
"Baik tunjukan kalau kalian memang tidak bersalah"
Anna mengeluarkan laptopnya dan masuk sebuah file. dia menjelaskan kalau yang mereka temui adalah pengacara si pemilik tanah. Pengacara itu bilang tidak pernah menjual tanah pada Amir karena semua suratnya sudah disita oleh Bank.. dan untuk yang menipu Amir dengan surat palsu adalah anak angkat si pemilik tanah yang tidak mendapat warisan... Nabila juga menemui anak kandung atau ahli waris yang sah untuk penjualan tanah tersebut namun mereka mengatakan kalau dia tidak pernah menerima uang itu.. jadi penipunya adalah anak yang bukan ahli waris dengan memalsukan surat tanah dan menjualnya pada Amir...
"Nabila memang akan mengatakannya tadi.. tapi keadaan didalam sudah semakin panas" Anna menjelaskan titik terang dalam masalah yang sudah seperti benang kusut saat ini
"Kenapa kalian tidak memberitahu kami sejak awal"
"Mengertilah Om, apa sih yang wanita butuhkan untuk pasangannya selain memberikan kebahagiaan, dan mendapatkan satu pujian pun rasanya sudah sangat luar biasa"
"Coba saja kalau kalian memberitahukan pemikiran yang seperti ini dari awal pasti semua masalah akan lebih cepat selesai"
"Itu menurut Om, tapi kita para wanita selain ingin jadi pendamping sempurna kami juga ingin menjadi yang berguna"
"Sudahlah bukan waktunya untuk berargumentasi dengan gadis-gadis seperti kalian yang tidak mau mengalah walaupun salah... Aku harus menjelaskan ini pada Shakil sekarang sebelum semuanya terlambat"
"Tumben pemikiran Om lempeng"
"Maksudmu?"
"Hahaha.. Nggak ada kok, ayo kita ke dalam lagi" Anna mendorong tubuh Harris yang sudah menggenggam laptop Nabila menghampiri kericuhan yang terjadi dari tadi untuk menyelesaikan masalahnya"
***
Sesampainya di dalam dia meletakkan laptop Nabila di meja membuka, sebuah file yang baru saja ditunjukkan Anna pada dirinya.. Mata yang tadinya menatap Nabila tajam kini mengerutkan kedua alisnya meneliti dengan benar apa isi kandungan dalam data tersebut.. Shakil melirik pada Nabila yang kini membuang muka darinya.. kemudian Harris juga membuka data-data perusahaan yang ternyata sudah tercopy di laptop Nabila.. dYi sana juga terperinci dengan rapih kalau sewaktu-waktu keadaannya memang perjuangan Nabila tidak berhasil namun Shakil tidak akan bangkrut karena sebagian aset perusahaan atas namanya jadi mau bagaimanapun Shakil tidak bisa menggunakan uang perusahaan yang ber atas nama Nabila... kesimpulannya, sebesar apapun kerugian yang akan menimpa Shakil, walaupun harus berakhir di penjara namun Nabila masih tetap bisa membantunya dengan jaminan dari perusahaan yang masih aman.. tapi kalau dilihat dari sudut manapun kini pelaku penipuan itu sudah diketahui siapanya jadi, kemungkinan terbesar dengan bukti-bukti yang sudah Nabila kumpulkan kini Shakil akan terbebas dari masalah perusahaan itu bahkan Nabila juga sudah merencanakan kalau sewaktu-waktu uang itu kembali maka semua sertifikat yang ada di Bank bisa ditebus dengan atas nama dirinya karena sangat disayangkan dengan pembangunan tempat wisata yang sudah mencapai 30% akan sia-sia kalau dibiarkan begitu saja..
"Bagaimana?" Tanya Amir yang masih penasaran dengan apa yang mereka lihat namun tidak ada jawaban dari Shakil selain diam
Nabila tahu kalau Anna sudah menjelaskan semuanya pada Haris, bahkan tanpa dijelaskan pun mereka akan mengerti apa isi kandungan dari file tersebut. namun kekesalan pada Shakil masih belum reda karena pria itu sangat emosional menuduh dirinya yang tidak tidak tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.. Nabila memilih kembali ke kamarnya melewati Shakil yang masih terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.. dan ini membuat hati pria itu sakit dia merasa sangat bersalah dengan semua tuduhan dan kecurigaannya pada Nabila
"Maaf tuan nyonya saya rasa untuk saat ini kita beristirahat menenangkan diri masing-masing saya juga akan pamit untuk mengantar Anna pulang" Haris menutup laptop Nabila karena sudah terlihat raut wajah Shakil yang tidak enak dilihat dan keluar menggandeng tangan Anna
"Kenapa nak" Mira menghampiri Shakil dan menyentuh tangan anaknya dengan nada suara ibu yang penuh kelembutan juga menenangkan
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.. aku sudah gagal dari sisi manapun" Shakil masih dengan tatapan yang kosong
"Semua pasti ada jalannya sayang, bunda yakin ini hanya sebagian dari ujian kita"
"Semuanya sudah selesai bunda"
"Apa maksudmu selesai?" Amir terkejut, dia belum bisa mencerna dengan jelas apa arti kata selesai. Selesai perusahaannya akan benar-benar habis. atau selesai hubungan suami istri anaknya..
