
Akhirnya Chika pun mampu menghabiskan makanannya yang terasa pahit di lidahnya itu. Andai saja yang merawat ia saat ini bukan Rizky suaminya, makanan itu takkan pernah Chika habiskan.
"Alhamdulillah akhirnya habis juga," ucap Rizky penuh syukur melihat Chika yang berhasil mengahabiskan sepiring kecil makanannya.
"Nanti siang Mama ga usah makan lagi ya, Pa!" pinta Chika dengan merengut.
"Kok gitu sih Ma, kalau gitu kapan sembuhnya coba?" tanya Rizky yang heran dengan permintaan Chika.
"Habisnya makanannya pahit semua sih," jawab Chika sambil merengut.
"Namanya Mama lagi sakit. Lagian Mama harus tetap bersyukur Ma, Allah udah berikan kita rezeki yang cukup, bahkan berlebih." Ucap Rizky sambil tersenyum.
"Maaf deh Pa, Mama salah," jawab Chika sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Iya ga apa-apa kok Ma, Papa juga ngerti posisi Mama sekarang," ucap Rizky sambil memeluk kepala Chika dari samping.
"Pa, kaki Mama kenapa sih kok masih belum bisa digerakkan?" tanya Chika yang sambil mengelus-elus tangan Rizky yang sedang memeluknya. Rizky yang mendengar pertanyaan dari Chika sontak membuat matanya berkaca-kaca.
"Pa, Papa kok ga jawab pertanyaan Mama sih, Papa mau ngehindar dari pertanyaan Mama lagi ya?" tanya Chika yang mulai curiga. Chika begitu terkejut ketika ia menatap mata Rizky yang sudah berkaca-kaca.
"Pa, Papa kenapa nangis?" tanya Chika yang mulai panik. Rizky pun akhirnya menghapus air matanya yang sudah mengalir dipipinya.
"Mama ga bisa sembuh ya Pa?" tanya Chika yang kemudian menundukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rizky pun akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya sambil memegang tangan Chika.
"Ma, Papa minta maaf ga bisa jagain Mama secara sempurna," ucap Rizky sambil mencium tangan Chika.
"Se... sebenarnya Mama lu... lumpuh sementara," lanjut Rizky dengan terbata-bata. Chika yang mendengar ucapan Rizky sontak tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Ga ga mungkin ga mungkin," jawab Chika sambil menggelengkan kepalanya dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.
"Pa... Papa bohong, kan?" tanya Chika dengan terbata-bata.
"Papa ga bohong Ma," jawab Rizky yang kemudian memeluk tubuh Chika. Chika yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini hanya bisa menangis tanpa sepatah katapun.
"Tapi Papa janji Ma, Papa akan bantu Mama biar bisa jalan lagi," ucap Rizky sambil mencium kening Chika.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, begitulah yang Chika rasakan saat ini. Melihat kesedihan Rizky yang begitu dalam atas dirinya membuatnya semakin rapuh.
"Ma, pokoknya Mama ga boleh nyerah, Papa akan selalu ada disamping Mama," ucap Rizky yang sudah melepaskan pelukan dan kemudian memegang kedua tangan Chika dengan tatapan penuh dengan keyakinan.
"Papa janjikan bakalan terus nemani Mama?" tanya Chika dengan tatapan penuh harapan.
"Papa janji Ma," jawab Rizky sambil menghapus air mata Chika.
__ADS_1
"Tapi Mama juga harus janji bakalan nuruti semua perintah Papa ya!" pinta Rizky sambil tersenyum.
"Mama janji Pa," jawab Chika sambil menganggukkan kepalanya dan kemudian merekahkan senyumannya.
Rizky pun kembali memeluk tubuh Chika dengan sangat hati-hati. Ternyata benar apa yang dikatakan Randy, jujur jauh lebih baik. Rizky pun menghebus napas leganya, karena Chika bisa mengendalikan emosinya.
Sedangkan Laura yang masih berada di rumah sakit tempat Chika dirawat masih bingung harus apa saat ini. Laura pun akhirnya memutuskan untuk duduk disebuah kursi taman yang berada di rumah sakit tersebut. Laura masih sangat bingung dengan Chika yang masih saja marah dengannya.
"Gue salah apa Chik?" tanya Laura pada dirinya sendiri yang tanpa sengaja membuat air matanya menetes.
"Apa lo masih ga terima kalau Fia meninggal gara-gara gue telat nangani dia?" tanya Laura lagi sambil menundukkan kepalanya.
