
"Ngeles mulu Al, ngaku aja deh," ledek Angga yang tidak mau kalah.
"Iyain aja deh, Pak Angga kan kurang bahagia jadi ga apa-apa deh sekali-kali buat Pak Angga bahagia, hitung-hitung sedekah." Jawab Aliya yang akhirnya mengalah.
"Gimana ga kurang bahagia, is one aja belum punya," jawab Angga dengan santai.
"Is one maksudnya?" tanya Aliya yang benar-benar tidak mengerti apa yang Angga katakan.
"Pendamping hidup Al," jawab Angga.
"Kok is one sih?" tanya Aliya yang masih kebingungan.
"Ya kan aku ga mau poligami jadi pendamping hidupku ya satu aja, makanya namanya is one," jawab Angga yang membuat Aliya tertawa.
"Ya Allah Pak Angga, kirain apa coba." Jawab Aliya sambil tertawa.
"Ya kan aku benar, makanya Al kalau ada laki-laki yang bilang sama kamu mau jadiin kamu istri jangan mau," ucap Angga dengan sangat santai sambil membuka pintu kantor. Ya Angga dan Aliya memang sudah sampai di kantor.
"Lah kenapa?" tanya Aliya.
"Emang kamu mau jadi yang ketiga?" jawab Angga dengan pertanyaan kembali.
"Ya ga lah, Pak Angga ada-ada aja," jawab Aliya sambil tersenyum.
"Ya maka dari itu kalau ada laki-laki yang minta kamu jadi is one nya baru terima Al," ucap Angga sambil mengambil buku angendanya yang berada di atas mejanya.
"Emang ada ya laki-laki yang bakalan ngomong gitu?" tanya Aliya.
"Ya ada," jawab Angga yang kemudian kembali menutup dan mengunci pintu kantor.
"Siapa?" tanya Aliya.
"Aku," jawab Angga santai.
"Lah emang Pak Angga mau jadi suami saya?" tanya Aliya dengan sangat santai. Angga yang mendengar pertanyaan Aliya langsung berdiri tepat di depan Aliya. Aliya pun terkejut dengan Angga yang tiba-tiba berdiri didepannya.
"Pak Angga ngapain sih berdiri disini?" tanya Aliya yang kebingungan.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Angga.
"Emangnya Pak Angga mau jadi suami saya?" tanya Aliya yang masih kebingungan dengan maksud Angga.
"Kamu ngelamar aku Al?" tanya Angga dengan tampang terkejutnya.
"Apaan sih Pak Angga, siapa juga yang ngelamar Pak Angga?" tanya Aliya yang kemudian berjalan meninggalkan Angga.
"Kamu kan barusan ngomong itu," jawab Angga yang kemudian mengikuti langkah Aliya.
"Tau ah pusing ngomong sama Pak Angga," ucap Aliya kesal.
__ADS_1
Aliya yang sudah melihat mobil Angga yang terparkir di halaman kampus, dengan sigap langsung berlari menghampiri mobil Angga. Aliya sudah memegang gagang pintu mobil Angga bersiap untuk membukanya.
"Mau ngapain kamu?" tanya Angga.
"Ya mau masuk lah," jawab Aliya santai.
"Emang yang ngajak kamu pulang bareng siapa?" tanya Angga.
"Ya ga ada sih tapi aku inisiatif aja," jawab Aliya tanpa merasa bersalah.
"Ohh gitu ya," ucap Angga yang kemudian masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Aliya masih berada diluar karena Angga belum membuka kunci pintu mobilnya.
"Ihh Pak Anggaaa," rengek Aliya yang mulai kesal sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil Angga. Angga pun menurunkan kaca mobilnya untuk mendengarkan Aliya bicara.
"Apa sih Al?" tanya Angga.
"Bukain pintunya!" pinta Aliya sambil merengek.
"Emang mau ngapain?" tanya Angga santai.
"Ya mau pulang lah," jawab Aliya nyolot.
Angga yang mulai tak tega melihat Aliya terus-terusan memintanya untuk membukakan pintu mobilnya pun, dengan senang hati langsung membuka pintu mobilnya. Angga tersenyum saat melihat tingkah lucu Aliya yang seperti anak kecil.
"Dari tadi kek," ucap Aliya yang masih cemberut.
"Bodo amat," jawab Aliya kesal.
"Al tolong kasih kan sama pak security itu dong!" pinta Angga sambil memberikan kunci-kunci itu kepada Aliya, Aliya pun mengambilnya.
