ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
177 Hari yang membosankan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Nabila langsung memberi senyuman pada Anton yang sudah berdiri sambil menggelengkan kepala. Dia bukan maksud ingin membuat siapapun susah, tapi mau bagaimana lagi. Di rumah pun kondisinya akan semakin tidak baik


"Maaf pak, aku cuma beli ice krim aja kok!" Nabila cengengesan merasa bersalah


"Tapi kenapa lama sekali. Saya khawatir Nona akan pulang sesudah yang lain"


"Haha, gak lah pak. Buktinya sekarang aku ada disini."


"Ya sudah, Nona istirahat saja dulu, nanti saya bawakan makanan keatas"


"Jangan" Nabila menolak karena perutnya memang sudah sangat penuh dan tidak ada lagi tempat untuk menampung makanan yang Anton bawakan nanti


"Tapi nanti Nona sakit"


"Tadi aku makan dessert juga. Jadi masih kenyang"


"Naiklah, kalau perlu apa-apa panggil saja"


"Siap pak, kalau begitu Nabila naik ya"


"Silahkan Nona"


Dan Nabila pun pergi ke kamarnya dengan perut yang kenyang. Setelah itu mandi karena takut terlihat oleh suaminya pakai baju rapih nanti akan jadi masalah..


***


Di bawah Mira baru saja sampai dan langsung menanyakan keadaan Nabila kepada Anton. Kepala pelayan itu tidak menceritakan apa yang sudah terjadi hari ini, karena dia juga mengerti keadaan Nabila dalam posisi hamil di usia muda pasti sangat berat untuknya.


Karena tidak ada lagi yang dihawatirkan, Mira jadi lebih tenang dan tidak perlu pergi melihat Nabila karena dia ingin membiarkan menantunya itu beristirahat


Anton pun kembali ke dapur lalu menyajikan makan malam untuk Nabila, walaupun tidak diminta namun sudah saatnya untuk ibu hamil diberikan nutrisi dengan tepat waktu


Tok tok


"Masuk" Suara sahutan dari dalam kamar


Perlahan Anton pun membuka pintu tersebut, dan dilihatnya gadis itu sedang nonton drama sambil menikmati beberapa cemilan yang sedikit berantakan di sofa


"Kenapa Nona makan-makanan yang mengandung bahan pengawet seperti ini?"


"Aku cuma iseng aja kok pak. Hehe!" Nabila merapikan remah-remahan makanan ringan yang berantakan tersebut


"Sudah biarkan, nanti saya suruh asisten rumah tangga saja yang membersihkannya, dan sekarang sebaiknya Nona makan dan minum susu ini dulu"


"Duh pak Anton keren banget deh, tau aja aku udah mulai lapar" Nabila dengan senang hati menerima makanan yang baru saja dibawa kepala pelayan tersebut

__ADS_1


"Bukan keren tapi ini memang sudah waktunya, ayo silakan dihabiskan"


"Terima kasih ya pak,"


"Sama-sama"


"Oh ya! kakak kok belum pulang ya? padahal ini udah jam makan malam"


"Mungkin banyak pekerjaan hari ini, lagi pula kan Haris juga masih cuti pasti tuan sangat sibuk"


Sibuk dapat perhatian dari orang lain


"Emm,! kalau Ayah dan Bunda?,"


"Tuan besar.! Saya tidak tahu, tapi kalau nyonya tadi baru saja pulang"


"Oh.. Oke terima kasih banyak ya pak"


"Baiklah! kalau begitu saya permisi dulu"


"Hm" Nabila melanjutkan lagi nonton dramanya sambil makan makanan yang sudah dari tadi ada didepan mata..


Berhubung perutnya sudah kenyang dan lelah, tak terasa tiba-tiba matanya tertutup begitu saja, mungkin akibat jenuh dan bawaan bayi juga, makanya dia langsung terlelap meskipun di sofa


***


"Malam tuan" Anton sudah menyambutnya


"Dimana Nabila?" Tak sabar hanya istrinya lah yang ada dipikirannya sejak siang


"Di kamarnya"


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak ada, dari siang Nona hanya nonton saja"


"Apa dia sudah makan?"


"Sudah! mungkin sekarang juga sudah tidur"


"Baiklah, terimaksih sudah menjaganya, saya ke atas dulu"


"Maaf, apa mau saya siapkan makanan?"


