Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 124


__ADS_3

Sedangkan Dimas dan keluarganya yang baru saja sampai rumah pun hanya bisa saling berdiam diri. Dimas dan Angga yang merasa sangat kecewa dengan kejadian hari ini pun langsung masuk kedalam kamar Angga.


"AAAAGGGHH," teriak Dimas sambil melemparkan bantal-bantalnya ke lantai.


"Kenapa semuanya harus jadi kayak gini sih?" tanya Angga yang sangat kecewa.


"Gue juga ga nyangka Ngga, kalau ternyata gue dan Laura saudara kandung," ucap Dimas sambil memegang kepalanya.


"Lo mending kak, setidaknya lo ga nyakiti orang yang lo sayang sedangkan gue, gue udah nyakiti Aliya sedalam itu kak, masa iya sih gue harus nikahin kakaknya Aliya padahal yang gue sayang itu Aliya bukan kakaknya," jawab Angga dengan menghempaskan badannya ke tempat tidur.


"Lo bilang gue mendingan masalah gue?" tanya Dimas dengan kedua bola mata yang mulai terbelalak.


"Ngga, apapun ceritanya gue tetap ga bisa kembali sama Laura, gue sama Laura sedarah, sedangkan lo sama Aliya ga sedarah jadi lo masih bisa batalin semuanya," lanjut Dimas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Gue sayang Ngga sama Laura tapi bukan sebagai kakaknya dia Ngga, gue ga mau kehilangan dia tapi bukan sebagai adik kandung gue sendiri, gue benar-benar ga nyangka bakalan jadi seperti ini, mungkin itu sebabnya kenapa gue tadi ngerasa ada hal buruk yang akan terjadi, dan ternyata ini. " Ucap Dimas dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.


"Tapi gimana dengan gue kak, gue ga mungkin nyakitin Aliya kak?" tanya Angga dengan tatapan penuh makna.


"Gue akan bantuin lo biar lo ga jadi nikah sama Laura," jawab Dimas sambil menghapus air matanya.


"Gimana caranya kak, sedangkan gue udah harus nikah bulan depan sama kak Laura?" tanya Angga sambil mondar-mandir di depan Dimas.


"Gue juga belum tau, nanti kita omongin sama Laura dulu siapa tau dia ada solusi," jawab Dimas.


"Tapi gue ga yakin kak, mama dan papa bakalan mau batalin perjodohan ini," ucap Angga yang kemudian duduk disamping Dimas.


"Ngga, cepat atau lambat kita harus bicarain ini semua sama mama dan papa baik-baik ," jawab Dimas.


"Gue benar-benar bingung kak, mana mungkin gue harus ngelawan sama mama dan papa, apa hak gue, mereka kok yang susah payah ngerawat gue, dari segi apa gue pantas ngelawan mereka." Ucap Angga yang akhirnya meneteskan air matanya.


"Angga, gue ga nyuruh lo buat ngelawan sama mama ataupun papa, gue cuma bilang kita bicarain ini semua baik-baik," jawab Dimas tegas.


"Tapi gue ga yakin kak, pada akhirnya gue harus memilih antara mama papa atau Aliya. Dan ga mungkin gue milih Aliya, karena gue ga bisa egois. Aliya kalau gue gagal memperjuangkan lo, gue mohon jangan benci gue, gue hanya ingin berbakti kepada kedua orang tua gue." Ucap Angga dengan air mata yang terus mengalir, Dimas pun langsung mendekap tubuh Angga.


"Lo yang sabar ya, yang penting kita usaha dulu!" pinta Dimas sambil menepuk pelan punggung Angga.


"Lo kuat banget sih kak, lo bisa nenangin gue padahal sakit yang gue rasa ga sebanding dengan apa yang lo rasa, bagaimana mungkin lo bisa mencintai wanita yang ternyata adik kandung lo sendiri, gue salut sama lo kak. Gue bangga punya kakak kayak lo." Ucap Angga sambil menepuk-nepuk pelan punggung Dimas. Mendengar ucapan Angga seketika membuat hati Dimas tersentuh sehingga tanpa sengaja air matanya pun mengalir.


