
Hari ini, sesuai rencananya dengan Anna. mereka akan pergi ketempat yang kemarin dibicarakan yaitu cafe depan kantor suaminya. setelah Shakil pergi keduanya pun ikut pergi tapi kali ini dengan izin kalau akan bertemu sahabatnya
setelah keduanya tiba dia langsung mencari tempat yang strategis untuk memantau gerak gerik pria-pria itu. Anna tidak lupa bawa teropong, dan Nabila pun bawa kaca pembesar persis detektif mencari bukti kejahatan
"kapan si kaktus kering itu akan muncul?" Anna coba mengintip dengan teropongnya
"biasanya makan siang sih"
"Nabila!!" Anna teriak sambil memukul bahu temannya
"aaw!! sakit Na, apa sih?"
"lo gila!!" marah
"apa?"
"kalau dia datangnya siang, lalu untuk apa kita sepagi ini nangkring di sini!!"
"ya nggak apa-apa dong, kita harus lebih awal. kalau siang takut malah telat datangnya."
"makan siang jam 11.30, dan sekarang jam 07.00 pagi. ini lebih ke sarapan Nabila cerdas"
"hehe.. kepagian ya?" Nabila menggaruk kepalanya yang tidak gatal berlaga polos
"bahkan cafe ini aja belum menyiapkan apa-apa untuk dimakan, kita lebih pagi dari karyawanya"
"terus gimana?"
"mau gimana lagi, kita tunggu aja sampai makan siang semoga aja pelayan di sini nggak bosen lihatnya"
"hehehe maaf"
dia lagi sensi. salah aku ngajaknya pagi-pagi, hahaha.. Nabila kamu memang bodoh
selama beberapa jam kemudian, keduanya ngobrol hilir mudik, semua yang tidak penting pun dibicarakan dari hal serius tentang sekolahnya, menuju ke karir selanjutnya, membicarakan juga kisah malam pertama, sampai menggosip dari mulai si A sampai si Z jadi bahan pembicaraannya
bukan hanya itu makanan, minuman, dessert, serta buah. semua menu yang disiapkan cafe tersebut sudah mengantri bergantian di meja mereka.
"aduh bil perut gue udah nggak kuat nampung lagi" Anna bersandar sambil mengelus-elus perutnya kekenyangan
"Sama gue juga kenyang banget" Nabila pun menyandarkan tubuhnya juga
"Kita nggak bakat jadi detektif ya"
"iya!"
__ADS_1
"berapa lama lagi dia datang?"
"harusnya sih sekarang"
sesaat mereka berdua terdiam karena perut yang begah. jangankan bicara, otak saja rasanya sulit untuk berfungsi. tapi setelah itu ada satu mobil berhenti depan kantor. akhirnya yang ditunggu datang juga, seorang gadis cantik dengan tubuh yang cocok untuk julukan seorang model, cara berjalan , maupun saat dia bicara dengan security saja, semuanya tertata dengan elegan dan sempurna
"nah itu dia makhluknya" Nabila segera bangkit dari sandaran malasnya
"mana?" yang diikuti oleh Anna juga siap dengan teropongnya "wah parah dia sih cantik banget," Anna kemudian menatap Nabila dari atas sampai bawah lalu mengintip lagi di teropongnya
"eh" pukulan keras mendarat di pundak Anna
"apa sih bil?"
"maksud lo apa bilang dia cantik terus liatin gue?"
"hehe.. bukan gitu. gue harus tau pasti dong kalau Lo tuh bukan tandingannya"
"dih jelas bukan lah. gue tuh masih muda, kenceng, sexy, original."
