
Hari ini, adalah hari yang akan sedikit sibuk tentunya bagi Shakil, dia harus bekerja tanpa asisten untuk satu Minggu ke depan, sementara Nabila sekarang sedikit manja dan kadang suka marah-marah tidak jelas pengaruh hormon yang tidak stabil. Haris memang tidak lepas tanggung jawab begitu saja untuk masalah kerjaannya, bahkan dia masih mengatur agenda Shakil hari ini dan mengirimnya ke kantor melalu email, tinggal sekertaris di kantor yang menguraikannya
"Kakaaaakkk!!!" jeritan Nabila ketika bangun tidur saat menapakkan kakinya kelantai
Shakil yang sedang mandi langsung pakai handuk dan lari menghampiri istrinya, tanpa dia sadari tubuhnya masih penuh dengan busa sabun
"Sayang!! kamu kenapa?" Seperti biasa kepanikan itu akan muncul saat mendengar Nabila ada masalah
"Ini kenapa?" dia menunjukan kedua kakinya yang terlihat mengembung karena bengkak
"Kaki kamu kenapa?" Shakil malah tanya balik
"Aku gak tau, tiba-tiba kayak gini"
"Ini mau meletus sayang" Shakil menusuk dengan jarinya
"Kakak!!! jangan bikin aku takut" Nabila kemudian panik
"Eh,, bukan itu maksudnya. Tapi kenapa jadi gini, kamu makan daging ya? di acara kemarin?"
"Kakak kan yang ambilin aku makan, mana aku tau makanan yang kakak bawa ada dagingnya"
"Kakak jamin makanan itu gak pakai daging, masa mau mencelakai kamu sama bayi kita shi?"
"Aku rasa bukan karena daging deh, soalnya gak pernah kaya gini"
"Apa bayinya pipis, dan kamu tahan terus jadi turun ke kaki" Shakil hanya asal menebak saja
"Kakak nih.. mana ada bayi pipis dalem perut, udah ah jangan bikin aku makin panik"
"Yasudah, kita ke dokter sekarang" Shakil menggendong Nabila
"Tunggu"
"Apa lagi? nanti makin bengkak kakinya"
"Kakak gak lagi mau bikin atraksi pakai busa-busa kan?" Nabila masih panik namun bisa sedikit tersenyum melihat Shakil yang belum selesai mandi
__ADS_1
"Kan!! lagi-lagi kamu bikin kakak kaya orang gila" Shakil menduduki kembali Nabila di tempat tidur, dengan terburu-buru dia mandi dan pakai baju seadanya.
Nabila juga digantikan pakaian oleh suaminya, karena gadis itu sama sekali tidak boleh turun dari tempat tidur sama sekali, khawatir kakinya sakit ketika dia berjalan nanti
Shakil menggendong Nabila, dia juga mengalungkan tas yang sering dibawa istrinya. mereka berdua ke rumah sakit tanpa pengetahuan Amir dan Mira, karena pagi-pagi sekali, jadi tidak mau mengejutkan istirahat kedua orang tuanya yang sudah mulai renta, namun hanya Anton saja yang membantu membukakan pintu untuk tuannya
Di rumah sakit
Kini Nabila sudah ditangani oleh dokter SPOG. sedangkan Shakil masih saja setia memegangi dan menciumi tangan istrinya
"Jadi bagaimana dok?"
