Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 127


__ADS_3

Setelah keluar dari cafe move on tersebut Laura dan Dimas memutuskan untuk ke taman yang tak jauh dari cafe tersebut. Laura yang melihat memar dipipi kanan Dimas pun langsung mengambil kotak P3K. Laura pun segera mengompres pipi Dimas yang memar dengan menggunakan air mineral dingin yang baru ia beli tadi.


"Au, perih Ra," ucap Dimas menahan tangan Laura agar berhenti mengompres pipinya.


"Mas Dimas mau sembuh ga sih?" tanya Laura nyolot.


"Ya mau tapi ini perih kali," jawab Dimas.


"Udah-udah Mas Dimas diam aja deh!" pinta Laura dengan terus men-tap tap kain kompresan ke pipi Dimas.


"Pelan-pelan kali Ra," ucap Dimas sambil memegang tangan Laura. Tanpa sengaja kedua bola mata Laura dan Dimas bertemu. Selama 15 detik mereka saling bertatapan hingga pada akhirnya Laura menyadarinya dan langsung menurunkan tangannya.


"Sorry-sorry ga sengaja Ra," ucap Dimas yang juga baru menyadari apa yang terjadi dengan dirinya dan Laura, Dimas pun langsung melepaskan tangan Laura.


"Iya ga apa-apa kok Mas," jawab Laura yang masih canggung.


"Lucu ya Ra, padahal kita adik kakak tapi kenapa bisa ya kita saling suka?" tanya Dimas sambil duduk lurus ke depan.


"Iya Mas, sakit banget rasanya pas tau kalau kita ternyata sedarah." Jawab Laura sambil tersenyum.


"Iya, rasanya seperti disambar petir di cuaca yang cerah," ucap Dimas yang kemudian memegang kepalanya.


"Mas Dimas jangan sedih ya, mungkin Mas Dimas memang ditakdirkan untuk jagain Laura," jawab Laura dengan air mata yang mulai mengalir dipipinya. Dimas yang tak tega melihat Laura menangis pun langsung menyandarkan kepala Laura ke bahunya.


"Mas janji bakalan jaga kamu Ra, setidaknya Mas ga akan pernah kehilangan kamu lagi, karena kamu udah jadi adik Mas selamanya. Dan Mas juga janji akan bantuin kamu biar ga jadi nikah sama Angga." Ucap Dimas dengan air mata yang sudah menetes.


"Mas mungkin kehilangan kamu sebagai pasangan Mas, tapi Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita, Allah jadikan kita saudara sedarah yang ga akan pernah bisa membuat kita terpisah," lanjut Dimas dengan rasa sakit yang ia rasakan ketika orang yang ia cintai sebagai pasangannya ternyata adik kandungnya sendiri.


"Mas Dimas, Laura boleh peluk Mas Dimas ga?" tanya Laura dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes.


"Boleh," jawab Dimas. Laura pun akhirnya memeluk Dimas dari samping dan menangis sejadi-jadinya.


"Cuma Mas Dimas yang ngerti Laura saat ini, disaat semua orang memojokkan Laura karena Laura menyakiti hati Aliya. Mas Dimas percayakan sama Laura, bahwa Laura lakukan ini semua untuk mama, bukan karena kemauan Laura sendiri. Laura juga ngerasain sakit yang bahkan lebih dari apa yang Aliya rasakan. Laura harus terima kenyataan bahwa orang yang Laura sayang ternyata kakak Laura sendiri. Laura kesel, Laura marah dalam hati dengan ini semua, tapi Laura ga bisa apa-apa Mas, Laura harus tetap memilih." Ucap Laura dengan memeluk Dimas erat-erat. Dimas yang kini juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Laura rasakan hanya bisa terus menghapus air matanya agar Laura tidak melihat kesedihannya.


Baru kali ini Dimas merasa cinta yang ia inginkan setelah sekian lama menunggu, dan ketika ia sudah menemukannya namun takdir berkata lain.


"Ra, kamu harus kuat, jadilah seperti bunga yang tetap memberikan keharuman meski kepada tangan yang ingin menghancurkannya. Dan jadilah seperti kaktus yang meskipun tidak pernah dianggap bermanfaat, namun ketika musim panas tiba ia selalu memberikan air kepada tumbuhan lain dengan ikhlas." Ucap Dimas yang kemudian melepaskan pelukan Laura.

__ADS_1


"Laura jangan nangis lagi ya, hujan tidak pernah menjamin akan ada pelangi setelahnya tapi hujan tetap memberi manfaat bagi makhluk hidup meskipun kehadirannya tidak selalu diterima oleh mereka." Ucap Dimas tersenyum sambil menghapus air mata Laura.


