
"apa???" Haris bagaikan tersengat listrik dengan tegangan dua ribu Volt, yang baginya sangat pedih sampai udara saja tidak mampu dia hirup lagi
"maaf, ini salahku"
"tidak" Haris mengatur nafasnya "yang salah nasib ku" masih dengan wajah shok
"om kecewa ya" Anna semakin tidak enak hati
"kecewa? hahaha" tawa paksa "mana mungkin. bukankah memang sudah waktunya?" pria itu berdiri dengan lutut yang terasa kosong.
memang, pernikahan kita salah tanggal
"om... mau kemana"
"a.. aku! aku mau minum, yah minum" dengan beberapa anggukan kepala, haris merambat menarik rohnya kembali yang tadi sempat keluar dari tubuhnya
"maaf!" Anna tertunduk murung
"hei. kenapa seperti itu"
"aku bukan istri yang baik. baru nikah aja udah bikin om gak nyaman"
"nyaman" gercap Haris "nyaman sekali. ya.. memang kita menikah seharusnya jangan terburu-buru, mungkin Minggu depan lebih baik"
"jadi om nyesel nikahin aku lebih awal"
"bukan, bukan... maksudku..." Haris tidak dapat memberikan lagi alasan, "duh, bagaimana maksudnya ya..." karena malam pertama yang gagal membuat otak Haris jadi kosong, dia bahkan tidak bisa berpikir apa-apa lagi
"yasudah lah, kita pulang aja yuk"
"tapi kan..!!"
"ya percuma juga disini gak ngapa-ngapain"
"ehem" Haris bangkit dan mendekati istri kecilnya "emang maunya diapain?"
"ih om" sontak Anna mundur kebelakang dengan menutup dada dengan kedua tangannya "om mau ngapain?"
"kan kamu yang ingin diapa-apain."
"maksudnya..."
"maksudnya kita bisa menciptakan hal lain yang lebih seru, kalau gak bisa ngapa-ngapain, kan kamu bisa diapa-apain" Haris terus mendekat pada Anna sampai membuat gadis itu semakin mundur ke belakang
"oh mau apa?"
"mau ini." Dengan berbisik geli di telinganya Haris langsung menggelitik kedua pinggang Anna
__ADS_1
"Om jangan hahaha... geli hahaha..."
"benarkah? tapi aku tidak merasakan apa-apa" Haris pun tersenyum dengan tidak berhenti terus menggelitik nya
"Om geli, aku gak kuat hahaha... Om udah ah nanti aku mati.."
"mana mungkin bisa mati" Haris menghentikan nya namun tangan itu masih melingkar di pinggang
"bisalah. aku kan jadi enggak bisa nafas karena terus tertawa"
"baiklah, baiklah, maaf ya sayang" Haris mencium kening Anna dengan pelukan yang hangat
***
di kediaman Amir
"haahh.. lelahnya" Nabila menjatuhkan tubuhnya ke kasur
"hei....!!!" Shakil teriak karena terkejut kenapa tidak hati-hati. "ya ampun Nabila kamu sedang hamil kenapa seenaknya menjatuhkan tubuh seperti itu"
"kakak kenapa sih, semakin ke sini semakin bawel. aku juga punya perasaan kali aku yang punya perutnya juga"
"bukan bawel, tapi kamu tidak hati-hati. memang kamu yang punya perut tapi kalau ada apa-apa kamu bisa ke dokter sendiri?"
"ih ngomongnya gitu banget sih, ucapan itu adalah doa tahu nanti kalau aku beneran kenapa-napa gimana?"
"dengar, tinggal menghitung Minggu kamu akan segera jadi ibu. Kalau terus seperti ini baby kita akan menganggap kamu kakaknya." Shakil dengan gemas merapatkan kedua gigi sambil mencubit hidung Nabila
"hahaha bagus dong, jadi aku aku terlihat awet muda terus
"dasar nakal,' lagi-lagi shakil mencubit hidung Nabila sambil berjalan menuju kamar mandi
"aw!! sakit tahu. kakak jahat ih, hidung aku jadi merah,"
"biarkan saja" teriakannya dari dalam kamar mandi tidak perduli
"ich dasar. gak sayang, yaudah"
Saat Nabila baru saja ingin melepas pakaiannya lagi-lagi ponsel Shakil bergetar dengan nama panggilan sekretaris pak Rudi
"ich.. ini orang nggak bosen apa telepon kakak mulu. lihat aja aku kerjain"
"ehem.." Nabila mengangkat panggilan dari Dahlia dengan suara cara agak serak
"Halo selamat malam!".
