
Shakil terpaksa harus menghadiri panggilan pengadilan, Dia juga tidak mau masalah yang bukan dia buat akan semakin runyam nantinya kalau sampai tidak datang
Sedangkan Nabila dan Anna, masih disibukkan dengan penelitian masalahnya bersama pengacara yang hari itu bertemu di cafe.
Mereka kedatangan satu orang lagi yaitu si ahli waris penjual tanah tersebut, setelah mendengar titik perkaranya kini dia mengerti apa yang terjadi atas kesalahpahaman ini.. Untuk itu Nabila dan Anna bermaksud ingin mempertemukan mereka dengan Shakil di kantornya besok...
***
Malam hari Nabila pulang tidak terlalu larut hanya saja melewatkan makan malam, namun siapa sangka kalau Shakil sudah berada di rumah menunggunya bersama dengan Harris dan kedua orang tuanya yaitu Amir dan Mira..
Ruang tengah ini berubah menjadi ruang sidang.. Semua tatapan orang yang ada di sana nampak sangat serius terlebih lagi melihat suaminya yang sudah berdiri tegak dengan menatapnya tajam..
Untung saja dia tidak sendiri melainkan bersama Anna, karena Haris sudah menghubunginya untuk mengantar dia pulang kalau bertemu di rumah Nabila
"Bil, kenapa semua jadi terlihat horor?" Anna menyiku lengan Nabila sambil meremas ujung tasnya
"Gue juga nggak tahu.. Sekarang bener kan masih jam setengah delapan?.. artinya kita nggak kemaleman. Tapi kenapa semua serius ini?"
"Yaudah kita masuk aja dulu" Dorong Anna perlahan
"Hmm"
Keduanya melangkah berjalan menghampiri mereka yang masih lekat menatapnya. Nabila tidak berani menyapa Shakil, namun malah mendekati Mira dan Amir karena baginya hanya kedua orang itulah yang paling aman untuk saat ini..
"Bunda, apa Nabila melakukan kesalahan?" Nabila duduk disebelah Mira dengan jurus seribu manjanya
"Kamu tenang ya! Bunda akan membela kamu" Mira tersenyum sambil meremas tangan Nabila yang sudah dingin ketakutan
Nabila sadar kalau Shakil akan marah kali ini, karena dari kejadian yang dia tidak mau bicara saja, itu sudah menggambarkan untuk saat ini ada yang tidak menyenangkan... tidak ada yang bisa dia lakukan selain patuh dengan setiap kata yang akan keluar dari mulut Shakil
"Kau ini sebenarnya kenapa?" Keheningan itu dibuka oleh suara Amir "Tiba-tiba mengumpulkan kita di sini.. Apa ada yang darurat pada perusahaan kita?"
"Perusahaan memang sedang tidak baik, setiap hari aku berusaha untuk meluruskan semuanya, namun bagaimanapun juga pihak Bank memiliki surat tanah itu yang asli.. Kita telah tertipu ratusan miliar dan tentu saja harus mengorbankan dana perusahaan"
"Tidak bisa" Bantah Amir "Perusahaan itu adalah jantung dari perusahaan lain.. kalau kita korbankan maka semuanya akan hancur'"
"Kita tidak punya pilihan lain ayah"
"Bunda akan menjual semua perhiasan untuk menutupi kekurangannya asal jangan alihkan perusahaan kita"
"Itu pun masih belum cukup.. Ayah bisa lihat semua keuangan ini... dalam dua bulan semuanya merosot.."
"Aku juga tidak setuju" Nabila ikut bicara "Aku bisa bantu kalian"
Semua mata tertuju pada Nabila yang yakin kalau dia bisa bantu.. Tapi dilihat dari sisi manapun Shakil tidak melihat kalau istrinya bisa yang dirinya sendiri tidak mampu
__ADS_1
"Nabila.. untuk saat ini lanjutkan saja bermain-main dengan Anna" Ketus Shakil
"Kenapa? Kakak gak percaya aku bisa bantu?"
"Bantu apa? setiap hari kau membantuku dengan sibuk mencarimu dimana-mana!"
"Aku pergi karena ada alasannya"
"Memang.. tapi alasan yang tidak masuk akal.."
"Maksud Kakak?"
"Haris perlihatkan laporan kegiatan kedua gadis ini"
"Laporan?" Nabila menerima beberapa lembar kertas serta foto, sampai nomer plat mobil taksi online yang pernah dia tumpangi pun sudah terperinci dengan sempurna... namun kesalahan si mata-mata itu tidak tau maksud dari yang keduanya lakukan "Kakak nguntitin aku ya?"
"Apa salahnya?.. Bukankah itu adalah hak suamimu untuk tau dimana posisi anak dan istrinya"
"Berarti kakak gak percaya sama aku"
"Apakah pantas kamu mengungkit kepercayaan sama kakak dengan kebohongan yang terus kamu lakukan"
"Aku lagi bantu kakak"
"Bantu dengan izin party namun di cafe bersama pengacara genit itu... untuknya kamu berdandan seperti kemarin?"
"Buktikan ke salah pahaman itu dan bicara jujur.. apakah kamu tidak berbohong tentang party, jawab?" bentak Shakil
"Iya aku bohong"
"Hah.. apakah benar kalau hari itu kamu berdandan untuk bertemu pengacara genit itu?"
"Iya"
"Benar kau pergi ke suatu tempat dengan taksi itu?"
Nabila menjawabnya dengan anggukan karena memang semua itu benar
"Kau menemui seseorang di sana tanpa memikirkan perjalanan sejauh apa yang kamu tempuh pada anak mu sendiri?"
"Aku bisa jelasin tapi kakak jangan terus mendesak aku kaya gini"
"Jangan tutupi kebohongan kamu dengan kebohongan lainnya.. Tolong Nabila untuk saat ini cukup bantu suamimu dengan support"
"Sudah cukup" Amir menengahi pertengkaran anak dan menantunya "Kenapa jadi begini? Shakil, ayah yakin Nabila tidak mungkin melakukan semua itu kalau bukan ada alasannya"
__ADS_1
"Memang ada? yaitu mencari cadangan diwaktu suaminya jatuh"
"Kakak!!!" bentak Nabila dengan tamparan keras di pipi Shakil. jatuhlah air matanya dengan nafas yang berhembus cepat keluar masuknya oksigen ke paru-paru "Aku tidak menyangka kakak punya pikiran sejahat itu"
"Udah sayang" Mira meraih Nabila dan mendudukan kembali disampingnya menenangkan karena suasana sudah semakin panas
Gimana nih Nabila, aku harus apa?.. boleh tidak ikut bicara pada urusan mereka
Anna melirik pada Haris yang kebetulan memang sudah lekat menatapnya seperti ingin menelan gadis itu dari tadi.. Tapi karena keberaniannya yang melebihi Nabila dia tidak segan untuk menarik lengan kekasihnya keruangan lain menjauh dari mereka
"Ikut aku"
"Kebetulan ada yang harus aku perhitungkan juga denganmu"
Sesampainya ditempat sepi gadis itu mengeluarkan laptop Nabila yang masih dia pegang karena kesetiaan pada sahabatnya yang sedang hamil, dia tidak mau Nabila membawa yang berat di tasnya
"Apa ini?"
"Stt.. Kalau Om punya otak gunakan untuk lebih tenang sedikit. Karena aku bukan Nabila yang bisa menangis saat tersakiti kaya tadi"
"Apa maksudmu? kamu pikir tuanku menyakitinya"
"Om pikir, kejadian tadi emang gak menyakitinya?"
"Tapi memang nona yang salah"
"Jalan pikiran kalian yang salah"
"Ada apa denganmu?" Haris bingung dengan ketegasan Anna
"Hubungan kita dan mereka setatusnya masih berbeda. Kalau Om mau curiga sama aku sepeti yang terjadi pada Nabila maka aku kan melepaskan cincin ini sekarang"
"Kau mengancam ku?"
"Kalau om merasa terancam silahkan.. tapi aku gak mau memulai hubungan didasari dengan saling mencurigakan"
"Keadaannya memang seperti ini mana mungkin tidak curiga"
"Memang om tau apa yang kami bicarakan dengan pria itu?"
Haris menggeleng
"Lalu kenapa bisa langsung menyimpulkan kalau kita main gila? Ok.. sekarang Om mau dengar penjelasan aku dulu dengan bukti didalam laptop ini dulu!... apa tidak mendengarkan penjelasan dan aku akan kembalikan cincin ini?"
Tidak ada pilihan lain... Hati Haris memang sudah sepenuhnya tersimpan nama Anna. Kalaupun penjelasan gadis itu tidak sesuai dengan harapannya.. Tetap dia tidak mau Anna pergi dari hidupnya yang kini baru merasakan mencintai yang dicintai.. jadi keputusannya mendengar alasan
__ADS_1
Bersambung❤️❤️❤️