
Angga menghentikan mobilnya di sebuah parkiran supermarket. Angga membuka sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobinya.
“Yuk turun yank!” ajak Angga.
Dengan senyuman termanisnya Aliya keluar dari mobil sangat senang hati. Setelah membeli es krim mereka pun segera menghabiskannya dan langsung menuju rumah sakit.
“Assalammu’alakum buk dokter yang cantik,” sapa Aliya yang berada di depan pintu.
Aulia yang tengah bergelut dengan berkas-berkasnya sontak terkejut saat mengetahui ada Aliya di depan pintu ruangannya yang terbuka itu.
Aulia kemudian berjalan menghampiri Aliya, “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Al,” jawab Aulia yang tak lupa menghiasi bibirnya dengan senyuman manis itu.
“Hei, masuk-masuk Al!” perintah Aulia.
“Makasih mbak,” jawab Aliya yang kemudian menarik lengan Angga.
Aliya lalu duduk berhadapan langsung dengan Aulia, “mbak, Aliya mau cek kandungan!” pinta Aliya sembari merekahkan senyumannya.
Aulia kembali membalas senyuman Aliya dan kemudian merangkul pundak Aliya, “yaudah yuk kita ke ruangan spesial pemeriksaan kandungan buat Aliya.”
Aliya terkekeh mendengar ucapan Aulia, “haha, apaan sih mbak ngaur aja, jelas-jelas ruangan itu spesial buat semua orang,” tukas Aliya.
“Ih siapa bilang?” tanya Aulia dengan menatap kedua bola mata Aliya lekat.
“Ya kan emang iya sih mbak,” jawab Aliya.
“Salah kamu Al, ruangan ini nih spesial buat perempuan aja,” jeda Aulia sejenak, “laki-laki mana boleh,” lanjut Aulia seraya melirik Angga yang dari tadi diam di depan pintu.
Aliya seketika terkekeh melihat suaminya yang tak tau apa-apa itu, “hahaha, polos banget sih yank muka kamu,” ledek Aliya.
“Hah? Apa? Apa sih?” Angga gelagapan menjawab ucapan Aliya.
Aliya lalu duduk di atas tempat tidur khusus untuk pemeriksaan kandungan, “emangnya suami aku ga boleh masuk ya mbak?” tanya Aliya dengan sangat polos.
Aulia sontak tertawa mendengar pertanyaan Aliya yang begitu polos, “hahaha.”
Aliya mengerutkan kedua alis matanya, “ih apaan sih mbak? Kok malah ketawa sih?” tanya Aliya lagi.
“Kamu lucu ya Al,” tukas Aulia.
Aliya hanya memberikan senyuman hambarnya kepada Aulia yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Aku bercanda kali Al, serius banget nanggapinya,” ucap Aulia.
__ADS_1
****
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, hubungan antara Aliya dan juga Aulia semakin dekat. Angga yang sampai saat ini belum menceritakan apapun kepada Aliya tentang Aulia pun seketika tak bisa melakukan apa-apa lagi. Bahkan, saat ini Angga hanya bisa bungkam tentang masalah ini, sebab Angga tak mau istrinya itu setres.
Malam ini udara malam begitu sejuk. Aliya yang masih bergelut dengan skripsinya memilih untuk mengerjakan tukas kampus di balkon kamar. Angga yang tak mendapati istrinya di dalam kamar pun memutuskan untuk mencari istrinya di balkon. Senyum manis Angga merekah dibibirnya saat mendapati Aliya yang tengah mengotak-atik laptopnya. Rambut yang terurai dan di tertiup angin malam nan sejuk, menjadikan Aliya bak bidadari yang terdampar di balkon kamarnya.
Aliya lalu menatap ke sebuah tumpuan untuk menentramkan pikiranya. Pikiran Aliya seketika buyar melihat suaminya yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
“Yank!” panggil Aliya lembut.
“Yank!”
“YANK!!!” Aliya mulai meninggikan suaranya melihat Angga yang tak kunjung menjawabnya.
“SAAYAANG!!!”
Angga terkejut mendengar suara Aliya yang begitu besar.
“Eh, kamu manggil aku ya yank?” tanya Angga seraya menghampiri Aliya yang tengah duduk santai di sofa.
Aliya memanyunkan bibirnya, “tau ah ga jadi,” cetus Aliya kesal.