"Nabila menyelesaikan maslah perusahaan kita" jawab Shakil
__ADS_1
"Apa?" Amir dan Mira berbarengan "Bagaimana bisa?"
"Hal yang tidak pernah terpikir olehku, tapi dia pecahkan hanya dalam tiga hari"
Mira membuang nafasnya dia khawatir dengan ucapan Shakil tadi yang sudah menyakiti Nabila.. Dia juga tidak menyangka kalau menantunya akan secerdas itu dalam menangani masalah ini dengan resiko perut yang semakin membesar..
"Bunda akan melihatnya" Mira pergi menghampiri Nabila
"Hmm, tolong ya bunda" Shakil juga berharap Mira bisa menenangkan hati Nabila atas apa yang terjadi
"Tenangkan dirimu ya" Nasihat Mira hanya direspon dengan anggukan anaknya
***
Suasana didalam mobil sangat hening.. walaupun tadi dia berdebat tidak parah dengan Anna, tapi Haris sadar kalau kecurigaan mereka memang didasari dengan cemburu buta.. Entah kata-kata apa yang yang harus diawali olehnya untuk memecahkan keheningan itu..
"Eheeem... Nggak ada yang mau minta maaf nih" Anna membuka keheningan itu
"Untuk?"
"Tuduhannya lah"
"Memangnya aku nuduh kamu?"
"Ya udah maaf"
"Hanya itu?"
"Lalu?"
"Aku butuh kompensasi atas pencemaran nama baik"
"Hahaha memangnya apa yang aku lakukan terhadap nama baikmu"
"Ya tuduhan tadi lah"
"Baik. kalau begitu kamu mau apa"
"Makan bakso" Anna langsung menjawab tanpa ragu
"Tidak mau, itu pemerasan namanya"
"Ih pelit banget" Anna cemberut dengan memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil
__ADS_1
"Kamu itu cocoknya tersenyum" Haris merayu
"Males ah gombal"
"Nggak gombal, aku serius" Haris memarkirkan mobilnya tepat di sebuah kedai bakso pinggir jalan
Anna melirik kemudian tersenyum. dia tahu Haris tidak akan mungkin setega itu menolak keinginannya. dan mereka pun turun lalu Haris mulai memesan dua mangkuk bakso sesuai keinginan kekasihnya
"Makasih ya?" Anna tersenyum
"Nah ini baru cocok denganmu.. lain kali teruslah tersenyum seperti ini"
"Berarti lain kali sering-sering traktir aku ya" Anna membalikan perkataan Haris
"Asal kamu ada pertanggungjawabannya aku gak masalah"
"Pertanggungjawaban apa?"
"Kamu yakin aku katakan di sini" Haris memberi isyarat kalau yang akan dia katakan tidak baik untuk didengar orang
"Ngomong aja Om" Anna sendiri menantang haris dan yakin pria itu tidak akan mengatakan hal yang tidak-tidak di depan umum
"Baik, setiap 1 kali traktiran kamu harus mencium aku" Tanpa ragu akhirnya pria itu mengatakannya juga
"Om!!" Teriakan dari anak langsung menutup mulut Harris "Enggak tahu malu ya ngomong kayak gini di depan umum" Anna berbisik padanya
"Bukankah kamu yang minta?" Kini Haris merasa menang
"Tau ah.."
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Ciuman" Kini Haris berbisik mengatakan itu
"Tanda tangan di surat nikah dulu baru aku mau melakukannya"
"Baik.. ayo" Haris tersenyum melihat Anna yang kepanikan
"Apa???!! cepat makan kalau nggak aku bisa gila ngomong sama Om yang nggak akan ada akhirnya"
Kemudian keduanya pun menyantap semangkuk baksonya masing-masing dengan saling mencuri pandang satu sama lain juga dibumbui dengan senyuman manis..
__ADS_1
Bersambung ❤️❤️❤️