Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 139


__ADS_3

“Emm pendapat gue sih simple aja sih,” jawab Laura sambil mengerutkan alis matanya.


“Ya apa?” tanya Randy.


“Rumah gue udah di depan jadi gue harus turun!” pinta Laura sambil menunjuk rumahnya yang tinggal beberapa meter lagi.


Randy menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Laura, “tapi lo belum boleh turun sebelum lo jawab pertanyaan gue!” pinta Randy dengan menatap kedua bola mata Laura sinis.


“Gue akan jawab semua itu setelah urusan gue dan Angga kelar, gue ga mau ngasih harapan apapun ke lo sebelum hubungan gue dan Angga benar-benar kelar.” Ucap Laura tegas.


Laura membuka pintu mobil Randy, “makasih ya Ran, udah antarin gue.” Lanjut yang kemudian menutup pintu mobil Randy pelan.


Randy sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata apapun setelah Laura mengatakan, bahwa iya tidak mau memberi harapan apapun sebelum urusannya dengan Angga kelar. Randy hanya tersenyum melihat kepergian Laura. Entah apa yang membuat Randy tiba-tiba terdiam. Ia hanya merasa bingung, apakah ia harus senang atau justru sedih mendengar ucapan Laura barusan. Disisi lain Randy merasa senang bahwa ia masih punya kesempatan untuk memiliki Laura seutuhnya, namun disisi lain Randy merasa hanya menjadi cadangan bagi Laura.


Randy mengacak rambutnya, “Aaggghhh, gue mikirin apa sih?” tanya Randy.


“Laura ga mungkin jadikan gue sebagai pelampiasan, pikiran bodoh macam apa ini?” tanya Randy yang kesal pada dirinya sendiri.


Randy mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya, “Astagfirullahaladzim, Astagfirullahaladzim.” Ucap Randy berulang kali untuk bisa mengontrol emosinya sendiri.


****


Malam ini keluarga Laura dan keluarga Angga sudah berkumpul di meja makan rumah Laura. Dewi yang berniat untuk membahas masalah pernikahan antara Angga dan Laura pun akhirnya membuka suara.


“Laura, Aliya, sebenarnya tante sekeluarga dan juga mama kamu sudah sepakat untuk membatalkan pernikahan antara kamu dan juga Angga.” Ucap Dewi yang membuat Laura dan Aliya sontak pandang-pandangan.


“Seriusan tan?” tanya Laura memastikan.


Dewi menganggukkan kepalanya, “ iya, tante serius. Setelah tante pikir-pikir memang ada baiknya pernikahan kamu dan juga Angga dibatalkan saja.” Jawab Dewi tersenyum.


Laura menutup kedua matanya dan berkata dalam hati, “Alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau mengabulkan doa-doa hamba.” Ucap Laura penuh dengan rasa syukur.


“Dan jika Aliya bersedia jadi mantu tante, minggu depan Aliya akan menikah dengan Angga!” pinta Dewi dengan menatap kedua bola mata indah Aliya.


Aliya menatap mata Angga dan Echa secara bergantian, Echa yang mengerti maksud tatapan mata Aliya pun menganggukan kepalanya begitu juga dengan Angga.


“Aliya bersedia asalkan Mas Angga juga setuju tan,” jawab Aliya tersenyum.


“Angga gimana kamu mau kan?” tanya Dewi sambil menatap kedua bola mata anak bungsunya itu.


“Insyaallah Angga bersedia Ma,” jawab Angga dengan senyuman terbaik yang ia miliki.

__ADS_1


“Oke kalau begitu, lusa kita fitting baju ya!” pinta Dewi dengan melirik Aliya dan Angga secara bergantian.


“Baik tan,” jawab Aliya dengan merekahkan senyuman termanisnya.


Dua hari kemudian....


Aliya dan Angga kini sudah berada di sebuah butik pengantin. Hari ini yang menemani Aliya memilih gaun tak lain adalah Dewi sendiri, karena Laura dan Dimas sedang mengurus untuk masalah dekorasi dan juga undangan.


“Ra, gimana hubungan kamu sama Randy?” tanya Dimas yang sedang fokus menyetir.


“Ya udah baikkan sih Mas, soalnya Angga udah jelasin semuanya ke dia tentang kita.” Jawab Laura tersenyum.


