Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 93


__ADS_3

"Tadi nomor rumahnya RC47 kan?" tanya Angga sambil menghentikan mobilnya.


"Iya Mas," jawab Aliya.


"Udah sampai nih," ucap Angga sambil menunjuk rumah dengan nomor RC47 yang berada disampingnya.


"Iya kayaknya ini deh rumahnya Chika," jawab Laura.


"Yaudah kalau gitu kita turun dulu ya Angga, terimakasih lo udah antarin kita," ucap Laura sambil tersenyum.


"Iya makasih banyak ya Mas," sambung Aliya sambil tersenyum.


"Iya sama-sama, lain kali kalau butuh bantuan hubungi saya aja, nih kartu nama saya," jawab Angga sambil memberikan kartu namanya kepada Aliya.


"Oke Mas, kalau gitu kita duluan ya," ucap Aliya yang kemudian membuka pintu mobil Angga diikuti dengan Laura.


"Iya hati-hati," jawab Angga dengan merekahkan senyuman yang manis itu.


"Harusnya kita yang bilang gitu atuh Mas," sahut Aliya yang tersipu malu.


"Ga apa-apa kok Al, kalau saya mah selalu hati-hati kok," jawab Angga.


"Yaudah saya pulang dulu Assalammu'alakum," lanjut Angga yang kembali memamerkan senyumannya yang manis itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aliya dan Laura secara bersamaan.


"Sering-sering liat senyum Mas Angga kayak gitu, lama-lama kena diabetes juga gue nanti," ucap Aliya dalam hati.


"Ciiieee Aliya akhirnya punya gebetan juga," ledek Laura sambil mencolek dagu Aliya.


"Ihh apaan sih kak Laura," jawab Aliya sambil senyum malu-malu.


"Yaudah ah yok masuk!" ajak Aliya sambil merangkul tangan Laura.


Laura dan Aliya pun kini sudah berada di rumah Chika. Rumah yang begitu besar terlihat begitu sepi seperti tidak ada penghuninya.


"Orangnya pada kemana sih Ran?" tanya Laura yang mulai ketakutan.


"Mereka masih dikamar," jawab Randy sambil tersenyum.


"Lo jangan macam-macam sama gue ya Ran!" perintah Laura dengan muka yang mulai memucat.


"Ya Allah Laura, ga mungkin lah gue macem-macem sama lo, gue juga masih ingat dosa kali," jawab Randy sambil tertawa melihat tingkah Laura yang seperti ingin diterkam binatang buas.


"Yaudah kalau gitu lo jalan paling depan," ucap Laura yang melihat Randy ingin menaiki anak tangga.


"Iya iya takut banget sih sama gue Ra," ledek Randy sambil menaiki satu persatu satu anak tangga. Sedangkan Laura dan Aliya masih belum menaiki satu pun anak tangganya.

__ADS_1


"Al menurut kamu aman ga?" tanya Laura dengan suara yang pelan.


"Aman sih kayaknya Kak," jawab Aliya sambil melirik ke seluruh penjuru rumah Chika.


"Kok kayaknya sih Al," sahut Laura kesal.


Randy yang baru menyadari bahwa Laura dan Aliya tidak mengikutinya pun langsung melirik kebawah tangga, dan benar saja dugaan Randy bahwa mereka tidak mengikuti dirinya.


"Laura, Aliya masih lama debatnya?" tanya Randy yang melihat Laura dan Aliya masih belum juga menaiki tangga justru malah asik bertengkar. Laura dan Aliya pun hanya bisa tersenyum malu mendengar pertanyaan dari Randy.


"Yaudah cepatan jalan!" perintah Randy, dengan sangat terpaksa Laura dan Aliya pun menaiki satu persatu anak tangga.


"Nah gitu dong," ucap Randy sambil tersenyum.


"Ran tapi ini benaran rumah Chika, kan?" tanya Laura yang masih ragu dengan ucapan Randy.


"Bukan Ra, ini rumah gue," jawab Randy santai yang seketika membuat Laura langsung berlari menuruni anak tangga.


"Kak Laura," teriak Aliya yang terkejut melihat Laura tiba-tiba berlari menuruni anak tangga. Randy yang mendengar teriakan Aliya pun spontan langsung membalikkan badannya.


"Laura lo ngapain turun?" tanya Randy yang kebingungan dengan sikap Laura.


"Gue takut jumpa Mama lo, gue mau pulang aja," jawab Laura dengan wajah yang sangat pucat.


"Ohh yaudah kalau gitu, hati-hati kalau gitu Ra. Dibawah ada anak buah gue lho," ucap Randy yang kemudian melanjutkan langkahnya ke lantai atas. Mendengar ucapan Randy seketika Laura membelalakkan matanya dan Laura pun langsung duduk disalah satu anak tangga dengan menundukkan kepalanya.