"malam maaf ini dengan siapa?" tanya Dahlia di seberang panggilannya
__ADS_1
"loh harusnya saya yang bertanya kamu siapa malam-malam seperti ini telepon anak saya" Nabila tidak kuat menahan tawa membayangkan betapa terkejutnya Dahlia di sana
"oh Tante, maaf!! saya sekretaris pak Rudi, rekan bisnis pak Shakil
"Apakah ada hal yang penting sampai telepon jam segini?,," suara Nabila berusaha lebih dipertegas lagi
"oh tidak, tidak tante.. tidak ada hal yang penting..'
"kalau begitu kenapa masih telepon.. lain kali jangan dibiasakan menelpon seorang pria di bukan jam kerja paham, Nabila perutnya terasa keram karena menahan tawa. dia berharap setelah kejadian ini Dahlia tidak lagi menelpon suaminya malam-malam
"ma.. maaf Tante, kalau begitu selamat malam, selamat istirahat" dengan menutup teleponnya Dahlia sedikit bingung bukankah Nabila istri Amir tapi kenapa apa sekarang ada ibunya Shakil. malam ini bagaikan malam yang gelap gulita tanpa cahaya bagi Dahlia, di satu sisi tubuhnya bergetar karena dapat teguran tidak enak dari ibunya Shakil namun di sisi lain dia kebingungan keluarga pria yang dia suka mengapa latar belakangnya begitu rumit
sedangkan di tempat lain Nabila tidak kuat lagi melepaskan tawanya begitu bahagia, membayangkan betapa takutnya suara Dahlia yadi
"kamu kenapa?" Shakil berdiri di depan pintu kamar mandi di sambil mengeringkan rambutnya
"nggak ada apa-apa," Nabila segera meraih handuk miliknya sambil berjalan menuju kamar mandi "habis nonton komedi lucu banget hahaha."
"kamu yakin nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan?" Shakil yakin setiap kali Nabila tertawa seperti itu pasti dia habis melakukan hal yang tidak masuk akal
"tenang aja hanya sedikit hiburan" Nabila mengedipkan sebelah matanya sambil masuk ke kamar mandi dengan menyentuh lembut dada suaminya
"kau!!!" sigap tangan itu langsung dicengkram kuat oleh pria yang tiba-tiba tubuhnya memanas, "Ada apa ini, berani menyentuh sembarangan maka harus bertanggung jawab". lalu menarik Nabila ke pelukannya
"kak aku belum mandi", gadis itu memberontak kecil tidak mau tubuh suaminya kotor kembali karena keringat yang masih nempel di tubuhnya
"ada masalah?" wajahnya mendekat begitu saja lalu mencium sekilas bibir Nabila
"masalah lah, kalau kakak kotor otomatis harus mandi lagi, dan kalau kakak mandi lagi nanti kakak sakit, kalau kakak sakit siapa yang jaga aku, kalau nggak ada yang jaga aku, aku nanti lahiran sendiri, kalau lahiran sendiri baby-nya nanti bingung ayahnya siapa, dan kalau baby-nya bingung....."
bibir yang dari tadi tidak berhenti bicara, sekarang langsung terkunci dengan ******* lembut dari Shakil. sampai tak sadar perlahan tubuh gadis itu semakin terdorong hingga kakinya mentok di ujung tempat tidur, Tampa mau melepaskan lumatannya Shakil menjatuhkan tubuh istrinya perlahan hingga ke posisi yang tepat
"kakak" Nabila melepaskan ciuman panasnya
"kenapa?"
"kalau aku sudah melahirkan apa aku harus menyusui juga?"
"kenapa menanyakan itu, bukankah asi adalah susu terbaik untuk bayi"
"tapi setelah itu tubuh aku pasti tidak seperti dulu lagi"
"lalu?"
"nanti kakak gak akan suka lagi sama aku," celetuk Nabila dengan polosnya
bersambung
__ADS_1