ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
187. perkara parfum


__ADS_3

"ada apa?" Nabila berlaga tidak tau


"oh ini. Dahlia jatuh"


"kok bisa?"


"iya, lokasinya sangat tidak cocok untuk projek kali ini"


"terus dia gimana?"


"gak apa-apa ada asisten Haris"


"oh oke, kalau gitu aku tutup aja ya teleponnya"


"jangan"


"kenapa?"


"kamu udah ganggu kakak, sekarang mau pergi begitu aja setelah berulah, kamu harus tanggung jawab karena membuat kakak juga jadi kangen sama kamu". Shakil sama sekali tidak hiraukan Dahlia meskipun merintih kesakitan yang dengan nyata ditunjukan padanya


"kalau gitu, emuah" Nabila memberikan kiss online padanya


"kamu mancing-mancing ya"


"haha gak lah.. biar kangennya terobati"


"ini malah tambah kangen sayang" Shakil berjalan menghindar dari Haris dan Dahlia karena pembicaraan sepasang sejoli ini sudah mulai fulgar "Video call ya" Shakil seolah tidak tahan ingin melihat kiss Nabila yang tadi secara live


"akhirnya berhasil bikin dia sibuk sama gue Na. tapi gimana dia mau video call! nanti ketauan kalau kita lagi disini" berbisik pada Anna


"bilang aja lo lagi di lobby, emangnya mau orang liat juga kissing online kaya gitu" Anna juga ikut berbisik


kemudian Nabila mengikuti yang di katakan Anna tadi. dia mencoba meyakinkan Shakil kalau pastinya akan banyak karyawan yang juga ikut melihatnya


"jangan" jawabnya spontan, 'tidak boleh ada yang bisa liat kiss itu selain kakak"


"haha,, yaudah kalau gitu aku pulang aja ya"


"lho kenapa? gak mau tunggu kakak?"


"gak lah. aku lapar" kata-kata Nabila malah mengejutkan Anna. dia melihat perut Nabila, tidak terbayang setelah menghabiskan banyak makanan masih saja bilang lapar


"baiklah, makan yang banyak ya. bilang sama Junior kita jangan bikin istri tercinta kakak susah,"


"hahah.. iya.. iya"


"ok hati-hati dijalan sayangnya kakak."


"ok bye"


kemudian panggilan telepon itu terputus dengan perasaan lega, tapi sekarang malah Anna yang cemberut


"sekarang gimana?" tanya Nabila


"kita pulang aja"


"tapi asisten Haris"


"udah dia gampang gue beresin di rumah,"

__ADS_1


"mau lo apain dia?"


"mau gue jadiin menu makan malem" celetuknya


"wih kejamnya" Nabila menggeleng


"haha . biarin"


"kalau gue bayangin, kira-kira bagian apa dulu ya yang lo makan?"


"bagian yang paling lunak dulu lah.. haha"


"haha.." keduanya saling tertawa karena pemikiran mereka nyambung dengan membayangkan hal gila


***


hari sangat lelah, perjalanan yang mereka tempuh cukup panjang apalagi dalam kondisi Nabila tengah berbadan dua. setelah pulang dia segera berganti pakaian dan tidur siang karena Mira pun tidak ada di rumah.


di tempat lain Anna sedikit kesal dengan tingkah Haris yang memberikan perhatian pada Dahlia, padahal sudah terlihat dengan nyata kalau gadis itu hanya pura-pura cari perhatian saja.


"dasar om mesum, baru liat yang bening sedikit aja udah kegenitan" Anna kesal dengan memukul-mukul bantal "memang wanita itu cantik, tapi kan hasil karya dokter" dia bangkit kemudian berjalan ke cermin full body. memutar tubuhnya dari sisi kiri ke sisi kanan, memperketat bajunya agar terlihat sexy, dia juga menepuk bokong yang tidak terlalu besar itu


"semuanya masih ok kok, dada juga masih kokoh, harusnya gak perlu khawatir kan Na?" dia bertanya pada diri sendiri


"wajah juga gak ancur-ancur amat, malah imut gini"


dia juga berjalan gaya sexy membayangkan sedang berada di catwalk, pinggulnya sengaja di lenggak-lenggok kan agar seperti model sungguhan.


"kan!!! gue emang bohay hahaha... lagian si Om juga belom cicipi tubuh ini, kalau udah pasti ketagihan".


"makanya aku sudah sangat ingin mencicipinya" sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dari belakang


"Om!!" Anna terkejut setengah malu "dari kapan ada disini?" Anna berusaha menepis pelukan itu


"sejak kau memperlihatkan ini" dia juga menyentuh bagian yang tadi disebut kokoh juga bokong yang tidak terlalu besar itu.


