
pagi hari Nabila kini bangun terlebih dahulu dari Shakil, dia segera ke kamar mandi dan setelah itu turun ke bawah mencari makanan. karena perutnya terasa sangat lapar. hari ini suasana rumah tampak sunyi meskipun ada asisten rumah tangga yang masih aktif lalu-lalang mengerjakan pekerjaannya, tapi tak biasanya se sepi ini tanpa ada Mira di meja makan
"Ada yang bisa saya bantu?" Anton mengejutkan lamunan Nabila yang sedang memperhatikan asisten rumah tangga nya
"ya ampun pak Anton, bikin kaget aja." seketika Nabila mengusap dada
"maaf Nona, apakah anda sedang tidak baik-baik saja?" tanya Anton
"enggak kok pak, cuma heran aja. Biasanya bunda udah ada di sini?" tanya Nabila
"nyonya sudah pergi dari jam 3 dini hari tadi"
"kemana?"
"semalam ada telepon dari keluarga. kalau sepupunya meninggal dunia, tapi nyonya berpesan agar tuan muda tidak perlu ke sana. lebih baik menjaga Nona muda saja di sini" jelas pak Anton
kakak kesana atau tidaknya sama aja. dia pasti pergi ke kantor dan meninggalin aku juga
"baiklah, terima kasih ya pak."
"Nona ingin saya buatkan apa"
"susu aja deh, aku sarapan bareng kakak nanti"
"apa tuan muda masih tidur?"
"hmm"
"dia pulang yang larut sekali, pasti kerjaannya sangat banyak di kantor karena tidak ada Haris" Anton menghela nafas
"aku rasa begitu" tampak sedikit cuek
walaupun sibuk karena tidak ada Haris tapi setidaknya kan dia punya hiburan sekarang
"baiklah kalau begitu saya akan membuatkan susunya dulu"
"baik, terima kasih pak!"
"sama-sama nona"
***
"hmm hari ini aku ke mana lagi ya?. kakak sibuk ayah bunda nggak ada. Anna bulan madu, Roni dan Rey!!!. pasti aku nggak diijinin keluar. Aaa!! hari ini bener-bener bikin aku bosan"
"hai sayang" seseorang mengejutkannya sambil menyentuh bahu Nabila "kenapa melamun di pagi hari?" Shakil mencium pipinya sekilas
"kakak bikin aku kaget aja"
"benarkan!! kamu melamun. dengar, ibu hamil tidak baik diam sendiri di pagi hari seperti ini" Shakil kemudian duduk disampingnya
"kak!."
"hm!"
__ADS_1
"hari ini boleh nggak aku keluar sama Romi dan Rey"
"memang sayangnya kakak mau kemana?" dan kemudian mencubit pipinya
"aku bosen lah di rumah. Kakak tau kan, ibu hamil itu nggak boleh stress. Aku nggak nyaman kalau disini sendiri
"Tapi kan ada bunda sayang!"
"bunda nggak ada'
"kemana?"
"pagi-pagi nyonya sudah pergi tuan" sahut Anton yang membawakan minuman Nabila "nyonya bilang sepupunya yang kemarin sakit telah meninggal semalam"
"kenapa tidak memberitahuku?"
"maaf tuan, tapi nyonya bilang tuan muda tidak perlu ke sana, karena kesehatan nona muda lebih penting"
"aku mengerti" Shakil tersenyum sambil menatap Nabila. 'kamu di sini aja ya sama pak Anton!"
"kakak mau aku stres dan berpengaruh sama baby kita?" Nabila berakting seolah dirinya dan bayi itu memang sangat membutuhkan hiburan
"tapi kakak juga tidak bisa menemanimu di sini sayang, kamu kan tahu sejak seluruh perusahaan diserahkan pada kakak, dan apalagi Haris tidak ada, sekarang serasa bahkan kakak sendiri sulit untuk bernafas"
"ya udah deh," Nabila merajuk dan berdiri lalu berjalan melewati suaminya
"kamu mau ke mana?" Shakil mencegah dengan menggenggam tangan Nabila
"tapi kan belum sarapan, susu nya juga nggak dihabisin sama kamu!"
"aku enggak lapar"
"tapi dia yang lapar!" Shakil menyentuh perut Nabila lalu menarik tubuhnya ke dalam pangkuan
"ayolah jangan egois seperti ini. kamu akan jadi seorang ibu. dan ingat, ibu tidak pernah memikirkan egonya dibandingkan anak sendiri"
"aku mau tidur" Nabila menunjukan senyum paksa sesaat, dan kembali lagi cemberut seperti tadi
"tapi ini masih pagi, lagipula kamu kan baru bangun emang bisa tidur lagi?" Shakil masih saja terus mengejeknya
"ya dicoba aja dulu, seenggaknya aku bisa melewati hari ini dengan tidur sepanjang hari"
"jangan seperti ini lah sayang.."
"biarin, kakak nggak ngerti perasaan aku"
"uucchh.. imutnya istriku ini.. jadi sekarang kamu maunya apa?" Shakil berusaha membujuk Nabila
"aku ikut kakak aja ya?" kemudian diapun mengiba
"mana bisa sayang. disana pun kamu akan suntuk juga, kakak akan sangat sibuk dan pasti tidak bisa memperhatikanmu terus menerus sepanjang hari"
"bilang aja malu bawa aku"
__ADS_1
"ya Tuhan!! kenapa otak kecil ini bisa berpikiran seperti itu.. apa yang membuat kakak malu sama istri secantik kamu"
"kakak nggak liat? sekarang aku nih udah 11/12 sama bola"
"masa? kok kakak lihatnya kamu makin hari makin seksi ya?" Shakil menggoda
"fitnah"
"loh kok fitnah? mana ada, ini memang kenyataannya. kakak melarang kamu pergi ke kantor karena tidak mau berbagi keindahan ini pada orang lain." Shakil masih saja terus merayunya agar Nabila banyak istirahat di rumah.
"bohong banget. please, aku janji di sana enggak akan kemana-mana dan nurut sama kakak. boleh ya". Nabila memancarkan wajah permohonan yang bagi Shakil sangat tidak tega kalau harus mengatakan tidak
"Hugh . mau bagaimana lagi 100 kali pun kakak katakan tidak boleh maka 1000 kali lagi kamu akan memohonnya. dasar tidak patuh." Shakil mencubit kedua pipi Nabila lalu mencium bibirnya sekilas
Nabila merasa senang dengan izin yang diberikan suaminya dia pun langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Shakil dan mengucapkan terima kasih kemudian membalas kecupan tadi dengan hal yang sama
"ya udah sekarang kamu sarapan yang banyak, lalu ganti pakaian"
"siap bos" Nabila kembali lagi ke tempat duduknya dengan senang hati kemudian makan makanan yang sudah disediakan Anton sejak tadi
sebanyak apapun pekerjaannya di kantor, selelah apapun tubuhnya, tetap. setelah melihat Nabila dan kandungannya dalam keadaan baik-baik saja, maka semuanya terbayar dengan hati dan perasaan yang tenang. bahkan dia juga sudah meluangkan waktu 1 bulan untuk kelahiran anaknya nanti saat Haris kembali lagi ke kantor tentunya
selesai sarapan Nabila setengah berlari menuju kamar walaupun Shakil dan Anton berteriak bebarengan mengingatkan dirinya untuk lebih hati-hati, tapi rasa bahagia itu lebih besar dari apa yang sudah dilontarkan suami dan kepala pelayan tersebut..
dengan gelengan kepala namun juga senyuman yang lebar pria itu bahkan lebih bahagia lagi melihat istrinya ceria, walaupun hal kecil seperti ini dan sangat sederhana, namun entah kenapa bahkan dirinya juga begitu bahagia
***
Nabila tidak begitu lama mempersiapkan dirinya. riasan wajah yang apa adanya dan dress di atas lutut membuat dia imut mengagumkan..
"kamu yakin? sepertinya dress ini terlalu pendek?"
"tapi hanya ini yang paling nyaman aku pakai"
"kalau kamu duduk nanti bukannya dia semakin naik ke atas.."
"iya"
"memangnya tidak ada yang lebih panjang sedikit dari ini?"
"dulu dress ini memang di bawah lutut. tapi sekarang jadi naik ke atas karena ini" Nabila menunjuk pada pembulatan perutnya dengan sedikit manja
"hahaha . ya sudah, tidak apa-apa kakak hanya sedikit cemburu saja kalau kamu cantik seperti ini"
"eemm gombal Nabila mencubit sedikit pinggang sakit lalu menggandeng tangannya dengan sedikit centil"
"are you ready.."
"of course"
"oke let's go." Shakil memapah istrinya dengan sangat hati-hati padahal tadi di tangga saja gadis itu berlari dengan begitu bahagianya....
bersambung
__ADS_1