
Se sampainya di kantor gadis itu memang sangat patuh.. sesekali berjalan mengganggu suaminya, dan kembali lagi ke sopa tempat dia berbaring dengan malasnya, Shakil sengaja menyediakan banyak makanan, dari cemilan, makan berat, buah sampai ice cream. semata-mata menyogok istrinya agar anteng dan tidak menggangunya hari ini..
tok-tok
sekretarisnya datang..
"Maaf Nona," pertama kali dia menyapa Nabila yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari pintu, dan gadis itu hanya tersenyum sekilas karena matanya masih bingung harus makan apa dulu
"ada apa?" tanya Shakil
"Sekertaris pak Rudi ada di lobby"
"apakah ada janji hari ini dengan perusahaan sana?"
"tidak ada, tapi dia bilang ada hal penting dan sudah konfirmasi sebelumnya pada anda"
"sepertinya tidak, tapi biarkan dia masuk saja"
Nabila yang disibukan dengan makanan namun telinganya masih terjaga, dan tentu saja sangat mencerna siapa yang akan menemui suaminya.
"baik tuan" sekertaris Shakil pun kembali meninggalkan ruangan itu, diiringi dengan senyuman yang ramah kembali pada Nabila
"hm.. ternyata si kaktus kering mau menemui kakak.. haha memang gak salah aku kesini"
tak berselang beberapa lama ketukan pintu itu kembali berbunyi.. sekertaris Shakil masuk diiringi dengan wanita yang terlihat dewasa dengan tinggi yang pas untuk jadi model, serta aroma parfum mengisi seluruh ruangan itu.
dia tidak melirik pada Nabila namun pandangannya langsung menuju pada pria yang masih sibuk di balik mejanya..
"tuan, nona Dahlia ada di sini"
"baik terima kasih" Shakil sama sekali tidak menatapnya dia masih sibuk pada kerjaan yang menumpuk
"saya pamit" sahut sekertarisnya
"hm"
"siang pak" Dahlia menyapa
"siang." Shakil mendongak "silahkan duduk" lalu mengarahkan tangannya pada kursi di samping Dahlia
"terima kasih" dia pun mengikuti arahan tersebut
"apa ada maslah?" tanya Shakil serius
"oh tidak, saya hanya ingin menyerahkan ini" dia mengeluarkan dokumen yang ada di dekapannya "pak Rudi berkata kalau anda meminta ini?"
__ADS_1
"saya periksa dulu" Shakil mengambil dokumen tersebut lalu membuka dan mengamatinya
"oh iya, ini yang saya butuhkan. tapi seharusnya tidak perlu repot-repot diantarkan kesini, karena anda bisa kirim email saja pada sekertaris saya"
"sama sekali tidak repot, ini akan lebih memudahkan bapak untuk mengamatinya tanpa harus di print lagi"
"kalau begitu terima kasih banyak" Shakil tersenyum ramah layaknya seseorang yang berwibawa
"em... apakah bapak ingin saya temani makan siang?" Dahlia melihat ke jam yang melingkar ditangannya "waktunya sudah hampir tiba"
Shakil melirik pada Nabila dia takut istrinya yang sedang sensitif malah marah, sedangkan Dahlia juga masih termasuk penting untuk perusahaan, namun siapa sangka gadis itu sepertinya sedang mendengarkan musik dengan headset yang menempati telinganya,
"saya masih banyak pekerjaan, dan mungkin akan terlambat untuk makan siang"
"sangat disayangkan. bagaimana kalau saya pesankan makanan dan kita makan disini saja"
lagi lagi-lagi Shakil melirik pada Nabila yang sekarang sedang mengamati keduanya
"sayang, kamu mau makan dimana?. sekertaris pak Rudi ada niatan baik traktir kita makan siang" kemudiannya
"sayang?" ucap Dahlia pelan sambil menoleh ke arah belakang
"terserah kakak aja, makanan ini pun belum sanggup aku telan semua" Nabila tersenyum menunjukan kalau dirinya tidak keberatan dengan ajakan Dahlia pada Shakil
"kakak?" lagi-lagi sekertaris pak Rudi bingung antara kata sayang dan kakak
