
Karena terharunya pertemuan ibu dan anak itu akhirnya Anna pun ikut menitikkan air mata, dia sangat sedih, andaikata apa yang Harris rasakan sekarang itu ada di posisinya pasti dia juga akan merasakan hal yang sama. Tapi ini membuat Anna semakin kesal pada pria yang membawanya ke sana, dengan tujuan apa sampai bertahun-tahun tidak menemui ibunya bahkan kediaman kedua orang tuanya pun tidak jauh untuk ditempuh...
Setelah mendengar ada isakan tangis di belakang Rudi, barulah mereka menyadari kalau ada satu seorang lagi di antara mereka yaitu Anna juga hadir di sana
"Siapa dia..??" Suara khas seorang ibu yang lembut tiba-tiba melepaskan pelukan Haris dan beralih pada Anna
"Inilah calon menantu kita" Tiba-tiba Rudi memperkenalkan Anna lebih dulu sebelum Haris mengatakan apa-apa
"Benarkah" Dia baru saja ingin menggerakkan kursi rodanya untuk menghampiri Anna tapi Anna lebih dulu menghampirinya
Bagus, setidaknya dia masih sopan santun... Aku pikir sikap brutalnya akan membuat dia tidak bisa mengambil sikap seperti ini
"Hai tante apa kabar.. Aku Anna," Dia memberi salam dengan sopan
"Kamu manis sekali.. Silakan duduk di sini dan Maaf kamu harus menyaksikan drama tadi karena Haris" Ibunya Haris sangat menyambut kedatangan Anna
"Ibu sampai disinikah rasa rindumu padaku dan sekarang kau meninggalkan aku begitu saja demi wanita ini?" Haris cemburu melihat Anna diperlakukan sangat istimewa
"Sejak kapan kau posesif dengan seorang wanita?" Rudi merangkul bahu Harris dan dan membawa nya duduk di sebelah Anna
"Pah, kedatanganku kesini ingin meluruskan apa yang telah kau dengar di pesta hari itu"
"Aku sangat mengenalmu lebih dari dirimu sendiri,, Tanpa kau jelaskan aku sudah tahu apa yang terjadi, tapi apakah kamu bisa mempertimbangkan nya lagi demi aku dan ibumu yang sudah renta ini?" Rudi mulai menasehati Harris untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya
"Papa Jalan hidupku Masih rumit dan aku sendiri belum bisa menyusunnya dari mana aku harus memulainya lagi"
"Ada Apa denganmu? Anak kita baru saja menginjakkan kakinya lagi di rumah ini dan sekarang kau sudah menuntut dengan ini itu, biarkan dia istirahat dulu dan berikan sedikit waktu untuk berpikir." ibunya membela Harris
"Kita mau menunggu berapa tahun lagi untuk dia berpikir,, Selama ini dia berkeliaran di luar sana. Bukankah itu waktu untuk dia berpikir?"
Aduh kok suasananya malah memanas ya... ini sebenarnya ada masalah apa sih.. jalan hidup si jomblo karat aja aku gak ngerti. Apalagi ditambah dengan desakan kedua orang tuanya.. Pantes aja dia jadi monster yang nggak punya hati ternyata ini akar masalahnya
"Papa... ibu... Kenapa kita harus merebutkan hal yang tidak penting. Apakah kalian tidak malu kalau di sini ada seorang tamu?" akhirnya haris bisa mencairkan suasana yang menurutnya tidak akan ada ujungnya
"Benar kata putraku.. Apakah kau tidak malu kalau disini kita kedatangan tamu" Ibunya Harris ikut menyadari kalau pertengkaran yaitu tidak baik didengar oleh Anna
"Anna saya minta maaf karena kau harus menyaksikan ini semua" Rudi akhirnya mengalah...
"Tidak apa-apa... Aku bisa mengerti" Seperti bisa dia selalu menunjukan sisi positif kalau ada Dekannya
__ADS_1
"Kamu memang gadis baik.. pantas saja Haris mau membawa mu untuk menemui kami... dilihat dari usiamu sepertinya kamu masih sekolah?" ibunya Haris menggenggam tangan Anna
"Iya Tante.. Aku baru saja masuk kuliah dan kebetulan pak Rudi ini adalah Dekannya"
"Benarkah?!!! Kebetulan sekali. ini sangat bagus.. Oh ya... ibu sudah meminta Rima memasak makanan kesukaan kamu Haris" Rima adalah suster untuk mengurus ibunya.. dan dia juga suka membantu mengurus rumah tangga
"Kalau begitu kita langsung makan saja.. Aku juga sudah lapar.." Haris langsung menjawab karena dia tidak mau membahas tentang yang tidak mau dia dengar lagi
"Mari keruang makan" Rudi langsung mendorong kursi roda istrinya menuju ruang makan...
"Tunngu" Anna menahan tangan Haris yang baru saja ingin berlalu dihadapannya..
"Apa?"
"Dengar.. Om bilang kita ingin menyelesaikan masalah keteledoran aku kemarin?.. Ini kenapa kamu sama sekali gak bicara apa-apa..."