Randy yang baru saja ingin memasuki rumah sakit, seketika matanya terfokus dengan seorang wanita berbusana muslimah yang tengah duduk di kursi taman rumah sakit tersebut. Penampilan wanita itu sangat tidak asing lagi baginya. Randy yang penasaran dengan wanita tersebut pun langsung melangkahkan kakinya ke tempat wanita tersebut sedang duduk.
"Laura," panggil Randy yang berdiri tepat dibelakang wanita tersebut.
Laura yang mendengar suara itu pun langsung menghapus air matanya. Randy yang sudah sangat yakin dengan wanita ini tak lain adalah Laura seketika melangkahkan kakinya dan duduk di samping Laura.
"Lo ngapain disini?" tanya Laura yang masih sibuk membersihkan wajahnya dari air matanya.
"Gue mau jenguk Chika tadinya, tapi pas gue liat lo lagi disini, yaudah gue langsung kesini aja," jawab Randy sambil sesekali melirik Laura.
"Ooh," ucap Laura cuek.
"Ga kok siapa yang nangis?" tanya Laura mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Udah deh Ra, lo ga usah ngeles. Meskipun gue ga liat ada air mata diwajah lo, tapi gue tau kok kalau lo habis nangis, kan?" tanya Randy lagi yang membuat Laura tak mampu menghindar lagi.
"Iya gue habis nangis," jawab Laura ketus.
"Nangis kenapa lo?" tanya Randy dengan sangat lembut.
"Menurut lo gue salah apa sih sama Chika? apa karena gara-gara gue telat datang untuk nangani Fia kemaren?" tanya Laura yang memebuat air matanya kembali menetes.
"Kalau menurut gue, lo ga salah kok. Lagian waktu itu dokter lain yang nangani Fia juga ada, kan?" tanya Randy, Laura pun menganggukkan kepalanya.
"Terus kenapa Chika masih marah ke gue, Ran?" tanya Laura sambil menghadap ke arah Randy yang berada disampingnya.
"Menurut gue sih, Chika masih belum terima atas kepergian Fia," jawab Randy sambil sesekali melirik Laura.
"Terus kenapa gue yang jadi kambing hitamnya, Ran?" tanya Laura lagi.
"Tau, katanya sih pergi cari bunga," jawab Randy santai.
__ADS_1
"Apaan sih Ran, ga nyambung deh," ucap Laura kesal.
"Bilang aja lo ga tau kata-kata itu dari mana," ledek Randy.
"Gue tau kali, dari kartun Paddle Pop, kan?" tanya Laura ketus.
"Lah kok lo tau?" tanya Randy terkejut.
"Ya tau lah, itu kan kartun kesukaan gue waktu kecil," jawab Laura.
"Lo gimana sih, dulu katanya lo suka Doraemon sekarang lo bilang sukanya Paddle Pop, yang benar yang mana sih?" tanya Randy.
"Ya dua-duanya gue suka," jawab Laura, "ini apaan sih Ran, kok jadi bahas kartun sih?" tanya Laura sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.
"Ya ga apa-apa, biar lo ga sedih aja. Gue ga mau lihat lo nangis-nangis gini karena gue ga bisa meluk lo, soalnya kan lo belum halal buat gue." Jawab Randy sambil tersenyum.
"Lo ngomong apaan sih?" tanya Laura yang mencoba menyembunyikan senyumnya.
"Masih kurang jelas ucapan gue, atau perlu gue teriak-teriak disini?" tanya Randy sambil melirik Laura.
"Udah ah gue mau pulang dulu. Ngomong sama lo buat gue pusing," jawab Laura yang kemudian berjalan meninggalkan Randy yang masih duduk di kursi tersebut.
"Pusing tapi romantis, kan," ledek Randy yang seketika membuat Laura tersipu malu.
"Simpan aja gombalan lo di kulkas gue ga butuh," jawab Laura sambil tersenyum malu membelakangi Randy.
"Dingin dong nanti gombalan gue," ucap Randy.
"Bodo amat," jawab Laura yang kemudian melanjutkan langkahnya.
Setelah beberapa meter Laura berjalan meninggalkan Randy, tiba-tiba Laura kembali ke tempat Randy yang masih duduk.
"Randy, makasih ya udah hibur gue," ucap Laura sambil tersenyum dan kemudian kembali berjalan meninggalkan Randy dengan hati yang berbunga-bunga.
"Iya sama-sama," jawab Randy.
Oke guys terimakasih ya yang masih pada setia dengan novel ini, segini dulu ya guys.😊
Sorry typo ya guys,🙏🙏
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
IG : @febiayeni
__ADS_1
FB : Febi Ayeni