ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
61. Pertemuan Amir dan Max


__ADS_3

di jerman


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Amir


"Dia ada alergi daging. Itulah kenapa dia masuk rumah sakit. Tapi besok juga dia akan kembali" Jawab Shakil dengan wajah datar


"Ini artinya bagus dong.. Tapi kenapa wajahmu seperti ini?" Amir heran dengan sikap Shakil yang tiba-tiba berubah setelah menerima telepon


"Alex kembali ke Indonesia dan dialah dokter yang menangani Nabila"


"Apa masalahnya?" Amir mengerti maksud Shakil tapi dia juga tidak ingin anaknya berlarut-larut dalam kesedihannya


Aku tidak bisa membohongi perasaanku.. Walau Nabila adalah istriku tapi Lexa masih ada dihatiku, Alex kembali dan ini mengingatkanku padanya lagi


"Tidak apa? Aku hanya sedikit mencemaskannya saja" Shakil kembali lagi pada berkas-berkas yang ada ditangannya


Setelah urusan mereka selesai Amir dan Shakil mengadakan pertemuannya dengan keluarga Siska Dihotel... Dan hari ini lah yang sudah Shakil tunggu-tunggu dimana dia akan meluruskan permusuhan antara orang tua Siska dan Amir.. Agar dia bisa hidup tenang bersama istrinya


"Kau,, Haha ternyata kau masih bisa bernapas, Aku pikir setelah sekian lama kau menghilang kau sudah menjadi tulang didalam tanah" Sambutan Amir pada Mr,X/Max (Ayah Siska)


"Sempurna? Kau menyapaku dengan sangat manis, Dan aku akan sangat terharu dengan itu" Jawab Max dengan tampang sinis


"Tentu saja itu adalah ungkapan kasih sayang ku padamu?" Balas Amir sinis.

__ADS_1


"Menarik sekali. Bukankah kau harus lebih lembut sedekit pada besanmu ini, Dan bersiaplah membuat surat wasiat untuk ahli warismu nanti" Max berpikir Shakil telah meniduri anaknya dan akan segera meminta pertanggung jawaban untuk itu


"Tentu saja aku sudah menyiapkan seluruh warisan untuk cucuku nantinya.. Dan perusahaanku yang disini aku akan segera mengurus pengalaihan nama kepemilikan pada menantuku secepatnya" Amir memang merencanakan itu untuk Nabila karena seluruh harta Harun dia berikan untuk perasaan ini


"Wahh kau bertindak terlalu cepat kawan, Apa yang membuatmu berubah secepat itu. Apa karena Siharun sialan itu sudah tiada jadi kamu takut menghadapi ku sendri?" Max masih terus mengira Amir benar-benar menerima Siska sampai secepat itu memberikan persahaanya pada menantunya


"Apa lagi yang harus aku lakukan, Bukankah sebagai orangtua harus rela memberikan apapun demi kebahagiaan anaknya" Kata-kata Amir menunjukan seolah-oleh dia menyerah demi anaknya


"Baiklah sepertinya kau tidak sabar menantikan seorang menantu" Senyum gembira di bibir Max karena dia akan mendapatkan apa yang dia incar selama bertahun-tahun


"Aku yang tidak sabar atau kau MAX?" Amir menyindir


"Ayolah besan. Kau tidak melihat anak-anak kita saling mencintai" Max melirik pada meja yang berada agak jauh darinya dimana Shakil dan Siska tengah makan bersama


"Bukankah anakku lebih menjaga kehormatannya sebagi seorang pria, bagaimana bisa kamu beranggapan dia pernah melakulannya bersama putrimu?" Amir menyindir karena melihat tingkah Siska yang seperti cacing kepanasan saat berdekatan dengan Shakil


"Tidak lihatkah kau bagaimana putrimu mengganggu anakku dan ketenangan keluargaku. Apa yang kamu inginkan untuk melepaskannya dari kejahatanmu" Amir mengajukan tebusan


"Kau selalu bisa menebak niatku. Tidak bisakah ku menebak keinginanku. Kembalikan kedudukanku seperti dulu dengan bunga lima kali lipat sebanyak harga perusaahannku. Maka aku akan melepaskan mu dan juga keluargamu" Melirik dengan sisnis


"Kau bangkrut karena keteledoranmu. Kau terlalu berambisi demi uang. Kau menggunakan cara licik untuk mendapatkannya. Tapi aku.. aku mendapatkannya dengan otakku dan kerja kerasku.. Walaupun kau mengambil seluruh hartaku aku akan tetap berdiri dengan kedua kakaiku. Karena aku bisa membangunnya lagi.. Tapi kau. Walaupun dunia ini milikmu. Tetap saja kau akan jauh dibawahku jika cara mu masih sama seperti ini" Dengan santai Amir merendahkan Max dengan kenyataannya


"Beraninya kau mengatakan itu padaku.. Kau sangat tau betul aku bisa melakukan apa pun demi tujuanku" Max meradang dan mengepalkan kedua tangannya

__ADS_1


"Haha tentu saja aku sangat tau apa yang bisa kau lakukan padaku. Tapi maaf kau tidak akan bisa menyentuh keluargaku walaupun raga harun tak lagi bersamaku. Tapi jiwanya masih ada dihatiku" Dengan kesombongan Amir menakut-nakuti Max "Ini kesempatan terakhir jika kau masih ingin menjodohkan anakmu dengan putra ku.. Kembalilah ke Indonesia. karena aku tidak mau menjalani pernikahan anak tunggalku dinegara orang" Amir berdiri dan mengisyaratkan Shakil kalau dia sudah selesai berbincang


"Tentu saja dengan senang hati aku akan kembali demi kebahagiaan anak kita" Senyum semringah terpancar dari wajah Max


Setelah itu Amir dan Shakil meninggalkan hotel itu dan kembali kediamannya.. Diperjalanan dia membahas untuk kedepannya rencana mereka.. Yang terpenting sekarang menyeret keluarga Siska dulu kembali ketanah air. Dan dengan mudah dia menghancurkannya sekaligus


Dirumah Sakit


"Malam Nabila?" Alex datang untuk memeriksanya sebelum dia pulang


"Malam dok" Nabila menjawab


"Sepertinya kamu sudah membaik?.. Kita lihat besok jika lebih baik dari hari ini kamu boleh pulang?" Dokter tampan itu mengembangkan senyuman yang sangat sempurna dimata kaum hawa


"Terima kasih dok?" Nabila membungkukan kepala sopan


Gadis ini cantik sekali. Wajahnya sangat imut. senyumannya kenapa bisa semanis itu shi.


"Jangan sungkan panggil aja kakak. Aku seperti anak bunda juga, Coba kulihat tangannmu apa masih gatal?" Alex memegang tangan Nabila dan mengelus-elus pelan bermaksud perhatian tapi malah membuat Nabila tidak nyaman.. Dia takut Bundanya lihat, Jadi repleks dia menarik tanyanya dan hampir saja infusannya lepas


"Aaawww" Nabila meringis kesakitan


"Kenapa kamu tarik.. Maaf bukan maksudku tidak sopan aku hanya memastikan kulitmu tidak berbekas nantinya... Sekali lagi aku minta maaf" Alex merasa sangat bersalah

__ADS_1


Benar dia gadis murni, Baru aku menyentuh tangannya saja* dia sudah ketakutan seperti itu. haha menarik sekali*


Bersambung❤❤❤


__ADS_2