ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
107 Suami siaga


__ADS_3

Semua berkumpul dimeja makan, begitupun


dengan Shakil saat Nabila duduk saja sudah kerepotan takut kenapa-napa, makan pun tidak boleh melakulannya sendiri, dengan telaten dia menyuapi Nabila sampai dirinya lupa tidak makan apa-apa


"Kakak aku udah gak kuat lagi, suapinnya kebanyakan"


"Gak apa-apa biar bayi kita sehat"


"Tapi aku udah gak sanggup"


"Kamu ini gimana sih, orang hamil itu gak bisa makan sekehendak kamu, dia akan makan bagimana yang diinginkan bayinya" Mira menggelengkan kepanya


"Apa? kalau dia tidak makan sama sekali bagai mana? Teori bunda tidak masuk akal"


"Lah!! Emang begitu dari sananya, itulah makanya ibu hamil kemauannya harus dituruti karena mereka sulit makan kalau bukan ada yang dipinta" Mira menjelaskan


"Tapi Nabila hanya makan sayurnya saja dia sama sekali tidak makan nasi?"


"Bunda juga mual parah waktu hamilin kamu. Malahan sampai sebel banget liat wajah ayah" Amir terlihat masam


"Serius bun? Sayang kamu jangan ikutin jejak anak mereka ya, kasian sama mamah kamu nanti" Shakil mengelus-elus perut rata Nabila


"Dasar!!! Anak kita tuh kamu lah" Mira nyolot


"Oh iya, iya,," Wajah Shakil sok polos "Tapi bunda tenang aja anak bunda pasti paling lucu"


"Enak aja" Bantah Nabila "Anak aku paling imut-imut tau dibandingin anak bunda"


"Masa?!!!" Shakil mendekatkan wajahnya pada Nabila "tapi anak bunda selalu bikin kamu terkesan kan?"


"Kakak apa si!! Malu tau diliatin ayah bunda" Nabila bergumam pelan dan mendorong tubuh Shakil

__ADS_1


"Mereka juga pernah gini jadi gak akan iri" dengan santainya Shakil kembali lagi duduk seperti semula


"Anak ini kenapa jadi gak tau malu ya, sebentar lagi jadi orangtua tapi kelakuannya kaya anak-anak" Amir menggeleng sambil tersenyum


"Hahaha.. Kakak emang udah tua yah" Nabila senang kalau sudah mengejek suaminya


"Kamu ya!!!! Kamu juga akan jadi orang tua setelah anak ini lahir" Shakil tak mau kalah


"Tapi aku akan jadi mamah muda plus imut" Nabila menunjukan wajah imutnya


Shakil semakin gemas jangankan bertingkah seperti anak-anak, pada saat dia diam juga Shakil selalu ingin memangsanya. Apalagi tubuhnya agak berisi semenjak makan banyak membuat dia selalu ingin memeluk istrinya...


Lelucon perdebatan dimeja makan berakhir dengan mual-mual Nabila yang tidak berhenti bulak-balik ketoilet. Amir dan Mira walaupun sudah tau ini resiko orang hamil tapi dia masih saja cemas, apalagi Shakil wajahnya sudah terlihat pucat seperti darah yang mengalir di dalam tubuhnya beku, entah apalagi yang harus dia lakukan karena dengan setianya menemani Nabila terus menerus sampai teriak-teriak pada Anton tidak sabar untuk segera memanggil dokter kandungan


"Kakak, aku gak apa-apa kok, udah seminggu emang kaya gini tapi nanti siang juga hilang" Nabila menenangkan Shakil karena dia sudah risih dengan sikap suaminya yang kepanikanya sudah sampai tingkat dewa


"Kamu gila ya, udah satu minggu separah ini gak bilang kakak sama sekali?" Shakil terlihat marah karena jangankan seperti ini hal kecil saja kalau menyangkut Nabila otaknya sudah tidak berjalan dengan normal


"Kakak gak mau tau, apapun sakit yang kamu rasakan mau parah atau cuma ketusuk jarum sekalipun harus bilang sama kakak, kamu mau anak kita kenapa-kenapa nantinya?"