"Om" Anna menggeliat kegelian "aku masih belum selesai" walau begitu tapi dia tidak menepisnya


"aku tau!! hanya seperti ini memang ada larangannya?" Haris juga membenamkan wajahnya di pundak Anna, menghirup aroma tubuh yang masih fresh habis mandi


"tapi ini akan jadi Maslah nantinya" Anna pun memejamkan mata menikmatinya


"tidak akan, aku bisa menahannya" Haris semakin keras lagi memeluknya sampai tidak ada celah sedikitpun dari kedua tubuh mereka


ya ampun gue lupa, harusnya kan marah sama ini orang, karena bisa-bisanya perhatian sama perempuan lain tadi. Anna Lo tuh lemah banget sih, baru di sentuh gini aja udah gak berdaya


"Om tadi abis dari mana?" tiba-tiba dia memecahkan kehangatan itu


"kerja lah" tapi Haris masih tetep diposisi yang sebelumnya


"tapi tadi aku sama Nabila ke kantor, kalian agak ada"


"iya survey lokasi"


"yakin?"


Haris terkejut dengan ketidak percayaan Anna "maksudnya?" diapun melepaskan pelukan itu dan menghadap saling bertatapan


"tubuh om wangi parfum wanita" Anna menatapnya serius

__ADS_1


Haris pun segera mencium kemejanya yang memang parfum Dahlia menempel di sana


"oh ini, kita tadi memang survei lokasinya dengan sekertaris pak Rudi" sesegera mungkin dia langsung melepaskan pakaiannya


"oh" Anna meninggalkan Haris dan naik ketempat tidur


"kamu marah? kita gak ngapa-ngapain kok, lagipula sama tuan Shakil juga"


"aku gak marah, cuma belum terpikir aja, logikanya kalau hanya survei lokasi. dan ok, selebihnya ngobrol gak mungkin parfum itu bisa nempel kalau gak ada sentuhan kan!!"


"maaf, tadi dia jatuh karena ketempat seperti itu memakai hak tinggi" Haris kemudian menghampiri istrinya yang cemberut dan berlutut meyakinkan "masa aku diam aja ketika kakinya terkilir"


"terus peluk dia?" Anna menantangnya


"bukan peluk sayang, hanya memapah. lagipula walaupun dia cantik tubuhnya terlalu kecil untuk dipeluk"


"Tuh kan!!!" Anna memukul lengan Haris "om puji dia dan tau ukuran tubuhnya, berarti udah ngerasain" Anna semakin marah


yah aku salah bicara, sial kenapa gak dipikir dulu tadi


"buka begitu, aku memapahnya. pasti menyentuh lengannya, karena lengannya kecil pasti tubuhnya juga"


"gak masuk akal, baru nikah beberapa hari aja udah gini, apa lagi nanti. ini memang udah jalan Tuhan kali aku datang bulan"


"jangan gitu dong" Haris bangkit dan duduk depan istrinya dengan telanjang dada


aduh kenapa dia pede banget sih gak pake baju depan gue, gemes banget mau pegang


"Om mandi sama, aku seperti lagi sama orang asing,"


"aku akan bersihkan bau parfum ini, setelah itu jangan marah lagi ya, istriku yang cantik"


"dih, gak usah bilang cantik, aku cukup tau diri" Anna berbalik dan menutupi tubuhnya dengan selimut


"kalau kamu gak cantik, aku gak akan nikahin kamu"


"wanita itu juga cantik, berarti nanti om akan nikahi dia juga dong?" jawabnya dari dalam selimut


sial, salah bicara lagi


"mana mungkin, kalau konsepnya seperti itu, aku tidak akan menduda sampai selama ini"


"karena gak ada yang mau aja sama om selain aku" celetuknya masih kesal


"nakal ya" Haris membuka selimut itu dan menggelitiknya


"haha... geli...!!!"


"biarin, siapa suruh mengejek seperi itu" dia masih terus menggelitiknya sampai Anna tidak sanggup lagi


"udah ah mandi sana, aku gak mau deket om kalau aromanya berbeda"


"ok, tapi jangan tidur. tunggu aku"


"gak mau!!" Anna menyelimuti tubuhnya kembali


"oh, masih belum cukup ya" Haris menghampirinya kembali


"ampun, ampun!!! ok aku tunggu" Anna duduk dengan senyuman yang ditahan agar Haris tidak melihat

__ADS_1


Haris pun segera ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan memakai banyak sabun agar bau parfum Dahlia hilang sepenuhnya kalau tidak, nasib buruk akan menimpa dirinya malam ini juga


bersmbung


__ADS_2