"Angga, seandainya jika lo juga tetap harus nikah dengan Laura, gue mohon jaga dia baik-baik, gue mohon jangan sakiti dia, cukup gue dan Randy aja yang pernah nyakiti dia, lo jangan sampai!" pinta Dimas yang kemudian melepaskan dekapannya.


"Iya kak, gue janji," jawab Angga yang kemudian tersenyum.


****


Sudah hampir 2 hari Aliya dan Laura tidak teguran semenjak kejadian itu. Laura terus berusaha untuk mengajak Aliya berbicara namun Aliya selalu menghindarinya. Malam ini mau tidak mau Laura tetap harus cerita dengan Aliya tetang masalah ini. Laura yang melihat pintu kamar Aliya terbuka pun langsung saja masuk kedalam kamar Aliya.


"Al, udah dua hari kamu masih ga mau dengarin penjelasan kakak, hari ini kamu mau dengar atau pun tidak kakak akan tetap ceritakan semuanya," ucap Laura yang duduk di tempat tidur Aliya, sedangkan Aliya tetap duduk membelakangi Laura di kursi riasnya.


"Al, bukannya kakak ga mau batalin acara pertunangan itu, tapi kakak benar-benar ga bisa nolak saat itu, ditambah lagi Angga yang juga tak mampu menolak permintaan Mama dan Papanya. Kakak juga terkejut saat mendengar bahwa kakak dan Mas Dimas ternyata saudara kandung." Lanjut Laura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Waktu itu... " ucap Laura menjelaskan kronologis kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


Flashback,


25 menit sebelum acara pertunangan Laura dimulai. Disaat keluarga Dimas baru sampai di rumah Laura. Dengan senyum yang merekah di bibir Echa melihat Dimas dan keluarganya yang berjalan menghampirinya. Echa yang tadinya tersenyum manis pun seketika berubah dengan wajah terkejutnya saat kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata Dewi, Mama dari Dimas dan Angga.


"Kamu Echa kan?" tanya Dewi yang sangat terkejut.


"Mbak Dewi ya?" tanya Echa kembali tanpa menjawab pertanyaan dari Dewi. Tanpa berkata apa-apa Dewi langsung menarik tangan kanan Echa.


"Kenapa si mbak narik-narik?" tanya Echa.


"Jadi Laura itu anak kamu?" tanya Dewi dengan nada berbisik.


"Iya, Laura anak pertama saya mbak," jawab Echa yang masih belum mengerti maksud Dewi menariknya.


"Laura dan Dimas ga boleh melanjutkan tunangan ini," ucap Dewi tegas.


"Lho kenapa mbak?" tanya Echa yang masih bingung.


"Dimas itu anak saya sama mas Panji Cha, itu artinya Laura dan Dimas adalah saudara kandung, mereka ga boleh nikah Cha," jawab Dewi tegas. Echa yang mendengar jawaban Dewi pun membuatnya benar-benar terkejut.


"Lalu apa yang harus kita lakuin sekarang Mbak?" tanya Echa yang mulai kebingungan.


"Kita omongin ini semua ke Laura dan Dimas sekarang!" jawab Dewi.


"Baiklah kalau gitu saya panggil Laura dulu, Mbak. Mbak Dewi dan keluarga Mbak tunggu di dalam aja dulu! " pinta Echa yang kemudian masuk kedalam rumahnya.


"Yaudah," jawab Dewi. Dengan sigap Echa yang baru sampai di dalam rumahnya pun langsung memanggil Laura.


"Iya Ma," sahut Laura. Dengan senyuman yang merekah dibibirnya pun, Laura langsung menghampiri Echa dengan penuh semangat.


"Laura, ada yang mau Mama bicarain sama kamu dan keluarga Dimas," ucap Echa dengan wajah yang benar-benar serius.


"Ada apa sih Ma, kok pada tegang-tegang amat sih?" tanya Laura kebingungan.


