
Dikamar Nabila melemparkan tubuhnya kekasur dia merasa sangat lelah padahal biasanya jalan-jalan dengan GFG tidak pernah mengeluh apa-apa walau keliling kota sekalipun.
"Kakakkk!!!" Nabila teriak histeris saat Shakil membuka jas hitamnya
"Kenapa?" Shakil panik menghampirinya karena dia terkejut Nabila teriak sekeras itu
"Aku yang harusnya bertanya, kakak kenapa?" Nabila kembalikan tubuh Shakil melihat kemeja dipunggunggnya yang penuh dangan darah. "Kakak terluka? Kenapa banyak darah" nabila yang sangat khawatih langsung membuka kancing kemeja Shakil ingin memeriksanya
Shakil menghentikannya dengan memegang kedua tangan Nabila "Sayang, tolong tenang dulu ini hanya luka kecil dan dokter juga sudah mengobatinya"
"Tidak, Aku mau melihatnya. Apa yang ingin kakak sembunyikan dariku. Kakak terluka tapi tidak memberitahuku,...hiks hiks... Kakak jahat banget, Kakak gak anggap aku ini istri kakak ya?"
"Sayang, mana mungkin, kakak tidak mau kamu khawatir, ini luka kecil dan Haris juga semalam sudah membawa kakak kedokter kok" Shakil belum selesai bicara Nabila sudah berlari keluar dan tidak lama datang lagi bersama Haris, sedangkan Haris sendiri bingung tiba-tiba Nabila berlari menarik tangannya tanpa bicara sepatah kata pun lagi
"Ada apa ini tuan? Kenapa nona membawaku kesini?"
"Jelaskan padaku kenapa kakak terluka?" Suara Nabila meninggi
"Sayang, Sudah kakak kan udah bilang ini tidak apa-apa" Shakil mencoba menenangkan Nabila yang sangat panik melihat banyak darah di kemeja suaminya tadi
"Maaf nona ini semua salah saya?"
"Tidak, Haris ini bukan salahmu" Shakil sedikit meringis memegang punggungnya
"Apa anda baik-baik saja tuan? Saya akan memeriksanya" Haris memeriksa punggung Shakil dan ternyata jahitanya terbuka lagi makanya Shakil mengeluarkan banyak darah
"Kakak. Kenapa jadi gini" Nabila menangis tak henti-henti duduk disamping Shakil yang sedang dibersihkan darahnya oleh Haris
"Sttt kenapa nangis? Sini sayang" Shakil mengusap airmata Nabila sudah hari ini sudah terlalu banyak air mata yang kamu keluarkan"
"Aku gak mau kakak terluka"
"Tuan jahitanya terbuka lagi. Saya akan memanggil dokter Tito"
"Apa? kakak dijahit? Berarti lukanya parah dong?" Nabila langsung berputar memeriksa lukanya dan semakin terkejut lagi stelah melihat luka yang parah "Kita kerumah sakit sekarang ya"
"Gak usah sayang sini duduk" Shakil mengangkat Nabila kepangkuannya "Tito sebentar lagi datang dan akan menjahitnya lagi"
Dan tak lama Haris datang bersama Tito dengan membawa alat medis ditangannya langsung menangani luka Shakil, Nabila ingin turun dari pangkuannya malah ditahan "Jangan kemana-mana" Shakil memeluk kuat nabila karena menahan sakit saat Tito menjahitnya tanpa biusan, Membuat nabila juga tidak tega beranjak dari sana merasakan betapa sakitnya Shakil saat ini
"Kakak liat sini deh" Nabila sudah mempersiapkan kamera di ponselnya
"Mau apa kamu? Mau foto kakak lagi jelek ya?"
"Masa si? Bukannya suamiku gak pernah ada jeleknya?" Nabila mencoba menghibur melupakan rasa sakitnya padahal hatinya sendiri getir dan takut Shakil kenapa-napa
"Eemm benarkah?" Dia tersenyum
__ADS_1
"Coba gaya gini seru tau" Nabila memonyongkan bibirnya yang terlihat imut dilayar ponsel dengan menggunakan aplikasi kamera jaman sekarang
"Haha lucu sekali, Kita punya telinga panjang seperti kelinci" Shakil juga ikut memonyongkan bibirnya meniru gaya Nabila dan Ckik jepretan yang lucu
"Haha kakak kurang monyong lagi, Aku kan mau pajang foto kakak di dapur untuk menakut-nakuti tikus"
"Wahh parah kamu ya" Shakil menggelitik Nabila lucu dengan perkataanya yang menggemaskan
"Sudah selesai tuan" Dari arah belakang Tito bicara
"Hah... sudah? Kenapa tidak dijahit?"
