ADIK Atau ISTRI

ADIK Atau ISTRI
91. Gara-gara Haris


__ADS_3

Setelah siang hari Nabila baru mandi dan turun karena perutnya sudah mulai lapar. "Nona? Sejak pagi anda tidak makan apapun. Apakah mau saya buatkan sesuatu?"


"Kakak mana?" Tidak menjawab pertanyaan Anton malah dia balik bertanya lagi


"Tuan pergi, tapi dia bilang tidak lama ada janji dengan dokter Tito"


Lho gak biasanya? Apa kakak sakit?


"Kakak sakit?"


"Tidak nona. Itu bisa dia lakukan jika tuan sedang mencemaskan sesuatu"


Mencemaskan sesuatu? Apa sebenernya dia kenapa-napa ya?


"Baiklah. Aku mau makan mie tapi yang pedas ya"


"Tapi perut anda kosong nona. Apakah tidak sebaiknya makan nasi dulu. Saya khawatir anda sakit perut"


"Gak apa-apa kok. Aku udah biasa makan mie pedas"..


"Nanti tuan akan marah"


"Makanya gak usah bilang"


"Baiklah saya akan buatkan" Anton kembali kedapur


Tak lama kemudian Anton membawakan makanan yang Nabila pesan. Dengan aroma nikmat yang masuk kehidungnya dia benar benar tidak sabar ingin segera menyantapnya


"Hati-hati Nona ini masih panas"


"Ooh pak. Ini sangat enak.. Bisa buatkan aku satu mangkuk lagi" Nabila memintanya lagi padahal yang dihadapannya jaga baru dia cicipi.


"Tapi ini pedas.. Perut anda akan sakit" Lagi-lagi anton mengingatkannya dia khawatir tuannya akan marah kalau Nabila sakit nanti


"Ahh tidak masalah... Aku akan baik-baik saja.. Dan aku tidak bisa komen apa pun karena makanan ini lezat sekali" Nabila makan mie panas dan pedas itu hanya dalam hitungan menit saja sudah habis. Lalu melanjutkannya dimangkuk kedua yang sudah anton siapkan lagi.


"Aahhh enaknya" Setelah habis dua mangkuk mie nabila menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil mengelus-elus perutnya. "tapi aku belum kenyang"


"Apa?" Anton hampir saja meninggikan suaranya mendengar perkataan Nabila.. Dua mangkuk mie masih dibilang belum kenyang? "Anda mau makan apa lagi?"


"Tidak usah makanan. Nanti aku gendut, dari kemarin makan terus. Aku minta jus aja, sama kentang goreng deh. Nanti bawa kesana ya.. Aku mau nonton tv"


"Baik nona"


Pada saat Nabila asik makan dan minum jus Shakil datang. "Kamu sudah makan?" Shakil duduk disamping Nabila


"Udah. Kalau kakak?"


"Belum"


"Kakak dari dokter Tito ya? Kakak sakit?"


"Tidak"


"Terus"


"Kamu udah ada rasa mual atau pusing gak?" Shakil menatapnya serius karena dia juga konsultasi tentang sikap Nabila hari ini


"Haha.. Aku kan udah bilang baik-baik aja. Kalau aku mual aku gak akan ngemil gini"


"Benar juga"

__ADS_1


"Kakak kenapa si?"


"Kamu tau. Kakak sangat khawatir" Shakil menepuk pahanya agar Nabila naik kesana


"Kakak nanti Ayah Bunda lihat"


"Mereka tidak ada, Ayo sini" Lagi-lagi dia menepuk pahanya


Nabilapun melangkah naik kepaha Shakil dan menghadapnya dengan malu-malu. Dia takut Anton atau pegawai lain melihatnya. Sedangkan selama ini dia tidak pernah memamerkan kemesraan yang berlebihan selain didepan Haris..


"Ada apa?"


"Kakak mau tanya? Apa kamu sudah siap hamil?"


"Haha kakak kenapa?" Nabila menyentuh kening Shakil dengan punggung tangannya "Tiba-tiba menanyakan itu?"


"Tadi kakak sedikit dapat masukan dari Tito tentang seputar kehamilan. Ternyata ibu hamil itu sangat sulit.. Bahkan itu tidak pernah ada di bayangan kakak sedikit pun"


"Jadi?


"Itulah yang kakak khawatirkan. Kamu masih kecil. Kalau kamu hamil bagaimana?"


"Dasar. Harusnya kakak khawatir seperti ini sebelum punya niat meniduriku.. Haha aneh"


"Kenapa kamu malah menyudutkan kakak seolah-olah kakak yang salah.. Padahal kamu juga menikmatinya kan?"


"Kakak" Nabila memukul bahu Shakil "Jangan keras-keras ngomongnya nanti ada yang dengar"


"Lho memang faktanya kan? Jadi gimana?"


