
Hari ini Shakil bangun dengan sangat perlahan, dia tidak mau sampai membangunkan Nabila karena akan repot nantinya jika gadis itu ingin ikut ke kantor kembali. Lagi pula, hari ini Mira dan Amir sudah ada ke rumah, maka Shakil pun tidak khawatir meninggalkan istrinya
Di kantor pada saat sedang sibuk meeting secara online di laptopnya, Haris datang lalu duduk menatap dia dengan menghela nafas
Ingin bertanya namun sedang fokus pada meetingnya. Ingin diam saja tapi penasaran, kenapa pria ini ada di depan mata, bukankah seharusnya sedang bulan madu ke Turki
Komunikasi antara mereka akhirnya terjalin, dengan isyarat mata dan alis saja yang bergerak, Shakil mengangkat kedua alisnya menandakan kalau (kenapa dia ada di sini?)
Haris menjawab dengan tubuh yang lesu dan mata terpejam sambil menggeleng kepala, menandakan bahwa (bulan madunya gagal)
Shakil bertanya lagi dengan mengerutkan kedua alisnya menandakan kalau (Dia bingung kenapa bisa terjadi)
Haris kemudian menjawab dengan memijat kening yang menandakan kalau (dia sangat stress)
balasan lagi dari Shakil dengan pergerakan mulut kecil. (kenapa?)
jawaban Haris hanya merosot lesu dari tempat duduknya sampai terjatuh kelantai.
Seketika bos itu tertawa terbahak, "Haha" seolah mengerti namun dalam hati masih bingung ada apa dengan asisten pribadinya saat ini, bukankah pengantin baru seharusnya bersinar, bercahaya, bahkan segar dilihat. Namun tidak pada pria yang ada dihadapannya, dia bagaikan baru saja terkena bom atom yang berantakan, lemah dan lesu tanpa asupan makanan.
"Sorry,, sorry." seketika melanjutkan lagi meeting nya, meskipun sangat penasaran dengan cerita Haris, namun dia harus proporsional dalam pekerjaannya
Tak lama sekertaris Shakil masuk, dengan mengetuk pintu, walaupun sebelumnya memang sudah dari tadi terbuka, dilihat pria malang sedang tersungkur dilantai meratapi nasib, seperti kucing yang sedang menunggu majikan memberinya ikan..
Demi harga diri yang tinggi Haris segera bangkit dan merapikan pakaian juga rambutnya, agar orang lain tidak tahu tentang kemalangan yang dialami
"Eh ada pengantin baru, bukannya lagi bulan madu?" Usil sang sekretaris sambil tersenyum
"Hahaha bulan madu ku akan setiap hari nantinya" Haris menjawab dengan yakin kalau itu yang akan dilakukan
"Saya sangat percaya, karena pak Haris sampai terkuras energi seperti ini"
Memang energi ku terkuras, tapi bukan untuk bulan madu tapi karena batin
"Benarkah, mungkin aku terlalu merindukan bos kita" seketika berpaling pada Shakil dengan senyum menyedihkan
Kini meeting telah selesai, sekertaris Shakil pun sudah menyerahkan beberapa berkas pada bosnya yang baru saja di bahas sewaktu online tadi. Dia juga segera menutup laptop karena rasa ingin tahu yang sangat amat tinggi tentang kisah malam pertama sahabat terbaiknya itu.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" Shakil tersenyum sambil berjalan ke sofa agar percakapan mereka lebih ih santai lagi.
"Ini, aku kembalikan!" dia menyerahkan paket bulan madu hadiah dari Shakil untuknya.
"Kenapa?" tanya kembali
"Tidak ada bulan madu untuk bulan ini" jawab Haris dengan suara kehancuran
"Kau bertengkar dengannya?. Ayolah, mereka masih ih belum begitu dewasa. Kamu harus terus merayu agar gadis itu mau memberikan apa yang kamu inginkan" Shakil berusaha menyemangati
"Apanya yang harus di rayu? Walaupun aku bisa memeluk dan menciumnya setiap saat, tapi tidak bisa malam pertama dengannya" wajah Haris begitu menyedihkan, dia bersandar di sandaran sofa seperti hanya dirinyalah yang yang paling tidak beruntung di antara pengantin-pengantin lainnya
"Kenapa? gadis itu tidak memilikinya?" tanya Shakil
Sontak Haris kaget dengan pertanyaan aneh itu "Memiliki apa?"