"Kamu tuli ya? Tidak dengar apa yang dikatakan papahku tadi? Dia tau itu semua hanya lelucon saja, jadi untuk apa aku bahas lagi.."
"b6agus kalau begitu.. Setelah ini aku tidak akan ada urusan lagi denganmu" Sekarang malah Anna yang berlalu meninggalkan Haris
"Eeeiittt.. Tunggu,," Haris menehan tangan Anna sebagai mana yang tadi dilakukan gadis itu pada dirinya
"Tidak.. Aku masih membutuhkanmu demi ibuku"
"Apa hubungannya denganku? Aku tidak mau.. tanggung jawabku hanya masalah ditempat sosis bakar.. dan karena ini sudah selesai maka jauh-jauh dariku"
"Kalau aku bilang aku mau kamu jadi pacar pura-pura ku bagaimana?"
"What" Anna setengah teriak tapi mulutnya terlebih dulu dibungkam oleh Haris karena papah dan ibunya langsung menoleh kebelakang dan tersenyum melihatnya
Kedua orang tua Haris berpikir kalau mereka sedang berbincang romantis ala anak muda jaman sekarang.. Maka dari itu ia tidak berkomentar apa-apa dan melanjutkan lagi berjalan keruang makan
"Kamu pikir ini dihutan? ykenapa harus teriak?" Haris melepaskan lagi tangannya dari bungkaman mulut Anna
"Aku gak mau.. Please!!! Tugas aku sudah selesai sampai sini,,. dan aku sama sekali tidak punya hutang apa pun lagi"
"Tidak bisa!!! Kamu masih banyak hutang padaku"
"Hutang apa?"
__ADS_1
"Pertama menipu dan meninggalkanku ditengah jalan.. dan yang kedua, mempermalukanku di depan toilet rumah Tuan Amir.. Dan kau harus membayar itu"
"Iihh curang... Yang pertama itu balas Dendamku Kana kamu udah marah-marah gak jelas tentang postingan itu, dan yang kedua bukan salah aku.. Memangnya aja Om yang mau pamer hahaha" Anna tertawa mengingat lagi kejadian yang ditoilet
"Pamer kau bilang" Haris mulai marah karena Anna menertawakannya lagi "Baiklah karena kamu yang katakan maka aku akan tunjukan apa itu pamer"
"Hay jangan macem-macem ya!!! Kalau nggak aku bakal teriak lebih keras lagi" Wajah Anna berubah merah padam
"Berarti kamu setuju jadi pacar pura-pura ku depan papa dan ibu"
"Gak nyambung, tetep aku gak mau ada urusan lagi sama kamu... Pokoknya urusan kita selesai sampai hari ini titik!!" Anna berjalan meninggalkan Haris
"Baiklah maka aku akan memaksamu" Haris pantang menyerah
"Paksa gimana juga gak akan mempan.. jawabannya tetap TIDAK" Tanpa menoleh Anna masih saja terus berjalan
"Kau yang mau dipaksa maka jangan salahkan aku kalau pulang nanti diperjalanan malam. Kamu tau sendiri sesepi apa daerah sini.. Dan aku akan mewujudkan kata-katamu di tempat sosis bakar itu jadi nyata" Haris mengancamnya
"Kamu jangan macem-macem ya" Anna marah bukan hanya menghentikan langkahnya tapi dia juga balik lagi menghampiri Haris
"Kamu mau bukti? Baiklah maka aku kan memberikan pemanasan lebih dulu agar nanti kau tidak kaget dan berisik" Haris mendorong tubuh Anna Kedinding dengan mencengkram kuat kedua tangannya
"Kau mau apa?.. Aku akan teriak biar papah dan ibu kamu lihat apa yang anaknya lakukan"
"Kalau aku membungkam ini dengan bibirku kamu bisa apa? Dan orang tuaku tidak akan komentar apapun seperti ekspresi nya tadi saat kamu teriak" Haris menyentuh lembut bibir merah muda Anna dengan ibu jarinya
Aduuuh gimana ini? Dia nekad banget si.. yaudahlah cuma pacar pura-pura aja gak rugi juga,, dari pada dia macem-macem
"Oke.. Oke.. Aku mau jadi pacar pura-pura kamu tapi ada syaratnya"
"Katakan?" Haris melepaskan Anna dengan sedikit puas disenyumannya
"Aku gak mau ada kontak pisik seperti tadi"
"Terserah...!! Lagipula aku tidak tertarik dengan tubuhmu" Haris merasa puas menang dari Anna dia langsung meninggalkannya begitu saja tanpa bicara lagi
"iiiihh kurang ajar.. "Anna merapatkan kedua giginya kesal "tiadi dia lakuain apa, dan sekarang bicara apa,, Aku kan bales kamu dasar jomblo karat kamu gak akan pernah laku sampai kapanpun.. sial.. sial.. sial!!?? " Anna mengeplkan kedua tangannya karena geram dan kemudian menyusul mereka keruang makan
Bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1