Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 123


__ADS_3

Acara tunangan Angga dan Laura pun akhirnya selesai. Laura yang merasa bersalah pun dengan sigap langsung menemui Aliya dikamarnya, namun Aliya tak mau membukakan pintunya.


"ALIYA, ALIYA BUKA PINTUNYA!" perintah Laura sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Aliya.


"Aku ga mau liat kakak," jawab Aliya ketus dari dalam kamar.


"Aliya dengarin penjelasan kakak dulu," ucap Laura.


"Aliya ga mau dengar penjelasan apa-apa lagi dari kakak, pokoknya Aliya ga mau jumpa kakak titik." Jawab Aliya ketus, Laura yang mendengar jawaban Aliya pun hanya bisa menundukkan kepalanya, hingga pada akhirnya Echa pun datang.


"Laura, kamu istirahat aja dulu, biar mama aja yang jelasin ke Aliya!" pinta Echa sambil mengelus punggung Laura.


"Tapi Ma... " jawab Laura terputus karena Echa langsung berbicara.


"Udah Ra, kamu masuk aja dulu. Aliya masih belum terima dengan semua ini!" pinta Echa sambil tersenyum.


"Yaudah kalau gitu Ma, Laura ke kamar dulu," jawab Laura dengan wajah yang sangat murung. Laura akhirnya menuruti permintaann Echa.


"Aliya, ini Mama." Ucap Echa sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Aliya. Tanpa menunggu waktu lama Aliya langsung membuka pintu kamarnya dan kemudian memeluk tubuh Echa.


"Ma, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aliya dengan tangis yang mulai pecah.


"Kita bicara di dalam aja ya!" pinta Echa yang kemudian masuk dan duduk di atas tempat tidur Aliya.


"Aliya, ini semua salah Mama dan Papa kamu. Kak Laura sama sekali tidak tau Aliya masalah ini sebelumnya," ucap Echa sambil mengelus rambut indah Aliya.


"Papa, kenapa dengan papa, Ma?" tanya Aliya yang mulai kebingungan.


"Ketika kak Laura masih berumur 4 tahun dan kamu saat itu masih belum ada, tiba-tiba istri siri papa kamu datang kerumah Mama dengan membawa seorang anak laki-laki yang masih berumur sekitar 5 tahun," ucap Echa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Flashback,


"Echa, buka pintunya!" pinta perempuan itu. Echa pun membukakan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Mbak siapa?" tanya Echa kebingungan.


"Kamu istri sahnya mas Panji kan?" tanya perempuan tersebut tanpa menjawab pertanyaan Echa.


"Kita bahas di dalam aja ya mbak!" ajak Echa yang kemudian berjalan mendahului perempuan tersebut.


"Silahkan duduk mbak, saya buatin minuman dulu ya!" pinta Echa sambil membuat 2 gelas minuman untuk perempuan tersebut dan anaknya. Beberapa menit kemudian Echa pun membawakan 2 gelas teh hangat untuk perempuan tersebut dan anaknya.


"Itu anak kamu?" tanya perempuan tersebut yang mulai menurunkan volume suaranya.


"Iya mbak, ini anak saya," jawab Echa sambil tersenyum sambil melihat Laura yang sedang asik bermain boneka.


"Kalau boleh tau nama mbak siapa, dan ada keperluan apa mbak ke sini?" tanya Echa dengan ramah.


"Saya Dewi istri sirinya mas Panji," jawab Dewi yang berusaha meredam emosinya.


"Hah, istri sirinya mas Panji?" tanya Echa yang benar-benar terkejut.


"Tapi saya masih ga percaya, apakah mbak punya bukti bahwa mas Panji suami saya adalah mas Panji yang sama dengan suaminya mbak Dewi?" tanya Echa yang berusaha untuk tetap berpikir positif.


Dewi pun akhirnya memberikan selembar foto kecil kepada Echa, foto pernikahannya dengan Panji. Saat melihat foto tersebut rasanya hati Echa seperti di iris-iris oleh pisau silet. Perih rasanya saat mengetahui bahwa ternyata suaminya memiliki istri lain, namun apalah daya semuanya telah terjadi. Mata Echa awalnya hanya berkaca-kaca, namun saat ini sudah tak bisa lagi ia menahan air mata untuk terjatuh.


"Dimas, kamu main disana dulu ya!" pinta Dewi sambil menunjuk ke arah Laura.


"Iya Ma," jawab Dimas. Setelah Dimas pergi, Dewi pun melanjutkan ceritanya.


