
Hari ini Nabila sedikit kesal, tapi puas karena bisa tau apa yang Dahlia harapkan. tapi apa pun itu dia seperti sedang bermain game, tantangan yang akan jadi hobi barunya dalam ke suntuk kan menjelang Anna selesai honeymoon..
semua makanan yang Dahlia pesan kini sudah tersiapkan. Shakil duduk di sebelah istrinya dengan melayani sepenuh hati apa yang ibu hamil itu inginkan. tapi kenapa Dahlia pun demikian, dia menawarkan Nabila ini itu persis seperti apa yang Shakil lakukan.. meskipun sedikit aneh tapi bagi Nabila ini sangat lucu.. bahkan Shakil ingin mengatakan kalau dia isterinya namun gadis itu malah menimpakan dengan pertanyaan lain, yang membuat dia hanya bisa menggeleng sambil tersenyum..
"permainan apa yang kamu mainkan sekarang?" bisiknya sambil tersenyum
"mana ada, dia yang anggap aku adiknya kakak" Nabila balas bisik dengan cekikikan
"jangan membuat masalah ya"
"hehe gak kok, buktinya kakak tetep manggil aku sayang dia biasa aja, lagi pula dia gak nanya aku siapa. bukan salah aku dong?"
"dasar jahil"
di mata Dahlia adik dan kakak ingi sangat akur, dia juga sangat bangga pada Shakil karena seperhatian itu pada Nabila. ada sedikit yang ingin sekali dia tanyakan tentang Nabila yang masih mengganjal di hatinya mengenai kehamilan gadis kecil itu, tapi dia mengurungkan niatnya takut menyinggung dan akan berpengaruh pada perusahaan pak Rudi nantinya. tapi nanti akan di tanyakan pada staf yang ada di kantor ini. untuk mendapatkan informasi lebih detail
"baiklah pak Shakil dan Nabila.. saya izin pamit karena jam makan siang sudah selesai" Dahlia pun segera bergegas pamit setelah makanannya selesai
"terimakasih atas makan siang ini, seharusnya saya yang menyajikan untuk tamu di kantor kami" Shakil masih ramah dengan rekan bisnisnya
"tidak apa, anggap saja perayaan kesepakatan kerja sama kita"
"baiklah, semoga kita sama-sama diuntungkan" kemudian Dahlia pun pergi setelah dia juga berpamitan pada Nabila.
sesampainya di lobby, dengan rasa ingin tahu yang sangat mengganjal di hatinya. wanita itu langsung menemui salah satu staf yang ada di sana, berharap mendapatkan jawaban yang tentunya tidak akan menyakiti hati
"permisi apa saya boleh bertanya sesuatu?
"silahkan nona ada yang bisa saya bantu" jawab karyawan Shakil
"gadis yang bernama Nabila, apakah dia sedang hamil?". pertanyaan Dahlia sangat to the point sampai karyawan tersebut bingung harus menjawabnya atau tidak "maaf maksud saya bukan mencari keburukan perusahaan ini tapi sebagai rekan kerjanya saya takut kalau suatu waktu salah bicara." Dahlia berusaha menjelaskan dengan ragu mungkin saja karena pertanyaan ini membuat kesepakatan kerja antara dua perusahaan akan meregang
"tidak masalah nona, saya mengerti karena Nona Nabila memang sedang mengandung.
"ah.. syukurlah kalau anda mengerti. dan kalau boleh tahu apa statusnya di perusahaan ini?
"untuk status dalam perusahaan saya rasa mungkin belum. tapi yang pasti gadis itu adalah istri dari pemilik perusahaan ini
__ADS_1
apa? bukankah perusahaan ini milik Amir, dan tidak mungkin kan dia menikah dengan gadis yang usianya sangat muda?
"benarkah! tapi gadis itu masih sangat muda" Dahlia sangat tidak mengerti dengan penjelasan yang membuatnya benar-benar dibuat linglung. di kalangan masyarakat luas, orang tahunya perusahaan ini atas nama Amir. karena kebetulan memang belum merayakan oper presdir yang baru
"memang usia mereka sangat jauh. tapi semakin ke sini saya rasa keduanya sangat cocok"
oh tidak. ada apa dengan perusahaan ini... tapi bukankah Shakil adalah anak Amir? lalu mengapa mereka sangat akrab.. oh aku hampir gila dengan apa ya terlihat hari ini
Dahlia benar-benar dibuat bingung sampai tak sadar dia terus berjalan menuju parkiran, sedangkan stap yang tadi masih saja terus menatap dirinya sampai naik ke mobil dengan tanda tanya besar melayang di atas kepalanya
hotel
setelah seribu satu rayuan maut dan manisnya semua perkataan Haris pada istrinya. kini hati Anna luluh dan yakin kalau cepat atau lambat pun pasti dia harus memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. apalagi keduanya sama-sama suka.. untuk grup dance dan rencana masa depannya biarlah berjalan dengan seringnya waktu, dimana kaki melangkah pasti tertuju pada takdirnya
tok tok..
"Anna please buka pintunya" Haris berdiri di depan pintu kamar mandi dengan penuh harapan agar istrinya segera menunaikan kewajibannya
"nanti dulu aku belum selesai" suara sahutan dari dalam kamar mandi
"sebentar Om" terdengar dari luar suaranya sangat sibuk seperti sedang membuka plastik.
"apa yang sedang kau persiapkan kan, sudahlah tanpa apa-apapun bukankah itu lebih bagus"
"mana mungkin kalau aku tidak pakai nanti Om takut melihatku"
"hahaha apa yang harus aku takutkan dari seekor kelinci kecil sepertimu"
"udahlah pokoknya om gak akan ngerti sekarang. nanti aku jelaskan"
"baik apapun itu terserah tapi tolong cepat sedikit, apa kau tidak melihat suamimu kaku karena lama berdiri menanti"
"duh.. om rewel banget deh.. gak sabaran.." kemudian Anna membuka pintunya
"tentu saja.. " Haris terkejut melihat apa apa yang yang Anna pakai " sayang.. kostum apa ini? setahuku hotel tidak menyediakan konsep bulan madu yang seperti ini, dari mana kau dapat
"aku pesan online tadi"
__ADS_1
"ya Tuhan... lugu dan bodoh itu memang sangat beda tipis
"maksud Om aku bodoh?"
"kalau tidak, ini namanya?"
"om buta ya? ini baju tidur"
"iya tau.. tapi kenapa closed seperti ini"
"karena di sini tidak ada baju tidurnya"
"jangan bohong aku sudah menyiapkan beberapa pakaian malam yang bisa kamu pakai"
"yang mana? dalam lemari itu?
"iya'
"om pikir aku pentilasi... pakaian yang di dalam sana semuanya seperti kawat nyamuk
"ya Tuhan aku memang menikahi gadis yang umurnya jauh di bawahku tapi tidak harus orang bodoh seperti ini" Haris mengurutu sendiri "sayang dengar." dengan setengah menekan kedua giginya "ini adalah masa-masa bulan madu kita, jadi please pakai pakaian yang sedikit memperindah penglihatan suami mu"
"sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan."
"Anna.. jangan aneh-aneh.. kita sudah sepakat untuk melakukannya hari ini"
"iya aku tahu tapi sepertinya pernikahan kita salah tanggal"
"maksudnya"
"hehe aku datang bulan" bisik Anna
"apa?.. bicara yang jelas, kenapa sangat pelan"
"aku datang bulan".. Anna memperjelas perkataannya dengan mata tertutup tak berani menatap Haris.. antara malu dan tidak tega karena apa yang sudah direncanakan harus sirna begitu saja
bersambung
__ADS_1