Angga kemudian mencolek dagu Aliya, “gitu aja ngambek,” ledek Angga seraya menaik turunkan alis matanya.
“Biarin aja,” jawab Aliya santai.
“Iya nih yank, banyak yang harus di revisi,” jawab Aliya yang masih fokus dengan laptopnya.
“Butuh aku bantuin ga?” tanya Angga seraya merangkul pundak Aliya.
Aliya lalu menggelengkan kepalanya, “ga usah yank, kalau kamu bantuin entar yang pintar kamu doang dong,” jawab Aliya.
“Ya kita kan harus berbagi ilmu yank,” ucap Angga sambil mengelus rambut indah Aliya.
“Ih yank kamu tidur gih!” pinta Aliya dengan nada merengek.
“Kok gitu sih yank? Aku kan mau nemanin kamu.”
“Ga usah yank, aku ga fokus kalau ada kamu disini,” ucap Aliya sambil memainkan pipi Angga.
“Yaudah deh aku diem aja,” jawab Angga seraya tersenyum.
“Janji!” Aliya menyodorkan kelingkingnya kepada Angga.
__ADS_1
“Iya janji,” jawab Angga seraya meraih kelingking Aliya.
Selama kurang lebih 15 menit keheningan yang terjadi di antara Angga dan Aliya, membuat Angga benar-benar ngantuk.
“Huuaaahh,” Angga menguap dengan mata yang sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Aliya yang melihat Angga menguap sontak langsung menutup mulut Angga dengan tangan kanannya, “kamu kebiasaan amat sih!” tegas Aliya.
“Kebiasaan apa sih yank?” tanya Angga seraya bersandar di pundak Aliya.
“Kalau nguap itu mulutnya ditutup yank biar setan ga masuk!” perintah Aliya.
“Iya yank maaf, aku ngantuk banget,” jawab Angga dengan suara seperti orang habis mabuk.
"***Menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya." (HR. Bukhari).
Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. pernah bersabda, 'Jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaklah ia menahan mulutnya dengan tangannya, sebab syaitan akan masuk." (HR Muslim***)
“Tidur di kamar sana yank!” perintah Aliya seraya mengelus-elus rambut Angga.
“Ga mau, aku mau nemani kamu disini yank,” jawab Angga yang kemudian merubah posisinya menjadi berbaring dengan berbantalkan paha Aliya, “aku tidur disini aja, entar kalau udah siap bangunin aku ya!” pinta Angga lalu memeluk tubuh Aliya.
“Huff,” Aliya menghembuskan napas kesalnya dan kemudian melanjutkan tugasnya.
Beberapa saat setelah Angga terlelap, tiba-tiba saja ada darah yang menetes mengenai kening Angga. Aliya sangat terkejut melihat kening Angga yang terkena tetesan darah. Aliya lalu mengambil tisu yang ada di atas meja untuk mengelap darah yang ada di kening Angga.
“Darah dari mana sih ini?” tanya Aliya dengan suara pelan, “aneh banget,” lanjutnya.
Ketika Aliya sedang asyik mengelap kening Angga, tiba-tiba saja darah itu terjatuh lagi. Aliya sontak terkejut karena tenyata darah tersebut berasal darinya. Aliya seketika langsung mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Aliya lalu membuka kamera ponselnya, dan ternyata Aliya mimisan. Aliya kemudian segera membersihkan hidungnya yang di lumuri darah itu dengan menggunakan tisu.
“Hah, gue mimisan?” tanya Aliya pada dirinya sendiri.
Hai-hai guys, maaf ya baru bisa up lagi.
Sebelumnya saya mau berterimakasih banyak kepada semua readers yang masih setia dengan kelanjutannya, terimakasih teman-teman.
Saya juga minta maaf, karena lanjutannya ga sesuai dengan yang ada di pikiran teman-teman semuanya, yang buat teman-teman pada nggak mau baca novel ini lagi, yang mulai nggak suka dengan alurnya. Tapi nggak apa-apa kok, saya ngerti nggak saya nggak bisa memaksa seseorang untuk tetap menyukai novel saya, karena itu semua hak teman-teman.
Sekali lagi saya minta maaf, dan terimakasih untuk yang masih nungguin next episode nya. Terimakasih teman-teman.
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
__ADS_1
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni