Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 132


__ADS_3

“Menurut saya kata-kata Laura ada benarnya juga, kita terlalu memaksakan kehendak kita masing-masing sehingga akan banyak korban yang tersakiti jika pernikahan Angga dan Laura tetap dilaksanakan.” Ucap Echa yang mulai berpihak kepada Laura. Angga akhirnya tersenyum bahagia mendengar tanggapan dari Echa.


“Tapi kita ga bisa batalin pernikahan ini begitu aja, ini hanya perlu dipertimbangkan mateng-mateng lagi, untuk saat ini oke kita tunda dulu untuk percobaan baju pengantinnya,” jawab Dewi dengan tegas.


Angga menghembuskan napas leganya, “Alhamdulillah,” ucap Angga sambil mengelus dadanya.


“Tapi pernikahan antara Laura dan Angga akan tetap dilaksanakan, jika diantara kalian berdua termasuk Aliya merencanakan suatu hal yang licik demi memperdaya kami.” Ucap Dewi dengan sangat tegas. Laura dan Angga menganggukkan kepalanya yang berarti mereka setuju dengan persyaratan yang Dewi buat.


Keesokan harinya ....


Laura sudah selesai bersiap-siap untuk pergi jalan bersama Randy. Laura beralasan dengan Echa untuk pergi ke rumah Dania agar ia diizinin pergi. Laura yang baru saja sampai di taman tempat ia dan Randy berjanji kebingungan karena Randy tidak terlihat dimana-mana, padahal jam tangan yang melingkar di tangan kiri Laura sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB.


“Huff,” Laura menghela napas kesalnya. “Randy dimana sih kok belum nongol juga,” cetus Laura sambil menyilangkan tangan didadanya.


Laura berjalan kesana sini seperti setrikaan sambil sesekali melirik jam tangannya yang terus bergerak. Setelah lelah mondar mandir, Laura pun memutuskan untuk duduk di salah satu kursi taman yang ada di sampingnya.


“Awas aja lo ya Ran kalau sampai nipuin gue, liat aja lo gue ga bakalan mau jumpa lo lagi,” Laura memasang muka masamnya dengan tubuh yang sudah ia sandarkan ke kursi tersebut.


Pukul 11.30 WIB, sudah satu jam Laura menunggu kedatangan Randy, namun orang yang ia tunggu-tunggu tak juga kunjung datang. Laura berdiri dari tempat duduknya, “benar-benar lo ya Ran,” Laura sangat kesal dengan Randy dan ia pun memutuskan untuk segera meninggalkan taman. Baru beberapa langkah Laura berjalan, tiba-tiba ada suara pria yang sangat familiar memanggil namanya.


“LAURA,” Laura membalikkan tubuhnya mencari sumber suara itu berasal.


“Ngaret lo Ran, males gue.” Cetus Laura yang mendapati Randy berdiri didepannya saat ini. Melihat Laura dengan ekspresi juteknya tak membuat Randy takut, justru Randy malah menyunggingkan senyuman termanisnya kepada Laura.


“Ngapain lo senyum-senyum, udah satu jam gue nunggu lo disini, dan sekarang lo malah senyum-senyum seenak jidat lo aja, capek tau nungguinnya!” kini Laura benar-benar kesal melihat Randy yang sama sekali tak menanggapi ucapannya sama sekali.


“Udah ah gue pulang aja, udah ga mood gue jalan sama lo,” Laura membalikkan tubuhnya membelakangi Randy dan berjalan meninggalkan Randy yang masih setia dengan senyumannya.


Baru beberapa langkah Laura melangkahkan kakinya, Randy langsung menarik tas Laura yang membuat Laura menghentikan langkahnya. “Ra, tunggu dulu!” pinta Randy.


Laura membalikkan badannya menghadap Randy, “apaan lagi sih Ran, gu...” Laura tak sempat melanjutkan ucapannya karena Randy langsung memotong ucapan Laura dengan menyodorkan sajadah.


“Bentar lagi zuhur, shalat dulu yuk!” ajak Randy dengan sajadah yang masih berada ditangannya.


Melihat tingkah laku Randy yang berubah 360 derajat membuat Laura begitu terpukau. Laura menatap mata Randy begitu tajam tanpa kedipan sama sekali.

__ADS_1


Randy meluruskan tangan kanannya agar sajadah yang ia pegang bisa lebih dekat lagi dengan Laura. “Kedip kali Ra, entar dosa lagi!” pinta Randy yang seketika membuat Laura salah tingkah dan langsung mengalihkan pandangannya.


“Nih ambil!” pinta Randy lagi.