"Tidak perlu, tadi sudah makan. Saya mau langsung tidur saja"

__ADS_1


"Baik tuan"


Kemudian Shakil segera bergegas naik untuk melihat keadaan istrinya yang seharian tidak bertemu dan dia sangat merindukannya.


Ketika membuka pintu dilihat laptop menyala, TV juga sama, kertas dan buku berserakan, ada beberapa makanan ringan, bahkan air tumpah karena mungkin kesenggol tangannya saat tidur


"Ya ampun Nabila" Shakil hanya bisa tersenyum, orang yang dari tadi berputar di otaknya kini sudah terlihat meskipun berantakan tapi baginya itu sangat menggemaskan


"Gadis kecilku sekarang semakin bulat" Shakil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Nabila


"Hai sayangnya papah, bagaimana keadaanmu hari ini, maaf karena tidak ada waktu untuk kalian berdua." Shakil menyentuh bulatan perut Nabila kemudian menciumnya "Papah sudah tidak sabar menunjukan betapa indahnya dunia ini padamu, dan juga betapa cantiknya wanita yang mengandung mu, tapi jangan coba-coba merebutnya dari papah ya" kemudian Shakil merasakan pergerakan perut Nabila seolah menyenggol tangannya "Wah,! haha, kau ingin bersaing denganku rupanya, baiklah kita lihat siapa yang akan jadi pemenangnya"


Bgitu banyak percakapan Shakil dan calon anaknya yang tidak masuk akal, sampai tak terasa, lelah, penat, stres, bahkan menguras tenaganya pun yang dia dapati di kantor langsung hilang karena sudah berbicara dengan buah hatinya.


Shakil menggendong Nabila dan memindahkan ke tempat tidur, dia mengecup kening lalu menyelimutinya. Habis itu ke kamar mandi membersihkan diri karena seharian pergi kesana-kemari membuat tubuhnya butuh relaksasi dengan berendam di air hangat sejenak


Tiba-tiba Nabila dibangunkan dengan getaran ponsel yang ada di meja sebelahnya, mungkin Shakil meletakan begitu saja saat membuka pakaiannya tadi.


"Aku pindah!, apa kakak udah pulang?" Nabila tidak bangun hanya meraba-raba saja ke tempat dimana ada getaran ponsel yang membangunkannya


"Eh ini ponsel kakak," Nabila melihat panggilan masuk yang muncul di layar utama dengan kontak SEKERTARIS PAK RUDI namun dia hafal betul dengan foto profil nya, yaitu sama dengan wanita yang di cafe tadi siang


"Dih, tengah malam mau apa dia telepon kakak" Nabila hanya memicingkan setengah bibirnya kesamping, lalu meletakan lagi ponsel itu ke tempatnya karena sudah terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan dia pura-pura tidur kembali


Sesaat sunyi, tidak ada suara Shakil mendekatinya, mau buka mata takut ketahuan, kalau diam saja malah penasaran, jadi Nabila coba mengintip sedikit hanya ingin memastikan sedang apa suaminya


Tinggal tidur aja di depan cermin lama banget, kaya mau pergi arisan


Shakil masih tidak menyadari kalau Nabila sudah bangun, namun dia tau ada panggilan di ponselnya yang berdering kembali kedua kalinya,


"Hallo" ketika panggilan suara itu tersambung "Ada yang bisa saya bantu?" Shakil masih biasa sambil merapihkan sedikit rambutnya


"..."


"Maaf kalau ada yang perlu dibahas bisa tanyakan ke sekertaris saya saja"


"..."


"Iya tapi sekarang bukan jam kerja lagi, dan sudah waktunya istirahat" Shakil tidak mau banyak bicara tentang pekerjaan, apalagi arah pembicaraan wanita itu menyerempet pada perhatian, menanyakan sudah makan belum? sedang apa?, dan lain-lain yang membuatnya risih


"..."


"Baiklah selamat malam" Kemudian dia menutup panggilan telepon itu.


Nabila yakin suaminya tidak seperti itu, namun dihatinya tetap kesal, takut karena terbiasa dengan perhatian siapapun akan luluh, apalagi kalau melihat dirinya sendiri yang tidak sexy seperti dulu, dan ini membuatnya sangat insecure..

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2