
“Pernikahan lo sama Laura? Kenapa jadi lo yang mau nikah sama Laura? Apa jangan-jangan lo memang udah suka sama Laura?” tanya Randy dengan tatap penuh kebingungan.
“Gue ga punya pilihan lain Ran, sementara waktu itu tamu undangan udah pada datang dan ga mungkin acara tunangan itu dibatalin Ran,” tegas Angga.
9“Kenapa ga lo sama Aliya aja yang tunangan? Kenapa harus banget lo sama Laura?” tanya Randy yang mulai curiga dengan Angga.
“Gue juga berharap gitu Ran, tapi keluarga gue sama keluarga Laura ga ngizinin, karena Aliya masih kuliah,” jawab Angga dengan volume suara yang mulai meninggi.
“Emang apa salahnya kalau Aliya masih kuliah, toh ga ada peraturan ga boleh nikah dalam masa kuliah.” Jawab Randy sambil meminum Lemon Tea miliknya.
“Ya gue juga mikir gitu, tapi mereka ga mau fokus Aliya terbagi Ran,” jawab Angga dengan penuh kekesalan dalam hatinya.
“Gue kenal Aliya udah lama Ngga, jadi gue yakin dia bisa kok,” ucap Randy santai.
“Iya gue juga yakin itu Ran, tapi masalahnya orang tua gue kekeh banget agar gue nikah sama Laura bukan Aliya,” jawab Angga yang mulai mengacak-ngacak rambutnya.
“Terus lo mau apa nyuruh gue datang kesini?” tanya Randy santai.
“Gue mohon sama lo bantuin gue untuk batalin pernikahan gue dengan Laura!” pinta Angga dengan menangkupkan kedua tangannya.
“Angga, tapi gue ga yakin dengan Laura, karena gue udah buat dia marah banget sama gue,” jawab Randy yang kemudian menundukkan kepalanya.
“Laura marah sama lo? Karena apa?” tanya Angga yang mulai penasaran.
“Kemaren gue jumpa dia sama Dimas disini dan ternyata Laura nangis. Gue salah paham pas Dimas menghapus air mata Laura, gue kira Laura mau-mau aja disentuh sama laki-laki yang bukan muhrimnya dia, dan ternyata Laura dan Dimas saudara kandung.” Jawab Randy yang kemudian mengacak-acak rambutnya.
“Gue bodoh Ngga, gue bodoh udah ngecap Laura sebagai cewek murahan,” lanjut Randy yang terus-terusan mengacak-acak rambutnya.
“Aaggghhh!” Randy berteriak tanpa sadar membuat para pengunjung cafe move on langsung menatap sinis ke arah Randy dan Angga.
“Ran, udah Ran!” Angga yang menyadari bahwa mereka berdua saat ini menjadi pusat perhatian langsung menahan tangan Randy agar tidak terus menerus mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Udah intinya sekarang lo harus bantuin gue gimana caranya biar pernikahan gue dibatalkan!” perintah Angga yang kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Kapan lo nikah?” tanya Randy dengan penuh keseriusan.
“Hufff, bulan depan Ran, mungkin di awal atau pertengahan bulan,” jawab Angga dengan membuang napas kesalnya.
“Hah, bulan depan? Bukannya bulan depan tinggal 3 mingguan lagi ya?” tanya Randy yang sangat terkejut mendengar jawaban dari Angga.
__ADS_1
Angga menganggukan kepalanya dan kemudian berkata, “iya Ran, lo harus bantuin gue please!” pinta Angga dengan menangkupkan kedua tangannya.
“Kalau gitu kapan pun gue hubungi lo, lo harus stand by!” perintah Randy dengan sangat tegas.
“Oke,” jawab Angga.
****
Hari ini bertepatan dengan hari sabtu yang kebetulan Laura tidak ada lembur jadi ia tak perlu repot-repot ke rumah sakit. Laura menuruni satu persatu anak tangga untuk segera pergi lari pagi. Echa yang sedang membantu Bik Inah memasak untuk sarapan pagi pun langsung menegur Laura yang baru saja mau keluar rumah.