"nah makanya, kita gak perlu khawatir dong sama dia"
"harus lah, karena jaman sekarang penculik bapak-bapak lebih serem dari penculik anak-anak"
"jangan, tunggu sebentar. tadi pagi gue denger kakak mau ada survey lokasi sama si kaktus ini, tempatnya gak tau yang pasti kita ikutin aja"
"ok.."
benar saja yang gadis itu katakan, mobil Shakil keluar dari basement dan parkir tepat depan lobby. si pengemudi yaitu Haris turun dan membukakan pintu untuk bosnya masuk, yang diiringi juga Dahlia. padahal dia sendiri bawa mobil tadi waktu ke sini, tapi entah kenapa malah jadi satu mobil dengan mereka
"bil lihat deh. mereka udah mau cabut"
"iya, ayo kita ikutin"
keduanya pun segera mengendap-endap keparkiran. setelah mobil Shakil keluar gerbang, mobil Nabila juga ikut menguntit dengan jarak yang agak jauh.
setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. akhirnya terhenti sudah, lajuan mobil yang ada di depannya di sebuah tanah lapang yang jauh dari jalur lalu lintas. bahkan dilihat dari mana saja lokasi ini sangat tidak strategis untuk di jadikan tempat-tempat ramai pengunjung
kedua gadis itu masih saja memantaunya dengan peralatan yang ada, bagaimana cara Dahlia menatap Shakil juga Haris penuh harapan, gaya bicaranya juga yang seakan menggoda, apalagi saat dia berjalan dengan hak sepatunya yang jeblos di gempuran tanah lunak, begitu manja memegang Shakil dengan gaya menggoda. semua seperti sudah di rencanakan olehnya begitu sempurna
"wah bil, dia sih parah. kita gak bisa diem gini aja"
"tapi disini sepi. masa kita langsung turun dan langsung Jambak dia, gak elegan lah. malu sama kakak"
"iya juga sih, terus gimana? kamu rela dia terus berulah kaya gitu sampai minta gandeng segala lagi" Anna juga ikut panas melihatnya
__ADS_1
"gak lah"
"so!!"
Nabila berpikir sejenak, memutar otaknya yang kosong tanpa ide apapun.. kalau untuk turun tiba-tiba di sini Shakil pasti marah karena mengikutinya. mau mengerjai Dahlia pun, lokasinya sangat berbahaya untuk Nabila sendiri
Tiba-tiba dia teringat kejadian kemarin di cafe betapa suaminya tidak peduli dengan hal lain setelah dia menggodanya
"nah gue tau" lalu mengambil ponselnya.
"mau apa?"
"Lo liat aja" Nabila segera melakukan panggilan suara dan membesarkan volumenya agar Anna juga bisa dengar
aku memang gak bisa samperin kakak, tapi aku bisa bikin dia sibuk sama cintanya haha
setelah panggilan itu terhubung
"hallo sayang"
"aku kangen" suara Nabila dibuat semanja mungkin
"wah tumben" terlihat dari kejauhan Shakil tersenyum
"gak tau.. tadi aku kekantor tapi kakak gak ada, padahal udah kangen banget mau peluk"
"maaf ya sayang, kakak lagi di luar ada survey lokasi, gak lama kok. kamu tunggu di kantor aja, nanti kakak peluk lebih dari yang kamu mau"
"tapi sebelum itu, boleh kan sambil telepon kaya gini?" Nabila semakin manja sedangkan Anna hanya bisa geleng kepala dengan ide hebat ini
"tentu saja, kesayangan kakak hari ini manja sekali" lagi-lagi Shakil tersenyum bahagia dengan keinginan istrinya
"tapi nanti jadi ganggu, kakak kan lagi sibuk, gak enak lah sama yang lain"
"udah tenang aja, yang lain gak penting untuk kakak" jawabnya singkat, namun itu membuat Dahlia jadi terkejut
itu pasti Nabila, sesayang itu dia sama adiknya sampai ada wanita cantik dan sexy kaya aku aja dianggap tidak penting
dari sana terlihat, kalau wanita yang tadi sempat coba cari perhatian, sekarang mulai tidak bersemangat, didalam pikirannya Shakil adalah pria idamannya, tapi kenapa sangat sulit untuk membuat dia menatapnya walau sebentar.
tapi dia tidak putus asa. kemudian wanita itu mencoba lagi cari perhatian, dengan berlaga terperosok sampai mengeluh kesakitan.
Anna yang kesal melihat itu mengisyaratkan pada Nabila dengan bahasa tubuh, kalau Dahlia hanya pura-pura. tapi sayang sekarang yang sigap malah Haris, dan ini semakin membuatnya geram
bersambung...
__ADS_1