"baiklah.. pesan apa saja yang nona Dahlia inginkan dan kita akan makan disini" Shakil membuat keputusan itu agar mempermudah pekerjaannya tanpa harus membawa Nabila mundar-mandir keluar untuk makan siang
"oh, iya.. baiklah akan saya pesankan" Dahlia sedikit canggung kemudian berdiri "silahkan anda lanjut kembali" kemudian dia menghampiri Nabila yang masih duduk santai seolah tidak perduli dengan keberadaannya
"permisi?" kemudian dia menyapa Nabila "maaf tadi saya tidak melihat ada kamu disini" sopannya dia mendekat
"tidak apa-apa, lagi pula aku hanya main dikantor ini" Nabila tersenyum dan mempersilahkan Dahlia duduk
main?.. berarti dia memang adiknya pak Shakil. oh kakak yang sangat perhatian. dia tidak maslah pekerjaannya terganggu oleh adiknya sampai disiapkan makanan yang banyak.. sangat perfect
"namaku Dahlia rekan kerja kakakmu" dengan bangga dia memperkenalkan dirinya
apa?.. haha dia menganggap ku adiknya kakak.. hmm bagus juga sih dengan begitu aku bisa tau dia sebatas rekan kerja atau mau lebih
"namaku Nabila," jawabnya singkat dengan jabatan tangan
"nama yang cantik cocok denganmu yang cantik juga"
"ah terima kasih, Tante terlalu berlebihan"
__ADS_1
panggilan yang Nabila katakan seakan membuat telinga Dahlia di sambar petir, begitupun dengan Shakil yang langsung melirik ingin tertawa namun takut terkesan tidak sopan.
"apa aku terlihat setua itu?" Dahlia masih bisa tersenyum karena ada Shakil
"tidak juga, tapi usia kita kan lumayan jauh" dengan polos Nabila menjawab seolah sebutan itu memang sangat pantas
"tapi bahkan usiaku lebih muda di bawah kakakmu.. bisakah kau memanggilku kakak juga" Dahlia seperti sedang membujuk anak kecil untuk mendapatkan kata panggilan yang pantas untuk nya
"tidak masalah" Nabila setuju
Dahlia memperhatikan Nabila, dia sangat bertanya-tanya dengan tubuh gadis itu yang terlihat nyata sedang mengandung.. tapi dilihat dari wajah sangat jelas kalau umurnya belum menginjak 20 tahun. tapi jika dia bertanya takut Nabila bahkan Shakil tersinggung
"apa kamu masih sekolah?" dengan ragu namun penasaran Dahlia bertanya tapi tidak menyudutkan kehamilannya
"aku kuliah"
"wah semangat ya"
benar dia kuliah, tapi dia mengandung, apa perusahaan ini ada aib yang ditutupi. atau memang aku yang tidak update dengan informasinya...
"kak Dahlia sangat cantik. pertumbuhan mu juga baik, aku pikir sangat cocok jadi model"
"ah kamu manis sekali, aku tidak tertarik dengan itu, kamu juga cantik kenapa tidak jadi model?"
"haha tubuhku jauh dari kriteria model"
"tapi jaman sekarang banyak model yang bukan hanya berjalan di catwalk saja, semua bentuk tubuh bisa jadi model di media sosial"
"kakak pasti tidak akan mengijinkanku"
"haha kakakmu sangat perhatian, siapa pun pasti bahagia menjadi pasangannya" Dahlia menatap Shakil dengan pandangan penuh kesan
"tidak se menarik yang dibayangkan, dia pria yang paling menyebalkan di dunia" Nabila berbisik agar tidak terdengar suaminya "untuk ikut ke sini saja, aku harus menangis sambil berlutut dikakinya"
"benarkah?, aku melihat dia sangat lembut"
"itu pada orang yang baru dikenal, tapi jika di rumah bagaikan serigala lapar"
lihat saja perutku buncit apalagi kalau bukan ulahnya
"kamu tenang saja, serigala lapar akan jinak kalau perutnya kenyang"
"maksudnya?"
"kamu tidak akan mengerti, pokoknya serahkan saja padaku serigala itu pasti berubah jadi tupai"
__ADS_1
apa?.. kok malah jadi gini.. aku kan bikin dia takut dan ilfil, ini malah jadi tertantang.. dasar kaktus kering..
bersambung