"Ini Pak, makasih ya pak," ucap Aliya sambil memberikan kunci-kunci tersebut ke security kampus.
"Pak titip ke Mang Asep ya!" pinta Angga sambil tersenyum.
"Wah wah pulang-pulang udah bawa cewek aja Angga," tegur security tersebut.
"Tadi nemu di lorong yang serem itu Pak, dia nyasar." Jawab Angga asal.
"Tapi manusia kan?" tanya security tersebut.
"Bukan saya malaikat," jawab Aliya sambil tersenyum.
"Iya Pak tenang aja dia malaikat kok, malaikat maut," ledek Angga yang kemudian tersenyum melirik Aliya.
"Pak Anggaaa," rengek Aliya sambil memukul pelan Angga dengan ranselnya.
"Yaudah kalau gitu kita balik dulu ya Pak, Assalammu'alakum," ucap Angga sambil melambaikan tangan kanannya kepada security tersebut.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab security tersebut sambil tersenyum.
__ADS_1
"Pak Angga kok bisa sih seakrab itu sama penjaga-penjaga kampus ini?" tanya Aliya.
"Ya gimana ga akrab, aku kan ngajarnya udah lama disini," jawab Angga sambil fokus memandangi jalanan.
"Emang udah berapa lama Pak Angga ngajar disini?" tanya Aliya yang mulai penasaran.
"Sekitar 2 tahun lah," jawab Angga santai.
"Pak, boleh ga Aliya minta tolong sama Pak Angga sekali lagi?" tanya Aliya.
"Minta tolong apa sih Al?" tanya Angga kembali.
"Aliya mohon sama Pak Angga jangan dekat-dekat sama Aliya di kampus, dan Aliya mohon Pak Angga juga bersikap cuek ke Aliya seperti sikap Pak Angga mahasiswi yang lain, please!" pinta Aliya sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Emangnya kenapa, ada yang ngancam kamu?" tanya Angga.
"Bukan masalah itu Pak, tapi Aliya cuma ga mau Dona berpikir yang aneh-aneh tentang Aliya." Jawab Aliya sambil menundukkan kepalanya.
"Aliya, jika Dona memang sahabat kamu, maka dia akan paham dengan maksud baik kamu," ucap Angga sambil tersenyum.
"Tapi kita sahabatan udah lama banget Pak, masa iya hancur gitu aja," jawab Aliya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aliya, yang namanya sahabat itu harus bisa saling memaafkan satu sama lain, ga boleh egois, harus ada yang mau mengalah." Ucap Angga yang seketika membuat bulir-bulir mutiaranya terjatuh dipipinya.
"Tapi aku kayak gini biar Dona tu ga berpikir jelek terus ke Pak Angga," jawab Aliya sambil menatap mata Angga yang sedang fokus memperhatikan jalan.
Deg, jantung Angga seketika berdetak tak beraturan setelah mendengar pengakuan dari Aliya. Ingin rasanya ia memeluk Aliya yang tengah sedih ini, namun apalah dayanya, Aliya bukan miliknya.
"Aku sangat berterimakasih sama kamu Al telah peduli padaku, tapi aku juga ga mau jadi alasan hancurnya persahabatan kamu dengan Dona. Aku jadi merasa bersalah sama kamu, gara-gara sikap aku yang plin-plan ini buat kalian jadi jauhan sekarang." Ucap Angga sambil sesekali melirik Aliya yang sedang menghapus air matanya.
"Tapi menurut aku lebih baik kamu minta maaf aja deh Al, ga baik marahan terlalu lama. Emang kamu mau memutuskan tali silaturahmi dengan Dona?" tanya Angga, Aliya pun menggelengkan kepalanya.
"Nah, kalau gitu secepatnya kamu harus selesaikan masalah kamu dengan Dona, sebelum malaikat maut datang," ledek Angga sambil tersenyum.
"Pak Angga doain aku meninggal duluan?" tanya Aliya sambil merengut.
"Ya mana mungkin aku doain kamu meninggal duluan, nanti kalau kamu meninggal duluan akunya siapa?" tanya Angga sambil menaik turunkan alis matanya.
"Pak Angga apaan sih," jawab Aliya sambil tersenyum.
"Nah, gitu dong senyum," ledek Angga.
Maaf ya guys masih seputar tentang Aliya, di episode selanjutnya kalau dialognya cukup baru deh kita kembali ke Laura, sorry ya guys. 🙏🙏🙏
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni
__ADS_1