Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 66


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah 2 tahun Laura mendalami propesinya sebagai Dokter Spesialis jantung di Bandung. Laura sangat menekuni propesinya saat ini, dimana ia pernah mengalami penyakit yang sangat mematikan beberapa tahun belakangan ini dan harus menjalani kemoterapi yang cukup menguras kantong itu, memang sih penyakit yang Laura pernah alami dulu tidak separah penyakit jantung namun penyakitnya sudah cukup mengerikan karena kalau tidak segera ditangani akan berakibat fatal.


Laura sengaja memilih untuk menjadi dokter spesialis jantung karena ia ingin membangkitkan semangat para pengidap penyakit jantung agar terus berjuang melawan semua rintangan yang harus mereka lalui. Sering kali Laura mendapati pasien dari kalangan anak - anak bahkan ada juga yang masih bayi, miris memang di umur mereka yang masih sangat belia mereka harus berjuang demi mempertahankan kehidupannya. Namun, di sinilah Laura banyak belajar tentang kehidupan.


Hari ini tepatnya pukul 16.00 WIB, Laura sudah selesai bekerja, Laura pun segera merapikan semua barang - barangnya. Laura pun segera berjalan keluar dari rumah sakit itu dan berencana untuk berbelaja di Supermarket yang tak jauh dari tempat Laura bekerja. Laura pun mulai memasuki satu persatu bilik Supermarket tersebut, dan Laura pun sejenak menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang anak perempuan yang kira - kira berumur kurang lebih 2 tahun. Laura pun akhirnya menghampiri anak tersebut untuk membantunya mengambil sebuah makanan.


"Kamu mau yang mana?" tanya Laura dengan nada suara yang sangat lembut sehingga membuat anak kecil itu sama sekali tidak takut kepadanya.


"Yang icu tak!" perintah anak kecil itu sambil menunjuk salah satu snack dengan kata - kata yang belum sepenuhnya benar.


"Ini?" tanya Laura sambil memegang salah satu snack yang berada di rak itu.


"Endak yang, icu tak!" perintah anak kecil itu lagi.


"Ooh, yang ini?" tanya Laura lagi sambil memegang snack dengan nama Taro.


"Iya," jawab anak kecil itu dengan sangat senang. Laura pun mengambil snack Taro itu dan memberikan kepada anak itu.


"Makacih tak, " ucap anak kecil itu sambil memeluk snack Taro tersebut.


"Sama - sama cantik," jawab Laura sambil tersenyum.

__ADS_1


"FIIAA!" panggil seorang wanita dari bilik sebelah tempat Laura dan anak kecil itu berada.


"Mama," desis gadis kecil yang sedang bersama Laura saat ini.


8


"Oh nama kamu Fia, ya?" tanya Laura sambil mencubit pelan pipi cubby gadis kecil tersebut.


"Iya tak," jawab gadis kecil tersebut sambil menganggukkan kepalanya.


"FIIAA!" panggil wanita yang di sebut Fia adalah Mamanya itu.


"Iya Ma, Pia cama tatak tantik dicini," sahut Fia dengan kata - kata yang belum terlalu benar, ya maklum saja namanya juga anak sekecil Fia masih dalam tahap belajar bicara.


"Tak, cali Mama Pia yuk!" Ajak Fia sambil menarik tangan kiri Laura. Laura pun hanya mengikuti ajakan dari Fia tanpa ada penolakan sedikit pun.


Fia menuntun langkah kaki Laura menuju tempat dimana Mama Fia memanggil - manggil namanya. Raut wajah Laura yang tadinya di hiasi dengan senyum yang manis seketika berubah ketika ia berpapasan langsung dengan Mamanya Fia. Mata Laura berkaca - kaca melihat Mamanya Fia, tangan Laura seketikan menjadi dingin, jantungnya berdetak begitu kencang saat ia tau kalau ternyata Mamanya Fia adalah Chika sahabatnya dulu. Fia yang melihat keheningan yang terjadi pun seketika kebingungan hingga Fia pun mencoba menggoyang - goyangkan tangan Chika.


"Ma, Mama," ucap Fia sambil menggoyang - goyangkan tangan Chika.


"Eh iya," jawab Chika yang terkejut.

__ADS_1


"Fia, sama Papa dulu sana ya!" perintah Chika dengan lembut sambil menunjuk bilik di sebelahnya.


"Oke Ma," jawab Fia sambil berjalan menuju bilik dimana Papanya berada.


"Laura?" tanya Chika yang begitu kaget saat melihat Laura yang berada di depan matanya saat ini.


"Lu Laura kan?" tanya Chika lagi mencoba meyakinkan dugaannya.


"Eh sorry, Chik gue buru - buru," jawab Laura yang langsung berjalan meninggalkan Chika.


"Ra, Ra please gue mau ngomong bentar aja sama lu," ucap Chika sambil memegang tangan kanan Laura yang membuat Laura menghentikan langkahnya.


"Gue ga bisa Chik, gue buru - buru!" tegas Laura sambil melepaskan tangan Chika dari tangannya. Chika yang melihat perubahan pada diri Laura pun hanya bisa terdiam.


"Ra, kenapa sih lu ga mau dengarin penjelasan dari gue dulu?" tanya Chika pada dirinya sendiri sembari melihat punggung Laura yang mulai menjauh.


Jangan lupa kritik dan sarannya ya guys😉


Jangan lupa share juga ke sosmed kalian masing - masing ya, biar makin banyak yang baca makin membuat saya lebih sering up lagi.


TERIMAKASIH . . . .

__ADS_1


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni


__ADS_2