ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
112 Sakit perut


__ADS_3

Setelah puas makan kedongdong mereka balik kakekantor karena masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Shakil, mungkin hari ini akan menjadi hari yang sangat suntuk untuk Nabila karena tidak ada yang bisa dilakukan olehnya disana, daripada bosan menunggu Shakil yang sedang rapat Nabila berjalan-jalan diarea kantor.


Sedangkan Shakil yang lagi rapat, hatinya tidak tenang bukan karena Nabila berjalan jalan sendiri, tapi karena dia merasakan Perutnya mules efek makan Kedondong asam tadi "Tuan ada apa?" Haris berbisik di dekatnya karena melihat Shakil yang sudah berkeringat seperti menahan sesuatu, Dia tidak menjawab pertanyaan Haris dan hanya mengangkat telapak tangan yang menandakan kalau dia tidak apa-apa lalu melanjutkan lagi rapatnya, tapi lama-kelamaan semakin tidak kuat lagi menahannya


"Ris handle" Sambil bangun dan berjalan menuju toilet, sedangkan Haris sendiri tanpa canggung ambil alih pemimpin rapat sampai selesai , dan selama itu juga tuannya tidak balik lagi ke ruangan itu


Ditoilet


Tok,, tok,, Suara pintu toilet diketuk oleh Haris, tak lama Shakil keluar dari balik pintu dengan memegangi perutnya "Apakah anda baik-baik saja Tuan?" Haris sedikit panik melihat wajah Shakil yang pucat


"Apanya yang baik-baik saja, Apa kamu tidak sadar Sudah berapa menit aku dalam sini?" Shakil menyandarkan tubuhnya di ujung pintu


"Apa kita perlu ke dokter?" tanya Haris


"Tidak,,, Tidak,, Dimana Kancil itu?" Shakil berjalan dengan bata-bata memegangi perutnya


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Haris merentangkan tangan menghalangi jalan Shakil "Jangan konyol Dia sedang hamil"


"Memang apa yang akan aku lakukan? Saat ini aku lebih mementingkan dirinya dari pada diriku sendiri bodoh,,!!!"


"Fyuuhhh,,!! Syukurlah" Harus membuang nafas "Lalu bagaimana denganmu?" Haris masih mengkhawatirkan keadaan Shakil


"Ya sudah,, tidak usah dipikirkan aku baik-baik saja" Dia tidak mempedulikannya malah terus berjalan mencari keberadaan Nabila, karena menurut info yang dia dapat dari sekretarisnya gadis kecil itu tadi sudah masuk keruangan presdir


Ruangan presdir


Terlihat Nabila yang tertidur pulas di atas sofa dengan menekuk kedua kakinya, walaupun rasa sakit yang tidak tertahankan di perutnya tapi malah hilang seketika saat Shakil melihat betapa imutnya Nabila "Cek-cek" Dia berdecak "Kau terlihat seperti anak kucing setelah berhasil mengerjaiku, Ingin sekali aku menghukummu saat ini tapi lihat! apa yang harus aku lakukan dengan gayamu yang sangat imut" Sakil berjongkok di tepi sofa dengan memandangnya, sambil merapikan rambut rambut yang menutupi wajah cantiknya "Kau tahu sayang! aku lebih rela sakit perut seperti ini daripada melihat kamu yang mual dan muntah terus-menerus setiap saat"


Karena merasa geli dengan sentuhan jari Shakil yang menelusuri wajahnya diapun akhirnya terbangun dengan gaya anak kecil yang cemberut sambil mengucek-ucek matanya. Pemandangan awal yang dia lihat adalah senyuman cool Shakil sambil menopang dagu pada kepalan tangannya


"Kakak? Dari kapan disini?" Nabila yang masih berbaring menghadap Shakil


"Baru saja, lihat kamu tidur sampai netes dari sela bibirnya untung gak banjir ini ruangan" Goda Shakil


"Masa si?" Spontan dia mengusap bibirnya "Mana? gak ada juga!!"


"Hahaha, gak kok!! Istriku kalau tidur bikin kakak diabetes"


"Kok bisa?"


"Iya karena kamu manis banget"

__ADS_1


"Ih dasar gombal"


"Bukan gombal sayang tapi fakta" Shakil mencolek hidung Nabila dengan jari telunjuknya


"Eh tapi kenapa wajah Kakak pucat?"