Laura dan keluarga Dimas pun akhirnya berkumpul di meja makan.


"Laura, Dimas sebelumnya kami minta maaf, pertunangan kalian berdua tidak bisa di lanjutkan," ucap Dewi dengan sangat lembut.


"Hah, kenapa?" tanya Laura, Dimas, Angga dan juga papa Dimas secara bersamaan.


"Karena Laura dan Dimas adalah saudara kandung," Jawab Echa.


"Ga ga mungkin, mama pasti bohong kan?" tanya Laura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Iya, mama pasti bohong kan?" tanya Dimas yang juga tak menyangka.


"Kami berdua ga bohong, papa kandung kalian itu sama Dimas, Laura." Jawab Dewi tegas, yang seketika membuat Laura dan Dimas meneteskan air matanya.


"Jadi Laura adalah anak dari istri sah Panji, Ma?" tanya Papanya Dimas.


"Iya Pa, sebenarnya ini salah Mama, karena Mama ga bisa datang disaat Dimas dan Laura mau ta'aruf kemaren," jawab Dewi sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terus bagaimana dengan para tamu undangannya?" tanya Papa Dimas.


"Laura boleh ngomong!" pinta Laura sambil menghapus air matanya.


"Silahkan," jawab Dewi.


"Menurut Laura biar semuanya ga kecewa ada baiknya acara pertunangan ini tetap dilanjutkan hanya saya bukan Laura dan Mas Dimas, tapi untuk Aliya dan Angga aja gimana?" tanya Laura memberikan saran.


"Aku setuju kak," jawab Angga sambil tersenyum.


"Iya aku juga setuju," jawab Dimas dengan tersenyum.


"Mama ga setuju," jawab Echa.


"Kenapa Ma, Angga dan Aliya kan saling suka?" tanya Laura yang mulai bingung dengan keputusannya.


"Tapi Aliya masih kuliah, dan Aliya baru berumur 19 tahun, Aliya masih sangat muda untuk menikah Laura," jawab Echa tegas.


"Saya juga setuju dengan pendapat Echa. Aliya masih kuliah dan kita ga mungkin ganggu konsentrasi belajarnya," sahut Dewi.


"Kalau menurut saya agar tidak ada keluarga yang dipermalukan dan juga tidak menggangu konsentrasi belajar Aliya, saya berpendapat bahwa pertunangan ini tetap dilaksanakan." Ucap Papanya Dimas.


"Saya setuju dengan pendapat suami saya, Laura tetap betunangan dengan Angga bukan Dimas," jawab Dewi tegas.


"Saya juga setuju," jawab Echa.


"Tapi Ma, Angga ga mau nyakiti Aliya Ma, Angga sayangnya sama Aliya bukan kak Laura," ucap Angga sambil memegang tangan Dewi.


"Iya tan, kami mohon biarkan Angga dan Aliya saja yang bertunagan," sambung Laura.


"Angga dan Laura benar Pa, Ma. Pertunangan ini bukan main-main Pa, Ma." Ucap Dimas.


"Ga Laura, Mama tetap ga setuju. Aliya masih terlalu muda untuk berumahtangga," jawab Echa tegas.


"Echa benar, justru karena ini bukan perkara main-main Dim, makanya yang harus bertunangan saat ini Angga dan Laura, karena mereka sama-sama dewasa." Sahut Dewi tegas.


"Angga, jika kamu ga mau di cap sebagai anak yang tidak berbakti silahkan kamu tolak permintaan Mama!" perintah Dewi yang membuat Angga benar-benar terpojok.


"Baik Ma, Angga bersedia untuk bertunangan dengan kak Laura," jawab Angga sambil menunduk.


"Bagaimana dengan kamu Laura?" tanya Echa dengan tatapan penuh dengan harapan.


"Laura, bersedia Ma," jawab Laura dengan air mata sudah berlinang.


Oke guys segini dulu ya, maaf ya baru sempat up😊


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman, 😉


IG : @febiayeni

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2