“Laura, habis lari pagi kamu langsung siap-siap ya!” pinta Echa yang membuat Laura menghentikan langkahnya.
“Siap-siap kemana Ma?” tanya Laura terkejut.
“Udah kamu siap-siap aja nanti juga kamu pasti tau,” jawab Echa yang kemudian tersenyum manis kepadanya Laura.
“Ooh iya deh Ma, kalau gitu Laura lari pagi dulu,” ucap Laura yang kemudian menghampiri Echa dan mencium tangan kanan Echa.
“Assalammu’alakum,” lanjut Laura.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Echa dan Bik Inah bersamaan.
“LAURA!!!” suara itu seperti tidak asing lagi baginya, Laura menolehkan pandangannya mencari keberadaan dari sumber suara tersebut.
“Hah, Randy? Kenapa dia bisa tiba-tiba disini? Sejak kapan dia tau gue disini? Dan setau gue selama gue tinggal di Bandung gue ga pernah tuh liat dia disini?” begitulah isi pikiran Laura ketika ia melihat Randy untuk pertama kalinya disini.
“Lo kenapa sih liatin gue gitu amat?” tanya Randy yang sudah berada di hadapan Laura.
“Atau lo terpukau ya dengan ketampanan gue yang luar biasa ini?” tanya Randy sambil mengibaskan rambutnya yang tak terlalu panjang itu.
“Ge er banget sih lo,” jawab Laura yang kemudian duduk di kursi taman yang berada disampingnya. Laura mengambil air mineral yang berada di kursi tersebut lalu meminumnya.
“Mau apa lo kesini? Mau ngata-ngatain gue lagi? Mau bilang gue cewek murahan lagi di depan umum? Atau lo mau apa?” tanya Laura tanpa melirik Randy sedikit pun.
“Gue maunya lo,” jawab Randy yang membuat kedua bola mata Laura terbelalak.
“Are you ok? What happen,Randy? Why you suddenly say that? Are you crazy?” tanya Laura yang kemudian berdiri tepat di depan Randy.
“I am fine Laura, gue udah tau semuanya, Angga udah jelasin semuanya ke gue kalau sebenarnya lo sama Dimas itu saudara kandung kan?” tanya Randy dan Laura pun menganggukkan kepalanya lalu kemudian kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
“Gue minta maaf Ra, gue tau kejadian di cafe kemaren buat lo malu, gue benar-benar kebawa emosi Ra, gue minta maaf Ra,” ucap Randy sambil menangkupkan kedua tangannya ke arah Laura.
“Heh, udah masalah itu lo lupain aja Ran, gue juga salah kok,” jawab Laura yang kemudian tersenyum ke arah Randy.
Laura yang menyadari bahwa matahari sudah mulai menampakkan dirinya di bumi membuat Laura langsung melihat jam yang berada di tangannya.
“Udah jam 7 lewat 20 menit nih, gue balik dulu ya Ran!” pinta Laura yang kemudian berdiri sambil mengambil botol air mineral miliknya.
“Oke,” jawab Randy tersenyum.
“Assalammu’alakum,” ucap Laura sambil merekahkan senyumannya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Randy dengan membalas senyuman Laura. Laura akhirnya berjalan meninggalkan Randy yang masih duduk di kursi taman tersebut.
“LAURA!” panggil Randy yang membuat Laura langsung menghentikan langkahnya yang belum jauh dari Randy.
Laura membalikkan tubuhnya menghadap Randy seraya berkata, “ada apa lagi, Ran?” tanya Laura.
“Besok lo libur kan?” jawab Randy dengan kembali melontarkan pertanyaan kembali.
“Iya, kenapa?” tanya Laura.
“Jalan-jalan yok!” ajak Randy ragu-ragu.
“Emm, oke jam 10 jemput gue disini!” pinta Laura tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
“Yes, akhirnya gue punya kesempatan lagi,” ucap Randy pelan mengepal kedua tangannya tanda ia sedang senang.
Oke guys segini dulu ya, maaf lama up nya. 🙏🙏🙏
Menurut kalian gimana nih?
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,😉
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni
__ADS_1