"Sudah tuan saya juga sudah menutupnya dengan perban dan pelster plastik anti air.
"Kenapa tidak terasa, Dengar sayang kalau kamu didepanku rasa sakit apapun hilang, Kau memang lebih dari obat bius untukku"
"Dasar raja gombal, gak lihat tempat ada orang atau tidak, gak ada malunya" Nabila mencubit hidung Shakil
"Baiklah dokter, Kita hanya akan jadi obat nyamuk saja disini" Haris mempersilahkan Tito keluar dan mengantarnya lagi
"Bilang saja kalau kau cemburu"
"Nona saya sarankan cuci mata anda dengan benar agar bisa melihat pria itu seperti apa"
"Berengsek, dia selalu melihatku dengan mata hatinya yang tulus tau"
"Kenapa dia selalu sensi si?"
"Lagi datang bulan kali"
"Hahaha" Akhirnya mereka berdua tertawa bersamaan bahagia mengejek Haris,
Nabila kini merasa lega luka dipunggung Shakil sudah dijahit tinggal dia merawatnya dengan baik dan memantuhi semua pantangan pasti akan cepat sembuh
***
"Malam ayah, bunda" Nabila menyapanya di meja makan
"Malam sayang" Jawab Amir dan Mira bersamaan
"Shakil mana?" Tanya Mira lagi
"Kakak tidur, Katanya nanti aja makannya"
"Gimana keadaannya sekarang" Tanya Amir
"Katanya udah gak terlalu sakit yah.. Tapi tenang aja kan ada calon dokter yang ngerawatnya"
__ADS_1
"Hahaha,, Iya ayah percaya"
"Oh ya kata katanya hari ini kamu dapet hadiah kelulusan dari shakil? Kalau boleh tau apa?" Mira penasaran
"Bunda tau gak.. Hadiah ini paliiingg indah, kakak ngajak aku ke KUA tanda tangan surat nikah"
"Benarkah?" Amir yang tadinya mau menyuap malah menjatuhkan sendoknya karena terkejut
"kalian sudah resmi secara hukum?" Mira juga sama ikut terkejut
"Iya"
"Waahhh selamat ya, kayanya kita ketinggalan banyak informasi nih dari Haris" Amir tersenyum bahagia
"Iya benar, Kita harus buat perhitungan sama dia" Tambah Mira
"Ada apa ini, Mau menghitung apa?" Haris yang tiba-tiba muncul dari dapur mengejutkan Amir dan Mira
"Sejak kapan kamu disini?" Tanya Amir
"Dari pagi"
"Ayo makan" Amir mempersilahkan Haris duduk
Haris menjawab dengan membungkuk dan duduk dikursi yang biasa dia tempati
tempati saat makan bersama dengan keluarga Amir
"Kenapa tidak memberitau kami kalau mereka sudah meresmikan pernikahannya" Tanya Mira
"Tuan muda baru punya rencana ini tadi pagi saat berangkat kesekolah nona, Rencananya saya akan memberi tau sehabis makan malam tapi nona sudah memberitaunya"
"Sudah ini sudah tidak penting lagi, bukankah kita juga harus memberikan hadiah pada mereka?" Usul Amir
"Benar, Ini harus dirayakan" Tambah Mira
"Aa ayah, Bunda. Itu tidak perlu aku hanya ingin do'a kalian agar aku dan kakak bisa sama-sama selamanya, Itu sudah lebih dari cukup"
"Itu sudah pasti sayang, Ingat apa pun yang terjadi nanti kamu dan Shakil tidak akan ayah biarkan kalian pisah"
"Terima kasih ayah"
Mereka menghabiskan makan malamnya juga menanyakan pada Nabila mana Universitas yang dia pilih untuk melanjutkan kuliahnya. Nabila hanya diam didalam hatinya ingin sekali ke luar Negri tapi ini tidak akan mungkin karena Shakil tidak akan setuju lagi pula dia sendiri pasti sedih jauh dari Shakil setelah banyak melalui hari-hari indah bersamanya.
Jawaban Nabila hanya "Nanti aku bicarakan lagi dengan kakak. Biar dia saja yang memutuskan aku lanjut sekolah dimana"....
Bersambung❤❤❤
__ADS_1