"Kak, kakak kenapa?" tanya Aliya yang langsung duduk disamping Laura lalu merangkulnya.


"Kakak kenapa nangis?" tanya Aliya lagi yang melihat ternyata Laura sedang menangis. Randy yang terkejut dengan ucapan Aliya pun langsung menghampiri Laura dan Aliya.


"Ra lo kenapa nangis?" tanya Randy yang mulai panik.


"Gue takut sama mama lo, tapi gue juga takut dikasari sama anak buah lo," jawab Laura yang masih menundukkan kepalanya.


"Ya Allah Ra, lo percaya dengan ucapan gue?" tanya Randy sambil memegangi kepalanya.


"Lo kan ga pernah bohong," jawab Laura dengan suara yang mulai serak.


"Hahaha," mendengar ucapan Laura spontan membuat Randy tertawa.


"Lo kok ketawa sih?" tanya Laura yang kemudian mengangkat kepalanya.


"Ya habisnya lo lucu sih, masih aja polos padahal udah jadi dokter," jawab Randy sambil tersenyum.


"Udah lo tenang aja, tadi gue cuma bercanda doang kok, ini benaran rumah Chika kok," lanjut Randy yang tak mau melihat Laura menangis lagi.


"Seriusan?" tanya Laura sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Iya, yaudah kalau lo masih ga percaya sama gue, gue panggilin kak Rizky dulu kalau gitu," jawab Randy yang kemudian kembali menaiki satu persatu anak tangga.


"Ya Allah kak, segitu takutnya kakak sama mamanya kak Randy," ucap Aliya sambil mengelus-elus punggung Laura.


"Ya gimana kakak ga takut, disaat kakak baru kenal yang namanya cinta eh malah kakak dibentak-bentak sama mamanya dia, gimana kakak ga trauma, makanya itu kakak ga mau pacaran lagi." Jawab Laura kesal.


"Yaudah-yaudah kakak tenang dulu ya!" pinta Laura sambil memeluk kembali tubuh Laura dan tak sengaja ketika Aliya melirik ke atas, ternyata Randy masih berada disini. Randy yang juga menyadari bahwa Aliya melihatnya pun hanya memberikan bahasa isyarat agar tidak mengatakan kepada Laura bahwa ia mendengar semua ucapan Laura, Aliya pun tersenyum yang mengartikan bahwa ia akan menjaga rahasia Randy. Tanpa menunggu lama Rizky pun akhirnya datang menghampiri Laura dan juga Aliya.


"Kok pada duduk disini sih?" tanya Rizky yang mengagetkan Laura dan Aliya.


"Eh kak Rizky," jawab Laura sambil tersenyum.


"Laura, Kakak bisa minta tolong kan sama kamu?" tanya Rizky dengan wajah penuh harapan.


"Minta tolong apa kak?" jawab Laura dengan pertanyaan lagi.


"Tapi lebih baik kita omongin di atas aja ya," jawab Rizky yang kemudian membuat Laura dan Aliya langsung berdiri.


"Sama Kak Rizky aja ga takut," ledek Randy dengan tatapan sinisnya.


"Yee, kalau lu mah tampang-tampang orang bejatnya kelihatan," sahut Laura yang tak mau kalah.


"Tapi meskipun bejat-bejat gini lo pernah cinta juga kan sama gue," ucap Randy dengan tampang songongnya.


"Kalau itu mah gue khilaf," jawab Laura dengan tatapan sinisnya.


"Duuhh, kalian nih apa-apaan sih. Nanti jodoh baru tau rasa," sahut Rizky yang seketika membuat mata Laura dan mata Randy bertemu.


"Jodoh sama dia?" tanya Laura dan Randy secara bersamaan.


"Ihh ga banget deh," jawab Laura sambil menunjukkan ekspresi jijiknya.


"Alah dalam hati lo pasti bilang gini, Ya Allah Aamiin Ya Allah jodoh sama Randy," ledek Randy dengan ekspresi menirukan gaya wanita kalau sedang jatuh cinta.


"Apaan sih lo Ran, halu deh lo," sahut Laura sambil tersenyum-senyum sinis dengan ekspresi Randy yang seperti banci.


"Udah deh lo jujur aja, ngaku aja deh. Ya kan ya kan," ledek Randy yang kemudian menghempaskan badannya ke atas sofa.


"Silahkan duduk Ra, Al!" perintah Rizky yang kemudian diikuti oleh Laura dan Aliya.


"Iya makasih kak," jawab Laura dan Aliya secara bersamaan.


Sekian dulu ya guys, sorry masih banyak yang typo, 🙏🙏


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


IG : @febiayeni

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2