
"Terimakasih ya Mas, sarannya." Jawab Aliya yang kemudian melanjutkan tugasnya.
Setelah selesai mengerjakan tugas-tugasnya Aliya pun berpamitan kepada Angga untuk segera ke kampus untuk menemui Dona, Angga pun mengizinkannya. Sepanjang perjalanam menuju kampus Aliya terus meyakinkan dirinya sendiri untuk berani meminta maaf kepada Dona, apapun resikonya. Aliya berjalan menuju kelas dan ternyata Dona sudah menunggunya di depan pintu.
"Huff, gue benar-benar belum siap," ucap Aliya dalam hati dengan menghembuskan napas cemasnya.
Dona terus memandangi Aliya yang berjalan menuju kelas. Langkah kaki Aliya terhenti saat ia sudah berdiri di dekat Dona. Dengan penuh keberanian Aliya pun menghadapkan tubuhnya ke depan Dona. Kedua bola mata Aliya bertemu dengan kedua bola mata Dona. Mereka saling bertatapan, hingga pada akhirnya Dona langsung memeluk tubuh Aliya erat-erat.
"Aliya, maafin gue. Gue ga mau kehilangan lo, gue mohon kita kembali kayak dulu lagi!" pinta Dona dengan air mata yang tak mampu ia bendung lagi. Aliya yang mendengar permohonan maaf yang keluar dari mulut Dona pun, sontak membuat melepaskan pelukan Dona.
"Sorry Don, gue ga bisa nerima permohonan maaf lo," jawab Aliya dengan wajah yang sangat sedih. Aliya kemudian kembali ke tempat duduknya, Dona pun mengikutinya.
"Kenapa Al, apa kesalahan gue ke lo itu fatal?" tanya Dona yang tak menyangka dengan apa yang barusan Aliya katakan.
"Ga Don," jawab Aliya sambil meletakkan ranselnya di atas meja.
"Terus kenapa Al?" tanya Dona, namun Aliya tidak menjawabnya.
"Kalau masalah kemarin, lo benar kok. Ga seharusnya gue nilai seseorang hanya dari covenya, gue sadar gue salah kok Al, gue terlalu berlebihan terhadap lo, padahal apa yang lo bilang itu benar kok." Ucap Dona dengan menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir dipipinya.
Aliya akhirnya berdiri dari dan kemudian memegang pundak Dona dengan kedua tangannya.
"Dona, gue senang akhirnya lo ngerti juga maksud gue," ucap Aliya dengan suara yang sangat lembut.
"Gue janji kok ga bakalan bertingkah seperti anak kecil lagi," jawab Dona sambil menaikkan kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata Aliya.
"Jadi lo mau kan maafin gue?" tanya Dona dengan penuh harapan.
"Gue mau maafin lo, kecuali..." jawab Aliya gantung.
"Kecuali apa?" tanya Dona.
"Kecuali lo mau datang ke acara tunangan kakak gue," jawab Aliya sambil memberikan undangan kepada Dona.
"Ya kalau ini sih gue mah ga diundang juga pasti datang kok, kan makan gratis." Ucap Dona sambil cengengesan.
"Yaelah salah ngundang orang nih kayaknya gue," jawab Aliya yang kemudian membuat Dona tertawa.
"Ah elo mah gitu amat sama gue," ucap Dona sambil menyenggol lengan Aliya. Suasana tawa diantara Aliya dan Dona pun pecah.
Sedangkan Angga yang masih berada di cafe move on tiba-tiba mendapatkan pesan What'sApp dari Dimas.
__ADS_1
1 pesan baru,
💬Brother
Angga, nanti tolong kasihkan undangan ke Randy ya, dia ga ngantor hari ini. Gue ga bisa ngantar langsung, tugas gue masih banyak banget nih! ✔️✔️ 11.30
"Duh, mati dah gue. Bisa-bisa gue dijadiin kambing hitam lagi sama Randy," ucap Angga sambil mengacak-ngacak rambutnya sesudah ia membaca chat dari Dimas.
💬Brother
Gue minta tolong banget sama lo Ngga, ✔️✔️11.30
"Gue ga bisa nolak lagi," ucap Angga yang mulai pusing sendiri.
💬Angga
Iya, nanti gue antar, ✔️✔️11.32
"Ini yang mau tunangan siapa yang repot siapa, huff." Ucap Angga sambil menghembus napas kesalnya.
Angga pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke masjid terdekat, karena tak lama lagi sudah masuk waktu shalat zuhur. Setelah selesai shalat zuhur, Angga langsung meminta izin kepada dosen yang piket hari ini untuk pulang lebih awal hari ini dikarena ingin mengurus acara tunangan kakaknya.
"Mudah-mudahan Randy ga keluar pas gue ngasih undangan ini," ucap Angga pelan.
Deg, jantung Angga berdetak begitu cepat saat ia mulai melangkahkan kakinya mengahampiri pos security rumah Randy. Bagaimana tidak, Angga telah berbohong dengan Randy tentang Laura. Angga benar-benar tak mampu membayangkan ekspresi Randy saat mengetahui orang yang ia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri. Angga tak punya pilihan lain, apapun yang terjadi Randy harus tau kebenarannya.
"Bismillahirrahmanirrahiim, ya Allah bantu hamba ya Allah," ucap Angga berdoa dalam hati.
"Pak, boleh minta tolong ga?" tanya Angga.
"Minta tolong apa den Angga?" jawab security Randy dengan pertanyaan kembali.
"Pak ini ada undangan untuk Randy, tapi tolong jangan kasih tau ini dari saya ya pak!" pinta Angga sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Ohh baik den," jawab security Randy dan kemudian mengambil undangan tersebut.
"Makasih ya pak, kalau saya pamit pulang dulu ya, Assalammu'alakum," ucap Angga yang sangat grogi.
"Sama-sama den,Wa'alaikumsalam," jawab security tersebut.
Tanpa berlama-lama Angga pun langsung masuk ke mobilnya dan kemudian pergi secepat mungkin dari rumah Randy. Security tersebut akhirnya masuk kedalam rumah Randy. Randy yang sedang asik ngemil sambil menonton TV pun tiba-tiba mendapatkan titipan undangan dari security.
__ADS_1
"Maaf mengganggu den, ini ada undangan untuk den Randy," ucap security tersebut.
"Dari siapa pak?" tanya Randy ketus.
"Ga tau den, saya ga kenal." Jawab security tersebut berbohong.
"Ohh yaudah letak di atas meja aja Pak, nanti saya baca!" perintah Randy yang masih fokus menonton TV tepat ia menonton Anime.
"Baik den," jawab security tersebut dan kemudian ia pun kembali ke posnya.
"Huff, undangan siapa sih?" tanya Randy yang masih fokus dengan filmnya.
"Ooh iya, pasti undangan dari Dimas nih," jawab Randy pada dirinya sendiri. Dengan langkah yang sangat malas Randy pun akhirnya berjalan menuju meja tersebut. Tanpa pikir panjang Randy langsung membuka plastik yang menutupi undangan tersebut. Disaat Randy baru ingin membuka undangan tersebut, tiba-tiba Bik Ijah pembantu dirumahnya memanggilnya.
"Den Randy, ada telpon dari nyonya," ucap Bik Ijah yang berada di ruang tamu.
"Huff, iya Bik," jawab Randy sambil menghembus napas kesalnya. Dengan langkah yang sangat kesal Randy pun berjalan menuju ruang tamu untuk menerima telpon dari Mamanya. Ya sudah satu tahun terakhir ini ia pindah ke Bandung untuk tinggal di rumah pribadinya, ditambah lagi ia memang diutus oleh Papa tirinya untuk menjadi direktur di perusahaan milik Papa yang di Bandung.
"Halo Ma, ada apa?" tanya Randy ketus.
"Ran, Mama sama Papa main ke sana boleh kan?" tanya Tika.
"Terserah Mama aja," jawab Randy ketus
"Yaudah kalau gitu nanti sore Mama sama Papa berangkat ya!" pinta Tika.
"Iya," jawab Randy yang langsung meletakkan telpon rumahnya.
Ya begitu lah hubungan antara Randy dan kedua orang tuanya yang sampai saat ini masih belum akur. Entah apa yang ada dipikiran Randy sehingga ia benar-benar kesal dengan orang tuanya. Ya bagaimana Randy tidak kesal, mama dan papanya sangat sibuk dengan kerjaannya sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk keluarga sendiri. Sebenarnya Randy sangat menolak untuk menjadi direktur di perusahaan papanya ini, namun ia ga punya pilihan lain lagi. Randy hanya disuruh memilih dua pilihan saja, mau nikah dengan anak teman mamanya atau menjadi direktur di perusahaan papanya di Bandung. Tentu saja Randy lebih memilih untuk menjadi direktur di perusahaan papanya dari pada menikah dengan anak teman mamanya yang masih berumur 19 tahun. Memang sih usia tidak menentukan suatu kedewasaan, tapi baginya ia benar-benar belum siap untuk menikah dari perjodohan seperti itu.
Oke guys segini dulu ya guys,
Sorry ya typo, terus berikan komentar terbaik kalian ya, Terimakasih.
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman, 😉
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni
__ADS_1