"Mas Panji sengaja nikahi saya secara siri, karena orang tua mas Panji tidak merestui hubungan kami, akhirnya kami berdua sepakat untuk menikah siri, berharap suatu saat nanti mau tidak mau orang tuanya pasti merestui kami. Setahun sudah kami menikah, dan saat itu kami sepakat untuk jujur kepada orang tuanya mas Panji, namun ternyata kami terlambat, orang tua mas Panji sudah menjodohkannya dengan kamu. Sakit bukan main yang saya rasakan, dimana umur Dimas masih sangat kecil, namun papanya harus menikah lagi. Saya mencoba untuk ikhlas menerima ini semua, saya ikhlas harus berbagi suami dengan wanita yang sama sekali tidak saya kenali. Disaat umur Dimas beranjak 3 tahun, mas Panji pergi meninggalkan saya begitu saja. Dan 2 tahun terakhir ini saya mencoba mencari keberadaan mas Panji. Hingga pada suatu hari disaat saya ingin membelikan susu untuk Dimas, saya melihat kamu anak kamu dan juga mas Pas Panji sedang bermain bersama di taman. Menetes air mata saya ketika Dimas mengatakan, Ma itu papa. Karena tak ingin menggangu keharmonisan kalian saya pun memutuskan hanya melihat kalian dari jauh dan terus mencoba untuk meyakinkan Dimas bahwa yang ia lihat bukanlah papanya. Saya mengikuti kalian dari belakang hingga pada akhirnya kalian berhenti di rumah ini. Dan ketika saya sudah tidak memiliki uang lagi untuk membiayakan Dimas, dengan terpaksa saya datang kesini untuk meminta pertanggung jawaban dari mas Panji terhadap Dimas." Ucap Dewi menjelaskan kejadian yang sebenarnya dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


"Mbak, tolong maafkan suami saya!" pinta Echa dengan berlutut dihadapan Dewi.


"Saya sudah memaafkannya, tapi saya mohon tolong jaga Dimas, jika saya sudah mampu memberikan kehidupan yang layak untuk Dimas saya janji akan mengambil Dimas kembali!" pinta Dewi dengan sungguh-sungguh.


"Ga mbak, Dimas membutuhkan mbak, saya janji akan membantu mbak untuk membiayain Dimas, tapi saya mohon sama mbak jangan tinggalin Dimas disini, saya mohon mbak!" pinta Echa dengan menangkupkan kedua tangannya.

__ADS_1


Back,


"Sejak saat itu Mama berhubungan baik dengan Mamanya Dimas, hingga pada akhirnya Mamanya Dimas menikah dan pindah ke Bandung. Itu sebabnya kenapa Dimas dan Laura tidak boleh menikah, karena mereka adalah saudara kandung." Ucap Echa sambil mengelus punggung Aliya.


"Tapi kenapa bukan Aliya aja yang tunangan sama mas Angga, kan Mama tau kalau Aliya suka sama mas Angga?" tanya Aliya yang mencoba menahan air matanya.


"Karena kamu masih kuliah Aliya, Mama dan juga keluarganya Angga ga mau fokus kamu terbagi, dan kamu juga belum cukup dewasa untuk menikah Aliya." Jawab Echa yang membuat air mata Aliya terjatuh.


"Terus kenapa acaranya ga dibatalin aja?" tanya Aliya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Acaranya ga mungkin dibatalin begitu aja Aliya, tamu undangan yang datang sangat banyak Aliya, kalau dibatalin pastinya akan membuat keluarga kita juga malu Aliya," ucap Echa.


"Jadi Mama, kak Laura dan keluarganya mas Angga lebih mementingkan malu dari pada perasaan Aliya?" tanya Aliya dengan tatapan penuh amarah dimatanya.


"Bukan begitu Aliya, kita ga boleh egois, ini kesepakatan bersama Aliya," jawab Echa sambil memeluk tubuh Aliya.


"Ma, Aliya pengen sendiri!" pinta Aliya tanpa membalas pelukan Echa.


"Mama harap kamu ngerti Aliya," ucap Echa yang kemudian mencium kening Aliya dan keluar dari kamar Aliya.


Setelah Echa keluar dari kamarnya, Aliya pun menumpahkan semua air mata kekecewaanya terhadap mereka semua. Hingga pada akhirnya ia tertidur setelah capek menangis.


Oke guys, cieee yang pada bingung dengan ceritanya,😁


Terimakasih,


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman, 😉


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2