"Makasih ya Mas, udah jadi kakak yang baik buat Laura," ujar Laura yang kemudian tersenyum. Dimas pun hanya tersenyum mendengar ucapan Laura.


Suasana haru yang terjadi diantara Dimas dan Laura saat ini justru membuat Randy semakin terbakar api cemburu yang mendalam. Ya, Randy sudah dari awal melihat Laura dan Dimas duduk ditaman dari kejauhan.


"Dimas, gue kecewa sama lo," ucap Randy yang berada di dalam mobilnya.


"Dan gue nyesal udah perjuangin lo selama ini Ra," ucap Randy dengan tatapan penuh amarah.


"Gue selalu berpikir tentang lo Ra, bahwa lo beda dari yang lain, tapi ternyata gue salah besar, penampilan lo ga menunjukkan bahwa lo wanita yang baik," lanjut Randy yang sangat kecewa dengan apa yang ia lihat.


"Tadinya gue mau minta maaf sama lo, tapi melihat lo mesra-mesraan dengan orang yang belum menjadi muhrim lo di hadapan gue. Gue bersyukur ga masuk lebih jauh lagi ke kehidupan lo. See you again Laura, gue nyesal pernah sayang sama lo," ucap Randy yang kemudian langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan Laura dan Dimas yang masih berada di taman.


DRIIIIINGGG... DRIIIIINGGG... DRIIIIINGGG...


Handphone Randy berbunyi tanda ada panggilan masuk.


📳 Mama


"Kamu lagi dimana Ran?" tanya Tika.


"Lagi dijalan Ma," jawab Randy.


"Nanti malam kita dinner bertiga ya!" pinta Tika dengan sangat lembut.


"Randy sibuk Ma," jawab Randy.


"Randyyy, please kali ini aja. Mau sampai kapan sih kamu menghindar dari Mama dan Papa?" tanya Tika.


"Yaudah nanti jam 8 Randy tunggu di cafe move on," jawab Randy yang kemudian memutus telponnya.


"Ya ampun Randy, mau sampai kapan sih keluarga kita begini?" tanya Tika pada dirinya sendiri.


"Mama mulai ga ngerti maunya kamu itu apa sih Ran," ucap Tika yang kesal sendiri dengan ucapannya.


Malam pun telah tiba, Randy sudah menunggu di cafe move on. Tak lama kemudian Tika dan suamimya pun datang dan duduk di depan Randy.

__ADS_1


"Kamu udah pesan makanan Ran?" tanya Tika.


"Belum," jawab Randy ketus.


"Yaudah kita pesan makanan dulu ya!" pinta Tika dengan lembut.


Setelah memesan makanan Tika pun akhirnya memulai bicara dengan Randy yang dari tadi hanya diam seribu bahasa.


"Randy, kamu masih marah ya sama Mama?" tanya Tika dengan menatap kedua bola mata Randy.


"Mama dan Papa tau kamu marah karena kami jarang ada waktu kan untuk kamu?" tanya Tika lagi.


"Kenapa baru sekarang Mama Papa sadar, dulu Mama Papa kemana aja?" jawab Randy dengan kembali memberikan pertanyaan.


"Randy, Mama Papa cuma mau kamu tetap hidup layak, Mama Papa ga mau kamu menderita," jawab Tika sambil memegang tangan kanan Randy.


"Ma, Randy cuma mau kasih sayang dari Mama Papa aja kok. Untuk apa Randy punya semuanya tapi kalau Randy tak pernah mendapat kasih sayang yang tulus sama Mama Papa." Ucap Randy ketus.


"Ma, Pa bahkan Randy iri sama mereka yang hidup miskin di luar sana tapi bahagia sama keluarganya, sedangkan kita yang hidup bergelimang harta tapi sayangnya tidak pernah mendapatkan keharmonisan." Lanjut Randy tegas.


"Randy, Mama Papa mohon izinkan kami untuk memperbaiki semuanya, Mama ingin kita akur lagi Randy!" pinta Tika penuh harapan.


"Iya Randy, Papa juga ga bisa nyalahin keputusan kamu sampai-sampai kamu membenci kami selama ini, karena kelalaian kami berdua. Papa mohon sama kamu beri kami kesempatan untuk perbaiki semuanya!" pinta Papa Randy.


"Baiklah Randy akan berikan Mama Papa kesempatan lagi," jawab Randy.


Oke guys segini dulu ya, sorry typo ya guys.


Yang mau bertanya-tanya secara pribadi boleh dari chat aplikasi ini dengan syarat antara author dan reader saling follow ya, Terimakasih.😊


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2