
Baru saja Aulia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Aulia merasakan sakit pada bagian perut yang luar biasa. Sepertinya Aulia mau melahirkan.
“AAWW!!” Angga dan Aliya serentak melirik Aulia yang sedang memegang perutnya.
“Aulia!”
“Mbak Aulia!”
Spontan Angga dan Aliya langsung menghampiri Aulia dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Syukurlah mereka sampai di rumah sakit tepat waktu, sebab fisik Aulia mulai melemah.
Senyum bahagia merekah indah di bibir Aulia dan Angga. Bayi mungil perempuan telah hadir untuk menambah kebahagiaan di keluarga Angga. Aliya dan kedua anaknya hanya mampu memperhatikan Angga, Aulia dan bayi mereka dari jendela ICU. Entah mengapa perasaan Aliya kini mulai resah tak karuan ketika bayi mungil itu lahir. Cemburu, itulah yang menggambarkan perasaan Aliya saat ini. Aliya menatap lembut kedua bola mata bening Azzam dan Azzura secara bergantian.
“Azzam, Azzura, apapun yang terjadi nanti bunda akan selalu menyayangi kalian sepenuh hati,” ujar Aliya dalam hati. Aliya lalu memeluk erat tubuh Azzam dan Azzura yang berdiri di depannya. Cairan bening yang malu-malu untuk keluar itu pun akhirnya memberanikan dirinya untuk menunjukkan wujudnya. Aliya menangis, “bunda harus bisa sembuh ya Nak, bunda ga mau melihat kalian harus kurang perhatian.”
****
3 bulan kemudian....
Rasa kalut yang menyelimuti perasaan Aliya selama beberapa bulan ini seolah-olah selalu menghantui pikirannya. Terlihat jelas Angga lebih menaruh perhatian lebih terhadap Aulia dan Aura, bayi mungil yang membuat Aliya dibaluti ketakutan.
Azzam, Azzura dan juga Aura sudah tertidur pulas. Hanya ada Aulia, Angga dan Aliya di meja makan saat ini.
“Sayang tolong ambilin ayamnya dong!” pinta Angga.
“Nih,” Aliya dan Aulia meletak ayam yang Angga minta secara bersamaan.
Kedua buah bola mata Angga terbelalak melihat kekompakan istri-istrinya ini. Agar tidak ada yang cemburu Angga terpaksa melahap kedua potong ayam itu.
“Mas, malam ini kamu tidur di kamar aku, kan?” tanya Aliya. Angga lalu menatap sejenak mata Aulia, Aulia lalu tersenyum.
“Iya yank,” jawab Angga seraya tersenyum.
Setelah selesai makan malam, Aliya dan Angga masuk ke kamar. Tak ingin berpikir aneh-aneh lagi, Aliya memutuskan untuk menanyakan suatu hal yang membuatnya cemburu selama beberapa bulan belakangan ini.
“Mas, Aliya mau nanya boleh?” tanya Aliya memberanikan diri.
__ADS_1
Angga mengerutkan alis matanya menatap aneh wajah Aliya, “tumben izin dulu,” jawab Angga seraya tersenyum.
“Kenapa sih beberapa bulan belakangan ini Mas lebih peduli sama Mbak Aulia daripada Aliya?” tanya Aliya merengut.
Angga terkekeh lalu mencubit pipi Aliya, “kamu cemburu ya?” tebak Angga.
“Istri mana sih yang ga cemburu liat suaminya lebih peduli sama istri keduanya.”
Tanpa sengaja Aulia mendengar perkataan Aliya barusan. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Aulia yang tadinya ingin meminta obat nyamuk kepada Aliya. Namun, setelah mendengar perkataan itu, Aulia langsung mengurungkan niatnya.
Keesokan harinya....
Malam ini Angga akan tidur bersama Aulia. Aulia duduk termenung di balkon kamarnya.
“Hai,” tegur Angga yang langsung memeluk tubuh Aulia dari belakang.
Spontan Aulia melepaskan pelukan Angga.