"Memiliki surga kenikmatan" jawabnya polos
"Kau gila!, mana mungkin Haris yang tadinya stress malah jadi tertawa "Dimana jalan pikiranmu sampai berpikir seperti itu?"
"Lalu apa yang kamu gelisah sehingga tidak bisa bulan madu?"
"Maksudnya? Dia sedang berhalangan?"
"Hm" Jawabnya penuh emosi
"Hahaha!," Kantor itu dipenuhi dengan gelak tawa Shakil yang teramat sangat bahagia
"Kenapa? Kau puas, aku mengalami hal seperti ini?"
"Sangat puas, hahaha..." Masih terus dengan gelak tawanya
"Bagus, memang seharusnya aku tidak pergi ke tempat ini. Kakiku melangkah ke tujuan yang salah," Haris merajuk
"Ayolah, hanya satu minggu. Bukankah kau bisa menahannya bahkan sampai seusia ini." Shakil mencoba menenangkan Haris namun ternyata salah di matanya
"Menahan?. Segampang itu kau mengatakannya?. Aku bisa menahan seumur hidup, kalau saja tidak satu kamar, satu udara, dan satu ranjang dengan gadis itu. Ini bagaikan aku sedang haus di padang pasir lalu kemudian melihat telaga, namun dipenuhi ratusan ekor buaya. Begitulah sekarang rasanya" Haris mendramatisir masih dengan emosi
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan Anna kembali ke orang tuanya dulu saja" Shakil mengejek namun siapa sangka itu memang benar sudah dilakukan
"Sudah kulakukan," jawabnya santai
"Apa!" Shakil terkejut "Kau benar mengembalikan dia kepada orang tuanya?. Hei, ini baru berapa hari pernikahanmu? kau sudah gila ya!. Apa kata orang tuanya nanti?"
"Entahlah, pandai-pandai Anna saja" jawabnya tidak perduli
"You are crazy" Shakil menggeleng tidak habis pikir. "Lalu untuk apa kau kesini?"
"Apa lagi!, ya bekerjalah. Bukankah kau sangat merindukan ku?" jawab Haris
"Tidak!" Tegas Shakil "Aku masih memberikanmu cuti ya, jangan coba-coba merubahnya untuk hari-hari esok.
"Ayolah pak Shakil yang terhormat. Saya akan bekerja sekarang dan mengambil cuti mungkin Minggu depan"
"Tidak bisa. Sekarang kau yang cuti ,dan Minggu depan aku yang akan mengambil cuti itu untuk mempersiapkan kelahiran anakku. Kenapa kau tega," Shakil mengiba
"Baiklah, Aku tidak akan mengambil cuti bulan madu. Bahkan untuk minggu depan juga" Haris mengalah. Karena, memang kondisinya sangat terjepit dan tidak bisa kalau dia harus ambil cuti, bagaimanapun kelahiran anak Tuannya adalah yang nomer satu
"Bagus, memang semestinya begitu. Bukankah sudah diagendakan, bahkan aku telah mengalah kemarin karena acara pernikahan mendadak".
***
Percakapan mereka masih terus berlanjut, namun sekarang belok ke arah pekerjaan. Shakil juga mengambil cuti, bukan berarti tidak ikut campur dalam perusahan nantinya, dia akan tetap kerja namun di rumah dengan cara online. Yang pasti tujuannya sekarang adalah tidak sabar menanti kedatangan anggota baru di keluarga kecilnya
Saat sedang sibuk membahas ini dan itu dengan Haris, seperti biasa di jam yang sama Dahlia datang, entah apa yang akan dibahas, sampai seolah tidak ada habisnya ke kantor setiap hari
"siang pak Shakil" dia datang dengan rok diatas lutut sengaja mengekspos putih dan mulusnya kaki itu
"siang" keduanya berbarengan!
"ada yang bisa dibantu?" Haris seperti biasa sigap pada setiap tamu yang datang
"ini?" malah Dahlia yang heran melihat sikap Haris
"dia Haris, asisten pribadi saya. Dan Haris! kenalkan ini Dahlia sekertaris pak Rudi" dan kemudian keduanya berjabat tangan
__ADS_1
ya Tuhan. bukan hanya bangunan kator ini yang sempurna, bahkan orang-orangnya didalamnya pun sangat sempurna
bersambung