"Pembengkakan kaki saat hamil adalah hal normal yang terjadi dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan,"
"Bagaimana tidak khawatir kalau mengembung sampai sebesar ini?" bantah Shakil. Baginya apa yang dilihat dalam kondisi ini lebih dari kata khawatir
"Bukan begitu, kondisi ini terjadi akibat meningkatnya produksi cairan di tubuh, agar perkembangan janin dapat optimal dan sebagai persiapan menuju persalinan" Jelas kemudian dokter tersebut
"Dokter yakin? kita tidak perlu memeriksa nya lebih teliti, seperti diambil darah atau semacamnya?" Shakil masih belum puas atas penjelasan dokter itu, padahal harusnya dia senang karena ini tidak membahayakan istri dan juga calon anaknya
"Tidak perlu, saya akan buatkan resep dan di rumah bantu rendam kaki nya dengan air hangat saja" Dokter itu meninggalkan Nabila juga Shakil dengan sedikit senyuman lucu, karena baru kali ini dia melihat pasien yang sangat posesif dengan pasangannya
"Sayang!! kamu tunggu disini dulu ya? biar ayah dan bunda nanti yang jemput" Shakil sangat tergesa-gesa setelah menutup teleponnya
"Kho kenapa? apa ada masalah? "
"Tidak ada, di kantor baik-baik saja, tapi kamu kan tahu Haris cuti, jadi kakak yang harus mengurus semuanya"
"Antar aku pulang dulu" Nabila menggenggam tangan Shakil dengan pernyataan manja
"Nggak bisa sayang, kakak sudah sangat terlambat" untuk pertama kalinya dia melepaskan genggaman tangan Nabila walaupun berat untuknya melakukan ini tapi mau bagaimana lagi
"Ya udah deh" dengan perasaan kecewa Nabila merelakan suaminya pergi.
Setelah setengah jam kepergiannya kemudian Mira datang tanpa Amir. awalnya dia sedikit terkejut mendengar gadis kecilnya ada di rumah sakit, meskipun ada sedikit drama dengan Shakil ditelepon tadi tapi dengan sigap dia datang menghawatirkan cucu dan menantunya
"Kamu kenapa sayang" sejuta kepanikan dilontarkan setelah melihat Nabila bersandar pada tempat tidur pasien dengan wajah yang tidak enak dipandang, bukan karena dia merasakan sakit tapi kecewa Shakil meninggalkannya
__ADS_1
"Aku gak apa-apa bunda" suaranya lemah tidak bersemangat
"Apa yang kamu rasakan?" Mira membolak-balik tubuh Nabila masih belum percaya dengan apa yang diucapkannya
"Gak ada kok bunda, cuma kaki aku bengkak aja"
"Ya ampun sayang, bunda pikir kamu kenapa!, bunda langsung kesini sampai gak sadar pakai sendal rumah" Mira menunjukan sendalnya yang jauh dari kata elegan
Nabila hanya tersenyum, walaupun Mira terlihat lucu tapi tetap hatinya masih kesal
"Anak itu lagi. dia gak menjelaskan apa-apa, selain menyuruh bunda kesini" umpatnya dengan nada kesal
"Kakak sibuk banget ya bunda, sampai gak sempet anterin aku pulang" Nabila sedikit bersedih
"Sabar ya sayang, mungkin hanya hari ini aja," Mira mencoba menghiburnya
"Hm, semoga aja"
Kemudian keduanya pulang ke rumah.
Ditelepon tadi Shakil hanya meminta bundanya datang ke rumah sakit dan memesan agar Nabila tidak boleh berjalan sama sekali, dipikiran Mira sudah kacau balau, membayangkan yang tidak-tidak karena baru saja bangun dan nyawanya belum kumpul semua tapi sudah di kabarkan dengan berita yang kurang baik
Setelah sampai kantor, Shakil bergegas untuk ketempat dimana ada janji dengan CEO perusahaan lain yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari kantornya, namun sungguh disayangkan setelah ke terburu-buruannya pagi ini sampai rela meninggalkan Nabila, akhirnya yang datang malah diwakilkan dengan sekertaris nya,
"Maaf saya terlambat" Shakil yang diiringi dengan sekertaris nya juga memulai pembahasan yang akan menjadi rencana dan keuntungannya
***
Di Hotel
semalam setelah selesai makan, Anna langsung tidur karena Haris masih bergulat dengan laptopnya mengirim jadwal untuk Shakil besok di kantor.
Saat baru saja mandi dan naik keatas ranjang, sudah didapati Anna dengan pulas masih di dalam gulungan selimutnya
"Kamu pasti lelah." Haris mengela napas berat "baiklah tidak malam ini,"
Bisa saja dia membangunkan Anna dan melakukan kewajibannya yang sekarang bersetatus suami, tapi mungkin tidak akan ada variasi di dalam permainannya nanti kalau lawan jenisnya dalam keadaan setengah sadar
__ADS_1
bersambung...