ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
161. Cara untuk minta maaf


__ADS_3

Mira dan Amir menghampiri anaknya.. Mereka sangat khawatir karena tidak biasanya Shakil berteriak sekeras itu, ditambah lagi Nabila berlari keluar sambil menangis pasti dia sudah melakukan hal yang fatal kepada menantunya


"Ada apa ini nak?" Amir terkejut melihat tumpahan kopi


"Nabila yang melakukannya" Shakil melemahkan nada suaranya dan ambruk dikursi


"Kau memarahinya tadi?" Tanya Mira


Shakil terdiam, dia sadar tidak seharusnya Nabila dibentak seperti itu.. semua ini karena kekhawatirannya pada perusahaan sampai khilaf seperti tadi


"Aku menyesal"


"Ini semua karena ayah" Amir menghampiri anaknya lalu menyentuh pucuk kepalanya "Jangan lupakan kesalahan ayah pada Nabila.. dia sedang hamil"


"Bunda akan melihatnya" Mira berjalan keluar ruangan itu dan berpapasan dengan Anton yang tergesa-gesa


"Maaf Nyonya, nona Nabila pingsan dibawah eskalator.. saya tidak tau dia terjatuh dari tangga atau tidak!!"


"Apa???!!!" mereka terkejut berbarengan


Shakil yang mendengar itu langsung berdiri dan berlari.. tapi karena ada sisa-sisa tumpahan kopi dilantai dia terjatuh dan dipikirannya, ini adalah karma karena dia sudah membuat anak dan istrinya kecewa... dengan langkah kaki yang tidak stabil Shakil berlari lagi tidak perduli berapa sakit lututnya yang penting saat ini adalah Nabila


"Nabila sayang, ada apa denganmu?" Shakil memeluk tubuh lemah gadis itu serta mengusap air mata yang sempat mengalir diwajahnya "Maafin kakak sayang.. Maaf"


"Bagaimana ini?" Mira sudah sama paniknya


"Aku akan membawanya kerumah sakit" Shakil langsung menggendong Nabila.. walaupun kakinya terluka, tapi ini tidak ada apa-apa dibandingkan sakit yang Nabila alami saat dia memarahinya


"Ayah yang bawa mobil" Saran Amir


Diperjalanan Shakil tidak berhenti menciumi wajah Nabila.. dia Sangat menyesal atas apa yang terjadi. Kata maaf sudah diucapkan puluhan ribu kali tapi tetap itu semua tidak akan tergantikan dengan rasa bersalahnya..


Di ruang IGD, tangan Nabila sudah terpasang infusan. Dokter juga menyarankan kalau Nabila tidak boleh stres, ini akan berpengaruh buruk untuk kandungannya.. Dokter itu bilang Nabila pingsan dikarnakan kram tapi dipaksa untuk berjalan.. dan dia juga menyarankan agar hal itu jangan terjadi lagi..


bukan berjalan lagi tapi dia berlari itulah jadinya Nabila tidak sadarkan diri


Shakil yang mendengar penjelasan dari Dokter tidak habis-habisnya mengucapkan maaf pada Nabila tapi gadis itu masih saja menutup mata.. Dokter sengaja memberinya obat penenang agar Nabila bisa istirahat sampai besok pagi..


***

__ADS_1


Diruang perawatan


Lutut Shakil diperban karena terpeleset ditambah lagi tangannya juga ikut diperban akibat memukul dinding rumah sakit, dia tidak bisa berhenti memikirkan rasa bersalahnya pada Nabila.. Shakil terus mengelus-elus perut Nabila dan meminta maaf sampai pagi dia tidak tidur terus menatap istrinya


"Bunda" suara serak Nabila ketika melihat Mira duduk disofa


"Iya sayang, kamu udah bangun" mira menghampirinya


"Sayang kamu udah sadar" Shakil berdiri dan membelai rambut Nabila


"Bunda aku mau minum" Nabila sama sekali tidak mau melihat kearah Shakil padahal dia tau saat bangun tidur pria itu masih saja menciumi tangannya dengan puluhan kata maaf


Shakil memberikannya pada Nabila namun dia diam saja dan akhirnya Mira yang membantu Nabila untuk minum.. Mira memejamkan matanya pada Shakil berharap anaknya mengerti kalau gadis ini butuh waktu


"Aku akan keluar sebentar" Shakil mencium kening Nabila lalu pergi.. dia harus memberikan istrinya waktu bersama Mira agar bisa lebih tenang dan memahami kalau dirinya sedang dalam kesulitan


"Bunda tahu kamu marah padanya. Bunda juga tidak akan memaksamu untuk memaafkan dia, bunda hanya ingin kamu dan bayinya sehat jadi jangan terlalu banyak pikiran" Tutur kata lemah lembut Mira sungguh membuatnya tenang


