriak"


Haris tersenyum meraup wajahnya kasar, entah betapa malunya dia karena pagi hari sudah melakukan hal konyol di depan istrinya,


"Om kenapa sih?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa" lagi-lagi dia hanya tersenyum


Sebenarnya Haris terkejut ada gulungan selimut besar yang hanya keluar kepala serta rambut-rambut dari ujungnya, dia benar-benar lupa kalau itu adalah Anna, tapi Haris memilih diam daripada menceritakan dan akan jatuh wibawanya di depan istri kecilnya


"Ih enggak jelas deh" Gadis itu langsung duduk dan diam memalingkan wajahnya dari Harris, Anna berpikir sejenak dan_ "Ponselku di mana?" Bertanya ketika Haris mulai naik lagi ke atas ranjang


"Untuk apa?"


"Telepon papa agar mengantarkan pakaian ku"


"Dan kamu pikir aku akan mengijinkannya" tubuh Harris bergeser lebih dekat lagi dengannya


"Maksudnya?" Gadis itu masih mencengkram kuat selimut yang melilit di tubuhnya


"Untuk beberapa hari ke depan, kita tidak akan memerlukan pakaian sayang." Dan kata terakhir ditekankan tepat di telinganya


"Om, aku belum mandi loh"


"Aku tidak peduli" Kali ini kepalanya masuk ke ke leher Anna, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi perjalanannya


"Tapi aku bau, semalaman terbungkus selimut" Anna sedikit meringis namun sulit untuk menolak


"Aku tetap tidak peduli"


"Tapi Om, aku belum siap" Kata-kata Anna membuat Harris stak, tidak lagi melanjutkan kegiatannya


"Why?" Tatapannya kemudian penuh kecewa


"A_aku takut" Gadis itu sedikit ragu


"Apa yang ditakutkan?"


"Sakit!" anny sengaja pelankan suaranya karena dia benar-benar sangat malu


"Haha, siapa yang mengatakannya?"


"Nggak ada, aku suka baca novel dewasa aja, dan katanya se mengerikan itu" jawabnya polos


"Haha," Haris menarik hidung Anna karena gemas dengan kepolosannya "Diam-diam kamu nakal juga ya, baca-baca seperti itu"


"Bukan gitu, hanya penasaran aja"


"Dan setelah membacanya, apakah ada rasa ingin mencobanya?" Ini adalah kesempatan Haris untuk menggoda Anna


"Om!! Mana ada"


Tapi memang ada perasaan yang berbeda setelah aku membacanya


"Benarkah?, kau tahu, cerita di Novel tidak seindah kenyataannya, di sana hanya tercatat rangkuman singkat 3% dari malam pertama, tapi kalau kenyataan, banyak hal menarik yang bisa dilakukan," Haris mengecup bibir Anna sekilas karena gadis itu sangat fokus mendengarkan apa yang dia katakan "Mau mencobanya?"

__ADS_1


"Hah?" Anna terlihat canggung saat Harris menawarkan hal intim itu


Bersambung...


__ADS_2