Apaan si, gak nyambung deh, tuh kan ini yang bikin aku gak mau bilang. belum apa-apa aja udah repot


"Hey denger gak?" Shakil menegur Nabila yang lagi cemeberut


"Iya aku denger nanti aku laporan kalau ada apa-apa kalau perlu kekantor polisi sekalian"


"Nabila kakak serius" Wajah Shakil benar-benar serius


"Iya, Iya,,,!! Yaudah aku mau istirahat dulu"


Tanpa bicara lagi Shakil langsung menggendong Nabila untuk istirahat menunggu dokter Winna SpOG yang waktu itu pernah memeriksa Nabila, sambil berjalan menaiki tangga dia membayangkan nanti kalau Nabila turun naik tangga pasti akan bahaya dengan kandungannya, sedangkan dibawah tidak ada kamar selain kamar Amir dan Mira, otaknya sedang berpikir keras bagaimana caranya agar istrinya tidak turun naik tangga, mana kalau ditangga pasti Nabila berlari tidak pernah mau jalan santai. Begitulah sikap anak-anak seusinya yang senang berlari saat menaiki tangga

__ADS_1


***


Tidak berselang lama Dokter Winna selesai Memeriksa keadaan Nabila, dia juga menjelaskan apa yang dialami Nabila saat ini sangatlah wajar, agar kedepannya Shakil tidak kaget lagi tentang perubahan hormon, tidak mau makan, sesuatu yang dia benci, sampai Pingsan pun dokter Winna menjelaskan dengan teliti. Karena dia tau dari Tito kalau pria yang terobsesi dengan istri kecilnya itu akan menyulitkan dia kedepannya kalau terjadi apa-apa pada Nabila


"Sampai berapa lama dok istriku mengalami semuanya" tanya Shakil


"Tidak bisa diprediksi kapan-kapannya tuan, tergantung bawaan sijanin. Tapi sebagian besar rata-rata ibu hamil mengalami ini sekitar tiga sampai empat bulan"


"kenapa lama sekali?" wajah Shakil berubah murung "Dia masih kecil bagaimana dia bisa menghadapi semua ini?"


sudah tahu gadis ini masih kecil, tapi Anda malah membuatnya hamil,


Dokter Winna pun menahan senyumnya dengan memalingkan wajah agar tidak terlihat Shakil


"Saya akan membuatkan resep dan saya harap ini bisa membantu meringankan rasa mual nya"


Dokter Winna pun membuatkan resep untuk Nabila dan dia pamit pergi karena ada pasien yang menunggunya di rumah sakit,


sedangkan Shakil masih bingung dengan perkataan Dokter tadi apa yang dia ucapkan masih terus terngiang sampai dia sendiri tidak tau harus melakukan apa menghadapi ibu hamil


Perlahan Shakil masuk ke kamar dia melihat Nabila Yang Sudah terlelap dia pun mendekatinya dan berbaring di sebelahnya sambil memeluk dan mengusap-usap perut rata istrinya


"Sayang anak Papah yang baik jangan buat mamah kamu susah ya? Emangnya kamu nggak kasihan sama mamah dari tadi dia udah mual-mual terus lho gara-gara kamu, nanti kalau perutnya sakit kamu juga ikut sakit"


tangan Shakil beralih pada wajah Nabila sambil dielus-elus lembut pipinya


"Sayang,,, Terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku, ini lebih dari kejutan dan lebih juga dari hadiah, kau tahu betapa bahagianya aku saat ini, sama sekali tidak pernah kusangka kalau di dalam perutmu ada buah cinta kita berdua, Terima kasih sayang bahkan ucapan ini pun tidak bisa mewakilkan Betapa beruntungnya aku bisa memilikimu Bidadariku"


Tanpa Shakil sadari air matanya pun terjatuh tidak pernah dia bayangkan sedikitpun kalau Nabila akan hamil secepat ini. Tentunya juga dia Harus berpikir lebih keras lagi Bagaimana caranya agar Nabila bisa terus kuliah walaupun keadaannya sedang hamil, dia juga akan membicarakan ini dulu pada Nabila agar keduanya sama-sama nyaman


Sebelum perut Nabila membesar tentunya Shakil juga harus mengadakan pesta pernikahan karena kalau tidak Nabila akan jadi bahan ejekan di sekolahnya, ini juga akan berpengaruh buruk pada kandungannya nanti....

__ADS_1


bersambung❤❤❤


__ADS_2