Angga terkejut mendapati sikap dingin Aulia kepadanya malam ini. “Kamu kenapa?” tanya Angga.
“Seperti kehadiran Aulia dan Aura saat ini membuat Aliya terluka Mas,” jawab Aulia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Angga lalu memegang pipi Aulia dengan kedua tangannya, “kamu ga boleh ngomong gitu. Kita bisa perbaiki semuanya dari awal lagi Li. Aku ga mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya lagi.” Perlahan air mata Angga menetes.
“Aulia titip Aura ya Mas, rawat dia sama seperti kamu merawat Azzam dan Azzura!” pinta Aulia yang kemudian tersenyum.
Tubuh Aulia mulai melemas, kepalanya terasa sangat pusing. Wajahnya terlihat sangat pucat. Kini matanya mulai menutup.
“Aulia!”
“AULIAAAAAA!” teriak Angga sambil memeluk erat tubuh Aulia yang sudah tidak sadarkan diri.
Mendengar teriakan itu, Aliya yang dari tadi berada di belakang pintu sontak langsung berlari menghampiri Aulia dan Angga.
Angga memeluk tubuh Aulia dengan posisi duduk. Air mata Angga terus menerus bercucuran dipipinya.
__ADS_1
“Aulia bangun, jangan tinggalin Mas!” pinta Angga sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aulia.
Aliya benar-benar terkejut dengan kejadian ini. Ia ikut menangis atas kepergian Aulia untuk selama-lamanya.
“Aulia please bangun, Aura masih membutuhkan kamu!” pinta Angga lagi.
Keesokan harinya....
Angga masih tak menyangka akan kehilangan Aulia secepat ini. Terlebih Aliya yang masih menyimpan tanda tanya besar atas kepergian Aulia secara tiba-tiba. Namun, yang pasti Aliya sangat merasa bersalah karena bersikap dingin kepada Aulia dalam beberapa bulan terakhir ini. Setelah pulang dari pemakaman Aliya langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Mas, apa yang sebenarnya terjadi dengan Mbak Aulia?” tanya Aliya.
“Karena kecelakaan yang menimbulkan benturan di kepalanya waktu itu membuat ada pembekuan darah pada bagian otaknya dan Aulia merahasiakan itu dari kita semua,” jeda Angga yang tak kuasa menahan tangisnya. “Diam-diam ia ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya. Namun, sayang Aulia tak bisa di selamatkan lagi. Maka dari itu Aulia sering merasakan sakit kepala. Aulia sengaja merahasiakan ini terutama kepada kamu, karena ia ga mau kalau kamu ga bakalan semangat lagi untuk berjuang sembuh, sedangkan dia sendiri dalam keadaan seperti ini.” Mendengarkan penjelasan Angga semakin membuat Aliya terpukul. Sebab, ia sudah berpikir aneh-aneh tentang Aulia selama ini.
Angga lalu menghapus kasar air matanya, “dan ada satu hal yang Aulia sembunyikan.”
“Apa Mas?” tanya Aliya.
“Ayo ikut Mas!” pinta Angga. Angga lalu membawa Aliya untuk masuk kedalam kamar Aulia. Setelah itu, Aliya mengambil sebuah kotak kado dan memberikannya kepada Aliya.
“Apa ini Mas?” tanya Aliya seraya menatap kedua bola mata Angga dan kotak kado itu secara bergantian.
“Buka aja!”
Aliya lalu membuka kotak kado tersebut dengan sangat hati-hati. Dan ternyata, isi dari kotak kado tersebut tak lain adalah sesuatu yang sangat Aliya damba-dambakan sejak lama. Air mata haru Aliya perlahan menetes. Sejenak Aliya mengenang masa-masa dimana ia sangat ingin memiliki barang ini.
Oke guys, sorry ya baru bisa up hari ini🙏🙏
Insyaallah pada episode 41 novel AKU PERGI SEASON 2 Akan tamat ya guys.
Oh ya jangan lupa follow akun WP ku juga ya FA_Himawari. Dan mohon maaf lahir dan bathin ya guys.🙏🙏
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
__ADS_1
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni