ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
37. Pengorbanan Harun


__ADS_3

Ruang Kerja Shakil


Shakil dan Haris memperlihatkan vidio jebakan siska pada Amir. Shakil juga sempat minta maaf pada ayahnya, tentang kekeliruan atas penilaiannya pada Siska yang bisa merugikan dia dan perusahaan W3XO. Amir yang terkejut dengan apa yang dilihatnya dalam layar laptop itu replex Memegang dada bagian kirinya dan mengatur nafas berulang-ulang..


"Ayah" Shakil mendekat panik "Ada apa? kita kerumah sakit sekarang ya" Bicara pelan


"Tidak, Ayah tidak apa-apa, Hanya sedikit terkejut. Sekarang sudah mulai baik" Meraih air putih yang ada dimeja


"Ayah yakin?" Masih khawatir.


"Iya nak. Tidak apa-apa"


Melanjutkan lagi perbincangannya, Ketiga pria itu terlihat tampak serius disetiap wajah mereka. Ada kesel. Marah, Senyum licik, Semua mereka ekprisikan disetiap pembicaraannya


"Jadi rencana kalian bagaimana?" Tanya Amir setelah lebih tenang


"Kita masih menunggu keputusan dari ayah, Tapi untuk saat ini kita tidak bisa melaporkan Siska ke polisi, Karena kita masih butuh mulutnya untuk bicara"


"Maaf tuan menurut saya tuan muda harus tetap berhubungan baik dengan wanita itu. Agar kita lebih leluasa menyelidikinya tanpa dia curiga sedikitpun" Usulan haris dijawab dengan anggukan ringan oleh amir


"Kau benar, jika dia bisa mulus dalam kelicikannya, Kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama" Senyum sisnis keluar dari ujung bibir Amir


"Kita akan permainkan apa yang dia mainkan, Tapi aku khawatir pada Nabila" Shakil yang tiba-tiba sangat merindukannya


"Nabila harus kita beritahu maslah ini, Ayah juga khawatir dia akan berpikir kita tidak menyayangi nya karna membiarkanmu tetap bersama Siska"


"Tuan muda saya rasa anda tau cara menyampaikannya pada Nona" Menetap lekat Shakil dengan senyuman


"Benar ayah serahkan padamu ya" Menepuk punggung anaknya dan melirik pada Haris

__ADS_1


Kau merencanakan ini asisten bodoh, Ingin membuatku salah tingkah didepan ayahku hah. Tatapan tajam Shakil yang terbaca oleh asisten itu


"Ayah bagaimana perusahaan yang di jerman?" Berusaha mengganti topik


"Ahh ayah sampai lupa, Masalah disana sudah selesai dan kita bisa bernapas lega.. Kamu pokus pada Nabila saja dan rencana kita" Amir seolah mengerti maksud Shakil yang ingin menghindari pertanyaan tentang hubungan mereka


"Maksud ayah, Bagaimana bisa?" Berubah jadi serius,


"Saat diruang ICU. Harun memohon pada ayah agar menjual aset yang dia miliki untuk Nabila.. tapi sebelum Nabila dewasa dan bisa mengatur keuangannya, Dia mengusulkan agar ayah menggunakannya untuk perusahaan kita yang dijerman. Sejak awal dia memang sudah menghawatirkan perusahaan itu. Dan itulah alasan ayah kenapa kau harus menikahi Nabila. Harun mengorbankan semuanya untuk kita tapi apakah kau tega hanya permohonan kecilnya kita tidak penuhi?" Amir tenggelam lagi dalam kesedihan tentang sahabatnya


Penjelasan Amir membuat hati Shakil bergetar. Pengorbanan Harun ternyata tidak berhenti seperti nyawanya. Tapi setelah dia tiada pun Harun masih melindungi keluarga Amir.


Shakil tiba-tiba terbayang wajah Harun, Orang yang tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi rela mengorbankan hidup mati dan hartanya pada keluarga Amir


Dan terbayang lagi wajah Nabila yang menangis saat dia berperilaku kasar padanya, Membuat sesak, Perih dan seakan jantungnya terhenti, Yang sama sekali tidak ada sedikitpun balas budi atas pengorbanan harun


Percakapan mereka berakhir setelah beberapa rencana disepakati ketiga belah pihak. Kini mereka kembali ke kamarnya masing masing, Tapi tidak dengan Shakil, Langkah kakinya selalu dia hentikan didepan kamar nabila, Dan masuk seperti biasa setelah melihat kanan kiri seperti pencuri


"Kakak kenapa gak ketuk pintu dulu?" Nabila terkejut karena Shakil yang tiba-tiba naik ketempat tidur dan memeluknya, Dia membenamkan wajahnya didada kecil istrinya


" ada apa?" Mengusap lembut wajah Shakil yang masih terpejam tanpa suara


"Biarkan kakak seperti ini dulu, Aromanya membuat hati kakak tenang" Mengusel-usel pelan yang membuat Nabila meringis antara geli dan sakit


"Yasudah, Tapi nanti cerita ya?" Yang masih memainkan jarinya di wajah Shakil


Beberapa kali Shakil mengela nafas, Menahan rasa sedih atas pengakuan Amir tentang Harun, Dan kembali memikirkan perasaan Nabila jika dia bersama siska


"Nabila" Mengeratkan pelukannya

__ADS_1


"Ia" Menghentikan jarinya


"Apa kamu terpakasa menikah dengan ku?" Mengangkat wajahnya pindah ke leher


"Sangat" Jawab singkat


Shakil menghentikan kegiatannya dan mendadak bangun "Sangat?" mengulang jawaban Nabila


"Ia sangat, Aku memang sangat terpaksa menikah dengan kakak, Karena semuanya demi papah, Tapi,,," Nabila sengaja menggantung perkataannya ingin mengerjai suaminya agar penasaran


Shakil masih menatap lekat menunggu kelanjutan perkataan Nabila "Tapi apa?" Tanya ragu


"Tapi itu saat pertama kita menikah, Sekarang keadaannya sudah berbeda. Seperti yang pernah kakak katakan padaku, Jika papah selalu melindungimu.. Maka aku juga akan selalu melindungi hatimu" Senyum manis Nabila membuat napas Shakil lega


"Kamu serius?" Memegang kedua tangan Nabila dan dijawab dengan anggukan mantap


"Terima kasih sayang" Memeluk dan mengecup kepala istrinya


Kakak aku Tidak tau apa yang ada dihatimu Sekarang, Tapi seperti kakak yang selalu memenuhi janjimu pada papah ku, Aku juga akan memenuhi janji ku pada bunda..


:


:


:


:


Bersambung❤❤❤*

__ADS_1


__ADS_2