“Eh i... iyaa,” jawab Laura yang kemudian mengambil sajadah tersebut dari tangan Randy.


Randy pun akhirnya berjalan mendahului Laura menuju parkiran. Laura hanya diam seribu bahasa sambil mengikuti langkah kaki Randy. Laura benar-benar terkejut melihat perubahan Randy yang cukup drastis ini.


“Gue salah liat ga ya?” tanya Laura dengan suara berbisik.


“Apa Ra?” tanya Randy yang mendengar samar ucapan Laura.


“Emm, ga ada apa-apa kok,” jawab Laura dengan senyum paksanya.


Randy dan Laura kini sudah berada di dalam mobil Ferrari Spider milik Randy. Sepanjang perjalanan menuju masjid hanya hening yang terjadi diantara mereka berdua, hingga pada akhirnya Randy membuka suara untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi dari tadi.


“Ra, kita shalatnya di masjid dekat cafe move aja ya, habis shalat kita langsung makan siang aja!” pinta Randy dengan melirik Laura yang masih diam.


“I... iyaa Ran,” jawab Laura gugup. Entah kenapa setiap kali Randy mengajak Laura berbicara, seolah-olah ia sedang menjadi terdakwa dalam sebuah sidang, selalu menjawab semua pertanyaan Randy dengan sangat gugup.


“Ran, nih letak dimana?” tanya Laura dengan menunjukkan sajadah yang Randy berikan kepadanya tadi.


“Letak di belakang aja Ra,” jawab Randy.


“Emm oke,” ucap Laura sambil meletakkan sajadah tersebut di kursi belakang mobil Randy.


Randy dan Laura kini sudah berada di dalam cafe move on. Kebetulan saat ini satu-satunya meja kosong hanya di meja nomor 4, dengan penuh semangat Randy mendatangi meja nomor 4 yang berada di pojok kanan dekat panggung. Randy akhirnya duduk diikuti dengan Laura.


“Pesan apa Mbak Mas?” tanya pelayan cafe move on tersebut.


“Kamu pesan apa Ra?” tanya Randy.


“Steak keju aja mbak, tapi ga pakai keju ya mbak!” pinta Laura tersenyum, “minumnya Lemon Tea aja mbak,” lanjut Laura.


“Saya Steak keju sama Lemon Tea aja deh mbak,” ucap Randy tersenyum.

__ADS_1


“Baik mbak mas, Lemon Tea nya dua, steak kejunya dua yang satu ga pakai keju ya,” ucap pelayan tersebut mengulang pesanan mereka.


5 menit kemudian pesanan mereka pun sampai di atas meja. Tanpa pikir panjang Laura langsung memotong daging steak miliknya, sedangkan Randy hanya melirik Laura dan steak dipiring Laura sambil tersenyum. Laura yang menyadarinya langsung menengur Randy heran.


“Lo kenapa liatin gue kayak gitu?” tanya Laura santai.


“Ga ada lucu aja, secara lo kan suka banget sama steak keju kok sekarang tiba-tiba malah mintanya ga pakai keju lagi,” jawab Randy yang kemudian menyedot minumannya.


“Ya gue lagi ga pengen aja,” jawab Laura berbohong.


“Lagi ga pengen atau belum bisa move on?” tanya Randy yang membuat Laura keselek.


“Uhuukk... Uhuukk...” dengan cepat Laura langsung mengambil minumannya.


“Tu kan dugaan gue benar,” ledek Randy sambil mengambil steak milik Laura.


“Ehh, steak gue mau lo apain?” tanya Laura yang bingung karena Randy tiba-tiba mengambil steaknya begitu saja.


“Nih, lo makan punya gue aja masih utuh belum gue sentuh!” perintah Randy sambil meletakkan steak miliknya tepat di depan Laura.


“Tapi Ran...” ucap Laura yang langsung dipotong Randy, “udah Ra, lo ga usah kebanyakan ngeles deh gue tau kok makan steak tanpa keju itu sama sekali ga enak, karena steak ini memang sengaja di kolaborasi dengan keju.” Potong Randy sambil memotong danging steak yang tadinya milik Laura.


“Gue dulu juga sama kok kayak lo, kalau beli steak di cafe move on pasti ga pakai keju,” lanjut Randy yang membuat Laura diam seribu bahasa.


“Tapi untuk kali ini karena gue makan bareng lo, makanya gue pesan pakai keju.” Ucap Randy tersenyum.


Oke guys segini dulu ya 😉


Gimana nih yang pada kangen sama Randy, udah pada terobati belum?


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2