"Kakak nggak apa-apa kok, tadi Cuma agak mules perut aja"


"Kakak sakit?" Nabila tiba-tiba bangun dan duduk sambil memeriksa perut Shakil "Ini pasti gara-gara aku ya?" Wajahnya berubah sedih


"Sayang Enggak kok"


"Nggak apanya!! Udah jelas-jelas perut Kakak sakit gara-gara tadi aku paksa makan kedongdong asem" Nabila merasa bersalah karena niat mengerjai suaminya malah jadi masalah


"Beneran!! Ini bukan karena kedongdong itu" Shakil coba menutupi kebenarannya karena dia tidak mau Nabila menjadi sedih


"Bohong banget!!" Airmata Nabila mulai menggenang karena dia benar-benar merasa bersalah


"Iya serius, ini mungkin kakak telat makan aja"


"Tuh kan Ini juga pasti karena jemput aku ke kampus jadinya telat makan dan ditambah lagi makan Kedondong asam, pasti mules banget ya?" Tanpa dia sadari air matanya pun tumpah kepipi mulusnya


"Kakak aku bukan anak kecil yang bisa dibohongin dan aku tahu itu gara-gara makan kedongdong Kakak lupa ya kalau istrinya adalah calon dokter udah jangan ada yang ditutup-tutupi lagi, Ayo kita ke dokter" Nabila berdiri dan menarik tangan Shakil agar dia bangun dari jongkoknya


"Untuk apa kedokter kalau kakak sudah punya obatnya" Shakil menahan tangan Nabila sampai dia duduk kembali


"Kalau obatnya ada Kenapa nggak diminum dari tadi?"


"Karena Obatnya ada di kamu"


"Ngarang!! Sejak kapan aku simpan obat maag kakak"


"Sejak kita merencanakan punya dede bayi" Shakil berbisik ditelinga Nabila dan menjilatnya


"Kakak apa sih Gak jelas banget yang sakit perutnya tapi kenapa konslet sampai keotak" Nabila menghindar karena merasa geli


"Habis mau gimana lagi, ini sudah jadi panggilan jiwa dan kebutuhan batin"


"Hahaha!!! mimpi apa aku sampai punya suami seerror ini"


"Nah itu dia teori yang belum bisa kakak pecahkan? Kenapa setiap bersama kamu atau melihat wajah cantik ini kakak tidak terkendali lagi, Ingin rasanya memakanmu sampai habis!!tapi..." Percakapan Shakil menggantung

__ADS_1


"tapi kenapa?"


"Tapi sekarang kakak mules lagi" Shakil lalu berdiri dan berlari ketoilet sambil memegangi perutnya


"Tuh kan!! aku bilang juga Apa, ayo kita ke dokter?" Nabila teriak agar terdengar oleh Shakil, tapi dia tidak menjawab karena terburu-buru langsung masuk ketoilet, setelah beberapa menit kemudian akhirnya Sakil keluar juga dan langsung duduk disamping nabila kembali


"Ayo kita kedokter?" Nabila meng goyang-goyang tangannya


"Aku masih ada kerjaan, sebentar lagi ya. Tunggu Haris kembali"


"Memang dia kana?"


"Dia masih mimpin rapat berikutnya"


"Terus pulang kapan?"


"Kakak gak tau"


"Dan kita akan nunggu dia sampai kakak pingsan itu?"


"Ya mau gimana lagi, kakak gak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini"


"Aku kan bisa bawa mobil, biar aku aja yang nyetir dan kakak bisa istirahat"


"Jangan macem-macem ya? Aku lebih baik kesakitan nungu Haris daripada bikin kamu lelah dan terjadi apa-apa nantinya"


"Ya ampun kakak sebelum tau hamil juga aku selalu bawa mobil. Dan gak terjadi apa-apa juga kan?"


Shakil melirik pada nabila dan mendelikan matanya tanda tidak ada negosiasi lagi selain nurut "Iya iya, kita tunggu Haris" Nabila cemberut dan hening sesaat "Trus kalau gak pulang ngapain juga bengong kaya gini" Nabila mulai lagi


"Maka dari itu kita lakukan satu hal yang bermanfaat" Shakil mendorong tubuh Nabila sampai terbaring kembali disofa


"Kakak!!!! Ini kantor kalau tiba-tiba ada yang masuk giman?"


"Gak peduli" Shakil mengangkat dress Nabila sampai kepinggangnya


"Oh jadi kakak lebih suka kalau tubuh aku keliatan orang, jadi tontonan gratis gitu?"


"Mana ada!!!!" Sepontan Shakil menurunkan lagi dressnya "Kau memang licik, banyak sekali alasan untuk menolak dan bodohnya aku selalu kalah, tapi setelah sampai di rumah jangan harap aku akan melepaskan mu" Shakil bangun dari tubuh gadis itu dan merapihkan lagi pakaiannya


Bersambung❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2