“Alhamdulillah kalau gitu, Randy juga udah minta maaf ke Mas soal kejadian di cafe kemaren.” Ucap Dimas tersenyum kepada Laura.


“Seriusan Mas?” tanya Laura dengan wajah terkejutnya.


“Iya, kalau ga Mas mana izinin dia buat ngajak adek Mas yang cantik ini jalan-jalan,” jawab Dimas dengan menarik turunkan alis matanya.


“Mas bisa aja,” ujar Laura tersipu malu.


“Oh ya kemaren Randy jadi lamar kamu?” tanya Dimas yang membuat kedua bola mata Laura terbelalak.


“Mas tau dari mana soal ini?” jawab Laura dengan kembali melontarkan pertanyaan.


“Setiap kali Randy mau pergi sama kamu, Mas ngerasa kayak jadi bos dia tau,” lanjut Dimas yang kemudian terkekeh.


“Kenapa gitu Mas?” tanya Laura dengan polosnya.


“Ya kan dia direktur di kantor sedangkan Mas wakilnya, tapi kalau mau pergi bareng kamu, Mas yang jadi bosnya dia, harus izin dulu sama Mas.” Jawab Dimas.


“Pasti Mas juga kesempatan kan marah-marahin dia?” tebak Laura yang kemudian terkekeh.


“Dikit, kapan lagi kan bisa marah-marahin bos besar,” jawab Dimas yang kemudian terkekeh.


“Oh ya terus kamu terima lamaran Randy?” tanya Dimas.


“Kemaren kan Laura masih punya ikatan sama Angga jadi Laura belum bisa terima Randy lah Mas, mungkin nanti Laura akan ajak Randy ketemu untuk jawab semua pertanyaan dia kemaren.” Jawab Laura tegas.


“Kok kamu pinter banget sih Ra?” tanya Dimas.


“Pinter kenapa?” tanya Laura bingung.

__ADS_1


“Ya kamu pinter, ga mau ngasih harapan apapun kepada siapapun sebelum satu persatu urusan kamu kelar, the best deh kamu Ra.” Jawab Dimas sambil mendorong pelan jempol tangannya ke kening Laura.


Laura mengelus-elus keningnya, “aduuuhh, sakit tau Mas.” Ucap Laura ketus.


Dimas yang melihat Laura meringis kesakitan pun langsung mengelus kening Laura, “hehe, sorry ga sengaja kelepasan.” Jawab Dimas terkekeh.


“Untuk aja Mas, abang Laura kalau bukan udah Laura ceburin Mas ke danau.” Ucap Laura yang masih kesal dengan perlakuan Dimas terhadapnya.


“Dih, garang amat Ra, jadi atuut.” Ujar Dimas dengan tingkah seperti anak kecil.


Laura terkekeh melihat ekspresi Dimas yang sangat profesional dalam menirukan gaya seperti anak kecil. “Dih, Mas lebay deh,” ledek Laura sambil tersenyum.


“Kali-kali boleh lah, gabut juga kan kelamaan jomblo,” jawab Dimas.


“Kelamaan jomblo gini nih, adek sendiri pun di jadiin kambing hitam,” ledek Laura, Dimas hanya terkekeh mendengar perkataan Laura.


Beberapa saat kemudian Dimas menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang rumah seseorang.


“Kok berhenti disini sih Mas?” tanya Laura kebingungan.


“Kamu harus jawab semua pertanyaan Randy sekarang Ra!” pinta Dimas sambil menatap kedua bola mata Laura.


“Tapi Mas, Laura belum siap.” Tegas Laura.


“Laura kamu harus berani sebelum semuanya terlambat,” jawab Dimas yang kemudian tersenyum.


“Yaudah kalau gitu Laura nanya sama security dulu ya Mas,” ujar Laura dengan senyum penuh keraguan dalam hatinya.


“Ra, jangan ragu. Kejar cinta kamu, ini udah saatnya kamu jujur sama Randy, bahwa sebenarnya kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.” Tegas Dimas yang membuat Laura semangat lagi.


“Oke Mas, Laura akan ikuti perintah Mas.” Jawab Laura tersenyum.


Oke guys segini dulu ya, 😉


Yang belum masuk grub chat, yuk gabung. 👍


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2