"Aku gak tau? Otakku blank kalau menjulur kesitu"


"Ayo berpikir.. berpikirlah otak" Shakil mengatakannya sambil memegang kepala Nabila dengan gemsanya


"Baiklah. Apa?"


"Aku mau kuliah, Kakak taukan cita-citaku?"


"Tentu saja sayang.. Kakak juga tidak mengharuskan kita punya anak sekarang.. Yang penting kamu selalu mencintaiku itu lebih dari segala-galanya"


"Terimakasih sayang" Nabila memeluk Shakil dan mencium keningnya karena posisi kepala Shakil tepat didada Nabila.


"Dari tadi kau tidak bis berhenti bergerak.. apa kau tidak tau ini mengganggunya"


"Apa?" Nabila tersenyum karena sebenarnya dia tau maksud shakil


"Jangan pura-pura bodoh. Kau harus tanggung jawab"


"Kakak kan belum makan siang, Makan dulu ya, Nanti kehabisan energi pingsan lagi"


"Itu dia kakak sangat lapar dan ingin segera memakanmu"


"Emm Seramnya"


"Bukan seram tapi terlalu bersemangat. Kau tau setiap kakak menyentuh tubuhmu aku tidak akan pernah bisa menahannya"


"kalau gitu waktu kita jalan berdua. Aku gak mau deket kakak. Jarak dua meter ya"


"Enak aja nanti orang pikir kakak Bodyguard kamu"


"Emang ada ya Bodyguard setampan ini" Nabila memegang kedua pipi Shakil dan mencium bibirnya

__ADS_1


"Wah kamu benar-benar tidak akan kuampuni" Shakil menggendong Nabila ingin membawanya kekamar


"Tuan!!" Dari arah ruang kerja Haris memanggilnya


"Apa? Jangan ganggu aku" Shakil tidak peduli pada haris


"Diluar kulitku terbakar karena teriknya matahari.. Dan disini mataku yang terbakar.. Kenapa ditengah hari seperti ini kalian membuatku gerah"


"Haha makanya cepat menikah"


Cih sombong sekali. Kalian saja menikah karena terpaksa, Sekarang dengan tidak tau malunya bermesraan seperti itu.


"Lihat saja aku akan segera kirimkan undangan pada kalian. Bahkan jauh lebih muda dari nona"


"Mana boleh menikahi gadis dibawah delapan belas tahun" Shakil tidak mau kalah saing


"Siapa bilang aku mau menikah"


"Lalu?"


"Aku mengirim undangan untuk syukuran ponakanku baru lahir hahah"


"Sial dasar tidak berguna.. Pergi sana jangan ganggu aku"


"Tidak bisa tuan karena rapatnya sudah tersambung" Haris merasa puas


"Apa? Kenapa tidak dibicarakan dulu padaku.. Apa kau tidak tau aku sudah sangat lapar"


"Bukankah anda tadi menyuruhku Menyambungkannya?"


"Ahh sudah lah kau terlalu cerewet.


Sayang maaf, Aku harus mencari sesuap nasi dulu"


"Yasudah tidak apa-apa, pergilah" Nabila melirik kearah Haris dan mengedipkan sebelah matanya


Ternyata asisten ini berguna juga.. Terima kasih setidaknya hari ini aku masih bisa berjalan dengan normal.


"Kau sepertinya sudah terlalu lama bersamaku. Sekarang kau semakin tua dan menyebalkan. Dengan susah payah tadi aku merayunya


tapi hanya lima menit saja kau patahkan semangatku"


"Andai saja tadi anda bilang dulu padaku ada rapat penting dengan nona. Tentu aku tidak akan menyambungkan panggilan dengan mereka sekarang"


"Apa kau mertuaku sampai harus izin dulu untuk menyentuhnya hah?"


"Bukan itu maksudku"


"Kenapa tuhan menakdirkanku memiliki asisten sepertimu?"


"Itu karena kita berjodoh"


"Iya jodoh tapi yang tertukar. Karena tidak pernah aku bayangkan sedikitpun kalau kau yang akan jadi asistenku"


"Anda tau tuan kebencian itu bisa jadi cinta. Seperti nona padamu. Kau juga akan seperti itu padaku nanti"


"Otakmu koslet ya. Pergi sana, jangan membuatku malu memiliki asisten yang setengah waras seperti ini"


Pembicaraan mereka diakhiri dengan gelak tawa Haris yang semakin suka mengejek sahabat baiknya itu.


Dan tanpa berlama-lama Shakil duduk di depan laptop memberi kata sambutan sebagai orang penting yang memimpin rapatnya...

__ADS_1


Bersambung❤❤❤


__ADS_2