"Dia ada masalah tapi nggak jujur sama aku" Nabila menatap Mira berharap dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi


"Bukan tidak jujur!! tapi karena dia terlalu sayang padamu"


"Memang. tapi bagi dia tugas kamu untuk bahagia, dan jangan mikirkan hal-hal yang bukan tanggung jawab kamu"


"Kakak merasa aku butuh kebahagiaan, tapi gimana sama dia?... aku juga mau membuat dia bahagia Bunda"


"bunda ngerti. Kalau begitu kamu bicara dengan dia"


"Aku takut"


"Jangan takut.. dia sudah bunda jinak kan" Mira tersenyum yang dibalas dengan senyuman juga oleh Nabila, hatinya mulai lega tapi tetap ada rasa takut kalau membayangkan betapa menyeramkannya Shakil saat berbicara kasar padanya tadi malam


"Terima kasih bunda!!!" Akhirnya keduanya tersenyum sambil memeluk satu sama lain


Tok Tok


"Masuk" Suara sahutan Mira dari dalam ruangan


Pintu ruangan rawat inap Nabila terbuka, tapi yang terlihat bukan wujud manusia melainkan sebuah boneka teddy bear berwarna ungu sangat besar sampai menutupi tubuh seseorang yang membawanya...

__ADS_1


Nabila sangat terkejut melihat besarnya boneka itu sampai dia menutup mulut dengan kedua tangannya, tapi yang membuatnya lebih lucu lagi boneka itu sulit memasuki ruangan karena postur tubuhnya yang begitu besar sampai tidak muat di pintu dan ini membuat Nabila tertawa geli


Mira menghampiri si Teddy bear tersebut, dan ternyata dibalik tubuhnya ada Shakil sedang kesusahan mendorong boneka yang besar itu


"Ada apa denganmu?? Kenapa membawa boneka sebesar ini ke sini?" tanya Mira setelah melihat wajah anaknya


"Bunda!! ini untuk membujuk Nabila agar tidak marah lagi!!" Dengan polosnya Shakil masih saja terus mendorong agar boneka itu bisa masuk


"Haha.. Tapi bukan begini caranya!!" Mira membantu menarik boneka itu dari dalam, dan dengan heels yang lumayan tinggi, dia jadi dikerjai oleh anaknya


"Ini cara yang paling tepat untuk dia memaafkanku!!!.. Tarik sedikit lagi bunda" Bukan hal yang sulit untuk boneka itu memasuki ruangan tersebut, tapi Shakil tidak mau kalau tersangkut lubang kunci dan rusak nantinya


"Kalau kamu berbicara baik-baik juga dia akan memaafkanmu!!" Mira masih saja terus tertawa dan akhirnya boneka itu bisa masuk ke dalam ruangan


Ya Tuhan kenapa kakak lucu sekali... bisa mati aku kalau harus menahan tawa


"Huh.. Akhirnya bisa juga" Nafas Shakil sudah tidak beraturan seperti habis lari maraton


"Kamu mengerjai bunda ya? kenapa dari awal tidak membuka pintu yang satunya lagi aja dan kita tidak perlu bersusah payah seperti ini" Mira tergopoh-gopoh duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya


"Bunda kenapa gak bilang!!" Shakil sedikit kesal... rencana membuat surprise malah jadi di lelucon berantakan semua


Pintu ruang pasien ada dua daun pintu.. hanya saja memang yang terbuka satu, dan satunya lagi dibuka pada saat pasien masuk menggunakan tempat tidurnya seperti Nabila semalam.. Entah dimana jalan pikiran mereka sampai tidak sadar untuk membukanya.


ini membuat Nabila tidak berhenti tertawa tapi setelah Shakil masuk dia Hanya menyisakan sedikit senyuman. dan Shakil menyadari itu.. dia tahu kalau Nabila menahannya mungkin karena masih marah..


"Tunggu" Mira mencegah Shakil saat dia menggendong bonekanya lagi "Mau dibawa kemana?"


"Diberikan pada Nabila lah bunda" Jawabnya polos


"Kamu mau Nabila dan anakmu terjepit boneka besar itu???" Mira melarangnya


"Mana ada.. aku hanya ingin dia menerimanya saja.. bunda nih mematahkan usahaku sebelum berjuang"


"haha... baiklah, teruskan rencanamu.. lagipula bunda juga butuh oksigen karena ulah kamu" Mira mengambil tasnya lalu keluar ruangan dengan nafas yang tidak beraturan. karena di usianya yang sudah tidak muda lagi dia ikut susah sampai harus menarik-narik boneka demi perjuangan anaknya..


entah siapa yang memberi ide pada Shakil untuk membeli boneka sebesar itu, tapi semoga ini bisa membantu untuk Nabila memaafkannya


bersambung ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2